11. Keluar?

1494 Kata
Tangan Mark mengepal dengan kuatnya. Urat-urat nya menonjol, menunjukkan kemarahan Mark saat ini. Suhu ruangan tersebut seolah bertambah, menjadi panas dan membuat kedua penjaga ruangan kemanan tersebut harus ketakutan. Mereka jelas tahu bahwa Mark saat ini sangat marah, tapi mereka tak tahu alasan kemarahan Mark. "Setidaknya kalian melihat kejadian sebelum cctv ditembak kan? Cepat ceritakan apa yang terjadi." Mereka menghembuskan napasnya kasar. Saling melirik, mencari jawaban yang tepat untuk diberikan kepada Mark saat ini. "Maaf tuan. Kejadian menembak cctv, kami real melihatnya. Saat itu kami sedang dalam pertukaran sift, sehingga ruangan ini kosong." "Tak becus." Mark langsung meninggalkan ruangan kemanan. Di sepanjang jalan, dia hanya diam, mencari jalan keluar dalam masalah ini. Hatinya terus mengumpat seribu sumpah serapah kepada para penculik Agatha. Mereka sangat tega memberikan Agatha narkoba seperti itu. Pelaku belum ditemukan, bukti dan saksi bahkan tak dipegang. Semua masalah menumpuk menjadi satu, media mulai gencar-gencarnya mencari informasi yang banyak. Berita hoax pun jadi, membuat nama Agatha semakin buruk. Ribuan pesan hujatan telah sampai pada media sosial Agatha, ratusan kado teror telah sampai di apartemen Agatha. Kali ini, akan sangat sulit untuk Agatha melawan skandal ini. Seluruh pembenci bersatu, membuat petisi untuk mengeluarkan Agatha dalam dunia hiburan. Disaat para pembenci bersatu, maka akan sangat sulit menemukan peneror. Sang peneror adalah provokasi atas masalah ini juga. Sekitar 50% penggemar mulai berubah haluan menjadi pembenci Agatha. Media sosial adalah media mereka menyampaikan seluruh rasa benci. Mark harus menahan rasa kesalnya untuk saat ini, dia dapat merasakan getaran hebat pada kantung celananya. Gadgetnya sedari tadi berbunyi, dari telepon hingga pesan berupa email. Mark mengambil gadgetnya. Melihat Krystal yang saat ini menghubunginya, dia langsung menggeser layar bewarna hijau. Mendekatkan benda pipih tersebut ke telinga nya. "Ada apa Krystal." "Aku sudah menghubungi sebuah rumah sakit. Portland Hospital, mereka mengkonfirmasi bahwa hari ini, akan dilakukan tes urine untuk tes nya." "Percuma." Semua sudah terjadi, hasilnya juga pasti positif karena Agatha sudah diberikan narkoba malam tadi. Ingin rasanya Mark menceritakan itu semua, hanya saja, berbicara dalam telepon juga sangat tak baik. "Maksudmu?" Di seberang sana, Krystal sedang menghentikan kegiatannya. Dia menutup laptopnya, mendengar dengan serius ucapan Mark. Dia merasa ada yang tak beres dengan Mark. "Aku akan ke gedung sekarang untuk menjelaskan semuanya." Mark menutup teleponnya. Dia menuju apartemen Agatha. Ada begitu banyak kado yang menumpuk di depan pintu apartemen Smart. Bahkan hampir menutupi pintu apartemen, Mark menggeleng pelan. Harusnya dia menyewa seorang bodyguard untuk menjaga apartemen ini. Dapat dipastikan kado-kado tersebut berisi sesuatu yang buruk. Bisa saja mayat tikus, seperti yang Agatha dapatkan kemarin atau pesan ditulis dengan darah. Entah siapa yang telah menyebarkan alamat apartemen Smart. Banyak orang yang berbondong-bondong untuk datang ke Apartemen ini, bahkan dari sini, Mark dapat mendengar suara berisik dari luar sana. Mark membuka pintu Apartemen. Melihat Agatha yang tampak melamun, seraya membolak-balik bukunya. Ada juga Ara dan Grace yang asik dengan smartphone nya. Kerutan muncul di dahi Mark, melihat satu sosok pria yang duduk di dekat Ara. Mengelus rambut Ara dengan romantisnya, mereka seperti memiliki hubungan istimewa saat ini. "Siapa dia Ara?" Mark mengambil duduk di samping Agatha, menepuk pelan bahu wanita itu untuk menyadarkan dari lamunannya. "Kekasihku." Ara menjawab. "Kita sedang dalam situasi seperti ini dan kau sibuk dengan kekasihmu?" Mark tak habis pikir dengan Ara. Dia yang sedang pusing memikirkan masalah ini, juga Hana yang terus mencari jalan keluar dan Grace yang terus menenangkan penggemar, sedangkan Ara justru tak melakukan apapun yang dapat membantu keselamatan Smart saat ini. "Aku harus apa? Memikirkan masalah ini? Aku yakin, masalah ini akan membuat nama Smart buruk dan apapun yang kalian lakukan nantinya, akan mendapatkan tak akan mendapatkan hasil. Karena apa? Karena kita sudah tak memiliki penggemar lagi, seperti dulu," ucap Ara. Wajahnya merah padam, menatap Agatha dengan kesalnya. "Itu semua karena mu Agatha. Kalau saja kau tak mencari masalah dan berlagak populer, pastinya pembenci kita sedikit." "ARA!" Grace tampak marah saat ini, begitu juga Hana dan Mark. Namun kedua orang itu hanya bisa menahan rasa marah saja. "Apa? Yang aku ucapkan adalah benar. Seandainya saja Agatha dulu mendengarkan apa yang kita ucapkan, maka semua ini tak akan terjadi. Agatha diteror hingga skandal yang dibuat, itu semua atas kesalahanmu Agatha. Lihatlah, dampaknya apa? Smart akan bubar, para pembenci sudah membuat petisi secara besar-besaran dan kontrak harus putus secara sepihak." Ara memegang tangan kekasihnya, Jackson, dan membawanya pergi, keluar dari apartemen. Menyisakan suhu panas dalam ruangan tersebut. Hanya ada keheningan saja. Mereka melamun, sebenarnya ucapan Ara ada benarnya juga. Ini adalah kesalahan Agatha yang terus keras kepala dengan terbuka pada media. Lihatlah, pasti orang-orang mengetahui tempat tinggal Smart karena Agatha yang terus membuat tagar di media sosial. Suara tangisan terdengar. Agatha menutup mulutnya, berusaha meredakan tangis nya. Dia mengakui kesalahan ini. "Maaf." Hanya kalimat tersebut yang bisa Agatha ucapkan. Tak banyak yang bisa dia lakukan saat ini, kecuali minta maaf. "Bersiaplah. Kita akan ke agensi saat ini." Satu-persatu dari mereka pergi, meninggalkan Agatha dan tak sedikitpun menjawab permintaan maaf Agatha. Mereka bukan tidak mau memaafkan Agatha. Mereka hanya ingin Agatha dapat meresapi kesalahannya saat ini. Hanya itu saja, mereka tahu, mungkin dengan cara ini, Agatha akan tersakiti. ••• Puluhan hingga ratusan wartawan menumpuk di depan gedung. Mereka duduk, menunggu siapapun orang yang bisa mereka dapatkan informasi. Bahkan beberapa petinggi di JB entertainment harus terkena dampak.juga, di mana dia harus berjalan secara desak-desakan untuk masuk ke dalam gedung. Disaat mobil mereka masuk dalam lingkungan gedung JB entertainment, disaat itu pula, pada wartawan mengumpul dan menghalangi jalan mobil yang dikendarai oleh Mark. Beruntungnya, ada beberapa penjaga keamanan yang berusaha mencegah para wartawan. Di dalam mobil, ada Grace, Hana dan Agatha. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara, hanya keheningan saja yang meliputi mereka. Mobil berhenti di basement, mereka keluar secara satu persatu. Mereka memasuki gedung, langsung menuju ruangan Krystal. Di ruangan, Kristal tak sendiri, ada Mr. Peter yang juga tengah duduk membahas sesuatu yang penting. Sangat tumben Mr. Peter yang lebih dulu mendatangi ruangan Krystal. Biasanya pria paruh baya itu akan langsung menyuruh Krystal untuk ke ruangan. "Selamat siang." Mark menyapa. Krystal langsung mengalihkan pandangannya, berbeda dengan Mr. Peter yang tak berbalik sedikitpun. Pasti dia tahu siapa yang datang saat ini. "Kalian bisa duduk di sana." Krystal beranjak, begitu juga dengan Mr. Peter, mereka duduk di sofa yang cukup untuk menampung sepuluh orang. Krystal duduk di singel sofa, begitu juga dengan Mr. Peter. "Jadi, Mark. Apa yang akan kau jelaskan untuk hari ini?" Krystal bertanya. Mark melirik sejenak ke arah Agatha. Wanita itu mengangkat dagunya, mengepalkan tangannya, Mark tahu, pasti Agatha tengah menahan rasa takutnya. "Mungkin kalian tak akan percaya dengan cerita ini." Mark menghembuskan napasnya kasar, memposisikan tubuhnya dengan benar, laku kembali menatap Krystal dan juga Mr. Peter. "Malam tadi, Agatha diculik. Dia dipaksa menelan sebuah bubuk yang di duga adalah narkoba." "Jadi?" "Sangat percuma kita melakukan tes, jika hasilnya akan pasti positif." "Omong kosong." Mr. Peter berucap. Mereka sekejap langsung diam. Menunggu kelanjutan dari pemilik JB entertainment tersebut. Tak ada yang ingin menyela ucapannya untuk saat ini. Baik Agatha, Hana dan Grace harus menunggu keputusan dari Mr. Peter hari ini. "Jangan membuat cerita, Mark. Tak mungkin dalam semalam semua terjadi dengan cepat." Krystal mengangguk membenarkan. Menurut mereka, ini semua terlalu cepat. Bahkan diculik dalam satu malam dan bisa melarikan diri. "Agatha. Cepat ceritakan!" Suara Mr. Parker begitu tenang dan dalam, hal itu justru membuat Agatha mulai takut. "Yang dikatakan Mark benar, Mr. Parker. Aku diculik malam tadi, tepatnya pukul 09.15." "Apakah kalian memiliki bukti?" Mark menggeleng. Tak satupun dia memegang bukti yang dibutuhkan. Rekaman cctv telah hilang, saksi tempat juga tak ada. "Tidak." Wajah Mr. Parker merah padam. Dia mengepalkan tangannya, berusaha untuk tenang. Kristal yang sudah melihat reaksi bos nya turun tangan. "Mark. Masalah ini sudah sangat besar. Lihatlah dari seluruh media sosial sudah banyak yang mengikatkan kebencian dan berita hoax. Sedangkan untuk kehidupan pribadi, kalian akan terus diganggu oleh para wartawan." "Masalah kemarin sudah cukup saya terima. Kalian tak bisa menyelesaikannya, tapi untuk masalah kali ini, saya akan langsung turun tangan untuk menyelesaikannya." Pandangan Mr. Parker mengarah pada Agatha, menatap wanita secara dalam. "Apa yang akan kau lakukan Agatha." Mr. Parker seolah tahu apa yang Agatha pikirkan. Agatha telah mengambil sebuah keputusan besar, keputusan yang sudah dipikirkannya dari jauh-jauh hari. "Jika masalah ini belum selesai atau reda dalam waktu dua Minggu. Aku akan keluar dari Smart, agensi ini dan dunia hiburan." Grace dan Han langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Agatha. Mereka ingin menyangkal, namun harus dihentikan oleh Mark yang melototi mereka. "Baiklah, jika seperti itu. Kau masih memiliki waktu dua minggu untuk menyelesaikan masalah ini." Mr. Parker beranjak dan pergi dari ruangan Krystal. "Agatha. Apa yang kau ucapkan tadi?" Wajah Grace tampak kesal setelah mendengar ucapan Agatha yang tak main-main. "Aku harus keluar dari Smart. Aku tak bisa berada di sini dan aku tak ingin Smart hancur karena aku saja." Hana dan Grace terdiam, begitu juga dengan Krystal dan Mark. Menunggu lanjutan dari ucapan Agatha. "Aku tak masalah keluar dari Smart. Aku siap menjalani dunia yang baru. Jadi, jangan khawatir lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN