Sikap dingin Viana
Alby duduk menyendiri di balkon kamar setelah semua pekerjaannya selesai. Alby menatap kearah depan sambil menghisap rokok untuk bisa menenangkan dirinya ketika ada beban yang mengganggu pikirannya meski alby bukanlah orang yang suka merokok. Ini hanya dilakukan sesekali jika dirinya benar - benar sedang butuh ketenangan ketika ada masalah yang mengganggu pikirannya. Selain merokok, alby hanya diam seakan menerawang kedepan. Entah apa yang alby pikirkan saat ini dengan sesekali menghela nafas.
Brak...
Alby tidak terlonjak kaget atau menatap kebelakang siapa yang membuka dan menutup pintu dengan begitu keras. Alby sudah tau siapa yang memiliki kelakuan seperti itu. Siapa lagi kalau bukan Viana?
Alby hanya menggelengkan kepalanya dan mematikan rokok dengan menginjaknya. Alby berjalan masuk dan menutup pintu balkon kamar.
Alby melihat kamar yang berantakkan. Alby menghela nafas kasar. Bagaimana tidak kamar yang semula rapi berubah berantakan karena viana yang melempar sepatu, tas, jaket bahkan pakaiannya sembarangan. Alby langsung mengambil dan merapikan semua barang milik viana. Alby menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat dan terdengar suara gemericik air dari dalam menandakan viana sedang mandi.
Tidak lama, viana keluar dengan keadaan yang sudah segar.
"Lain kali jangan pulang terlarut malam vi" kata alby dengan lembut.
"Gak usah atur - atur deh dan ingat perjanjian kita" kata viana dengan ketus.
Alby menatap viana yang sedang memakai skincare miliknya yang rutin dilakukan viana sebelum tidur. Alby sejak tadi memilih diam setelah mendengar jawaban ketus dari viana. Belum genap satu bulan pernikahan antara viana dan alby tetapi viana sudah menampilkan aura dinginnya sejak awal. Alby hanya bisa bersabar dan berharap viana bisa menerima dirinya sebagai suami meski keadaan yang memaksa mereka bersatu. Viana yang sudah selesai memakai skincarenya langsung merebahkan dirinya dan memasang dua guling diantara mereka berdua sebagai pembatas. Viana tidur memunggunggi alby tanpa bicara apapun.
"Vi, apakah kamu menyesal dengan pernikahan kita?" kata alby dengan lembut dan duduk di pinggir kasur.
Seketika viana yang tadi mulai memejamkan matanya langsung duduk dan menatap tajam alby yang duduk sedikit jauh darinya. Nafas viana memburu. Viana berusaha menahan emosinya yang langsung tersulut dengan pertanyaan alby
"Kenapa bukan sejak awal kamu menanyakan hal itu? Apa pertanyaanmu berguna jika kamu bertanya sekarang?" kata viana dengan suara yang sedikit meninggi.
"Maaf, maafkan aku vi" kata alby dengan lembut.
"Maafmu tidak berguna saat ini" kata viana dengan dingin.
Viana langsung merebahkan dirinya kembali dan menutup kedua matanya. Alby menatap nanar bagaimana viana yang belum menerima pernikahan mereka.
"Aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku vi" gumam alby menatap tubuh viana yang tertutup selimut.
Alby ikut merebahkan dirinya diatas ranjang yang sama dengan viana meski ada pembatas guling diantara mereka yang terpenting bagi alby mereka tidak terpisah kamar ataupun ranjang. Alby memiringkan tubuhnya menghadap punggung viana. Ada rasa ingin memeluk viana namun alby urungkan karena tidak ingin membuat viana marah dan memperkeruh keadaan mereka. Alby mengingat bagaimana awal pernikahan mereka dan perjanjian yang mereka buat.
Flashback On
Alby yang saat itu sedang mengikuti kedua orang tuanya untuk menghadiri acara pernikahan saudara sepupunya. Alby memakai batik dan celana hitam. Pernikahan saudara sepupunya memang hanya dilakukan di rumah calon mempelai perempuan dengan sederhana karena keinginan dari kedua belah pihak keluarga meski kedua keluarga merupakan keluarga terpandang. Alby duduk dibelakang kedua orang tuanya menunggu acara ijab qobul dimulai.
"Kenapa lama sekali sih acaranya?" gerutu sita, ibu dari alby. Alby yang mendengar hal itu hanya tersenyum saja.
Tidak lama, ponsel alby berdering terdapat sebuah pesan dari wisnu, pamannya yang tidak lain adalah kedua orang tua dari calon mempelai pria dalam pernikahan itu. Pesan itu menyampaikan bahwa alby dan kedua orang tuanya diminta untuk menuju salah satu ruangan yang ada di rumah itu. Alby pun menyampaikan pesan dari wisnu dan bergegas menuju ruangan yang dimaksudkan. Alby dan ekdua orang tuanya masuk tampak heran dengan suasana ruangan yang terlihat tegang diantara kekdua belah pihak.
"Ada apa ini nu?" kata hery, ayah dari alby menatap wisnu sang adik yang sedang terlihat kacau.
"Mas, wisnu mohon kali ini tolonglah kami semua. Wisnu mohon mas"
"Maksudnya bagaimana ? Jelaskan nu?"
