Harusnya Kau Denganku

1606 Kata
Aku mulai bertanya arti dari mencintai. Bukankah cinta tentang keikhlasan, lalu mengapa hati sakit tiap bertemu dengannya? Apakah tidak ada ketulusan dalam melepaskan? Tak seharusnya, pedih mengusai hati dikala kita telah menjauh pergi, namun apa daya, tak semudah itu menghapus rasa yang telah terukir abadi. Pakaian berserakan di atas tempat tidur, wanita itu sibuk memilah-milah pakaian mana yang akan ia masukkan ke dalam koper. Ia berulang kali mendesah, seakan tak memiliki baju yang pantas untuk dibawanya berpegian. Padahal, pakaiannya begitu banyak. Dilema wanita. Lelaki yang sedari tadi duduk di sofa sembari memperhatikannya mulai berjalan mendekati wanita itu. Ia duduk di tepi tempat tidur yang ditempati wanita itu. Ia memperhatikan kegiatan wanita itu, mendesah penuh kekecewaan, dan menatap sedih wanitanya. “Jadi, kamu akan pergi selama sebulan? Meninggalkanku ?” Lelaki itu cemberut, sedetik kemudian membaringkan kepalanya di pangkuan Delia, menatap sedih wanita itu. Bagai bocah yang kehilangan mainannya. Delia tergelak dan mengacak puncak kepala lelaki itu. “Hanya sebulan, Zac. Kau tahu Anne, ‘kan? Dia nggak bisa menjalankan kelas khusus liburan itu tanpaku.” “Tapi, kenapa harus di Lembang. Apa yang salah dengan Jakarta?” Delia menggeleng-geleng. “Namanya juga kelas liburan, jadi harus sekalian menikmati masa libur, ‘kan?” Zac mendesah frustrasi dan menenggelamkan wajahnya pada paha Delia. “Aku akan mati karna merindukanmu, Dee.” Delia tertawa. “Manja banget ya!” “Kan aku manjanya sama kamu, kalau sama cewek lain itu baru salah.” Zac segera duduk dan menangkup wajah Delia dengan kedua tangannya, “Kamu tahu kan kalau aku cinta mati sama kamu?” Kata cinta yang berulang kali Zac ucapkan hanya menambah beban hatinya, mengiris kalbu dan menyesakkan d**a. Sesakit itu cinta yang ia terima dari Zac, bukan lelaki itu yang bersalah, hanya saja, Delia tak lagi memiliki hati untuk mencintai yang lain. Delia mengusap wajah Zac. “Tahu.” Keduanya saling berpandangan, Zac menggenggam tangan Delia yang berada di wajahnya. “Perasaanku nggak enak, Dee. Rasanya, seperti kamu akan meninggalkanku.” Hati Delia pedih. Ia memang tak mampu membalas rasa lelaki itu, namun ia tak pernah berpikir untuk meninggalkannya. Delia tersenyum menenangkan dan memeluk erat tubuh Zac. “Aku nggak akan ke mana-mana, Zac.” Zac memeluk Delia tak kalah eratnya. “Aku bisa mati tanpamu, Dee. Aku nggak bisa.” Sesak di d**a, memaksa air matanya turun. Mengapa hatinya tak tersentuh? Padahal cinta Zac begitu besar padanya, akan tetapi mengapa ia kerap merasa mati di dekat lelaki itu? Serumit inikah cinta? Ia tak lagi mengerti arti dari rasa itu. Dengan cepat Delia mengusap air matanya, ia melepaskan pelukan mereka dan tersenyum. “Aku mau lanjut packing.” Zac membantu Delia memilah pakaian dan menyusunnya di samping koper yang akan Delia bawa. Ia menyebutkan semua benda yang Delia perlukan dan mengecek semua bawaan wanita itu, ia tak ingin Delia ketinggalan benda yang diperlukannya. Kegiatan itu dihiasi oleh canda tawa dan limpahan perhatian dari Zac. Delia beruntung memiliki Zac di sisinya. Sungguh! Akan tetapi hatinya merasa bersalah atas semua cinta yang Zac berikan, tak seharusnya mereka seperti ini. Andai saja, lelaki itu membiarkannya tenggelam dalam kesedihan dan mati perlahan, mungkin saja, ia tak ‘kan merasa sesesak ini di sisi Zac. *** Wanita itu tersenyum menikmati kegiatan anak-anak yang tengah menari indah. Studio