Bab-61

1134 Kata

Pagi itu terasa berat bagi Jesslyn. Kepala berdenyut, mulut kering, dan cahaya matahari yang menyusup dari celah tirai membuat matanya semakin perih. Ia mengerang pelan, menarik selimut untuk menutupi wajah. Aroma roti panggang dan kopi menyeruak dari arah dapur. Sekilas, hatinya teriris—ada seseorang di rumah kontrakan kecil ini. Seseorang yang semalam menemaninya, mendengarkan semua omong kosongnya, dan tetap diam ketika ia melantur soal Hanna. Christian. Jesslyn menghela napas panjang, bangkit dengan langkah gontai menuju meja makan. Di sana, Christian sudah duduk dengan kemeja santai, lengan digulung hingga siku. Di depannya ada dua cangkir kopi, sepiring roti panggang, dan telur dadar yang masih mengepulkan uap. “Pagi,” sapanya datar, tanpa menoleh. Jesslyn menelan ludah. Suarany

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN