Belanda.
Nama negara yang menjadi tempat tujuan Agatha. Negara yang terkenal dengan kincir anginnya itu telah membuat Agatha jatuh cinta dengan wisatanya. Negara Belanda juga cukup aman untuk tempat tinggalnya, Smart tak terlalu terkenal di negara itu, jadinya Agatha tak perlu sibuk menyembunyikan identitasnya.
Untuk pekerjaan belum Agatha pikirkan. Tabungannya masih banyak, jika Agatha berhemat, mungkin cukup untuk lima tahun ke depan. Rencana Agatha untuk tinggal di Belanda selain menenangkan diri adalah menuntut ilmu. Dia hanya lulusan SHS saja, Agatha ingin mendapatkan gelar sarjana.
Universitas Amsterdam adalah universitas yang akan menjadi tempat Agatha menuntut ilmu. Dia sudah menyiapkan berbagai keperluan untuk mendaftar. Setelah itu, dia akan melakukan aktivitas layaknya mahasiswa biasa.
Tak ada lagi penggemar.
Agatha menuju bagasi pesawat. Dia mengambil kopernya, lalu pergi dari bandara. Taksi online sudah dipesan, Agatha hanya perlu menunggu taksi yang dipesannya. Beruntung sekali, Agatha bisa bahasa Belanda, jadi dia tak perlu susah-susah untuk belajar bahasa lagi.
Dahulu, Agatha ingin sekali berinteraksi dengan penggemar dari seluruh dunia. Dia mempelajari berbagai bahasa, dimulai dari benua Eropa terlebih dahulu. Namun, belum seluruh dia kuasai hanya bahasa Inggris, Italia, Prancis dan Belanda saja. Sekarang, Agatha sudah tak memiliki ambisi lagi untuk belajar bahasa. Tak ada alasan untuknya belajar bahasa lagi.
Taksi online datang, berhenti di depan Agatha. Sang supir seolah tahu bahwa yang memesan taksinya adalah wanita itu. Supir keluar, membantu Agatha menaruh koper di bagasi.
"The Alfred Hotel."
Sulit itu mengangguk. Menuju hotel yang telah Agatha ucapkan.
Untuk sementara, Agatha tinggal di hotel terlebih dahulu. Dia harus mencari apartemen yang biasa saja tak terlalu mewah. Sangat sulit mencari apartemen lewat online, Agatha takut gambarnya tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Matanya melirik. Melihat iklan dirinya yang mempromosikan sebuah brand make up ternama. Berpose dengan cantiknya, wajahnya sangat natural dan cantik juga mengucapkan beberapa kalimat yang memiliki sifat persuasif. Agatha yakin, iklan tersebut akan hilang secepatnya. Mungkin setelah agensi mengumumkan bahwa dia telah keluar grup.
Mobil berhenti. Agatha langsung sadar dari lamunannya. Dia melihat gedung yang tinggi berdiri di tengahnya keramaian kota. Agatha memberikan beberapa lembar uang, lalu dia mengambil kopernya.
••••
Agatha menatap jalan raya dari kamar hotelnya. Jalan raya tampak lenggang tak terjadi kemacetan. Mungkin karena sekarang masih jam kerja. Kota ini begitu indah hampir sama dengan London. Namun, Agatha berharap kota ini sangat tepat untuk dirinya. Dia mengambil cokelat panas, seraya membaca majalah.
Majalah ini berisi tentang tempat-tempat pariwisata di Amsterdam. Sampai saat ini, Livy masih belum menemukan tempat yang tepat untuk hari ini di kunjungi. Bunyi pintu terketuk menganggu Agatha yang sedang fokus pada bacaannya. Dia membuka pintu, melihat seorang pelayan hotel yang membawakan makanan.
Astaga, Agatha lupa kalau dirinya sudah memesan makanan di hotel ini. Dia mengambil nampan yang dibawa pria itu, untuk bayaran telah di transfer melalui rekening. Agatha menyantap makanannya dengan hikmat, sesekali dia tertawa kecil melihat hiburan di televisi yang bertemakan komedi.
Dulu, dia yang menghibur publik dengan suaranya. Sekarang, Agatha dihibur oleh beberapa orang yang terus melakukan lelucon dan aksi komedi. Film dalam televisi telah selesai, dia mengganti siaran lain. Melihat acara berita selebriti. Acara tersebut dibawa oleh seorang pria yang memakai jas hitam rapih dengan tablet dipegangnya. Menyampaikan berita dengan jelas, sehingga sang penonton cepat mengerti.
Agatha menyipitkan matanya. Mendengus kesal melihat berita yang akan disiarkan. Berita tentang Smart.
"Diketahui Ara Smart pergi ke sebuah restoran dengan seorang pria yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Beberapa foto yang tersebar menunjukkan keromantisan mereka. Banyak penggemar yang mulai berspekulasi bahwa saat ini Ara tengah menjalin hubungan dengan pria itu."
Sudah Agatha duga. Ara pacaran dengan begitu bebas tanpa mengindahkan bahwa dia adalah seorang penyanyi. Tak peduli jika ada paparazi yang memergokinya, dia sering berbuat sesuatu yang disukainya. Sifat Ara yang bebas seringkali membuat dia kepergok menjalin asmara oleh media.
Hanya Ara satu-satunya member yang sudah 3 kali menjalin hubungan asmara dengan pria danketahuan media semua. Agatha yakin, pasti para penggemar mewajar'kan nya dan tak terlalu terkejut dengan berita ini. Mereka sudah terbiasa dengan sifat Ara yang seperti itu.
Mungkin, menjadi Ara sangat enak. Bagaimana kesalahannya selalu di terima oleh penggemar. Pembencinya juga tak banyak. Apa mungkin karena Ara yang menunjukkan jati dirinya pada media? Mungkin saja. Agatha sering menutupi sifat aslinya pada media. Dia ingin terlihat sempurna di mata semua orang, dan justru menjadi petaka sampai saat ini.
Agatha mengganti siaran tv. Dia kembali menonton televisi seraya menikmati makanan.
Smartphone nya berbunyi. Agatha menaruh garpu dan pisaunya laku mengambil benda itu. Dahinya mengkerut, menatap aneh pada smartphone nya. Ada seseorang yang menelpon namun dengan nomor yang tak diketahui. Ini bukan nomor member Smart atau Brian, karena Agatha sangat hapal nomor mereka.
Dia mengangkat telepon. Dia mendekatkan benda pipih itu telinganya. "Halo?"
"Sudah lama sekali aku tak mengintai mu." Dahi Agatha semakin berkerut. Dia melihat kembali nomor telepon, sama sekalu tak dikenalnya. Apa salah sambung? Mungkin saja. Dari nada bicaranya saja, seolah orang yang ada diseberang sangat dekat dengannya.
"Maaf. Sepertinya anda salah sambung."
Dari seberang telepon, seorang pria tertawa kecil mendengar ucapan Agatha. Dia mengelus tangan tunangannya dengan lembut, tunangannya saat ini menyeringai jahat. "Tidak. Aku tidak salah sambung. Kau Agatha? Wanita pecandu narkoba itukan?"
Agatha yang mendengar ucapan dari penelpon langsung kesal. Dia yakin, ada seorang yang bisa mendapatkan nomor teleponnya dan pastinya salah satu pembencinya. "Maaf ya. Jangan berbicara jika tidak tahu kebenarannya. Jangan hubungi ku lagi."
Saat Agatha akan menutup teleponnya. Seorang dari seberang telepon langsung berteriak dan berusaha mencegah Agatha.
"Jangan sekali-kali kau merasa bebas. Aku selalu ada di belakangmu, memperhatikan setiap kegiatanmu dan perlahan akan menghancurkan kehidupanmu." Sambungan telepon terputus.
Tubuh Agatha mematung. Keyakinan tumbuh dalam dirinya bahwa pria itu adalah seorang peneror yang ingin menghancurkan hidupnya. Agatha merasa merinding dan takut, dari ancaman, dia bukan hanya menghancurkan karir Agatha, tapi berniat untuk menghancurkan hidup Agatha juga.
Suaranya, Agatha ingat. Dia langsung save nomor peneror tersebut. Namun, sayangnya dia terlambat, nomor itu telah hilang, bahkan di daftar panggilannya saja tak ada. Seolah gadgetnya sudah di retas sehingga nomor itu tak ada dalam daftar panggilannya.
Kalau begini, Agatha tak dapat melaporkan polisi. Dia mengusap rambutnya dengan kasar, kali ini dia sangat gagal mendapatkan informasi. "Aku akan menangkap mu."
Agatha mengambil jaketnya dia keluar dai hotel. Keluar dan mencari angin dan hiburan. Setidaknya dengan angin hangat di siang hari, dia dapat tenang dan tak pusing lagi memikirkan banyak masalah. Sengaja, Livy berjalan di tempat ramai. Dari ancaman dia, pasti dia akan terus meneror Agatha hingga saat ini.
"Sekarang aku sendiri." Agatha sudah tak memiliki siapa-siapa lagi hingga saat ini. Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan, menjadi penyanyi adalah cita-cita yang baginya mustahil di dapatkan, ternyata dia bisa menjadi penyanyi. Namun, Agatha tak percaya dalam waktu sekejap, karir yang dibangunnya dengan susah payah hancur.
Agatha memiliki banyak teman, hanya teman saja. Semua orang yang ingin berteman dengannya pasti ada alasan tertentu, mereka tak tulus. Seperti kemarin, Agatha sempat menelpon Angel, tapi dia sangat enggan bertemu dengan Agatha, alasannya hanya jadwal yang sibuk. Padahal dia menghubungi di tanggal merah, pastinya hari libur.
Kafe dengan keadaan yang ramai menjadi pilihan Agatha untuk menikmati kopi hangat. Dia memasuki kafe tersebut dan memesan kopi dan red velvet. Menunggu seraya memainkan gadgetnya.
Agatha menikmati makanannya dengan hikmat. Kafe ini memiliki tv yang besar, tv itu menunjukkan video klip salah satu lagu Smart. Agatha berusaha menutupi wajahnya, dengan rambut. Makanannya telah habis, Agatha langsung bangun dan menaruh beberapa lembar uang. Kabur dari kafe itu adalah aksi Agatha.
Untung saja tak ada yang menyadarinya tadi. Jika ada, maka ketenangan Agatha akan hilang.
••••
Pagi datang. Agatha telah siap dengan pakaian formalnya. Dia akan mengunjungi Universitas Amsterdam dan mendaftarkan dirinya di sana. Agatha sedikit yakin, pasti akan ada yang mengenalinya di sana. Agatha harus pintar menyembunyikan identitasnya. Apakah dia harus menyamar menjadi seorang mahasiswi culun?
Mengepang rambutnya, menutupi dahi dengan poninya dan memakai kacamata yang tebal. Namun bagaimana jika Agatha akan dibully? Apakah dia harus mengubah wajahnya dengan make up? Agatha yakin, bahwa dengan make up dia bisa mengubah wajah dengan seenaknya. Mempercantik atau membuat jelek, maka make up jawabannya.
Agatha mengambil seluruh peralatan make up. Bermenit-menit dia di depan meja hias untuk wajahnya. Agatha tertawa keras saat melihat hasilnya. Begitu bagus hasilnya, kulitnya hitam, bibirnya sangat kering dan rambutnya keriting. Agatha seperti orang Afrika saat ini.
Dia mengambil tas nya yang sudah berisi beberapa dokumen yang dibutuhkan. Dia mengambil.kinci mobilnya dan mengendarai mobil dengan kecepatan stabil. Untuk urusan sekolah, memang Agatha sudah menjadwalkan hari ini, dan besok dia akan mencari apartemen yang bagus untuknya. Dia tak bisa berlama-lama di dalam hotel, bisa-bisa habis uangnya.
Jalan yang ditempuh Agatha sangat sepi. Dia merasa déjàvu. Mengingat bagaimana dua diculik di tempat yang sepi. Agatha mengendarai mobilnya dengan cepat, dahinya mengkerut, rasa gelisah mendatanginya. Agatha yakin, dia pasti sangat trauma dengan kejadian itu.
Berulang kali, Agatha melihat ke arah kaca spion. Tak ada yang mengikutinya, hatinya terus berdoa untuk keselamatannya.
Hembusan napas yang lega, saat ini, Agatha sudah berada di depan gedung Universitas Amsterdam. Keadaan sangat ramai membuat Agatha terlindungi. Dia keluar, melihat ke arah belakang dan memastikan tak ada yang mengikutinya.
"Semoga peneror itu cepat-cepat lenyap di dunia ini."