20. Satu Fakta

1502 Kata
Suasana berubah menjadi hening. Tak ada yang berani mengeluarkan suara saat sang penculik mengungkapkan dalangnya. Agatha juga merasa tak terkejut. Dia bukan meyakini bahwa Grace yang menculiknya. Grace tak pernah ada dendam pribadi padanya. Wanita itu lebih sering mengungkapkan rasa ketidaksukaannya secara blak-blakan, bukan memendamnya lalu membalaskan semua rasa bencinya. "Cabut satu kuku jempol mereka berempat." Wajah mereka berubah pucat. Melihat seorang bodyguard yang sudah siap dengan pisau kecil dan tipis. Tiap langkah bodyguard itu, membuat puluhan bulu kuduk berdiri. Dia menghampiri seorang penculik yang berada di paling kanan. Dengan paksa dia mengambil tangan penculik tersebut, memasukkan pisau tipis dalam kuku, meski sempit, dia tetap memaksanya, hingga sudah mentok, dia langsung menaikkan pisaunya dengan cepat, membuat kuku dan jarinya terpisah. Pria penculik menggeram kesakitan. Tetesan darah keluar dan membasahi lantai. Begitu berulangkali, satu kuku yang tercabut, telah membuat mereka merasakan mati rasa. Lantai kotor akibat darah. Agatha bahkan harus menutup matanya saat eksekusi dimulai. Dia membuka matanya lagi saat tak mendengar suara penuh kesakitan itu lagi. "Ini sangat mengerikan," ucap Agatha. Dia melihat ke jempol kiri masing-masing penculik. Semuanya sudah tak memiliki kuku. "Mereka begitu setia dengan bos nya." Agatha tak tahu seberapa besar yang diberi oleh dalang semua ini. Pasti jumlahnya sangat besar, sehingga mereka enggan membuka suara. "Ingin merasakan sakit lagi?" Serempak mereka menggelengkan kepalanya. "Bagus. Saya akan membuat kesepakatan. Jika kalian jujur, saya akan membebaskan kalian, dengan memberikan bonus berupa $100.000. Bagaimana?" Mereka mengangguk. "Kami mau." Agatha memutarkan bola matanya. Mereka hanya memikirkan uang saja. Dapat dipastikan uang yang ditawarkan oleh Jhony lebih besar daripada yang dari bos mereka. "Baiklah, siapa yang menyuruh kalian." "Aku ingat namanya, Joy. Untuk nama panjang aku tak tahu." Pria dengan tato tengkorak di lehernya berucap. "Bagus." Jhony telah merekam ucapan mereka, dia mematikan gadgetnya. "Bersiaplah. Kalian besok akan ke London, untuk menjadi saksi atas kasus ini." Seolah tak percaya. Mereka mengenakan mulutnya. "Sialan. Ini tak ada dalam kesepakatan." Wajah mereka memerah, menunjukkan amarahnya. Melupakan rasa sakit yang baru saja diterima. "Memang tak ada." Jhony berucap dengan santainya. "Untuk urusan penjara, aku tak tahu kalian akan ditahan atau tidak. Namun, untuk urusan uang, aku akan tetap mengirimnya." Jhony menunjukkan gadgetnya lalu menggoyangkan. Senyumnya yang lebar membuat mereka merinding melihatnya. "Semua sudah terekam. Jadi, jangan coba-coba, kalian berbohong nantinya." Jhony menarik tangan Agatha. Pergi keluar dari ruang abu-abu. "Semoga masalah ini selesai." ••••• "Apakah kita tak terlalu kejam?" Di ruangan itu, ada tiga wanita dengan satu pria. Tiga wanita adalah Grace, Hana dan Ara. Sedangkan satu pria adalah Brian. Mereka tengah berada dalam sebuah kafetaria, keadaan dalam kafetaria tak terlalu ramai. "Ini sudah jalan terbaik untuknya. Dia akan depresi jika kita kekang dia secara terus menerus." Brian berucap. "Namun, dia memiliki cita-cita yang besar dengan menjadi penyanyi. Kita melajukan sesuatu yang di luar batas. Harusnya, kita membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada dia." Grace mengambil secangkir kopi. Menenangkan hatinya yang sedari tadi merasa gelisah. "Bagaimana jika peneror itu, secara terus menerus menghantui Agatha? Dia justru bertambah depresi." "Tidak. Aku sudah mengatur ini semua. Dia aman saat ini." Brian berucap dengan tatapan mata yang kosong. Penuh dengan rahasia. Bahkan Grace saja tak mengerti dengan ucapan Brian. "Maksudmu?" "Aku sudah menemukan orang yang ditampar oleh Agatha. Dia bukanlah dalangnya, karena dia telah menghilang. Dia diculik oleh seseorang. Aku telah membuat Agatha bertemu dengannya, karena dia mengetahui semua rahasia yang terpendam." "Mengapa kau tak membicarakan tentang ini?" Hana memukul meja dengan kerasnya, hingga menimbulkan keributan dan memancing setiap orang yang ada dalam ruangan itu. Hana tak dapat menahan emosinya. Ara memegang tangannya. "Tenang dan duduklah." Dia berucap dengan suara sekecil mungkin. Berusaha menenangkan Hana. Hingga napas Hana mulai tenang, dia kembali duduk dengan mata yang masih menahan ke arah Brian. "Benar apa yang dikatakan Hana. Mengapa kau tak membicarakan hal ini? Kita sudah membuat rencana dari awal dan yang kau katakan tak termasuk dalam struktur rencana kita." "Ini semua terjadi secara tiba-tiba. Aku sudah menjalankan rencananya. Dia saat ini dilindungi oleh seseorang yang berkuasa. Jadi tenanglah, dia tak apa-apa. Kalian harus fokus bekerja, untuk memperbaiki reputasi Smart." Brian beranjak dan membawa satu botol minuman bersoda. Meninggalkan ketiga wanita yang masih mencerna ucapannya. "Percayakan saja padanya." •••• "Apakah kita akan ke London?" "Tentu." Agatha mengangguk. Sedikit tak yakin dalam dirinya. Dia sangat takut kembali lagi ke London. Takut bertemu dengan Boby atau Joy dan publik yang sangat mengenali dirinya. Agatha menyukai tempat tinggal Jhony. Dia merasa aman, tak ada satupun yang mengenalinya sebagai Agatha Smart. Mereka hanya mengetahuinya sebagai teman Irene saja. "Kapan?" "Besok malam." Jhony membuka laptopnya. Dia mulai fokus pada kerjaannya. Begitu juga dengan Agatha, dia terus mengetik setiap kata dalam gadgetnya, untuk melanjutkan cerita yabg telah dibuatnya. "Aku sudah menyiapkan paspor mu?" Agatha mengangkat kepalanya. Melihat Jhony dengan kening yabg mengerut. "Paspor ku ada dalam apartemen yang telah ku tinggalkan. Lalu bagaimana kau mendapatkannya?" "Mudah." Jhony membalikkan laptopnya menghadap ke arah Agatha. Laptop itu menunjukkan sebuah video cctv. Agatha mengenali video itu, video cctv dalam Apartemennya. "Aku telah menyuruh seorang cleaning servis untuk memasuki Apartemen mu. Dia mencari paspor dan saat ini paspor mu sudah ada di tanganku." "Kau memang sungguh pintar." Agatha akui kepandaian Jhony. Dia telah menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Jhony saja bisa meretas cctv yabg dipasangnya, berarti ... "Kau memiliki video cctv di luar unit apartemenku? Aku ingin lihat, apakah Boby akan berkeliaran lagi di sekitar tempat tinggal ku?" "Tentu. Aku sudah meretasnya juga." Jhony membuka video cctv kepada Agatha. "Ini adalah bagian peneror yang mendatangi unit apartemen mu." Pria dengan pakaian hitam, masker dan topi yang menutupi identitasnya. Tangannya memegang satu kotak yang Agatha pastikan berisi mayat tikus dan surat ancaman. Pria itu mengetuk pelan pintu. Semakin lama tak ada respon yabg di dapatkannya, membuat pria itu akhirnya marah dan langsung menendang pintu dengan kasarnya. Dia meninggalkan kotak di tangannya ke lantai. Satu tendangan kuat sebagai penutupnya, dia langsung pergi. Agatha langsung memberhentikan video saat pria itu menghadap langsung ke arah kamera cctv. Agatha merasa tak asing dengan mata pria itu. Dia adalah peneror selama ini. Peneror yang selalu mengintai Agatha. "Apakah dia Boby?" "Ya. Dia Boby." "Apakah setiap harinya dia datang ke unit apartemen ku?" "Awalnya iya, dia mengira kau belum kabur. Namun, dia akhirnya menyadari bahwa kau sudah pergi. Selama ini, dia berusaha mencari keberadaan dirimu." "Apakah dia tahu kalau aku ada di sini." "Tentu saja, tidak." Agatha menghembuskan napasnya lega. Pintu terketuk. Jhony menekan tombol hijau yang ada di sampingnya. Tombol itu adalah sebuah bel yang menyatakan bahwa Jhony telah mengizinkan orang yang mengetuk itu masuk. Pintu terbuka. Agatha membalikkan tubuhnya. Melihat seorang pelayan yang mendorong sebuah keranjang. Pelayan itu berhenti pada jarak satu meter di belakang Agatha. "Tuan. Ini buku yang dibutuhkan." "Taruh saja." Pelayan itu mengangguk. Dia membungkukkan tubuhnya, lalu keluar dari ruangan kerja Jhony. "Bacalah buku itu. Aku tahu kau sedang bosan." Jhony seperti tahu saja keadaan Agatha saat ini. Dia langsung beranjak dan menghampiri keranjang yang dibawa pelayan tadi. Memilih buku fiksi dan membacanya di sofa. Terkena sinar matahari tak membuatnya kepanasan justru Agatha merasa segar. Telepon Jhony berdering. Dia mengambilnya dan mengangkat telepon. Beranjak dan berjalan menuju jendela besar. "Ada apa?" "Malam ini? Kebetulan dalam waktu dekat saya akan ke London. Baiklah, saya akan pergi malam ini." Dia menutup teleponnya. Pergi menuju keberadaan Agatha dan duduk di samping wanita itu. Agatha sedang membaca buku fantasi dan sangat fokus sehingga tak menyadari keberadaan Jhony yang ada di sampingnya. Wajah Jhony mendekat. Bahkan keberadaan mereka yang sangat dekat tak dapat disadari oleh Agatha. Mulutnya meniup rambut dan poni Agatha hingga mengumpul di depan wajah Agatha. Wanita itu yang merasa terganggu langsung menyingkirkan rambutnya. Berkali-kali Jhony meniup rambut Agatha, Ingga wanita itu merasa kesal. Jhony terkekeh pelan. "Kau masih belum menyadari keberadaan ku?" Jhony berucap di telinga Agatha dengan nada suara yang kecil. Hingga Agatha terkejut, langsung menengok kan wajahnya, melihat Jhony di dekatnya. Jarak mereka sangat dekat. Bahkan Agatha sendiri dapat merasakan hembusan napas Jhony. Dia memundurkan tubuhnya, merasakan situasi yang berbeda. Entahlah, dia merasakan ada yang aneh dengan respon tubuhnya. "Kapan kau ke sini?" Agatha berusaha menjaga suaranya agar tak ketahuan bahwa dia sedang gugup saat ini. "Sedari tadi. Namun kau belum menyadarinya." "Bukankah kau tadi sedang sibuk bekerja?" "Ada yang ingin aku katakan." Jhony membenarkan posisi duduknya. "Untuk besok malam, kita tak jadi ke London." Tiba-tiba Agatha merasakan sedih. Padahal dia ingin secepatnya masalah ini selesai. Namun, mau bagaimana lagi, jika Jhony pasti sibuk dengan pekerjaannya. "Lalu, kapan?" "Nanti malam. Aku mendapat panggilan dari orangtuaku untuk datang ke London besok." Senyum Agatha langsung terbit. Nanti malam? Berarti dia akan sampai ke London besok. Astaga, Agatha sudah sangat tak sabar. "Maka, persiapkan berang-barang yang akan kau bawa." "Baiklah." Agatha beranjak dan berniat pergi, tetapi dia melupakan sesuatu dan langsung berbalik, dia berkata, "bolehkah aku membawa buku ini?" "Tentu." "Terimakasih." Berlari keluar dan menuju kamarnya. Dia memeluk erat bukunya. Lalu menyimpan buku itu ke dalam kopernya. "Aku akan pulang." Agatha menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Masih siang, dia bisa tidur untuk menunggu malam. "Semoga saja masalah ini cepat selesai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN