Pernyataan Matthew membuat Agatha terus kepikiran di sepanjang jalan. Dia saat ini sudah berada dalam apartemennya, hanya sendiri, ketiga temannya sedang sibuk dengan kencana bersama para kekasih mereka. Ya, di Smart, hanya Agatha saja yang belum memiliki kekasih diantara para teman-temannya. Alasan Agatha, dia tak ingin mengecewakan para penggemarnya dengan melakukan kencan dan bisa menjadi skandal besar jika dirinya kencan bersama dengan idola lain atau pria biasa.
Sebenarnya banyak yang berusaha mendekati Agatha sejak awal dirinya debut di Smart. Namun, Agatha selalu menolak mereka. Pihak agensi juga sangat mewanti-wanti Agatha kencan, karena bisa dibilang, posisi Agatha di Smart adalah face of the group, dimana Agatha adalah member paling terkenal di Smart.
Jika skandal kecil seperti pembullyan yang buktinya belum sempurna saja dapat membuat karir Agatha berantakan, apalagi jika dia beneran berkencan.
Tangannya merayap, mengelusi ranjangnya untuk mencari gadgetnya. Dia sengaja mematikan gadgetnya untuk menjaga privasi dan kejiwaannya. Entah mengapa, akhir-akhir ini Agatha merasakan depresi. Banyak sekali beban yang ditanggung nya, dari pekerjaan hingga masalah internal seperti peneror.
Sampai saat ini, dirinya belum memiliki titik terang dari masalah peneror. Ada celah dalam hatinya berpikir bahwa peneror itu hanya iseng saja mengikutinya bukan alasan lain, tapi tetap saja dia merasa cemas. Apalagi akhir-akhir ini dia banyak waktu lenggang, pasti peneror itu puas untuk mengikutinya.
Agatha membuka media sosial. Melihat banyak sekali pesan masuk dan komentar pada fotonya. Agatha membaca satu-satu pesan dari mereka, sebagian penggemarnya berusaha menyemangati Agatha untuk menghadapi masalah ini dan sebagian lagi masih sama, mengujar kebencian. Sudah empat hari Agatha belum memposting foto, sebenarnya Agatha sangat merindukan para penggemar dan ingin menyapa, namun untuk saat ini dia perlu menunggu dulu.
Matthew
Ucapan ku bisa saja sebuah kebenaran Agatha. Aku harap kau memikirkan ucapan ku tadi. Ingat, aku selalu mendukungmu.
Agatha menerbitkan senyumnya melihat pesan dari Matthew. Pria itu begitu jenius dan kritis, dia bisa berpikir sesuatu diluar nalar seperti saat ini. Ada benarnya juga jika orang yang membuat skandal Agatha bukanlah Irene atau sembilan teman Irene, ditambah Irene juga sedang tak ada di Belanda.
Agatha juga sudah membuka media sosial Irene. Kalau dilihat dari foto-foto yang diunggahnya, maka Agatha akan menyimpulkan bahwa dia tak seperti dulu lagi. Jika dulu penampilan Irene adalah baju yang terbuka dan ketat, kini dapat Agatha lihat pakaian Irene yang tertutup.
"Apa dia sudah berubah?" Ingatan Agatha terbang ke masa lalu, dimana wanita itu yang sangat ganas di masa sekolah, tapi sayangnya wanita itu sangat pintar, membuat pihak sekolah hanya memberikan surat peringatan padanya disaat berbuat salah. "Tak mungkin. Dia wanita gila."
Agatha membanting gadgetnya di ranjang. Dia melepaskan pakaiannya, ingin sekali rasanya dia berenang untuk menenangkan diri, namun apa boleh buat, dia tinggal di apartemen dan hanya ada satu kolam renang yabg berada di lantai dasar. Kolam renangnya juga sangat ramai tiap harinya, membuat Agatha sering merasakan tak nyaman.
••••
Rambutnya basah, air yang menetes ikut membasahi baju miliknya. Baru saja Agatha selesai mandi, dia melihat jam, hari sudah sore ternyata. Sudah dari pagi tadi dia belum makan, dan meminum s**u sepertinya sangat bagus dan cukup mengenyangkan.
Itulah Agatha. Wanita yang berprofesi sebagai penyanyi harus bisa menjaga berat badannya, jika saja berat badannya melebihi angka 53 kg, maka Agatha akan diberi surat peringatan atau bahkan gajih-nya akan di potong.
Karena sudah cukup lama berada di dunia hiburan, membuat Agatha terbiasa makan dan minum seperlunya. Beruntung, dia tak memiliki masalah lambung, jika tidak, dapat dipastikan Agatha akan mudah sakit.
Meminum s**u dengan memandangi pemandangan kota London dari atas langit adalah kegiatan Agatha. Apartemennya berada di pusat kota, jadi dia bisa melihat jalanan dan bangunan yang berdiri tegak berusaha mencakar langit.
Agatha menggeram kesal saat mendengar suara bel yang menganggunya. Apalagi, seseorang yang menekan bel bukan sekali, tapi berkali-kali membuat mood Agatha rusak. Dia beranjak, menaruh gelas yang berisi air s**u lalu menuju ke arah pintu.
Saat tiba di depan pintu, tak ada bunyi bel yang muncul lagi, dia membuka kunci dan pintu.
Alisnya terangkat satu. Tak ada satupun di depan unit apartemennya, siapa tadi? Apakah hanya orang iseng saja? Agatha berusaha berpikir positif, mungkin saja orang itu terlalu lama menunggu dirinya yang tak keluar. Dia melihat ke bawah, dimana ada kotak putih dengan pita pink yang menghiasinya. Tampak sangat indah sekali, Agatha pikir kotak itu pemberian dari salah satu penggemarnya atau mungkin kurir.
Dia mengambil kotak itu, lalu membawanya ke dalam. Duduk di dekat jendela lagi, dia menaruh kotak itu di adat meja, mengambil gelas lalu meminum habis s**u. Setelah itu, dia membersihkan gelas kotornya di wastafel.
Pekerjaannya sudah selesai, dia kembali lagi ke sofa dekat jendela. Melihat kotak putih itu, dia langsung mengambilnya, senyumnya tersungging kala melihat sepucuk kertas yang menyelip dibalik pita. Tangannya menarik kertas tersebut, membacanya dengan fokus.
Sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana dengan kejutanku kemarin? Kau pasti terkejut melihat rumor buruk mu itu. Ini adalah pelajaran untukmu, karena kami telah menghancurkan hidupku.
Irene.
Sudah Agatha duga, bahwa pelaku utama dari rumor ini tetaplah Irene. Wanita itu takkan pernah berubah, dia terlaku jahat untuk menjadi baik. Baru kali ini, tebakan Matthew salah. Pria itu mungkin tak bisa berpikir lebih jauh lagi, musuhnya ini sudah jelas, sudah ada di depan mata dan Agatha sudah mengetahuinya.
Dia menyingkirkan pita yang menghiasi kotak. Bau busuk memasuki penciumannya, Agatha ingin sekali muntah saat ini, namun berusaha sekali dia tahan. Agatha melihat satu mayat tikus yang telah dimutilasi dengan isi perut yang sudah dikeluarkannya.
Agatha menuju kotak sampah dan langsung memasuki kotak itu ke dalam kotak sampah. Dia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. s**u yang diminumnya tadi pasti sudah keluar dan perut Agatha kembali kosong akibat dia yang muntah.
Keran dihidupkannya, menumpahkan air ditangannya lalu mengusap wajahnya. Setidaknya dirinya sudah cukup tenang saat ini. Agatha keluar dari kamar mandi, melihat ketiga temannya yabg sudah di depan televisi seraya melihat aneh padanya.
"Ada apa denganmu, Agatha? Aku mendengar kau tadi muntah." Agatha mengangguk. Dia menuju ke depan televisi, memeluk bonekanya dengan erat.
"Ya, lagi-lagi aku kena teror lagi. Bukalah kotak sampah itu jika kau ingin tahu teror apa yang kudapatkan." Grace beranjak. Dia mengikuti ucapan Agatha untuk membuka kotak sampah, melihat satu kota yang berukuran besar.
Dia mengambilnya dan menggoyangkan kota itu, berusaha menebak apa isi di dalamnya.
"Grace, buka sini. Aku juga ingin melihatnya."
Grace kembali ke tempat duduknya. "Baiklah, ayo kita buka." Agatha langsung menutup wajahnya dengan boneka, sangat enggan sekali dirinya melihat mayat tikus lagi.
"Tikus mati ...."
"Akh ...."
Grace langsung membanting kotak itu di lantai. Dia langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya juga. Grace dan Agatha memang sangat mudah jijik pada sesuatu yang namanya bangkai hewan. Berbeda dengan Hana dan Ara yang menatap ngeri mayat itu tanpa berniat menyingkirkan dari lantai.
"Kalian yang menjatuhkan kotak itu hingga membuat bangkainya keluar. Jadi kalian juga yang membersihkannya." Agatha memasuki kamarnya, dia berusaha menjaga pandangannya untuk tak melihat mayat tikus tersebut.
Dia memasuki kamarnya. Mendengar sedikit bunyi kegaduhan yang berasal dari teman-temannya. Pasti mereka saat ini marah-marah pada dirinya, memang siapa yang nyuruh untuk melempar mayat itu lagi?
Agatha mengambil surat yang dipastikan berasal dari Irene. Surat itu sengaja dia akan simpan, karena suatu hari nanti pasti akan menjadi bukti kuat. Beruntungnya, Mr. Parker tak lagi ada di London, jadi dia tak berhadapan dengannya dulu, mungkin satu Minggu lagi, Agatha harus menemui bos nya itu.
Menaruh surat itu ke dalam kotak kayu yang dibuatnya. Kotak ini memiliki ukiran bunga awal, bewarna hitam dan juga putih, memiliki kunci sebagai keamanannya. Agatha sudah memiliki dua bukti, dia harus mencari bukti lain, yaitu kamera cctv di depan pintu unit apartemennya. Pasti orang yang menerornya akan tertangkap kamera.
"Agatha. Ayo makan, aku yakin kau pasti belum makan." Agatha tersenyum senang. Memang Ara sangat mengetahui kebetuhannya saat ini. Dia langsung keluar dari kamarnya, melihat ke arah lantai, ternyata sudah bersih. Pasti yang membersihkannya Ara atau Hana.
Teman-temannya sudah berada di meja makan. Grace menatap sinis padanya, jelas Agatha tahu maksud dari tatapan sinis Grace, wanita itu pasti sangat marah padanya. Agatha tersenyum kecil, dia ke tempat duduknya. Sudah dihidangkan berbagai macam makanan yang diperkirakan nya adalah membeli.
Agatha mengambil burger. Tak peduli bahwa berat badannya akan naik, yang terpenting saat ini adalah Agatha kenyang. Dia sudah sangat lapar karena tadi dia memuntahkan s**u yang diminumnya. Dilihat, Grace yang hanya meminum air putih dan memakan beberapa kentang goreng, wanita itu pasti tidak napsu makan.
"Maafin aku." Agatha berucap. Mau bagaimanapun dia juga salah. Harusnya dia memberi tahu apa isi kotak itu terlebih dulu, apalagi Grace mempunyai rasa takut yang besar pada tikus, pasti dia sangat marah pada Agatha.
"Harusnya kau mengatakan dulu apa isi kotak itu." Agatha mengangguk mendengar ucapan Grace.
"Baiklah. Kita anggap masalah ini selesai. Ayo jangan marahan lagi, kita tak memiliki banyak waktu." Hana berucap.
Agatha melanjutkan makannya. Tak peduli dengan saus yang menempel di sekitaran wajahnya, dia tetap melanjutkan makannya. Perutnya terasa sangat penuh, dia memegangnya. "Aku sangat kenyang sekali.", Agatha menatap pada tempat makanan yang telah bersih. Dia memakan burger juga pizza, bagaimana tak kenyang.
"Oke. Karena kalian sudah selesai makan, ayo ceritakan Agatha, kau pasti tahu siapa siapa pelakunya."
Agatha menegakkan tubuhnya. Dia mengangguk.
"Ya, kau benar aku mengetahuinya. Irene lah yang meneror ku."