BAB 1: Terlempar
“Ini gila. Sama sekali tidak masuk akal!”
Seraphina Ravenscroft—atau lebih tepatnya, Yuuki Fujiwara yang kini terperangkap di dalamnya—membanting tangannya ke permukaan marmer dingin. Bilik mandi mewah itu bergema oleh napasnya yang memburu, sesaat setelah Diana dan para pelayan pribadi lainnya diusir keluar.
Sudah sebulan... dan aku masih terpenjara di neraka paralel ini.
Tangan Yuuki gemetar, meraba perutnya yang masih rata.
Siapa ayah dari parasit ini? Kenapa tubuh ini yang harus menanggung kutukannya?
Tidak ada jawaban. Yuuki Fujiwara, seorang penulis novel daring yang kariernya sedang di titik terenda, tidak pernah menyangka riset mendalamnya akan berujung pada kecelakaannya sendiri. Terlempar ke dimensi asing, jiwanya merasuk tubuh Seraphina Ravenscroft, wanita berusia dua puluh tujuh tahun. Ironi yang kejam: ia mewarisi kekayaan dan gelar, tapi sekaligus keputusan paling tidak masuk akal berupa kehamilan dua bulan yang tak dikehendaki.
Perut itu mungkin masih datar, tapi Yuuki bisa merasakan beban moral yang mulai membengkak. Begitu bulan kelima tiba, rahasia ini akan meledak. Dan keluarga Ravenscroft—orang tua serta kakaknya yang bermata dingin dan penuh kebencian—tidak akan membiarkan aib itu hidup.
Yuuki buta. Ia terdampar ke dunia antah-berantah tanpa bekal. Memori terakhirnya hanyalah layar laptop di apartemen sempitnya yang reyot. Namun saat membuka mata, langit-langit gotik dengan ornamen ukiran rumit menyambutnya. Seminggu ia meraba-raba melalui ponsel milik Seraphina, hingga realitas itu menamparnya.
Edinburgh. Ibu kota Skotlandia yang dingin dan kelam. Kota yang dulunya hanya ada di imajinasinya sebagai latar cerita romantis fantasi, kini menjadi tempat yang mencekik.
“Kenapa harus aku?” bisiknya pada pantulan cermin yang berembun.
Tubuhnya tenggelam dalam air hangat beraroma lavender dan kelopak mawar. Kemewahan itu tidak memberinya ketenangan; justru terasa seperti air yang perlahan mengisi paru-parunya. Di balik uap air yang mengepul, Yuuki memutar otak, mencari cara untuk merontokkan kutukan ini.
Di luar sana, ia harus menjadi Seraphina. Ia ingat bagaimana pelayannya pucat pasi dan gemetar saat ia lupa bersikap angkuh. Insting kepenulisannya mengambil alih. Jika dunia ini menuntutnya menjadi monster, maka ia akan memainkan peran itu dengan sempurna.
Ia tidak akan menjadi bangsawan yang bijak. Ia akan menjadi wanita jahat yang ditakuti. Karena di sarang ular keluarga Ravenscroft, hanya predator yang bisa bertahan hidup.
∞
Jari-jari Diana bergerak lincah, mengencangkan pita gaun yang membalut pinggang Seraphina. Tarikan kain itu begitu erat hingga memaksa napas sang nona tertahan. Dari pantulan cermin vanity berlapis emas, Diana mencuri pandang. Nona-nya hari ini tampak... berbeda.
Terkadang tatapan itu begitu hangat, seolah wanita di hadapannya adalah malaikat yang dengan ramah membagikan sisa biskuit dari dapur. Namun sedetik kemudian, kehampaan yang gelap menyelimuti mata itu, menatap nanar ke ruang hampa seolah memikul dosa yang tak terucap. Diana tidak berani menebak; ia hanya tahu tugasnya adalah mendandani.
Begitu simpul terikat, menyempurnakan ilusi bangsawan anggun yang tak tersentuh, Diana mundur selangkah. Ia melipat kedua tangannya di depan tubuh, kembali ke posisi bayang-bayang—seorang pelayan yang hanya bernapas saat diperintah. Pelayan lain telah lebih dulu undur diri, meninggalkan mereka dalam kesunyian kamar yang pengap oleh aroma air mawar.
"Kabar apa yang kau bawa dari bawah, Diana?" nada Seraphina terdengar datar, tanpa menoleh dari pantulan cermin.
"Tempat itu lenyap," jawab Diana, suaranya sedikit berbisik hati-hati. "Saya menyamar dan menyelidikinya dengan saksama. Berdasarkan undangan yang pernah Nona terima, pub itu memang hanya buka pada malam-malam tertentu."
Alis Seraphina terangkat. Ujung jarinya menelusuri bingkai cermin yang dingin. "Malam tertentu. Artinya, itu bukan tempat untuk umum. Itu sarang bagi lingkaran dalam para elite."
"Tepat, Nona. Bangunan itu kini kosong. Tetangga sekitar bersaksi bahwa tempat itu hanya disewa oleh seorang bangsawan tak dikenal selama beberapa pekan. Pemindahan barang dilakukan tepat saat tengah malam, menggunakan mobil-mobil van hitam tanpa pelat nomor."
"Dan tetangga yang 'terganggu' itu tidak melapor ke pihak berwajib?" potong Seraphina, nada suaranya menajam.
"Tidak. Narasumber saya bilang, mereka yang komplain tiba-tiba menerima amplop tebal berisi uang tunai dan surat permintaan maaf yang sangat... sopan. Sejak itu, mereka tutup mulut."
Seraphina menatap pantulan dirinya. Mata itu kini menyalakan api yang dingin. Ia tahu persis ini bukan sekadar pesta minum anggur biasa. Bukti-bukti itu masih tersimpan rapi di kepalanya: kartu nama dengan ukiran huruf gotik yang sempat difotonya, log kunjungan yang tersembunyi, dan foto-foto samar tentang interior pub tersebut.
Dunia mungkin sudah modern, tetapi jejak para predator berkerah putih ini terlalu licin untuk diendus oleh polisi biasa.
Yuuki—yang kini bersembunyi di balik topeng Seraphina—menyadari posisinya. Ia punya uang, tapi ia tidak punya waktu. Jika ia bertindak terlalu mencolok, lehernya akan dipelintir sebelum bulan berganti. Maka, ia harus memilih jalan yang paling gila.
Seraphina menatap perutnya yang masih tersembunyi di balik lipatan gaun mahalnya. Hanya dengan menjadi wanita gila yang tak berbahaya, ia bisa terus berburu di tengah sarang serigala.
“Lalu, apa yang tertulis di jadwalku hari ini?” tanya Seraphina. Suaranya tidak lagi melengking atau dipenuhi tuntutan manja, melainkan datar, pelan, dan terukur.
Diana menelan ludah, merasakan tenggorokannya mendadak kering. “Tidak ada agenda khusus, Nona. Lord Ravenscroft tidak menjadwalkan pertemuan apa pun selama Nona berada di kediaman ini.”
Sebenarnya, rasa ingin tahu mendesak di d**a Diana hingga sesak. Namun lidahnya seolah terikat. Ia tidak berani menanyakan perubahan aneh ini. Mengapa sang nona kini selalu bertanya? Mengapa ia tidak langsung memerintah dengan nada tinggi, seolah sedang menguji atau mencari tahu sesuatu?
Seraphina yang lama adalah badai yang tak terkendali. Wanita itu biasa pergi dan pulang sesuka hati, menginjak-injak etika, dan menertawakan larangan sang ayah—Lord Ravenscroft—seolah aturan keluarga hanyalah lelucon murahan. Setiap pemberontakan selalu diakhiri dengan pecahan kaca, teriakan, dan hukuman dingin.
Namun, wanita yang kini menatapnya dari balik cermin bukanlah badai itu.
Seraphina kini terlalu tenang. Tatapannya tajam, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk Diana meremang. Entah keajaiban atau kutukan apa yang telah merasuki tuannya, satu hal yang pasti bagi Diana: ketenangan ini jauh lebih menakutkan daripada amarah mana pun.
Sosok di hadapannya sekarang terasa seperti orang asing yang mengenakan kulit tuannya dengan sangat, sangat sempurna.
“Baiklah.”
Seraphina akhirnya memalingkan wajah dari cermin. Dalam sekejap mata, aura dinginnya yang tadi menyelimutinya lenyap tak berbekas. Bahu itu turun, posturnya melengkung sedikit, dan raut malas yang mengular di sudut bibirnya—sangat mirip dengan gaya manja Seraphina yang lama, tapi sekarang anehnya malah terasa lebih mengerikan.
“Kalau begitu, mari kita bersantai,” ucap Seraphina, menyerupai desahan orang yang kebosanan. “Layaknya seorang nona bangsawan yang tak punya beban pikiran.”
Diana menunduk dalam, menyembunyikan rasa leganya yang bercampur ngeri. Perubahan itu begitu cepat, begitu halus, hingga membuat pelayan itu merasa sedang berhadapan dengan dua jiwa berbeda dalam satu tubuh.
“Baik, Nona,” jawab Diana patuh, suaranya kembali ke nada profesionalnya yang datar. “Saya akan segera menyiapkan teh Earl Grey yang pekat dan scone kesukaan Anda di balkon.”
“Satu hal lagi, Diana,” potong Seraphina pelan. Ia tidak menoleh, matanya kini terpaku pada ukiran emas di pinggiran meja rias. “Pastikan tidak ada yang menggangguku. Jika Ayah atau Kakakku bertanya, katakan aku sedang... ‘memulihkan diri’ dari rasa peningku.”
“Baik, Nona. Saya mengerti.”
Diana mundur dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu ganda itu dengan suara klik yang pelan.
Sekarang sudah sendirian, Seraphina menatap pantulan dirinya sekali lagi. Topeng wanita bangsawan yang malas dan sedikit histeris itu kini terpasang sempurna di wajahnya. Ia melangkah keluar dari bilik mandi, membiarkan gaun mahalnya menyapu lantai marmer.
Ia akan bersantai. Ia akan minum teh, memakan scone, dan menunggu malam tiba. Karena dalam keluarga Ravenscroft, waktu santai hanyalah jeda sebelum para monster lain mulai berburu.