Sayang seribu sayang, pendaftaran Agatha ditolak pada pihak universitas. Ternyata, untuk masuk Universitas Amsterdam harus memiliki nilai yang baik di berbagai bidang, sedangkan Agatha? Dia hanya mencapai nilai 95 di bidang seni, yang lainnya hampir mendekati angka 70 semua.
Tak ada dalam pikiran Agatha untuk mencari universitas lain. Dia sudah sangat pusing memikirkan banyaknya masalah yang tengah dia hadapi, dari peneror hingga beberapa urusan di Belanda yang belum Agatha selesaikan. Dia harus mencari pekerjaan juga, menjadi pelayan tak buruk, Agatha juga harus mencari apartemen. Setelah semua urusannya selesai, Agatha yakin hidupnya sedikit lebih tenang.
Untuk masalah teror, Agatha tak akan memikirkan lagi. Dia akan memadatkan waktunya, agar tak kepikiran akan masalah itu lagi. Tak peduli dengan seseorang yang mengikutinya saat ini, dari pantulan jendela restoran, Agatha dapat melihat seorang pria yang masih gencar mengikutinya. Agatha berbalik, ternyata peneror itu bersembunyi dibalik tombak.
"Aku akan menjebloskan mu dalam penjara." Agatha beranjak, dia menuju mobilnya yang terparkir. Sengaja dirinya melewati tembok tempat peneror bersembunyi, dapat dilihat peneror itu kini sedang melihat kameranya. Agatha menyipitkan matanya, dia seperti pernah melihat kamera itu, tapi dimana?
Agatha memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Mengingat kejadian masa lalu, dimana dirinya melihat Jackson yang membawa kamera seperti itu juga. Dari karakteristiknya sangat sama, apa pelaku dalam peneror ini adalah Jackson? Agatha pernah mencurigai pria itu, tapi rasa curiga perlahan lenyap, melihat Jackson yang menjalin hubungan dengan Ara.
Agatha juga mengingat dulu, Ara perang mengatakan bahwa dia akan menghancurkan hidup seseorang, tapi siapa? Dulu, Agatha ingin sekali bertanya, tapi karena sifatnya privasi dia juga tak enak. Apa itu dirinya? Dilihat dari waktu sebelum ada rumor narkoba dirinya menyeruak di seluruh media.
Rasa curiganya kembali muncul. Ara dan Jackson adalah pelakunya. Pasti Ara dulu sengaja menyuruhnya Agatha untuk membeli krim, padahal dia sudah merencanakan untuk menculik dirinya. "Jika pelakunya adalah kau, Ara. Aku berjanji, karirmu akan hancur seperti karirku juga." Tangan Agatha mencengkeram kuat kemudi mobil, menginjak gas mobil dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya dia di hotel, Agatha langsung menuju kamarnya. Dia membanting pintu dengan kesalnya lalu tidur di atas ranjang. Ingin rasanya dia mengamuk dan menghancurkan semua barang dalam hotel ini, Agatha sungguh kesal. Hatinya masih menolak bahwa dia telah keluar dari Smart. Rasa cintanya yang sangat besar pada cita-citanya sebagai penyanyi, membuat Agatha depresi saat dia keluar dari Smart.
Dia berusaha menahan rasa depresinya. Menganggap bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya rasa sakitnya, ternyata bukan hanya waktu saja yang bisa membantunya, tapi ketulusan hati.
Tapi, bagaimana jika sampai saat ini Agatha belum mengikhlaskan semuanya?
•••••
Biasanya hotel akan menyediakan kunci cadangan. Hanya saja, kunci cadangan tiap kamar hanya diperbolehkan untuk beberapa orang yang memiliki kepentingan. Namun, apalah arti peraturan jika sudah ada sogokan? Seperti saat ini, pria itu menyeringai melihat seorang kasir yang sibuk dengan laci-laci nya, mencari sesuatu yang baginya begitu penting.
Satu amplop tebal dipegangnya, di taruh di atas meja. Suasana hotel begitu sepi, tak ada yang mengetahui transaksi mereka saat ini. Dengan gelagat yang biasa, maka tak akan ada yang mencurigai mereka, termasuk cctv sekaligus.
Kasir wanita itu berbalik, dia memegang sebuah kunci dimana ada pin bentuk bulat dan tertulis angka 53 di permukaan pin itu. Dia memberikannya pada pria itu, begitu juga dengan pria itu yang memberikan satu gepok uang pada kasir.
"Senang bekerjasama dengan anda." Pria itu langsung pergi menuju lift, melihat ada seorang wanita yang sangat dikenalinya dalam lift tersebut. Wanita itu membawa satu kotak bewarna hitam dengan pita pink menghiasinya.
"Jalankan rencana yang kedua." Pria itu mengangguk. Dia mengambil kotak yang diberikan wanitanya, bau busuk dapat tercium di kotak itu.
"Aku tak sabar melihat wajah depresinya lagi." Wanita dengan rambut hitam itu tertawa, membayangkan bagaimana wajah korbannya akan tersiksa lagi. "Aku sangat ingin dia depresi hingga jiwanya terganggu. Lalu, aku akan menghubungi pihak rumah sakit jiwa untuk menangkapnya."
"Aku akan mengabulkan keinginanmu sayang."
Pintu lift terbuka. "Kau kembali ke mobil. Aku tak ingin ada yang mencurigai kita nantinya." Wanita itu mengangguk. Dia langsung menutup pintu lift saat kekasihnya pergi. "Aku ingin semuanya selesai dan dendam ku tercapai, hanya itu saja." Wajah wanita itu berubah menjadi murung, matanya berkaca-kaca, mengingat masa lalu membuatnya sangat sakit.
Pintu hotel terbuka setela pria itu memasukkan kunci. Dia membuka pintunya, ruangan yang dikunjunginya sangat terang, padahal ini sudah sangat malam, ternyata sang pemilik kamar sangat tak menyukai kegelapan dalam tidurnya.
Dia melangkahkan kakinya dengan ringan. Menutup pintu kamar itu lagi lalu membuka isi kotaknya. Melihat satu tabung cat semprot dan tiga tikus mati dengan darah yang berceceran juga tubuh yang sudah termutilasi. Dia mengambil cat semprot, menuju kamar mandi dan mencoret kaca dengan cat tersebut. Menuliskan kalimat bentuk ancaman, dia juga menaruh darah pada cat tersebut.
Setelah itu, dia beralih mengambil kotak dan menaruhnya di dekat ranjang kamar hotel. Dia menggelengkan kepalanya pelan, Agatha bahkan sampai saat ini belum bangun juga, padahal bunyi yang ditimbulkannya cukup untuk membangunkan orang tidur. "Aku tak dendam padamu. Tapi kekasihku begitu membencimu." Dia langsung keluar dari ruang kamar Agatha dan tak lupa mengunci.
••••
Semenjak Agatha keluar dari dunia hiburan, dia menjadi wanita pemalas. Bangun di saat matahari sudah berada di atas kepala, mata yang membengkak, kamar yang tak rapih dan baju-baju kotor yang menumpuk. Seperti saat ini, dia baru saja bangun, kesadaran belum sepenuhnya menyusul.
Bau busuk memasuki indera penciumannya. Agatha menyembunyikan wajahnya ke bantal, berusaha menghindar dari bau busuk tersebut. Dia beranjak dan mengusap matanya dengan kasar. Agatha melihat ke arah kanan, dia merasa bau busuk itu tercium di arah kanan.
Tubuhnya di bungkuk, dia membelalakkan matanya, melihat kotak hitam yang terbuka menampilkan tiga mayat tikus yang termutilasi. Agatha langsung berlari menuju kamar mandi, ingin memuntahkan isi perutnya.
Tak melihat ke arah kaca, dia langsung muntah di wastafel. Keran dihidupkannya, mengusap wajahnya dengan air yang mengalir. Setelah sedikit tenang, dia mengangkat kepalanya, lagi-lagi Agatha menemukan sebuah kejutan, dimana terdapat coretan pada cermin di kamar mandi.
Mati atau sakit jiwa?
Kaki Agatha terasa lemah. Dia terjatuh di lantai, napasnya sesak dan matanya berkaca-kaca. Agatha berusaha menenangkan dirinya sendiri, sang peneror saat ini sudah sangat berani. Datang ke kamar hotelnya dan meneror secara langsung. Agatha merasa hidupnya mulai tak baik, dia terus di awasi. Agatha berlari mengambil kopernya, dia mengambil kain basah terlebih dahulu dan membersihkan cat tersebut. Ternyata cat itu tak permanen, alias bisa luntur saat dirinya mengelap. Dia juga membawa kotak yang berisi mayat tikus, tak mungkin dirinya meninggalkan barang-barang itu dalam hotel ini.
Setelah semua selesai. Agatha langsung keluar dari hotelnya, dia tinggal dalam hotel hanya tiga hari saja sesuai dengan pemesanannya.
Agatha memasuki mobilnya. Dia mengambil gadgetnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, pak. Saya membutuhkan apartemen di hari ini."
Agatha mengangguk. Dia menutup teleponnya saat sudah mendengar persetujuan dari seseorang yang di teleponnya.
••••
Untuk urusan apartemen, sudah Agatha selesaikan tadi malam. Dia telah mencari seseorang yang menjual unit apartemennya, kebetulan ada satu pria tua yang menjual dan letaknya dekat dengan hotel yang di tempati nya.
Agatha telah sampai. Dia menerima kunci dan beberapa surat hak kepemilikan. Uang sudah dia transfer, Agatha kini sudah diperbolehkan untuk tinggal di Apartemen.
Barang-barang sekunder pemilik sebelumnya di biarkan taruh di sini. Pemilik itu mengatakan bahwa dia akan pindah ke rumah menantunya dan sangat tak mungkin membawa barang-barang itu.
Jadinya, Agatha tak perlu pusing membeli perabotan rumah lagi. Agatha juga berencana akan menaruh kunci dari dalam, seperti menempelkan kayu di pintu, agar tak ada lagi orang yang berani memasuki apartemennya.
Agatha mengambil dompetnya. Dia harus membeli bahan-bahan masakan. Perutnya juga sudah sangat lapar. Agatha harus berhemat, tak mungkin dia akan membeli makanan terus, tabungannya bisa terkuras habis dalam waktu cepat jika seperti itu.
Jarak antara minimarket dan apartemennya hanya 100 meter saja. Agatha hanya perlu berjalan kaki, dan hanya dalam waktu lima menit, Agatha sudah sampai di mini market. Agatha mengambil keranjang, dia membeli seluruh bahan masakan yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, kemungkinan Agatha akan malas untuk ke minimarket lagi.
Setelah semuanya selesai dan Agatha telah membayar semua barang belanjaannya, Agatha langsung keluar dari minimarket.
Entah mengapa, Agatha merasa hidupnya kini sudah sederhana. Dia seperti merasa lebih tenang karena tak dikejar pekerjaan atau paparazi. Agatha seperti kembali ke masa lalu di mana dirinya hidup tanpa gelar penyanyi.
Agatha memiliki waktu luang yang banyak. Dia memasak makanan kesukaannya dan pastinya Agatha akan mencoba seluruh resep makanan yang sedang trending saat ini.
Tak memikirkan berat badan lagi atau lemak yang menggumpal. Agatha memakan dengan rakusnya. Berbagai makanan kini ada di depannya.
Perutnya terasa sangat penuh. Bahkan untuk beranjak saja, Agatha sudah tak mampu.
Piring-piring kotor tak Agatha pedulikan. Dia kembali ke kamarnya. Membuka laptop, dia hanya ingin menulis saja. Menjadi seorang penulis adalah salah satu cita-cita Agatha sejak kecil. Banyak diksi yang dia ketahui.
Agatha mulai menulis. Tentang perjalanan hidupnya selama menjadi seorang penyanyi, rintangan yang dihadapinya hingga kebahagiaan yang di dapatkan.
Setetes air mata jatuh di pipi Agatha. Mengingat lagi masa lalu, dimana dirinya baru berkenalan dengan Grace, Hana dan Ara. Mereka sangat dekat seperti saudara.
Tapi mengapa saat ini, hubungan mereka merenggang? Bahkan mereka tak berkomunikasi sedikitpun. Hana, Ara dan Grace seolah melupakan Agatha saat ini.