berukuran cukup besar itu bisa memuat sekitar dua puluh anak dan ruangan yang dikelilingi kaca terasa hangat karena senyum semua orang yang ada di sana. Mata wanita itu terhenti saat bertemu gadis kecil yang terlihat lebih bahagia dari semuanya, ia seakan berada di dunianya sendiri, menari bagai bagian dari dirinya. Ia menikmatinya. Dalam diam, Delia memperhatikan gadis itu. Paduan wajah Andrew dan Christie membuat wajah gadis itu tak bercela, cantik, sempurna. Banyak tanya yang bermain di benak Delia. Bagaimana jika saat itu ia memilih tetap tinggal, memaksakan rasanya pada Andrew, dan memanfaatkan rasa bersalah Christie. Mungkin, tak ‘kan ada Delia kecil hari ini. Delia menggeleng. Tak seharusnya ia memikirkan semua itu, apa yang terjadi sudah ditakdirkan Tuhan dan tak ada gunanya ia berandai-andai. Kepergiaannya adalah yang terbaik. Buktinya, Andrew bahagia dan ia memiliki dua harta berharga dalam hidupnya. Ya, inilah yang seharusnya terjadi. Menit demi menit telah berlalu, latihan telah usai. Gadis kecil itu berlari ke arah Delia dan duduk di samping wanita itu. “Tante temen papa,’kan?” Delia mengangguk. “Ya, temen mama juga.” “Kata Papa, nama kita sama karna mama dan papa menyukai tante.” Delia tersenyum dan menggeleng-geleng. “Tante juga menyukai mereka.” Gadis itu menatap Delia dalam-dalam. “Senyum Tante mirip Mama, sama kayak foto Mama Dee yang di kamar. Dee kangen mama.” Hati Delia seakan teriris, dipeluknya erat gadis kecil itu. “Mama akan selalu ada di hati kamu, Sayang. Dulu, kata nenek Tante, orang yang sudah pergi akan berubah menjadi bintang dan kalau kita kangen sama orang itu, kita bisa cari bintang paling terang di langit.” “Apa Mama adalah bintang itu?” Delia mengangguk, melepaskan pelukannya, dan mengusap lembut wajah gadis itu. “Ya, yang kamu harus lakukan adalah menatap langit dan ceritakan semua kerinduanmu sama mama.” Gadis kecil itu tersenyum dan memeluk Delia. “Makasih, Tante.” Delia mengusap puncak kepala gadis kecil itu. “Mau makan es krim? Tante traktir.” Gadis kecil itu mengangguk antusias. Keduanya membereskan bawaan mereka dan segera berjalan ke pintu keluar. Sepanjang perjalanan keduanya bercerita dengan asyik, tentang hobby, permainan, dan canda tawa menghiasi kebersamaan keduanya. *** Sejuknya udara membuat wanita itu merapatkan sweaternya dan menatap kosong ke depan. Pepohonan tinggi dan gelapnya malam seakan menambah kehampaan hati wanita itu. Selama beberapa tahun ini, hanya kekosongan yang ia rasakan, namun setelah bertemu kembali dengan pemilik hatinya, ia kembali merasa, namun tak seindah perasaan yang dulu. “Melamun di dekat hutan gini, bisa buat kamu kerasukan,” suara itu membuyarkan lamunan Delia. Ia menoleh ke sumber suara dan terkejut saat menemukan Andrew yang tengah tersenyum manis padanya. “Kok?” “Aku nggak bisa ninggalin Delia sendirian. Maksudku Delia kecil.” Delia tersenyum tipis, tanpa diperjelas, ia pun mengerti siapa yang Andrew maksudkan. “Jadi kamu ikutan program ini. Sebulan?” Andrew mengangguk dan duduk di kursi kosong di samping Delia. “Ya.” “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” “Bos mah bebas,” ucap Andrew sembari tersenyum bangga, sedang Delia terkekeh. “Ya deh, yang udah jadi bos.” Keheningan menjebak keduanya, mereka tengah sibuk mengatur perasaan masing-masing. Merasa asing, namun begitu dekat. Bahagia, akan tetapi perih. Gejolak rasa bermain dan menghantam sanubari keduanya saat bersama. Membingungkan. “Maafkan aku, Dee,” Andrew memecahkan keheningan di antara mereka. Delia mengernyitkan keningnya. “Untuk apa, Drew?” “Untuk nggak ada di sisimu selama ini.” Jantung Delia seakan diremas, sakit tanpa sebab. “Aku yang pergi, jadi nggak seharusnya kamu yang minta maaf. Kamu nggak salah apa pun, Drew.” Andrew menatap sendu Delia dan tersenyum. “Aku salah, Dee. Saat aku jatuh dan berduka, kamu selalu ada, tapi saat menemukan kebahagiaanku, aku seakan melupakanmu. Seharusnya, aku bersikeras memintamu tetap tinggal.” Andrew menarik tangan Delia ke dalam genggamannya, “Banyak hal yang sudah kulewatkan tentangmu, Dee. Dan semua waktu itu nggak bisa aku dapatkan kembali.” Pedih menyelimuti penjuru hati. Oh … andai lelaki itu tahu ia merasakan hal yang sama. Pedih karena telah kehilangan waktu berharga kebersamaan mereka. “Sekarang, kamu udah di sini ‘kan? Kita bisa memulai semuanya dari awal.” Andrew mengeratkan genggaman tangannya. “Kali ini, aku nggak akan melepaskanmu, walau kamu yang memintanya, Dee.” Delia tersenyum dan berharap lelaki itu akan memegang janjinya kali ini. Suara hujan yang mulai turun, membuat Delia menoleh ke alam, udara dingin tak lagi menganggu karna ada kehangatan dari tangan Andrew yang dibagi untuknya. “Mau main hujan?” Delia mengarahkan pandangan pada Andrew dan menatap heran lelaki itu. “Yang benar saja, Drew?” Andrew tergelak. “Kenapa? Dulu, kita sering mandi hujan.” Delia menggeleng-geleng. “Sekarang kita udah tua.” Andrew segera berdiri di hadapan Delia dan menarik wanita itu untuk berdiri bersamanya. “Jangan biarkan usia menghalangimu menemukan kebahagiaan, Dee.” Keduanya bertukar senyum dan Andrew membawa Delia ke tengah-tengah hujan. Keduanya berputar-putar, bersorak bahagia, dan bergandengan tangan. Dalam sekejap, mereka seakan kembali ke masa lalu, memutar ulang kenangan yang dulu mulai samar-samar. Hati keduanya bahagia. Delia tertawa, berputar-putar, dan tiba-tiba kehilangan keseimbangannya. Beruntung Andrew bisa menangkap tubuh wanita itu dan membiarkan dirinya menjadi tempat jatuh tubuh Delia. Napas keduanya terengah-engah karna keletihan, tawa yang tadi menghiasi wajah menghilang dan pandangan keduanya terkunci. Jarak di antara wajah mereka begitu tipis, jantung keduanya memburu, mengeluarkan irama yang sama. Mereka saling berpandangan dalam diam, memperhatikan wajah yang selama ini tak mereka lihat. Meneliti perubahan demi perubahan yang sempat mereka lewatkan. Sedetik kemudian, Delia yang lebih dulu mendapatkan kesadarannya, segera menjauhkan wajahnya dan mencoba untuk berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Andrew. “Sudah cukup bermainnya, Drew. Kita bisa sakit nanti.” Andrew mengusap kepalanya dan tersenyum. “Masuklah, Dee. Aku masih pengen di sini.” “Yakin?” Andrew mengangguk mantap. Delia yang tak ingin terus terbuai akan pesona masa lalu, segera melambaikan tangan dan berjalan menjauh. Hatinya dilanda berbagai rasa yang tak dimengertinya. Seharusnya, lelaki itu miliknya dan saat ini mereka bersama dalam tawa. Akan tetapi, mengapa semuanya menjadi seperti ini? Sesak di d**a memaksa air mata mengalir dan Delia berharap esok pedih itu akan menghilang dari dirinya. Dibawa pergi oleh Sang mimpi. Di sisi lain, Andrew yang masih duduk di bawah rintikan hujan mencoba mencerna berbagai rasa yang menyelimuti hati. Ia memegang d**a dan mengusapnya perlahan, berharap degubannya bisa kembali normal dan pedih yang mendera bisa segera pergi. Apa yang salah denganku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN