Kabur adalah pilihan satu-satunya yang ditempuh oleh Hanin. Ia sudah malas melanjutkan hubungannya dan tak sudi lagi melihat wajah suaminya, Galang. Toh sebentar lagi mereka bakalan bercerai bukan?
Hanin sudah menuliskan surat tepat di atas meja samping ranjang kamar mereka. Juga sudah berpamitan dengan bi Dalmi, menceritakan semua keresahannya selama ini. Tentu saja pembantu wanita itu tercengang dan memberikan kekuatan kepada Hanin. Bi Dalmi pun ikutan pergi karena tidak mau sendirian di rumah ini bersama Galang.
"Semangat, Hanin. Kamu harus tetap bahagia!" gumamnya pada diri sendiri.
Saat ini ia tengah berdiri di dekat Stasiun Surabaya, ia akan mengambil jalur kereta menuju Bandung dan pulang ke halaman kampungnya. Mungkin orang tuanya akan terkejut mendengar penjelasan darinya, tetapi Hanin akan tetap bersikukuh bercerai dengan Galang.
Setelah setengah jam menunggu, Hanin pun memasuki gerbong dan duduk dengan menyandarkan tubuhnya. Ia sangat capek sekali hari ini. Pura-pura kuat dan juga pura-pura berani melawan Raniya.
Sebenarnya sifat Hanin sangat lemah lembut, tapi karena Raniya sangat keterlaluan makannya Hanin tak sabar menahan emosinya. Ia pun akhirnya memilih memejamkan mata dan menunggu pemberitahuan pemberhentian kereta.
Karena tak sadar sudah jam berapa, Hanin mulai membuka mata dan kaget di sampingnya sudah ada penumpang lain. Seorang pria yang tengah sibuk membaca buku tentang hidroponik dan sambil mendengarkan musik. Emang bisa fokus ya mengerjakan 2 hal dalam satu waktu sekaligus, pikirnya.
"Kenapa ngelihatin saya?" pria itu mengeluarkan suara tanpa menoleh kearah wanita di sampingnya.
"E-enggak kok. Tadi kebetulan mataku emang lagi fokus melihat orang lewat saja," kilah Hanin. Bisa malu kalau nanti dirinya tengah memandangi pria yang super rapi itu.
Dinilai dari penampilannya, sepertinya pria itu pria yang hidupnya sangat lurus. Mengenakan kemeja batik, jam tangan kuno, bahkan rambutnya pun biasa saja. Tapi Hanin mengakui pria itu sangat tampan.
Sadar, Hanin. Kamu masih istri orang! Ia pun kembali memusatkan pandangannya ke luar jendela. Ponselnya berdering dan membuatnya malas untuk mengecek.
Mas Galang. Nama itu tercetak sempurna di layar ponsel, ia bimbang harus mengangkatnya atau tidak. Ia pun mematikannya dan memilih untuk menonaktifkan data. Tapi ternyata Galang malah mengiriminya pesan.
[ Kamu nggak bisa minta cerai begitu saja, Hanin. Kita baru menikah dan aku khilaf melakukannya dengan Raniya.]
Miris sekali. Khilaf dia bilang? Hanin yakin suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami itu pasti sudah beberapa kali melakukan hubungan jahannam dengan Raniya, teman laknatnya dari kampung halamannya.
"Semua sudah selesai."
Hanin langsung mematikan ponselnya karena malas. Ia bahkan sudah memblokir nomer Galang dan Raniya. Tak ada ampun bagi mereka. Tanpa sadar Hanin malah sesenggukan membuat pria itu sedikit terganggu. Apalagi bangku di depan Hanin tak ada yang menduduki, padahal tadi saat masuj gerbong masih ada.
"Hey, bisa diam gak?" protes pria berkacamata yang tengah fokus membaca dan mendengarkan musik. Meskipun telinganya tersumpal earphone tetapi Abimanyu tetap bisa mendengarkan suara rengekan dari wanita di sampingnya.
Bukannya diam, Hanin malah makin tersedu ria dan membuat Abimanyu refleks melepas earphone-nya. "Are you okey? Kamu kebablasan keretanya? Atau lapar? Di dunia ini tuh yang sedih enggak cuma kamu aja, yang punya masalah itu juga gak kamu aja. Saya nggak bisa membaca dengan tenang gara-gara suara kamu."
Hanin pun refleks menarik kemeja milik pria yang sama sekali tak dikenalinya. Ia mengusap air mata dan ingusnya dengan ujung lengan kemeja milik pria itu.
Abimanyu tak bisa berbuat apa-apa selain diam. Karena selain heran, Abimanyu juga malu dilihat beberapa orang yang tengah lewat. Pasti mereka mengira wanita itu telah disakiti oleh Abimanyu.
Akhirnya jalur pemberhentian selanjutnya membuat Abimanyu bisa berpisah dengan wanita aneh yang sudah mengotori lengan kemejanya. Ia berjalan dengan cepat dan meninggalkan Hanin. Bodo amat!
Padahal Hanin juga turun di Stasiun Bandung, dan tentu saja wanita itu mengekori Abimanyu.
"Ngikutin saya?"
"Enggak! Aku juga orang Bandung asal kamu tahu!"
"Nggak pingin mau tahu tuh!" balas Abimanyu tak kalah sengit.
Mereka sama-sama menjauh dan mencoba mencari angkutan umum menuju ke kampung masing-masing. Padahal satu desa. Duh, jodoh memang gak ke mana ya.
***
Galang memijat tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja ngilu tak karuan. Ternyata selama ini istrinya sudah mengetahui perbuatan busuknya dengan teman dekat Hanin sendiri, yaitu Raniya. Ah, bodoh!
"Mas, terus kita bakalan gimana? Nama baik kita bakalan jelek kalau mbak Hanin nyebarin perbuatan kita ke orang tua kita."
Bukan cuma itu saja, tapi satu kampung pasti bakalan tambah geram dengan Raniya. Penggoda ulung yang sudah berbakat memikat pria lain yang sudah beristri.
"Jujur aku enggak tahu. Ini semua salah kamu Raniya, karena kamu yang telah menggodaku terlebih dahulu. Padahal kamu tahu kalau aku ini dulunya pria yang setia dan tidak pernah tergoda dengan tubuh wanita muràhan sepertimu."
Plak!
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Galang, pria itu hendak membalas tetapi Raniya segera menepis tangan kekasih gelapnya. "Kamu bilang aku wanita muràhan? Ngaca dong! Kamu juga menikmati semua yang sudah kita lalui, bahkan kamu sering memintaku untuk mengirimkan video tanpa busana. Kamu nggak ingat kamu juga sama bejatnya dengan aku ya!"
Galang menyandarkan tubuhnya ke tembok. Padahal pernikahannya belum ada 1 tahun tetapi harus hancur karena kekhilafannya sendiri. Satu-satunya cara menyelamatkan nama baiknya dan pernikahannya adalah menyembah dengan cinta dan mengemis pada istrinya yang sekarang mungkin pulang ke rumahnya di Bandung.
"Sudahlah. Urus dirimu sendiri, Raniya. Aku harus segera menjemput Hanin sebelum semuanya terlambat."
"Tega kamu, Mas. Padahal selama ini kamu yang sering datang kemari, kamu juga selalu membohongi istri kamu. Aku mau kamu menikahiku!" jangan sampai rencana Raniya gagal total untuk mendapatkan pria kaya seperti Galang. Urusan nama baiknya ia akan merelakan dibenci satu kampung asalkan hidupnya bahagia di Surabaya dengan merebut suami orang.
Raniya menarik tubuh Galang dan memaksa pria itu untuk menidurinya. Galang dengan cepat menepis tubuh Raniya yang sudah berada di atasnya.
"Seharusnya kita bisa memanfaatkan ini dengan tidur bersama, Mas. Mbak Hanin sudah enggak ada, dia sudah pulang ke Bandung dan melupakanmu. Aku adalah wanita yang sekarang menjadi milikmu!"
"Ran!"
Tapi wanita itu tetap bersikukuh untuk membuka kemeja Galang dengan terburu-buru. Ia sudah mengunci pintu dan memaksa pria itu melakukan hubungan yang biasa mereka lakukan. Raniya mulai menanggalkan semua pakaiannya.
"Ayo kita bercinta, Mas. Mumpung mbak Hanin sudah enggak ada, kamu enggak usah terbebani. Aku tahu kamu sangat menyukai milikku kan?"
Galang tetap berusaha menolak tapi sayangnya logika dan batinnya saling bertolak belakang. Pria itu telah menikmati gerakan maju mundur dari Raniya yang sudah duduk di atas perutnya.
"Aku akan membuatmu menikmati tubuhku dan melupakan nama Hanin dengan segera, Mas."