Agatha sudah berada di London. Dengan menggunakan mobil BMW X5 bersama dengan Jhony, mereka menempuh jalan raya. Keadaan dalam mobil hening, Agatha juga sedang dalam mood buruk untuk berbicara. Sedari tadi, dia terus melihat ke arah luar. Melihat gedung-gedung yang berdiri atau papan iklan yang terpasang.
Salah satu iklan yang dilihatnya adalah papan iklan sebuah merek pakaian ternama, Guci. Grace yang menjadi Brand ambassador Guci berpose dengan indahnya mengunakan pakaian di depan kamera. Agatha tersenyum kecil, sangat bersyukur karir teman-temannya tak hancur karena skandalnya.
Begitu juga dengan papan iklan Hana dan Ara yang menghiasi daerah perkotaan.
"Apakah kau masih memiliki keinginan besar untuk berpose seperti mereka lagi?" Agatha menengok ke arah Jhony. Pertanyaan yang cukup sulit untuknya. Jika dari logika, Agatha mengakui dia masih ingin menjadi seorang publik figur, berbeda dengan hatinya yang sudah merelakan semuanya.
"Tidak juga." Senyum tipis diberikan untuk Jhony, menandakan bahwa dia tak menginginkan menjadi publik figur lagi.
"Kapan terakhir kau berpose seperti itu?"
Pikiran Agatha langsung terbang ke masa lalu. Di mana dirinya akan sibuk dengan segala jadwalnya. Semenjak skandalnya, Agatha tak pernah diberikan pekerjaan, dia hanya dibiarkan hiatus saja.
Baru setelah skandal bully nya yang mereda, Agatha melanjutkan pekerjaan dengan melakukan pemotretan untuk cover majalah Forbes. "Aku tak ingat kapan waktu jelasnya. Intinya disaat kabar bully yang mereda dan skandal narkoba yang muncul."
"Lalu, kau ingin jadi apa setelah skandal ini selesai?"
"Penulis."
"Pekerjaan yang bagus."
Agatha mengangguk. Dia menghidupkan musik untuk menghibur dirinya. Bibirnya bergerak dan lidahnya ikut bernyanyi, menyamakan lirik dalam musik. Perlahan, suaranya mulai terdengar dan Agatha sibuk dalam lagu yang dinyanyikan. Tanpa menyadari Jhony yang tertegun mendengarnya. Suara Agatha sangat ibdah, sangat sopan memasuki telinganya. Senyumnya terbit, seandainya saja dulu dia mengenali Agatha sebagai penyanyi, dapat dipastikan dia akan menjadi penggemar berat Agatha.
"Suara mu sangat cantik." Jhony berkomentar setelah lagu yang dinyanyikan Agatha telah habis.
"Tentu." Dilanjut dengan lagu kedua, Agatha ikut bernyanyi. "Ayo bernyanyi, kau akan merasa tenang juga." Agatha berucap saat lagu akan dimulai.
"Tidak. Aku tak tahu lagu yang kau nyanyikan." Agatha menepuk dahinya pelan. Seorang Jhony pasti tak mengetahui satupun publik figur di dunia ini. Dia terlalu fokus pada dunia kerjanya.
Agatha melanjutkan bernyanyi. Memuaskan diri saja dahulu, Agatha tak ingin merasa gugup saat bertemu dengan orang tua Jhony. Ya, kata Jhony dia harus ikut menginap di rumahnya. Tentu Agata ingin menerima saja, dia cukup mengenali keluarga Jhony, keluarga yang penuh akan aturan.
Mobil hitam Jhony memasuki gerbang. Agatha langsung mematikan musik, saat mengetahui mereka akan sampai ke mansion Jhony. "Ada siapa saja di rumah mu?"
"Hanya orangtuaku saja dan pekerja mansion yang lainnya." Agatha menghembuskan napasnya lega. Setidaknya dia tak bertemu dengan kakak Jhony, kakaknya begitu dingin dan datar, dulu saja Agatha sangat enggan berhadapan dengan dia. "Ayo kita keluar."
Mereka keluar dari mobil. Jhony memberikan kunci mobilnya kepada salah satu penjaga Mansion untuk memarkirkan mobil.
"Mansion mu masih sama." Dari lingkungan Mansion berupa taman, membuat Agatha kembali teringat dengan masa lalu. Di mana dia bermain air dalam pancuran air bersama dengan Agatha. Lalu, mereka akan mendapatkan amarah orang tua Jhony karena telah bermain air.
