Episode 4

1266 Kata
“Kau datang?” tanya Marvin saat melihat kedatangan Vallen di markas mereka.                 “Aku sudah merasa lebih baik, dan aku ingin mengetahui siapa musuh kita kali ini. Aku ingin segera bergerak tanpa menunggu lama lagi!” seru Vallen penuh keyakinan.                 “Kau baru saja pulih, apa ini baik untuk kesehatanmu,” seru Tom.                 “Aku tidak perduli, aku harus bisa bertemu dengan wanita itu lagi,” seru Vallen.                 “Dia bukanlah Isabell, seseorang telah mengoperasi seseorang untuk merubah wajahnya menjadi mirip dengan Bella,” ucap James membuat Vallen langsung melihat ke arahnya.                 “Bagaimana kau tau?”                 “Aku menyelidikinya, mereka anak buah dari klan Bintang Hitam. Kalian pasti tau siapa mereka,” seru James.                 “Alexandra Stafford?” seru Ethan.                 “Alexandra Stafford salah satu pembisnis besar di Negara Inggris. Aku dengar dia cukup misterius.” James menjelaskan apa yang ia ketahui.                 “Bukan hanya bisnis di bidang pertambangan minyak bumi miliknya yang sukses, tetapi bisnis di dunia mafianya juga sangatlah besar. Musuh kali ini tidaklah mudah,” tutur James.                 “Lalu siapa wanita yang kau maksud bukan Isabell?” tanya Vallen begitu penasaran.                 “Menurut dari yang aku dapatkan, dia adalah Nona Yora, salah satu ketua pasukan di klan Bintang Hitam. Dan dia adalah salah satu kepercayaan dari Alex.”                 “Dia bukanlah Isabell, Vallen.” Kali ini Raymond yang berkata.                 “Tapi bagaimana  mungkin? Tatapan itu, dan jantung itu,” gumamnya.                 Vallen mengenal Isabell dari kecil, dia sangat hapal akan wanitanya itu. Dan Vallen yakin itu adalah Isabell. Istrinya...                 “Kamu pernah keliru terhadapnya, Vallen. Mugkin sekarang juga, jangan terlalu mengandalkan perasaanmu karena wajah mereka mirip,” seru Marvin.                 “Tidak Marvin, aku pernah keliru dan tidak mempercayainya. Tetapi sekarang aku begitu yakin,” seru Vallen masih dengan keteguhan hatinya.                 Marvin terlihat menghela nafasnya.                 “Kamu jangan terlalu terbawa perasaan dulu, Vallen.” Marvin kembali menegaskan.                 “Lagipula kalau dia benar Isabell, kenapa dia malah menembakmu,” seru James.                 “Baiklah, aku hanya perlu bertemu kembali dengannya maka aku bisa mengetahui apa dia Isabell atau bukan,” seru Vallen.                 “Lawan kali ini sepertinya lebih sulit dari Jeff. Kita harus membuat rencana semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan musuh kali ini.” Ucapan penutup dari Marvin. ȹ                 “Bagaimana mungkin dia bukan Isabell?” gumam Vallen mengusap wajahnya dengan gusar.                 “Itu mungkin saja terjadi, Isabell sudah 8 tahun pergi, dan sekarang bagaimana mungkin dia begitu saja kembali,” ucap Ethan.                 “Mungkin juga itu salah satu cara penjahat untuk mengelabuhimu. Dia tau kelemahanmu,” seru James.                 “Apa penjahat ini ada hubungannya dengan seseorang yang sudah menembak Isabell?” gumam Vallen.                 “Itu mungkin saja, karena dia mengetahui sosok Bella,” seru Ethan.                 “Aku akan selidiki semua ini, baru kita ambil langkah selanjutnya,” seru James yang merupakan detektif paling handal dan bekerja dengan sangat cepat.                 “Saranku sebaiknya kamu memastikan dan memperketat penjagaan untuk Valeria,” seru Ethan membuat Vallen mengangguk setuju.                 “Aku akan menambah penjagaan untuknya,” seru Vallen. ȹ                 Saat ini Vallen berdiri di jembatan yang berada tak jauh dari rumahnya dan merupakan akses menuju rumahnya. Ia berdiri di pembatas jembatan dan melihat ke bawah air yang terlihat dangkal dan penuh dengan serpihan salju.                 Saat itu tubuh Isabell terhempas dan jatuh ke bawah dengan tatapan matanya yang mengatakan kalau ia tidak pernah mengkhianati Vallen.                 “Aku percaya kamu tidak mengkhianatiku,” gumamnya.                 Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi dan jatuh ke sungai.                 Penyesalan terbesar dari Vallen adalah ia tidak mampu menggapai tangan Isabell dan membiarkannya jatuh ke bawah. Ia tidak melindungi wanitanya sampai seseorang bisa menekannya dan berusaha membunuhnya.                 “Vallen,” panggilan itu membuat Vallen menghapus air matanya dan menoleh ke sumber suara.                 “Gwen,” seru Vallen kembali ke raut wajah datar tanpa ekspresi.                 “Kamu kenapa di sini sendirian?” serunya. “Di luar begitu dingin, kamu bisa masuk angin nanti. Aku, aku membawakan mantel untukmu,” serunya menyodorkan mantel ke arah Vallen.                 “Kamu menginap?” tanya Vallen karena Gwen terlihat memakai piyama tidurnya.                 “Iya, Emm Vale yang memintanya. Dia merasa kesepian,” seru Gwen.                 Vallen tak berbicara lagi dan berjalan begitu saja melewati Gwen. Gwen berjalan mengikuti Vallen menuju rumah.                 “Aku akan membuatkan kopi untukmu,” seru Gwen saat mereka sampai di dalam rumah.                 Vallen berhenti berjalan dan kini berbalik ke arah Gwen.                 “Kamu berada di sini untuk menemani Valeria, Bukan?” seru Vallen membuat Gwen terdiam.                 “Kalau begitu fokuslah pada Valeria, jangan berusaha memberikan perhatian apapun padaku. Aku tidak suka!” seru Vallen dengan tegas.                 “Sudah 8 tahun berlalu, apa kamu masih tidak bisa melupakannya?” seru Gwen memberanikan diri untuk berbicara walau ia ketakutan melihat tatapan tajam dari Vallen.                 “Pikirkanlah, Valeria membutuhkan sosok Ibu untuk hidupnya,” seru Gwen kembali seraya berusaha membaca air muka Vallen yang tidak menunjukkan perubahan apapun.                 “Siapa kamu yang bisa menyimpulkan hal seperti itu? Aku lebih tau mana yang di butuhkan oleh putriku dan tidak. Jadi jangan bertindak seakan kamu tau segalanya,” seru Vallen begitu tegas. “Dan satu hal lagi, jangan berharap bisa menggantikan posisi Isabell di rumah ini maupun di dalam hidupku. Karena bagiku dia tidak tergantikan, kamu paham?”                 Gwen tertegun mendengar penuturan dari Vallen. Bagaimana bisa Vallen begitu teguh mencintai Isabell yang bahkan sudah meninggal 8 tahun yang lalu.                 “Aku membiarkanmu keluar masuk ke dalam rumah ini hanya untuk menemani Valleria. Jadi jangan melewati batasanmu!”                 Setelah mengatakan itu, Vallen pun beranjak pergi meninggalkan Gwen yang mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. ȹ  “Isabell lagi Isabell lagi! Kenapa wanita jalang itu tidak pernah pergi dari kehidupan Vallen?” amuk Gwen melemparkan barang-barang yang ada di dalam kamar apartementnya.                 “Aku sudah bersabar selama 8 tahun ini menjadi baby sister untuk bocah sialan itu. Tapi Vallen masih saja tidak melirikku! Sialan!”                 Gwen sangatlah emosi. Ia kesal karena Vallen tidak pernah bersikap baik padanya, bahkan dia selalu bersikap dingin pada Gwen.                 “Bahkan setelah mati pun, Isabell masih jadi penghalang buatku mendapatkan Vallentino!”                 Gwen menatap tajam ke depan dengan mata memerah penuh amarah dan kebencian. ȹ                 Sepekan sudah berlalu dan kini James mendapatkan informasi terbaru mengenai wanita yang mirip dengan Isabell itu.                 Saat ini team Delta tengah berkumpul di dalam ruangan di kantor CIA.                 “Aku tau cara untuk bisa mendekatinya dan mengetahui pergerakan dari klan Bintang Hitam,” seru Marvin.                 “Apa?” tanya Jerry.                 “Kita harus menyamar dan masuk ke dalam klan mereka. Kita harus menjadi anak buah mereka dan bisa memantau segala pergerakan mereka,” seru Marvin.                 “Siapa yang akan menyamar?” tanya Raymond.                 “Aku,” seru Vallen membuat mereka semua menoleh.                 “Kamu yakin? Mereka mengetahui wajahmu dan sepertinya incaran mereka adalah kamu,” seru Ethan.                 “Karena itulah, aku sendiri yang harus menyelidiki ini semua dan mencari tau apa dia Isabellku atau bukan,” seru Vallen begitu mantap.                 “Kenapa kau tidak percayakan saja pada Jerry dan Raymond, mereka jarang terekspos dan para musuhpun tidak mengenali mereka,” seru Marvin.                 “Biarkan aku yang masuk ke klan mereka dan menyelidiki semuanya. Hanya ini yang ingin aku lakukan,” seru Vallen penuh permohonan.                 “Hmm... baiklah. Aku harap kamu bisa menahan diri dan tetap menyamar supaya rencana kita tidak gagal,” seru Marvin yang akhirnya menyerah.                 “Baiklah.”                 “Vallen akan menyamar dengan Raymond,” seru Marvin yang di angguki mereka berdua.                 “Temukan segalanya dan ambil bukti perdagangan ilegal mereka juga data mengenai perusahaan gelap mereka. Hanya dengan mendapatkan bukti yang kuat kita bisa menjatuhkan dan menjebloskan Alexandra ke dalam jeruji besi!” seru Marvin penuh penekanan.                 “Baik!” ȹ     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN