Di ruang kerjanya yang luas, Yoora duduk tegak dengan wajah dingin. Tangan kirinya memegang cangkir teh hijau yang sudah mulai mendingin, sementara mata tajamnya menatap lurus ke arah pria yang baru saja melapor. Atmosfer ruangan terasa berat, seperti udara yang tertahan. “Ulangi sekali lagi,” suara Yoora rendah, tapi jelas. Nada itu lebih menekan daripada teriakan. Pria berjas hitam di hadapannya, anak buah kepercayaannya, menelan ludah sebelum melanjutkan. “Tuan Christian… sudah kembali ke kantor pusat, Nyonya. Namun sebelum itu, di kantor cabang… banyak hal yang ia lakukan. Hal-hal yang menurut saya perlu Anda tahu.” Yoora menyipitkan mata. “Bicaralah.” “Pertama, hampir semua orang di cabang kini menganggap Nona Jesslyn adalah calon istri resmi Tuan Christian. Ada kabar—” pria itu m

