5. Pelaku Utama

1500 Kata
Merry. Yura. Selly. Belinda. Bella. Delora. Tiffany. Jessica. Amber. Agatha menghela napasnya. Dia sudah sangat kesal saat ini. Bagaimana bisa media percaya dengan kabar palsu seperti ini? Bahkan mereka tak mencari tahu kesembilan kalinya wanita yang menjadi saksi adalah teman-teman Irene sendiri. Tentu saja, mereka akan membantu Irene. Seingat Agatha, mereka sembilan sangat mendewakan Irene dan menuruti kemauan wanita itu terus. "Jika begitu, kasus ini pasti akan selesai dalam waktu singkat." Krystal mengambil dokumen biru tersebut. Dia menyeringai, masalah ini tak terlalu sulit untuk diselesaikannya. "Media terkejut dengan ungkapan Krystal, karena wanita itu memiliki bukti dan saksi yang sangat kuat." Krystal beralih. Dia mengetuk beberapa kata di atas keyboard dengan cepatnya. "Dia juga termasuk golongan orang kaya di Inggris. Pasti sangat mudah untuknya menyogok seseorang membantunya dalam kasus ini." Agatha mengangguk membenarkan ucapan Krystal. Irene sangat kaya, pasti wanita itu dengan mudahnya melakukan apapun yang diinginkannya. Bahkan dulu, di masa sekolah, kerap kali Irene dikawal dengan tiga puluh bodyguard untuk menjaganya. Lalu, apakah dia masih dendam pada Agatha setelah kejadian tujuh tahun lalu? Mungkin saja. Wanita itu sangat tak menyukai jika ada orang lain yang menjatuhkannya dan Agatha adalah wanita pertama yang dengan beraninya menampar pipi wanita itu. "Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" "Kau buat surat ucapan minta maaf dan mengatakan yang sebenarnya. Setelah itu, aku akan menyelesaikan ini semua." Agatha mengangguk, dia ingin sekali memeluk Krystal. Wanita itu sangat baik sekali karena telah membantunya dalam kasus ini. "Terimakasih Krystal." "Tenang, masalah ini masih belum selesai. Jika sudah benar-benar selesai, kau boleh berterimakasih padaku." Agatha mengangguk. Dia mengambil air putih. Rasanya setengah beban dalam dirinya tadi sudah terangkat dan membuat Agatha lega. "Baiklah. Aku akan keluar dulu Krystal." Agatha langsung keluar setelah melihat anggukan Krystal. Wanita itu kembali melakukan pekerjaannya yaitu membaca beberapa dokumen penting. Berbeda dengan Agatha yang sangat jarang berhadapan dengan dokumen. Semua orang yang lewat menatapnya dengan aneh, Agatha tahu itu. Dia bahkan sudah memprediksi apa isi pikiran mereka semua saat ini. Mereka juga tampak segan dengan keberadaan Agatha. Padahal baru skandal kecil, tapi sudah banyak orang yang mencurigainya. Banyak orang yang ingin menjatuhkannya. Dari segala bentuk tuduhan dan laporan dia dapatkan selama berkarir di dunia entertainment, tapi baru sekarang tuduhan yang di dapatkannya dapat merubah pola pikir orang lain untuknya. Agatha kembali ke ruangannya. Lagu sudah disiapkan, meski hanya setengah. Agatha ingin pulang ke apartemen, lalu mengistirahatkan tubuhnya. Dia sangat lelah hari ini, setelah pulang dari Amerika, dia belum beristirahat sedikitpun. Bahkan pada saat dia di pesawat saja, matanya menolak untuk memejamkan karena pikiran terus berjalan. Mungkin, untuk masalah teror, Agatha akan menundanya dulu untuk membereskan. Saat ini, yang perlu dia lakukan harus bertemu dengan Irene. Tak ada jalan lain selain menemui wanita itu, karena dengan dia menemui Irene, dan berbicara baik-baik, wanita itu pasti akan menghilangkan skandal dengan mudahnya. Dia tak bisa mengandalkan penuh Krystal. Krystal masih memiliki pekerjaan lain, dia juga sering menjadi tempat untuk mendengar keluhan beberapa idola di JB entertainment, pasti Krystal sangat sibuk. Agatha menuju ruangan studio musik. Orang-orang yang berada di dalamnya masih sama, ketiga temannya, Brian dan juga Vernon. Mereka langsung berdiri dan mendekati Agatha disaat Agatha masuk. "Bagaimana? Apakah kalian memiliki akar penyelesaian masalah ini." Agatha memutarkan bola matanya, dia sudah lelah, namun dia juga harus menceritakan kesimpulan yang didapatkannya tadi saat berdiskusi bersama dengan Krystal. "Mari, kita duduk dulu." Agatha kembali duduk di tempat sebelumnya, begitu juga yang lainnya. Mereka tampak tak sabar mendengar cerita Agatha. "Aku sudah menjelaskan semuanya tentang rumor tersebut kepada Krystal. Krystal sudah menyiapkan bahan yang cukup banyak tentang masalah ini. Dia telah mendapatkan biodata sang pelaku yang menyebarkan rumor ini, yaitu Irene dan ke sembilan wanita yang menjadi saksi." "Kalian tahu, bahwa saksi yang membenarkan bahwa aku dibully adalah teman-teman Irene sendiri. Aku hanya mengungkapkan dari opini ku saja, bahwa sebenarnya Irene menyuruh teman-temannya untuk membenarkan rumor itu." "Syukurlah kalau begitu," ucap Ara. "Lalu, jika Irene sudah merencanakan ini, mengapa dia membongkar masalah masa lalu di waktu ini. Kenapa tidak dari dulu saja?" "Mungkin saja, karena Agatha sedang berada di karir puncaknya, pastinya sangat mudah menuduh dia jika sekarang di lakukan." Hara berucap dengan sungguh-sungguh. Semua orang membenarkan ucapan Hana, kasus ini cukup biasa bagi penyanyi yang sudah berada di puncak karirnya. Pasti ada saja yang menjatuhkan posisi Agatha dengan cara apapun. "Kau benar." Agatha jadi teringat dengan masa lalu. Dia sangat ingat apa cita-cita yang dimiliki oleh Irene, wanita itu sangatlah ingin menjadi seorang yang memiliki karir di dunia hiburan juga, pasti dengan cara ini sengaja Irene lakukan agar dia dapat dikenal. "Baiklah. Aku ingin pulang dulu, masalah ini tinggal sedikit lagi selesai. Aku ingin istirahat dulu." Agatha beranjak dia memakai tas selempangannya dan memasukkan beberapa barangnya yang berada di atas meja, seperti gadget dan juga kertas dari peneror. "Aku juga ingin pulang." Hana berucap. Grace dan Ara mengangguk mereka juga akan bersiap-siap untuk pulang. •••• Harusnya, hari ini Agatha memiliki jadwal pemotretan. Selain menjadi penyanyi, dia juga kerap kali ditawarkan untuk menjadi model dari berbagai produk terkenal dunia. Bukan hanya Agatha saja, Grace, Ara dan Hana juga memiliki profesi yang sama dengannya yaitu sebagai model dan penyanyi. Namun, hari ini menejernya harus mengubah seluruh jadwal yang telah dibuat. Skandal yang tengah terjadi dengan Agatha membuat beberapa perusahaan mulai ragu untuk mempercayai Agatha lagi. Dia harus menerima semua ini. Skandal yang membuat karirnya hampir hancur. Agatha ingin menyelesaikan masalah ini. Pertama, dia harus menemui Irene dahulu, wanita itu adalah kunci utama akar permasalahannya. Agatha sudah siap-siap. Dengan menggunakan kaos putih dan celana panjang, juga jaket yang menutupi tubuhnya. Dia memakai masker untuk melindungi wajahnya agar tak ketahuan oleh siapapun. Agatha mengambil buku yang berisi datang tentang teman-teman seangkatannya dulu. Dia mencari nama Irene, setelah ketemu Agatha menulis alamat rumah wanita itu pada secarik kertas. Agatha berangkat dengan kendaraan bus. Dia harus menunggu di halte, jam bid untuk datang di halte pukul sembilan tepat, sedangkan saat ini baru jam 08.55. Menunggu adalah sesuatu yang ia lakukan saat ini. Agatha menengokan kepalanya ke arah kanan, dimana bis sudah mulai tampak dari jarak jauh. Agatha langsung berdiri, begitu juga dengan empat wanita muda dan satu wanita tua yang ikut menunggu kedatangan bis. Mereka memasuki bis. Agatha mengambil tempat duduk di bagian belakang. Dia memakai headset dan mendengarkan lagu milik salah satu penyanyi terkenal, Selena Gomez. Tangannya mengambil buku dalam tas dan membacanya. Tak berapa lama, bid kembali lagi berhenti di sebuah halte. Halte ini adalah tempat terdekat dari sebuah perumahan elit, dimana tempat tinggal Irene berada. Agatha berjalan dengan pelannya. Untuk memasuki perumahan elit ini sangat sulit, karena penjagaannya sangat ketat. Agatha bahkan harus menunjukkan kartu tanda pengenal nya pada salah satu penjagaan baru dia diperbolehkan masuk. Harusnya Agatha menggunakan kendaraan bermobil agar bisa dengan mudah masuk, namun mobilnya rusak dan bannya juga sudah kempes. "Bisakah saya bertemu dengan Irene Wallace?" tanya Agatha pada penjaga mansion mewah milik Irene. Mansion nya tampak sepi, hanya ada beberapa penjaga saja di mansion ini. Apa mereka pindah rumah? Mungkin saja. Wanita itu sangat kaya dan sangat mudah bagi dirinya untuk membeli sebuah mansion. "Maaf, nona. Nona Irene saat ini sedang pergi ke Belanda." Agatha mengerutkan dahinya bingung. "Kapan dia perginya?" "Lima bulan lalu." Kepala Agatha sangat pusing sekali. Apakah wanita itu menjalankan rencananya dari Belanda? Apa dia sengaja menghindari dari Agatha? Astaga, banyak sekali masalah yang harus Agatha selesaikan. "Apakah kalian tahu, kapan Irene akan pulang?" Penjaga itu menggelengkan kepalanya. "Nona Irene sedang menempuh ilmu di Belanda. Kepulangannya tak dapat ditebak." Agatha mengangguk. Dia berbalik, kembali ke tempat tinggalnya, misi pertamanya gagal total. Irene sudah pergi. Tak mungkin bagi dirinya untuk menemui Irene ke Belanda. Lagian juga, dia tak tahu dimana tempat tinggal Irene di Belanda. Agatha telah keluar dari komplek perumahan mewah. Dia berjalan tanpa tahu arah. Hatinya merasa kesal pada Irene. Wanita itu melakukan rencananya dia negara Belanda. Ingin rasanya Agatha menampar wanita itu lagi. Apa dia harus menemui sembilan wanita yang menjadi saksi? Tapi Agatha sendiri tak cukup dekat dengan mereka. Bunyi klakson dari arah belakang menganggu aktivitas Agatha. Dia meminggirkan tubuhnya, berbalik melihat sebuah mobil bewarna merah yang berhenti di dekatnya. Sang pemilik keluar, pemilik itu adalah Matthew, pria yang menjadi teman Agatha selama tujuh tahun terakhir. Pria itu mendekati keberadaan Agatha. Wajahnya tampak cemas. "Agatha, kau kemana saja?" Disaat Matthew hendak memeluk Agatha, wanita itu mundur beberapa langkah. Dia mengitari pandangannya, takut ada paparazi yabg sedang mengawasi mereka. "Kita bicara di dalam mobilmu saja." Matthew mengangguk. Mereka memasuki mobil. Agatha merasa lega, tubuhnya sangat lelah karena sudah terlalu banyak berjalan tadi. Dia langsung menyenderkan punggungnya. "Agatha. Ayo jelaskan, kemana saja kau dari pagi tadi?" Matthew yang melihat Agatha kelelahan dan kehausan langsung memberikan sebotol air putih. Wanita itu langsung mengambil dan meneguk kan hingga sisa setengah botol. "Kau memang teman yang berguna." Agatha membangunkan tubuhnya, dia menghadap ke arah Matthew. "Aku tadi pergi ke tempat teman sekolahku yang mengungkapkan bahwa aku adalah pem-bully. Sayangnya wanita itu telah pergi ke Belanda?" "Kapan pergi nya?" "6 bulan lalu." Matthew menatap dalam Agatha. "Apakah kau percaya sepenuhnya bahwa dia pelakunya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN