"Agatha!" Panggil seseorang dari arah belakang. Wanita dengan pakaian dress hitam, sepatu hak tinggi dan polesan wajah yang tipis itu mendekati keberadaan Agatha. Sedari tadi dia telah memanggil Agatha dari jauh, tapi wanita itu tak menggubrisnya sama sekali. Dia menyentuh bahu Agatha. "Agatha." Wanita itu kembali memanggil. Dia sedikit mendorong tubuh Agatha, agar wanita itu sadar dari lamunannya.
Cukup lama, baru Agatha tersadar dari lamunannya. Dia merasakan tangan dingin menyentuh permukaan kulitnya di daerah bahu. Agatha langsung berbalik, matanya membesar melihat wanita yang ada di depannya. Antara percaya dan tidak, Agatha pikir ini adalah mimpi. Dia memukul paha nya, tapi tetap saja dia masih duduk di kursi.
"Joy." Agatha berucap dengan bibir yang gemetar. Dia sangat tak menyangka sekali bahwa wanita yang menjadi sahabat lamanya dulu kini ada di depannya.
"Sudah lama tak bertemu, Agatha." Joy duduk di samping Agatha. Menatap wanita itu sangat lama dan dalam, tatapannya tak dapat di artikan.
Agatha menyadari itu. Dia gelagapan, canggung sekali berdekatan dengan sahabat lama. Padahal, dahulu mereka begitu dekat dan sering menginap bersama menghabiskan malam dengan menonton drama dan saling bercanda.
"Ya. Sekitar empat atau lima tahun."
Joy tertawa kecil. Entah apa sumber kelucuan dari yang Agatha ucapkan. Agatha merasa Joy telah berubah banyak. Dari segi berbicara hingga penampilan. Agatha seperti tak mengenali dia lagi, Joy seperti asing di matanya.
"Ya, sudah selama itu juga aku harus mendekam dalam penjara buatan seseorang."
Duduk Agatha mulai tak nyaman. Dia hanya memberikan senyum kecil pada Agatha untuk tanggapannya. Agatha tak tahu harus melakukan apa. Ingin rasanya dia pergi dari tempat ini. Namun rasanya tak enak meninggalkan Joy sendiri di taman ini. "Bagaimana kabarmu?" Hanya pertanyaan itu saja yang bisa Agatha ujarkan.
"Dulu aku baik saat bersamanya. Namun, dia sudah tak ada saat ini, meski lidahku berkata baik-baik saja, tapi tidak dengan hatiku."
Lagi-lagi Joy membahas masa lalu. Dia sangat tak menyukai bagian ini. Agatha sudah sedari tadi berusaha memutar topik agar tak membahas masa lalu. "Aku harap kau selalu baik-baik saja."
"Aku pun terus berdoa kepada Tuhan." Mata sayu Joy itu melirik ke atas langit. Senyum kecil muncul di bibir tebalnya. Dia menatap Agatha. "Aku dengar kau kini sudah menggapai cita-cita mu sebagai penyanyi ya?"
Agatha mengangguk. "Benar. Namun sepertinya aku harus melepaskan cita-cita itu."
"Aku baru mendengar kalau kau terkena skandal." Joy menunjuk pada beberapa wartawan yang masih mengumpul di depan gedung JB Entertainment.
Tempat taman memang berada di depan gedung agensinya. Agatha melakukan penyamaran, dia memakai masker dengan polesan wajah yang mengubah bentuk wajah aslinya. Anehnya, Joy mengenali Agatha dengan penampilan seperti ini. Sedangkan beberapa wartawan yang melewatinya saja tak ada yang mengenalinya. "Ya, kau benar. Aku baru terkena skandal buruk yang mengharuskan aku untuk keluar dari dunia hiburan."
"Masalah itu memang selalu ada dalam manusia begitu juga dengan pembuat masalah selalu ada di sisi kita." Joy menepuk bahu Agatha pelan. "Aku pergi dulu." Dia beranjak, berjalan dengan anggunnya menuju mobil yang terparkir rapih.
Agatha menyipitkan matanya. Dia melihat sesosok bayangan dalam mobil itu. Agatha yakin, Joy pasti dengan seseorang di dalamnya. Tapi siapa? Dari penampilannya, Agatha dapat menilai bahwa orang itu adalah seorang pria.
•••••
Satu alis Agatha terangkat. Menatap aneh pada pria yang menjadi tetangganya ini. Penampilannya seperti tak asing di mata Agatha. Jackson memakai Hoodie hitam dengan gambar tengkorak di bagian depannya. Memakai kaca mata dan menaruh kamera di lehernya dengan menggunakan tali.
Seperti mata-mata?
Dia berdiri di depan apartemen Smart. Bersandar pada tembok dan menghisap satu puntung rokok. Disaat dia menyadari keberadaan Agatha, pria itu langsung mematikan rokoknya. Tersenyum tak bersalah atas kesalahan yang telah dilakukannya.
"Bacalah peraturan." Agatha menunjuk pada plang larangan di tembok, plang tersebut bergambar rokok yang di kelilingi oleh lingkaran merah, lalu satu hari miring pada rokok tersebut.
"NO SMOKING." Tulisan yang berada di bawah gambar tersebut.
Jackson terkekeh pelan. "Maaf, aku menunggu Ara sedari tadi. Dia sangat lama memoleskan make up di wajahnya."
Pandangan Agatha jatuh pada kamera yabg dibawa Jackson. Dia merasa tak asing dengan kamera itu. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, dimana dia memergoki seseorang yang berniat mengambil gambarnya, tepatnya di Amerika dulu. "Itu kamera mu?" Agatha menunjuk kamera yang Jackson bawa.
"Tentu. Kau tahu, kamera ini sangat mahal. Aku saja membelinya harus menjual dua mobil sport ku."
"Akan kau apakan kamera itu, harganya sangat mahal."
Jackson tersenyum samar, menatap Agatha dengan tajamnya. Agatha saja sangat takut melihat reaksi Jackson. Memang dia salah apa? Agatha hanya menanyakan sesuatu yang bersifat umum. "Kau tak perlu tahu.
Agatha mengangguk. "Baiklah. Aku masuk dulu." Agatha mengetik beberapa huruf dan angka sandi untuk membuka pintu. Jackson melirik sejenak ke arah apartemen Agatha saat pintu telah terbuka. Dia mendengus kesal saat Agatha menutupnya lagi dengan waktu yang cepat. Padahal dia butuh banyak informasi.
"Aku sudah mendengar keputusanmu." Ara duduk di sofa. Tangannya di lipat di d**a dan menatap tajam Agatha. Wanita itu tampaknya masih marah saja sama Agatha. "Baguslah keputusanmu untuk keluar dari Smart sudah benar. Dengan begini, aku yakin pasti nama Smart aku baik lagi." Dia beranjak, mengambil tas selempangannya dan masker, lalu pergi dari apartemen. Sedikit membanting pintu hingga membuat sebuah suara yang mengganggu pendengaran.
Tubuh Agatha sangat lemas. Dia terjatuh di lantai. Menangis terisak, mendengar ucapan Ara tadi mampu menusuk hatinya. Dia sangat sakit hati saat ini. "Benar, Agtha. Keputusanmu sudah sangat tepat." Beribu-ribu kali Agatha mengucapkan kalimat yang dianggap dapat menenangkannya.
Melihat sendiri ketiga temannya yang tak keberatan dengan keputusannya, membuat Agatha menjadi sedih. Dia seperti tak dibutuhkan lagi, padahal Agatha sangat membutuhkan seseorang untuk di sampingnya.
••••
Sudah dua minggu berlalu. Tak ada usaha Agatha untuk menyelesaikan masalahnya. Selama dua minggu, dua tak tinggal dengan Hana, Grace dan Ara. Agatha harus menyewa hotel untuk menenangkan dirinya. Agatha sudah pasrah, jika keluar dari dunia hiburan dapat membuat hidupnya tenang, maka Agatha rela.
Agatha telah siap. Dengan dress hitam dan kalung emas dipakainya. Hari ini adalah hari dimana gelar penyanyi untuknya akan hilang. Agatha mengambil kopernya. Dia membawa ke basement dan mengendarai mobil dengan kecepatan yang lambat.
Tujuannya adalah ke gedung agensinya. Jarak antara hotel dengan gedung agensi sekitar 29 km, tak terlalu jauh. Hanya dengan waktu satu jam saja, Agatha sudah sampai. Dia melihat wartawan masih saja ada di depan gedung agensinya.
Agatha memakai gerbang belakang, memarkirkan mobilnya lalu keluar. Hembusan napasnya terasa sangat berat, Agatha merasa sesak sekali. Dia memasuki gedung dan langsung menuju ke ruangan Smart. Di ruangan ini sudah ada ketiga teman-temannya, juga ada Brian, Krystal dan Mr. Peter.
Dia mengambil tempat duduk. Tersenyum kecil pada mereka semua.
"Sampai saat ini, masalah belum juga selesai. Justru sang pelaku pergi jauh sampai tak bisa dihubungi." Agatha hanya menatap datar saja. Jelas dia tahu sindiran itu untuknya.
"Agatha. Ingat ucapanmu dulu, jika kau tak memiliki jalan keluar dari masalah ini, maka kau harus keluar dari Smart dan agensi ini."
Agatha mengangguk. "Aku selalu mengingatnya Mr."
Krystal mengeluarkan dokumen yang dilapisi oleh map hitam. Dia memberikan map tersebut pada Agatha. Wanita itu membaca sejenak, kontarknya akan terputus atas kedua belah pihak, tak ada kerugian yang di dapat antara agensi dengan Agatha.
Ada tujuh kertas yang harus Agatha tanda tangani. Dia mengambil bolpoin dan memberikan tanda tangan di setiap kertasnya. Setelah selesai, dia memberikan kembali pada Kristal. "Semuanya sudah selesai."
"Kau sudah resmi keluar dari Smart. Tiga hari lagi, kami akan mengumumkan keluarnya kau dari grup." Agatha mengangguk. Dia beranjak, mengambil tas selempangannya, menatap Hana, Grace dan Ara sejenak. Tak ada raut kesedihan di wajah mereka. Apa mereka kecewa padanya? Tapi, Agatha sudah melakukan apapun.
Mungkin tak sopan karena Agatha pergi begitu saja. Namun Agatha ingin melepaskan seluruh rasa sakitnya. Dia tak ingin diam dan mengucapkan kalimat perpisahan untuk seluruh temannya, tapi Agatha berharap, dia akan bertemu lagi dengan seluruh temannya disini.
Agatha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Mata nya berkaca-kaca, dia langsung menginjak gas. Tak baik mengendarai mobil dalam keadaan menangis seperti ini. Kepalanya di sandarkan pada kemudi mobil, menangis terisak.
Ternyata merelakan seluruh karirnya hancur sangat sulit. Agatha sudah berusaha menghibur dirinya agar tak berlarut dalam kesedihan, namun itu hanya percuma. Agatha mengambil air putih, meneguk satu botol hingga rasa haus nya hilang. Dia mengambil smartphone nya. Seluruh akun media sosial telah dirubah nya, bahkan nomor teleponnya sudah Agatha rubah.
Dia sudah siap untuk memulai hidup yang baru.
Agatha membuat sebuah aplikasi dia membeli tiket pesawat secara online. Beruntung jadwal penerbangan sekitar 3 jam lagi dan tiket masih tersedia, sehingga Agatha hanya perlu melakukan check in saja.
Dia mengendarai mobilnya menuju bandara, mengambil kopernya lalu melakukan check in setelah selesai, Agatha duduk di kursi tunggu. Dia hanya perlu menunggu pengumuman saja. Pesawat terbang tinggal dua jam lagi. Agatha memainkan smartphone nya. Tak sengaja, dia melihat pada pencarian di i********: dimana Grace, Hana dan Ara foto bertiga.
#3
Itulah caption yang terpasang. Banyak komen yang membanjiri, tapi Agatha tak ingin membacanya. Dia langsung beralih, melihat tempat wisata dimana tempat tinggalnya berada.
Tak terasa, dua jam Agatha habiskan waktu hanya dengan memainkan Smartphone nya. Sudah ada pengengemuman. Agatha sudah menaruh kopernya di bagasi, dia masuk dan menyerahkan boarding pass kepada
pramugari dan mengambil tempat duduknya. Dia duduk di kursi dekat jendela berada, melihat daratan yang tampak jauh karena pesawat telah terbang.
"Selamat tinggal."