"Tidak. Lihatlah di pancuran air itu sudah ada dua angsa." Jhony menunjuk pada pancuran air, tempat mereka bermain dulu.
"Aku baru menyadarinya. Apakah orang tua mu sengaja menaruh dua angsa di situ, biar tak ada lagi anak-anak yang bermain air?"
"Sepertinya." Agatha terkekeh geli begitu juga dengan Jhony.
Memasuki Mansion, sudah ada empat pelayan wanita dan tiga pelayan pria yang menyambut mereka. "Tunjukkan kamarnya." Jhony berucap kepada salah satu pelayan wanita yang berusia sekitar setengah abad.
"Mari Nona." Agatha mengangguk. Dia mengikuti jalannya Bibi Mery. Agatha cukup mengenali Bibi Mery, wanita itu sudah bekerja di Mansion ini saat Jhony masih kecil. Sikapnya sangat baik, tetapi terlalu formal.
Bibi Mery berhenti berjalan. Dia membuka kunci sebuah pintu bewarna putih. "Nona bisa istirahat dahulu. Kamar ini telah dibereskan." Agatha memasuki kamarnya, dia menengok ke belakang, melihat seorang pelayan pria yang menaruh kopernya. Dia memberikan senyum tipis sebagai tanda terima kasih.
Kamar yang dihuni Agatha ini memiliki luas sekitar 8 m × 10 m. Dengan satu pintu balkon dan satu pintu toilet. Ada sebuah ruangan dengan dibatasi kaca transparan, ruangan tempat menaruhnya baju-baju. Agatha menaruh kopernya dalam ruangan itu.
Lalu, dia membuka kaca jendela. Membiarkan angin segar memasuki ruangan kamarnya. Ketenangan menghampirinya. "Hari masih siang. Lebih baik aku menulis saja." Agatha mengambil gadgetnya, dia mulai fokus dengan keyboard dan mengetik setiap kata hingga menjadi sebuah kalimat.
••••
Hari sudah sore. Agatha telah siap. Dia telah mandi dan memakai dress panjang sampai lutut lengan panjang hingga sikut. Agatha ada panggilan dari Jhony untuk ke taman. Dia keluar dari kamarnya, cukup canggung kala bertemu dengan beberapa pelayan atau penjaga.
"Agatha."
Agatha berbalik. Dia langsung menerbitkan senyumnya kala mengetahui siapa yang menyapanya. Bella, ibu dari Jhony.
"Sudah lama tak bertemu denganmu, Agatha." Bella memeluk Agatha dengan eratnya, dibalas juga dengan Agatha.
"Benar Bella." Agatha memang terbiasa memanggil ibu dari Jhony dengan sebutan nama secara langsung. Bukan tanpa alasan, Bella lah yang menyuruhnya memanggilnya seperti itu sedari kecil.
"Astaga, kau sudah sangat cantik Agatha." Tangan Bella yang lembut menyentuh wajah Agatha. "Aku yakin, Jhony bertambah mencintai mu." Bella berucap dengan suara yang sangat kecil hingga Agatha tak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa?"
Bella langsung menjauhkan tangannya dari wajah Agatha. "Tidak. Kau bertambah cantik. Aku yakin akan banyak pria yang menyukai mu."
"Hanya beberapa saja."
"Aku dengar Jhony sedang menunggu ku. Sebaiknya kau cepat ke taman."
"Baik, Bella."
Agatha melanjutkan perjalanannya. Melihat Jhony yang tengah duduk di kursi taman dekat pancuran air. Sepasangan angsa yang tengah menyatukan wajahnya, membuat bentuk cinta. Entah mengapa, Agatha merasa gugup, keadaannya taman ini cocok untuk orang yang tengah mabuk asmara.
"Agatha. Cepat duduk, aku sudah menunggumu." Wajah Jhony terlihat kesal.
Agatha menghampiri Jhony. Mengambil tempat duduk di depannya. "Aku tadi bertemu dengan Bella dulu." Teh hangat Jhony menarik perhatian Agatha. Dia langsung mengambilnya dan meminum teh tersebut hingga habis.
"Agatha, teh itu milikku."
"Aku hanya meminta." Agatha menaruh cangkirnya ke tempat semula.
"Kau saja asal ambil, tak berbicara dulu."
"Aku minta teh mu, ya."
"Sudah terlambat."
Agatha mengerutkan dahinya tak suka. "Mengapa kau cerewet sekali." Lagi-lagi, Agatha mengambil cangkir Jhony dan menuangkan teh dari teko. "Teh ini sangat nikmat."
"Dasar, menggangu saja." Terpaksa Jhony memakai cangkir lain untuk meminum teh.
"Ada apa kau menyuruhku ke taman ini?"
"Hanya untuk nostalgia." Agatha menatap datar Jhony.
"Ini bukan waktunya, Jhony."
"Aku ini tak bisa diajak bercanda sedikit. Aku ingin membahas tentang kasus mu."
"Apa?" Terlihat wajah Agatha yang tampak bersemangat mendengar ucapan Jhony. Dia meminum teh hingga habis dalam satu kali tegukan.
"Joy dan Boby saat ini sudah berada di kota London. Mereka sedang menjalankan rencana untuk menemukanmu dan langsung membunuhmu." Kerutan muncul di kening Jhony saat melihat wajah Agatha yang tampak biasa saja. Tak ada kecemasan sedikitpun. "Ada apa denganmu? Mengapa kau tak cemas?"
"Untuk apa aku cemas. Aku yakin, kau bisa melindungi ku." Agatha menatap dalam Jhony dengan senyum lebarnya, suaranya berucap dengan lembut.
Hal itu membuat Jhony merasakan panas dingin. Dia mengalihkan pandangannya, jantungnya berdegup dua kali lebih kencang daripada sebelumnya. Senyum Agatha tampak berbeda dari sebelumnya, penuh dengan ketulusan, kebahagiaan dan ... Cinta?
"Namun, kau juga harus berhati-hati."
"Kau benar. Makanya, aku akan tetap bersamamu." Entah sudah berapa gelas teh yang Agatha habiskan, intinya dia merasa renang saat meminum teh ini. "Aku membutuhkanmu, menjadi pelindungku dan Hero ku."
"Kalau aku menolak?"
"Aku akan terus meneror mu." Saat ini, Agatha merasakan perutnya yang mengerat akibat kebanyakan minum teh. "Aku akan buang air kecil dulu." Tanpa menunggu jawaban Jhony, Agatha sudah pergi dengan berlari secepat mungkin.
"Aku membutuhkanmu menjadi pelindungku dan Hero ku."
Jhony menggelengkan kepalanya saat mendengar suara Agatha lagi. Berusaha mengalihkan fokusnya dengan bekerja. Cuaca saat ini tak begitu panas, sehingga dia merasa lebih fokus dari sebelumnya.
"Aku membutuhkanmu menjadi pelindungku dan Hero ku."
Kalimat itu terus memasuki pikiran Jhony. Fokus, tetap fokus, terus fokus adalah kunci utamanya agar bisa bekerja dengan lancar. "Sialan."
Jhony mengambil bunga Lily di dalam vas bunga. Menghirup wanginya, merasakan ketenangan dalam dirinya. "Wangi ini, sama sepertu wangi Agatha." Jhony membuka matanya, dia menaruh bunga di dalam vas. Kepalanya menggeleng kuat. Mengapa saat ini, dia terus kepikiran tentang Agatha terus? Aroma tubuh, penampilannya dan suaranya, Jhony merasa kecanduan berada di dekatnya.
"Jangan-jangan ...." Tangan Jhony terangkat, menaruh di mana letak jantung berada. "Aku sedang jatuh ...."
"Jhony!" Pria itu langsung menaruh tangannya di meja. Dia membenarkan posisi duduknya. Melihat Agatha dengan datarnya.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak."
"Apa kau masih marah karena aku menghabiskan teh mu." Jhony tak menjawab, dia kembali melanjutkan pekerjaannya. "Hey, jawab aku."
"Aku sedang sibuk, Agatha. Jangan ganggu aku."
"Kau ini mudah marah sekali." Agatha menengok kan kepalanya. Dia melihat sepasang angsa dari jarak dekat, kedua hewan itu sangat romantis. "Mereka sangat romantis. Apa kau tak ingin romantis juga kepadaku."
"Untuk apa?"
"Aku bosan. Ayolah bersenang-senang sedikit saja."
"Tidak."
Agatha menjadi geram. Dia beranjak dan menarik tangan Jhony. "Apakah rumah pohon mu masih ada? Ayo kita bermain ke sana." Agatha mendekatkan dirinya ke telinga Jhony. "Kalau kau menang, aku akan memberikan memasakkan Takoyaki untukmu."
Agatha langsung beralari secepat mungkin. Dia tahu Jhony mengejarnya di belakang.
"Ingat kau harus memasakkan aku Takoyaki, sayang."