Pagi itu kantor cabang Miller tampak sibuk seperti biasa. Beberapa staf sibuk menyiapkan laporan, sebagian lagi mengantri di mesin fotokopi, dan Jesslyn duduk di mejanya menatap layar laptop dengan konsentrasi penuh. Ia sudah berusaha membaur, bekerja selayaknya staf lain, tanpa menonjolkan siapa dirinya sebenarnya.
Namun semua rencana rapihnya perlahan buyar sejak Christian lebih sering datang. Bukan sekadar memantau, tapi benar-benar nongkrong di area kerja Jesslyn. Hari ini pun sama. Baru beberapa menit Jesslyn mengetik, Christian masuk ke ruang kerja staf dengan langkah tenang, jas abu-abu rapi menempel di tubuhnya. Semua kepala menoleh sekilas, lalu pura-pura kembali fokus ke layar masing-masing.
“Di sini aja gue duduk.” Christian menarik kursi kosong tepat di samping Jesslyn, padahal masih banyak kursi lain.
Jesslyn melirik sekilas, berbisik dengan nada pelan, “Kenapa harus di sini, sih? Kan ada ruang rapat, ruang kepala cabang juga kosong.”
Christian hanya tersenyum kecil. “Gue lebih suka di sini. Biar deket sama lo.” Ucapannya tenang, tapi cukup keras untuk membuat dua staf yang duduk tak jauh dari mereka saling bertukar pandang.
Jesslyn langsung memijit pelipis. Ia sudah terbiasa dengan perhatian berlebihan dari Christian, tapi di depan karyawan lain? Itu bisa menimbulkan tanda tanya besar.
Benar saja, beberapa orang mulai mencuri pandang, menahan senyum. Mira—salah satu staf yang dikenal cukup cerewet—bahkan sempat melirik dengan alis terangkat tinggi. Dulu, Mira sering sekali menyindir Jesslyn secara halus, mulai dari cara berpakaian sampai gaya bicara yang dinilainya terlalu dingin.
Sialnya, kehebohan kecil itu makin diperkuat ketika telepon di meja Jesslyn berdering. Jesslyn buru-buru mengangkat, menjawab panggilan dari pihak vendor. Tapi sebelum ia sempat mencatat nomor kontrak yang disebutkan, Christian refleks mengambil pulpen dari tangannya, menuliskan catatan di sticky note, lalu menyerahkannya kembali.
“Udah gue catetin. Fokus aja dengerin,” katanya datar.
Jesslyn membeku. Yang lebih parah, beberapa pasang mata di ruangan itu menatap kejadian kecil tersebut dengan ekspresi sulit ditebak. Begitu ia menutup telepon, bisik-bisik mulai terdengar.
“Eh… kok Pak Christian care banget, ya?”
“Care sih care, tapi kok mirip… suami-istri gitu, ya?”
“Ya kali…”
Jesslyn berdeham pelan, mencoba mengabaikan gumaman itu. Tapi Mira yang biasanya paling lantang bersuara, kali ini hanya menunduk sambil mengetik cepat. Tidak ada komentar pedas, tidak ada lirikan tajam. Justru saat Jesslyn berdiri menuju mesin fotokopi, Mira buru-buru memberi jalan, bahkan sempat tersenyum canggung.
“Silakan duluan, Nyonya Jesslyn,” ucapnya pelan.
Jesslyn sampai terhenti sejenak. Nyonya Jesslyn? Biasanya Mira hanya memanggil mbak atau nama tanpa embel-embel sopan. Perubahan sikap ini membuatnya makin curiga.
Saat kembali ke meja, ia menunduk, berbisik pada Christian. “Kayaknya mereka tau sesuatu, deh.”
Christian tidak terlihat terganggu sama sekali. Ia malah bersandar santai di kursi, menyilangkan tangan di d**a. “Bagus kalau mereka tau. Jadi gue gak perlu repot-repot jelasin.”
“Tian…” suara Jesslyn melemah, nadanya sedikit protes. “Ini kantor. Gue gak mau orang-orang salah paham.”
Tapi Christian hanya menoleh, menatapnya lekat dengan tatapan teduh yang bikin jantung Jesslyn berdebar tak karuan. “Biarin mereka paham yang bener: lo istri gue.”
Kata-kata itu, meski diucapkan dengan nada tenang, langsung membuat ruangan terasa lebih hangat. Jesslyn bisa merasakan pipinya memanas. Ia buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk mengetik lagi.
Bisik-bisik semakin riuh, meski berusaha ditahan. Beberapa staf saling menatap dengan mulut terbuka, seperti baru saja mendengar gosip terbesar tahun ini. Dan tentu saja, perubahan sikap Mira menjadi bahan pembicaraan baru.
“Gila, Mira jadi sopan banget ke Mbak Jess.”
“Iya, biasanya kan dia nyolot mulu.”
“Berarti bener dong… mereka emang ada hubungan?”
Sementara itu, Jesslyn hanya bisa menghela napas berat. Ia tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi setelah ini. Statusnya yang selama ini disembunyikan pelan-pelan terungkap. Dan Christian, bukannya panik, malah tampak bangga memperlihatkannya. Dia hanya takut jika suatu ketika berita ini sampai pusat, Hanna dan Yoora akan tahu hubungan mereka.
***
Riuh rendah di luar ruangan kerja staf masih terdengar meski pintu sudah tertutup rapat. Bisik-bisik, desis tawa tertahan, bahkan ketukan keyboard yang terasa lebih lambat dari biasanya. Jesslyn bisa merasakan aura kantor cabang berubah drastis sejak pagi tadi—dan semuanya berpusat pada dirinya.
Ia berdiri kikuk di depan meja Christian. Barusan saja pria itu menariknya ke ruang kerja kepala cabang tanpa memberi kesempatan menolak.
“Tian…” Jesslyn memeluk kedua lengannya sendiri, menunduk. “Gimana kalau gosipnya makin jadi-jadi? Gue nggak enak sama mereka. Apalagi gue orang baru di sini.”
Christian yang berdiri di dekat jendela hanya mengangkat alis, lalu melangkah mendekat. “Lo nggak salah apa-apa. Jadi nggak usah ngerasa bersalah.”
“Tapi—”
“Tapi apa, Jess?” Suaranya pelan, tapi tegas. “Mereka cuma ngomongin sesuatu yang memang kenyataan. Lo istri gue. Gue nggak akan sembunyiin itu.”
Jesslyn menghela napas berat. Ia menatap Christian dengan sorot bimbang, seolah ingin menolak, tapi ada rasa hangat yang perlahan melunakkan hatinya. Sejujurnya, mendengar Christian menyebutnya “istri” dengan lantang tadi membuat d**a Jesslyn sesak aneh. Antara malu, takut, tapi juga… bahagia.
“Tian, gue cuma nggak mau hubungan kita bikin masalah di kerjaan. Lagian ya Lo punya Hanna, gue ini siapa? Apa yang ada dipikiran mereka kalau tau gue itu siapa?” Jesslyn akhirnya berbisik.
Christian tersenyum tipis, lalu menyentuh bahunya. “Dengerin gue. Dari dulu, gue nggak pernah main-main sama lo. Apalagi sekarang. Kalau ada yang masalahin, biar gue yang hadapin.”
Jesslyn mendongak pelan, menatap wajah Christian yang begitu dekat. Ada ketulusan di sana, sesuatu yang selama ini ia ragukan tapi kini makin nyata.
“Apa lo sadar nggak,” Christian menambahkan, menatap dalam ke matanya, “Dimana pun lo ada, gue bakal ada di sana. Bahkan kalo lo kabur sejauh apapun, akhirnya kita tetep ketemu. Lo ngerti kan maksud gue?”
Kata-kata itu menusuk hati Jesslyn. Ingatannya melayang ke banyak momen: keberangkatannya ke kota kecil ini, pertemuan tak terduga di kantor cabang, bahkan malam ketika hujan dan petir membuatnya tanpa sadar menempel erat pada Christian. Seolah semua hal yang ia coba hindari justru membawa mereka makin dekat. Belum lagi kejadian itu …
Jesslyn menunduk lagi, bibirnya bergetar. “Kenapa sih lo bisa segampang itu ngomong kayak gini?”
Christian terkekeh pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit. “Karena gue nggak pernah capek ngeyakinin lo.”
Hening sejenak. Jesslyn bisa mendengar detak jantungnya sendiri, terlalu keras, terlalu cepat. Tangannya refleks meremas ujung blus yang ia kenakan.
“Jess…” suara Christian kali ini lebih lembut, nyaris berbisik. “Lo nggak perlu takut sama siapa pun. Gue udah milih lo. Jadi biarin dunia tau.”
Tatapan mereka bertemu. Dalam sekejap, Jesslyn merasa dinding pertahanan yang ia bangun rapuh, runtuh sedikit demi sedikit.
Tangannya terulur, seolah ingin mendorong Christian menjauh, tapi malah berhenti di d**a pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Christian, stabil dan hangat.
“Kalau suatu hari nanti ini jadi ribet, jangan nyalahin gue,” katanya lirih.
Christian tersenyum samar, menangkup tangannya di atas tangan Jesslyn. “Gue nggak akan pernah nyalahin lo. Yang ada, gue bakal makin jagain lo.”
Suasana hening lagi. Tapi kali ini heningnya tidak menegangkan, justru menenangkan. Seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan frekuensi yang sama.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Jesslyn refleks mundur setengah langkah, pipinya memerah. Christian menoleh ke arah pintu dengan wajah datar.
“Masuk,” katanya singkat.
Pintu terbuka, muncul kepala Mira dengan ekspresi kikuk. “Maaf, Pak… eh, Mbak Jesslyn. Ada dokumen yang perlu tanda tangan. Saya taruh di meja depan, ya.”
Jesslyn mengangguk cepat, “Iya, makasih, Mira.”
Mira tersenyum kaku sebelum buru-buru menutup pintu lagi.
Begitu hening kembali, Jesslyn menatap Christian dengan tatapan cemas. “Tuh kan, mereka jadi makin sungkan. Gue nggak suka rasanya.”
Christian justru tersenyum puas. “Bagus. Artinya mereka ngerti posisi lo di sini.”
“Tian!!” Jesslyn hampir merajuk.
Pria itu terkekeh kecil, lalu menepuk kepala Jesslyn singkat sebelum berbalik ke mejanya. “Santai aja, istri bos emang selalu jadi pusat perhatian. Lo tinggal terbiasa.”
Jesslyn menatapnya lama, setengah kesal, setengah terenyuh. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyangkal kalau hatinya mulai luluh.
****