"Begini mas, anakku reno pergi meninggalkan pernikahan ini dan lebih memilih bersama selingkuhannya karena mereka sudah memiliki anak. Dia sungguh membuatku malu mas dan harus menanggung semuanya"
"Terus? Apa yang mas bisa bantu nu?"
"Mas, tolong restuilah alby agar menikah dengan viana menggantikan reno yang kabur. Wisnu tidak punya pilihan lain mas karena bagaimana dengan masa depan viana yang akan hancur sebab menanggung malu akibat pernikahannya yang gagal. Alby pasti bisa membahagiakan viana kak melebihi reno. Wisnu percaya karena sudah mengenal alby dari kecil. Wisnu mohon mas, bujuklah alby agar mau menggantikan posisi reno agar semua persiapan yang sudah ada tidak sia - sia dan menanggung malu dihadapan para tamu"
Alby menatap wisnu yang menatapnya dengan memohon. Alby mengalihkan perhatiannya kepada kedua orang tuanya yang mengganggukkan kepala tanda setuju.
"Baiklah, aku akan menggantikan posisi kak reno menikah dengan viana namun sebelum itu kalian harus menanyakan kepada viana terlebih dahulu apa dia mau atau tidak"
"Sekarang bersiaplah pakai pakaian yang sudah disiapkan di kamar samping kiri" titah rio, papa dari viana dengan tegas tanpa menjawab pertanyaan alby yang menanyakan kesiapan viana.
Alby sudah siap dengan pakaian yang seharusnya dipakai oleh reno namun malah dirinya yang memakainya. Alby membaca secarik kertas yang diberikan oleh hery. Kertas itu berisi nama lengkap viana.
"Sudah siap al?" kaga hery menepuk bahu alby.
"Sudah yah"
"Ayo kita keluar penghulu sudah datang" kata sita yang memasuki kamar yang digunakan alby.
Alby memakai baju pengantin berwarna putih dengan gugup. Alby terlihat tampan tidak jauh beda dengan reno. Alby memiliki garis hidung yang tegas, tinggi badan 180 cm, badan yang tegap dan bahu yang bidang membuat pakaian apa yang digunakan tampak bagus.
Dari lantai atas terlihat viana menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Viana diapit oleh dua orang disamping kanan dan kiri. Viana tampak cantik dengan kebaya putih yang digunakan namun pancaran kesedihan sangat terlihat di matanya membuat alby gelisah.
"Apakah langkah yang aku ambil ini benar? Menikah dengan seseorang yang tidak mencintaiku" keluh alby dalam hati.
Alby menatap kedua orang tuanya yang tersenyum seakan menunjukkan kebahagiaan atas pernikahannya.
"Semoga ini memang takdir terbaik dalam hidupku" gumam alby dalam hati berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Alby dan viana duduk berdampingan didepan penghulu. Ibu sita memakaikan kerudung putih di kepala kedua pengantin. Alby menjabatkan tangan penghulu dan mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan satu kali tarikkan nafas. Keheningan terjadi sejenak, setelah itu kata "Sah" keluar dari semua tamu yang hadir membuat alby menghela nafas lega.
Saat pemakaian cincin, alby dan viana bergantian memasangkan cincin. Alby merasakan tangan viana yang bergetar. Alby mengangkat wajahnya memandang wajah cantik viana yang sudah menjadi istrinya. Perasaan alby menjadi tidak menentu karena melihat air mata mengalir dari kedua mata viana yang membasahi pipinya. Tidak ada suara isak tangis yang viana keluarkan.
"Aku harus bisa menerima apapun konsekuensinya dari semua sikap viana. Bagaimana juga viana tidak mencintaiku" gumam alby didalam hati.
Alby mengangkat tangannya menyeka air mata viana dengan tenang dan kemudian mencium kening viana dengan lembut. Alby dan viana bersitatap sejenak. Alby kembali menyeka air mata viana dan tersenyum seakan menenangkan hati viana.
Setelah semua selesai, alby dan viana duduk di kursi kosong berdua karena lelah menyalami tamu undangan yang datang meski tidak ada pesta besar namun banyaknya keluarga dan tamu undangan yang datang membuat keduanya lelah. Alby dan viana menyantap makanan yang tadi sudah mereka ambil.
"Aku ingin berbicara denganmu tapi tidak disini"
Alby yang sedang menyuapkan nasi menghentikan kegiatannya dan menatap viana. Alby berusaha mengerti apa keinginan viana. Alby mengikuti viana yang berjalan kearah taman belakang di rumahnya. Tempat yang lebih sepi daripada yang lain.
"Bicaralah" kata alby menatap viana.
"Aku ingin kita tidak saling mencampuri urusan pribadi masing - masing dan jangan pernah menyentuhku" kata viana dengan dingin.
"Jika itu saja yang kamu inginkan aku tidak masalah yang terpenting kamu tidak meminta kita berpisah kamar karena akan membuat masalah baru di keluarga kita jika kedua orang tua kita mengetahuinya. Selain itu aku ingin setelah kita tinggal di apartemenku"
Viana hanya mengangguk singkat dan berjalan pergi meninggalkan alby di taman itu.
Flashback Off