Episode 5

1148 Kata
Hari ini Raymond dan Vallen masuk ke dalam test untuk menjadi salah satu anggota di klan Bintang Hitam.                 Mereka sampai di sebuah arena pertarungan bebas. Vallen terlihat memakai topeng wajah yang elastis hingga melekat di wajahnya dan tidak akan yang mengetahui kalau dirinya tengah menyamar. Sedangkan Raymond tidak memakai topeng, ia hanya membuat kumis dan jambangnya lebih tebal dan membuat tahi lalat palsu di dekat mata kirinya.                 Mereka berdua terlihat berbeda dan akan sangat sulit untuk di kenali.                 “Tempat ini untuk merekrut anggota baru?” tanya Vallen saat mereka sampai di tempat.                 “Iya, menurut dari apa yang aku selidiki. Mereka akan membiarkan setiap anggota yang ingin bergabung untuk bertarung di arena ini sampai mati. Siapa yang bertahan sampai akhir dan mampu menyingkirkan saingan mereka maka dialah yang akan bergabung,” seru Raymond.                 “Perekrutan yang sangat gila,” seru Vallen.                 “Itulah aturannya. Yang terpilih hanya 5 orang saja. Jadi kita harus mampu menyingkirkan semua orang-orang di sini dan terpilih menjadi anggota,” seru Raymond yang menatap begitu banyak orang di sana dari beberapa gengster dan preman.                 “Aku harap bisa menyingkirkan semua orang ini dengan cepat,” seru Vallen.                 Kemudian tatapannya tertuju pada bangunan besar di depannya dan melihat ke lantai 2 dimana seseorang yang ia rindukan baru saja berjalan menuju balkon dan melihat ke arena.                 “Bella...” gumam Vallen.                 “Kendalikan dirimu, Vallen. Ingat tugas utama kita, jangan sampai kita terbongkar sebelum kita mendapatkan informasi,” bisik Raymond.                 Perkelahian di sana sudah di mulai, setiap orang melawan satu orang lainnya. Di sana sudah menjadi arena pembunuhan dimana mereka tak segan-segan untuk saling membunuh satu sama lain.                 “Ingat namamu Wiskey dan namaku Aryan, kau paham?” seru Raymond yang di angguki Vallen.                 Kini giliran mereka berdua yang bertarung melawan yang lain. Dengan keahlian bela diri mereka yang begitu gesit dan terlatih. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menyingkirkan 11 orang yang menjadi lawan mereka.                 “Hosh...”                 Mereka berdua menghembuskan nafasnya dengan kasar saat kini hanya ada lima orang tersisa.                 “Selamat untuk kalian berlima yang berhasil bergabung di klan Bintang hitam,” seru seorang pria berbadan tinggi besar.                 “Sekarang kalian masuklah dan ikuti dua penjaga itu untuk menemui Nona,” ucapnya.                 Mereka berjalan mengikuti yang lain untuk masuk ke dalam gedung itu. Mereka berlima di minta berlutut di tanah dengan bertompang pada lutut masing-masing.                 Langkah kaki kecil nan elegant terdengar mendekat dan kini berdiri di hadapan mereka berlima. Tatapan Vallen tertuju pada wanita cantik di hadapannya itu.                 Isabell....                 “Selamat untuk kalian berlima karena telah lolos dari ujian tahap pertama.” Wanita itu tersenyum kecil dan berjalan mendekati Vallen.                 Ia mencengkram kedua pipi Vallen dan membuatnya menengadahkan kepalanya untuk beradu pandangan dengan dirinya. Wanita itu sedikit tertegun melihat sorot mata abu tajam milik Vallen.                 “Kamu hebat juga, melawan 11 orang tanpa membuat wajahmu terluka sedikitpun,” serunya.                 ‘Kalau sampai tergores maka tamat sudah penyamaranku,’ gumam hati Vallen.                 “Siapa namamu?” tanya wanita itu.                 “Wiskey,” jawab Vallen.                 “Wiskey,” gumamnya. “Kamu sungguh menarik di ujian pertama dan aku menyukai gaya bela dirimu itu.”                 “Terima kasih Nona-“                 “Cukup memanggilku Nona,” serunya yang paham maksud Vallen. Ia melepaskan cengkramannya dan berjalan menjauh dari Vallen.                 “Untuk sekarang kalian berlima boleh beristirahat dan siapkan diri kalian untuk melakukan ujian tahap kedua malam ini,” serunya kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu. ȹ Untuk selanjutnya adalah missi untuk bertransaksi dengan salah seorang client kelas atas. Vallen dan Raymond di buat kaget dengan beberapa ton narkoba yang di miliki geng ini dan siap di pasarkan ke beberapa Negara termasuk di kota itu. Vallen dan Raymond sangat yakin musuh yang mereka hadapi saat ini bukanlah musuh biasa seperti Jeff.                 Saat ini Vallen bersama Raymond dan tiga orang yang lolos saat mengantarkan satu kilogram narkoba ke client di sebuah club malam.                 Marvin yang mengetahui itu membiarkan transaksi itu berjalan lancar karena ini merupakan tes kedua untuk masuk ke dalam klan ini.                 Setelah proses transaksi, dimana wajah client telah Vallen rekam melalui camera kecil yang di pasang di salah satu kancing pakaiannya yang siap di kirim ke Marvin.                 Saat ini mereka kembali ke markas Klan dengan membawa sekoper uang.                 “Aku tidak menyangka bahwa misi kita ini berjalan tanpa hambatan,” seru Tristan salah satu dari mereka.                 “Dengan begini kita bisa langsung menerima logam klan bintang hitam,” jawab Rohyiu.                 “Memang apa untungnya logam itu?” tanya Raymond yang mengaku bernama Rayyan.                 “Ck. Apa kau bodoh Rayyan. Logam itu bisa membuat kita jadi di takuti dan di segani orang-orang dalam geng rendahan. Kita bisa menjadi pemimpin dalam geng rendahan itu,” seru Samo seraya menggigiti batang korek api.                 “Selain itu dengan menggunakan logam, kita bisa datang dan masuk ke markas pusat di daerah SS.” seru Tristan.                 “Menurut rumor yang aku dengar, di bagian markas kita bisa bertemu dengan Mr. Sanats sang panglima dalam klan bintang hitam. Katanya dia sangat menyeramkan dan juga begitu kuat,” seru Rohyiu.                 “Mr. Sanats?” gumam Vallen.                 “Iya Wiskey, katanya dia orang yang sangat kejam. Tetapi akan sangat menguntungkan kalau kita mejadi anak buah kesayangannya,” ucap Tristan.                 “Selain panglima klan, ada siapa lagi?” tanya Vallen.                 “Kami belum tau. Tapi kami hanya tau kalau geng ini memiliki 3 orang pembunuh berdarah dingin yang jarang sekali keluar dari markas utama. Mereka sangat berbahaya dan mereka keluar di saat menjalankan tugas yang di perintahkan oleh King.”                 “King?” tanya Raymond.                 “Iya, dia adalah pemimpin utama di klan ini. Kami tidak tau bagaimana orangnya. Dia memiliki banyak wajah, itu yang kami dengar,” seru Tristan.                 “Banyak wajah? Apa maksud kalian?” tanya Vallen.                 “Ck, kalian masuk ke klan ini tujuan apa sih? Bahkan kalian tidak tau menahu mengenai klan bintang hitam,” seru Samo.                 “Kami ini bukan orang asli sini. Kami merantau kesini, dan bekerja serabutan untuk makan. Kemarin saat sedang bekerja, kami mendengar ada arena bebas. Makanya kami langsung mengikutinya, berharap bisa mendapatkan uang,” seru Vallen.  Sepertinya pria bernama Samo itu terlihat berhati-hati di banding yang lain.                 “Tenang saja, di sini kalian tidak akan kekurangan uang sama sekali. Asalkan kita bisa mendapatkan logam klan bintang hitam itu sebagi tanda pengenal kita,” seru Rohyiu.                 Akhirnya Vallen dan Raymond mengangguk tanpa bertanya kembali karena takut semakin membuat mereka curiga. Sekarang mereka harus mencari tau siapa itu Sanats, ketiga pembunuh yang di rahasiakan itu juga King.                 “Tapi aku malah penasaran dengan Nona Gicella. Katanya dia gadis yang sangat cantik,” seru Tristan dengan tatapan mata yang penuh kekaguman dan membayangkan hal yang menjijikan.                 “Aku juga mendengar rumor kalau gadis cantik, putri dari King itu sangat mempesona.”                 Satu hal lagi informasi yang mereka dapatkan. Vallen dan Raymond saling adu pandang. Dan semua percakapan itu telah di rekam Vallen melalui camera kecil di kancing kemejanya.                 ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN