Prolog
Semua terdiam. Setelah guncangan hebat itu mereda, bumi seolah-olah terdiam. Lautan menyusut, angin berhenti bertiup, burung-burung tidak ada yang berterbangan, awan tak ada, semuanya sepi. Orang-orang pun seperti terbangun dari sebuah mimpi, beberapa orang yang berada di garis pantai mulai mendapati sesuatu yang tak pernah mereka dapati sebelumnya, air laut yang menjauh dari tepi pantai. Pertanda apakah itu? Sebagian orang yang mengetahui apa yang terjadi segera berteriak.
“Tsunami! Tsunami! Lari! Ada Air! AIR!” teriaknya.
Beberapa orang yang tidak sadar hanya melongo, bengong, tak pernah percaya. Siapa sangka bumi Aceh hari itu akan terkena tsunami. Dari barat air datang seperti sebuah batas cakrawala yang melebar dari utara ke selatan. Membawa kabar berita bahwa hari ini akan ada banyak korban yang akan aku telan. Samudra telah mengijinkannya untuk meluluh lantakkan apapun yang dilewati. Semua orang takut, panik dan berhamburan ke sana-kemari mencari tempat yang tertinggi. Walaupun terkadang mereka tak mendapatinya. Hanya dalam 10 menit, air laut pun menghantam garis pantai. Melahap apapun yang ada di depannya, menyapu semuanya, orang-orang yang tak sanggup menyelamatkan diri pun tertelan oleh monster air itu.
Sam, nama lengkapnya Samudra saat itu sedang bermain bersama teman-temannya. Mereka sedang bermain kelereng. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh anak-anak seusianya. Bahkan waktu itu tak pernah terpikirkan olehnya bahwa saat itu adalah saat terakhir ia bermain dengan teman-temannya. Ketika terasa goncangan, dia beserta teman-temannya sempat limbung karena benar-benar terasa kuat goncangan gempa yang berkekuatan 9 SR tersebut.
“Gempa! Gempa! Gempa!” berkali-kali para tetangganya berteriak seperti itu sambil keluar dari rumah.
Semua bangunan bergoyang-goyang seolah-olah tanah sedang digoncang-goncangkan. Bahkan Sam beberapa kali sempat terjatuh karena hilang keseimbangan. Namun, setelah beberapa saat gempa reda Sam melihat ke jalan raya. Orang-orang tampak berlarian.
“Kenapa dengan mereka?” Sam bertanya-tanya.
Karena penasaran Sam pun berlari ke jalan raya.
“Sam? Ndak dilanjut ini mainnya?” pertanyaan temannya tak dijawab.
Sam menoleh ke kanan ke kiri. Dilihatnya orang-orang berlarian. “Air! Air! Air!” terdengar suara orang-orang berteriak. Apa maksudnya dengan air? Sam sama sekali tak mengerti.
Tangan Sam digeret oleh seseorang. Sam yang tak siap akhirnya terseret oleh tarikan orang ini. Dia juga ikut berlari mengimbangi orang yang menariknya.
“Lari nak! Airnya datang! Cari tempat yang tinggi!” ucapnya sambil napasnya ngos-ngosan.
Sam berusaha melepaskan diri tapi sia-sia tarikan orang ini kuat. Beberapa kali ia meronta agar tangannya dilepas tapi tetap saja tangan itu mencengkram lengannya dengan kuat. Tiba-tiba orang yang menggeretnya pun terjatuh. Lelaki itu berguling-guling di aspal demikian juga Sam. Beberapa orang terantuk oleh badan orang tersebut hingga beberapa orang bergelimpangan.
Lutut Sam lecet, tampak darah segar mengalir di kakinya. Sam menoleh ke arah asal orang-orang berlarian. Dia melihat air bah berwarna hitam sedang merangsek menyapu jalan raya. Sam teringat dengan monster lendir yang berada di film-film. Kali ini ia seperti melihat monster air yang sesungguhnya. Orang-orang tertelan oleh monster itu, mobil, sepeda, bangunan rumah, apapun. Monster itu cukup tinggi untuk menyapu apapun yang ada di hadapannya. Sam panik. Ia takut. Untuk kembali ke rumah pun tak akan mungkin karena ia yakin rumahnya sekarang pasti sudah dimakan oleh sang monster air. Dia bahkan bisa melihat bagaimana keadan rumahnya yang sudah tak kelihatan tertutup oleh air hitam itu.
Lari Sam! Lari!
Kata hatinya ternyata lebih ia turuti ketimbang terdiam termangu mencoba untuk berpikir apa yang akan dia lakukan. Sam terus berlari. Agaknya ia terpaksa menggunakan kemampuan berlarinya sebagai anak yang larinya paling cepat di kampung. Dia terus berlari bahkan tak mempedulikan kalau kakinya masih lecet. Orang-orang terus berlarian searah dengan dirinya. Bahkan Sam bisa berlari lebih dulu. Hanya saja Sam tak tahu harus lari kemana, yang penting lari. Bahkan orang yang tadi menggeretnya pun ia tak tahu lagi bagaimana nasibnya. Mungkin sudah ditelan monster air itu.
Tak ada yang dipikirkan oleh Sam selain menyelamatkan diri. Ia sudah lupa di mana keluarganya. Dia hanya ingin menyelamatkan diri dari monster air yang terus melahap apapun yang dilewatinya. Mobil, sepeda, rumah, apapun yang dilewatinya dilahap. Sam sesekali menoleh ke belakang, ternyata monster air itu makin mendekat, hingga rasanya kaki kecilnya tak sanggup lagi untuk bisa berlari. Dia makin ketakutan ketika telapak kakinya menginjak air. Semakin lama air itu semakin menenggelamkan mata kakinya hingga ia pun tersapu oleh air itu.
Sam terdorong kuat oleh arus air bah. Dia kemudian menghantam sebuah tiang listrik kemudian terombang-ambing lagi hingga menghantam sebuah mobil mini bus yang ikut hanyut terbawa sang monster air. Sam terus berusaha menggapai apapun yang bisa digapai.
“Tolong! Tolong!!” seseorang di sampingnya berteriak minta tolong. Tentunya Sam tak tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang anak kecil yang juga sedang mengalami kesulitan menghadapi kejadian itu. Ia hanya pasrah tatkala sebuah potongan kayu menghantam badannya hingga terhempas ke sebuah pohon.
Beberapa kali secara tak sengaja ia meminum air yang rasanya asin itu. Sang monster air terus menggerus Sam. Sementara anak kecil ini berusaha menggapai batang pohon dan bertahan di sana. Namun ia hampir kehilangan napas. Paru-parunya sudah penuh dengan air, ia pun hampir pingsan hingga kemudian dia melihat sesuatu.
Di antara keadaan hidup dan matinya, ia melihat seorang anak perempuan dengan kerudung berwarna biru muda berdiri tak jauh darinya. Ya, dia berdiri. Hanya saja tempat dia berdiri bukan di atas tanah, atau di atas sesuatu melainkan di atas sang monster air. Air seolah-olah enggan melewatinya, atau malah enggan untuk menyapunya seperti apa yang terjadi dengan diri Sam. Anak laki-laki ini pun pingsan hanya saja dengan cekatan anak perempuan yang berdiri di atas air itu pun segera menangkapnya lalu menyeret dia menuju ke sebuah bangunan yang tinggi yang tidak tersapu oleh air.
Setelah menyeret Sam ke tempat yang aman, perempuan itu diberikan pertolongan dengan mengurut dadanya. Sudah barang tentu cara bocah perempuan itu menolong Sam sama sekali tidak seperti pertolongan pertama CPR. Hanya sekedar mengurut d**a Sam saja, seolah dengan begitu Sam bisa tertolong. Siapapun yang pernah diajari cara melakukan pertolongan pertama kepada seseorang pasti akan melakukan pertolongan pertama yang benar, tapi tidak bagi bocah perempuan ini. Ajaib. Tak berapa lama kemudian air keluar dari mulut Sam. Dia pun terbangun. Berkali-kali ia terbatuk-batuk.
Bocah perempuan yang menolongnya itu beranjak untuk segera pergi.
“Tunggu!” cegah Sam. “Siapa kamu? Aku belum berterima kasih.”
“Tak perlu kamu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa!” ucapnya. “Kau tinggalah di sini sampai bantuan tiba.”
Sam lagi-lagi tak percaya dengan apa yang dia lihat. Bocah perempuan itu kembali berjalan di atas air, sementara jilbab birunya berkibar seiring ia melangkah pergi. Tapi itulah yang dilihat oleh Sam. Dia telah melihat sebuah keajaiban yang akan ia ingat seumur hidupnya.