Melabrak Si Munafik

1245 Kata
Rasanya tercabik-cabik. Siapa yang menyangka kalau pernikahannya harus benar-benar selesai. Hanin frustasi dengan kesabarannya, sungguh! Ia benar-benar ingin pulang kampung. "Selamat pagi, Mas," sapanya sambil duduk dan mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk suaminya. Ia bangun lebih pagi dari biasanya dengan mata yang menghitam. Begadang karena memikirkan suaminya, sedangkan Galang bisa tidur dengan nyaman lantaran bisa memiliki dua wanita sekaligus dalam satu kota. Dasar rakus! "Pagi juga, Sayang." Hari ini hari yang jauh lebih indah. Galang sangat menikmati kehidupannya belakangan ini, ia tak sadar kalau penampilan Hanin hari ini sangat berantakan. Padahal bi Dalmi saja bertanya, kenapa Hanin tampak tak segar sama sekali. Sedang sakit kah? Tapi suaminya sendiri malah bersikap seperti tak peduli. "Antar aku ke rumah Raniya yuk, Mas. Aku bosan di rumah," tukas Hanin. Galang yang sedang mengunyah mendadak menghentikan kunyahannya. Istrinya tahu kalau pria itu tak mau Hanin sering bertemu dengan Raniya. "Ini senin, Sayang. Bukannya dia bekerja ya?" akhirnya Galang nampak biasa saja dan mencoba tetap makan dengan tenang. "Iya sih, kalau begitu antarkan aku ke cafenya. Aku bakalan ketemu dia di sana." Hanin benar-benar tak bisa berpikir tenang sekarang. Ia ingin sekali mendamprat Raniya bagaimanapun caranya, kalau perlu membuat Raniya dipecat karena sudah menggoda suaminya. Mau tak mau Galang akhirnya setuju. Toh tak ada yang perlu dikhawatirkan karena istrinya tak mengetahui perbuatannya di belakang bersama Raniya. Padahal Hanin mengetahui segalanya. Sehabis sarapan Hanin begegas mandi. Ia berpenampilan berani dan cukup nyentrik. Dunia harus tahu kalau istri sah lebih elegan dan berkelas daripada pelakor. Tempat bekerja Galang memang melewati cafe tempat Raniya bekerja. Pria itu hanya bisa mengantarkan istrinya, tidak bisa menemaninya masuk ke dalam karena harus ke kantor. Hari ini banyak sekali rapat yang harus dihadiri Galang untuk peresmian kerja sama dengan perusahaan kecil agar perusahaannya makin berkembang. Raniya agak kaget melihat Hanin datang ke cafenya, kebetulan ia sedang mengelap kaca juga mengepel lantai. Masih terlalu pagi memang untuk datang ke cafe karena buka sekitar jam 9. "Aku agak sibuk, Mbak. Maaf kalau membuat kamu menunggu," Raniya mengatakan itu agar Hanin merasa kedatangannya tidak begitu diharapkan. Tapi Hanin akan pasang wajah masa bodohnya dan tetap stay cool di cafe menunggu Raniya selesai. Bagaimanapun caranya wanita itu harus tahu siapa Hanin Sahara dan siapa Raniya bagi kehidupan Galang. Ia akan langsung melabraknya. Ya, sekarang ini Hanin sudah tak tahu harus bagaimana. Setelah selesai mengepel, akhirnya Raniya membawakan kopi colla untuk Hanin. "Diminun, Mbak. Pagi-pagi segar kan sambil ngopi?" Hanin nyengir kuda dan hanya mengaduk minumannya. Kayaknya seru juga kalau kopi colla ini mendarat tepat di wajah Raniya, pikirnya puas. "Kamu pasti menikmati semua ini," tebak Hanin. "Iya, Mbak. Di cafe orang-orangnya ramah. Gampang juga berbaur, salam buat pak Galang terima kasih sudah mencarikan tempat bekerja untukku." Cih! Padahal Hanin memberikan pernyataan tentang permainan busuk mereka di belakang Hanin. Apakah Raniya menikmatinya atau tidak, dan pasti jawabannya sangat menikmatinya. "Aku bosan di rumah, aku butuh liburan. Mas Galang selalu sibuk di kantor, bahkan weekend sekalipun." Ia mencoba membuka ruang curhat agar Raniya menanggapinya. "Ya mungkin memang sedang sibuk aja,Mbak. Beruntung sekali Mbak Hanin punya suami segigih pak Galang, dia kan pekerja keras." Ingin sekali Hanin bertepuk tangan karena Raniya sama sekali tak terintimidasi dengan kegusarannya. Padahal Hanin mengatakannya penuh dengan penekanan. "Tapi kalau weekend tuh biasanya dia ngajakin aku makan, shooping, ke salon dan jalan-jalan. Ya kamu tahu sendiri lah, mas Galang kan sayang sama aku banget, jadi apa pun yang ku inginkan pasti dipenuhi. Kaya banget dia, duh.. pokoknya aku bahagia banget, jadi ratu terus di rumah." Mood Hanin memang kadang berubah, kadang buruk kadang baik. Hanin mengatakan itu agar Raniya tahu kalau Galang hanya menginginkn tubuhnya saja, bukan keberadaannya. Wanita itu harus tahu diri akan posisinya. "Oh gitu ya, Mbak. Iya pak Galang memang kaya," Raniya sejak tadi mendadak merasa tak nyaman karena Hanin terus-terusan membahas pria yang menjadi kekasih gelapnya. Ia merasa cemburu karena tak bisa pamer kemesraan dengan Galang di depan Hanin. "Aku mau ajak dia bulan madu ah besok. Hahaha, kadang aku tuh masih diajak menginap di hotel dengan pemandangan kota Surabaya. Nanti selepas kerja temani aku belanja ya, aku mau beli lingerie yang seksi agar mas Galang makin tergoda kalau melihat aku memakai itu," ajak Hanin. Ia melihat ekspresi Raniya yang kaku dan kikuk. Pasti wanita itu kesal setengah mati karena Hanin songong sekali. Bahkan Hanin dengan jelas melihat Raniya menguatkan rahangnya. Haha, silahkan keluarkan tanduk aslimu, Raniya! Ia juga tahu sejak tadi Raniya tak nyaman. Raniya terus-terusan melihat ke arah pintu masuk siapa tahu ada pelanggan yang datang. Ia bisa menggunakannya untuk dijadikan alasan agar terbebas dari Hanin yang sedang curhat. "Tapi maaf, Mbak. Aku pulangnya agak sore bahkan mepet maghrib, soalnya senin memang banyak pengunjung di cafe." Hanin mengangguk tanda pengertian. Ia mulai meminum minumannya dan merasakan ada yang mencekat lehernya. Tapi baiklah, Hanin akan mencoba berubah wujud menjadi singa sekarang. "Gak apa-apa kok. Kamu kan nanti sekalian bisa beli lingerie, pasti butuh kan?" "Ma-maksudnya?" Nah, sudah ketahuan Raniya sangat gugup. Apalagi Hanin dengan jelas melihat pelipis wanita itu agak berkeringat. "Maksud aku, sepertinya kamu juga butuh lingerie, Raniya. Bukannua setiap wekeend kamu dan mas Galang selalu bermain ranjang ya? Atau kamu langsung menggodanya dengan tubuh murahmu itu, hah?!" Glek. Raniya sangat kaget sekali. Mukanya sudah jelas kalau sekarang ia tak mampu mengelak lagi. Dari mana Hanin bisa tahu tentang hal itu? Bukannya selama ini Raniya sudah menyuruh Galang agar tak sembarang mendekati Hanin setelah mereka selesai bercinta. "Mbak, kita bicara di tempat lain saja. Di sini banyak yang lihat, ada pelanggan yang baru saja datang." Raniya sudah berdiri tapi tidak dengan Hanin. Wanita itu tetap duduk dan tak menyanggupi ajakan w************n itu keluar dari cafe. "Duduk, Ran!" titah Hanin. "Jangan di sini, Mbak. Kita bisa bicarakan ini di rumah saya." "Gue bilang duduk!" Hanin sudah mengganti logat bicaranya dan suaranya meninggi satu oktaf. Ia sudah mencoba mendinginkan isi kepala dan batinnya tapi tetap saja berkobar api penuh emosi. Akhirnya Raniya kembali duduk. Ia bahkan tak menggubris ke arah temannya yang menyuruhnya ke dapur. Tiba-tiba saja Hanin tepuk tangan sekencang-kencangnya. Ia akan membuat Raniya malu di sini, biar dipecat sekalian. "Pertama, gue mau ucapin terima kasih karena melalui lu gue bisa tahu suami gue ternyata pria buaya darat. Gue udah chek beberapa hal yang akurat seperti rambut panjang di kemeja suami gue. Sekarang ini gue sedang menunggu hasil tes DNA. Lu pasti lupa ya kalau rambut kita itu udah beda, dan jelas gue tahu lah kalau suami gue saat weekend gak ke kantor tapi ke rumah lu. Muna ya lu!" Raniya kembali berdiri dan mencoba untuk menenangkan Hanin, tapi wanita itu sudah mulai menunjukkan kesangarannya. "Gue juga tahu kalau lu suka menggoda suami gue, telpon dia setiap hari saat gue udah tidur. Hahaha, keren Raniya. Dasar wanita penggiling, di kampung lu juga dicap murahan kan?" "Cukup!" elak Raniya. Hampir saja Raniya menampar Hanin, tapi Hanin dengan cepat bisa membaca gerakan tangan Raniya. "Mulai sekarang lu bisa ambil suami gue semau lu. Udah gak butuh gue, bahagia lu sama dia. Nanti kalau dia udah nemu lagi yang lebih hot goyangnya, lu juga bakalan dianggurin kayak gue!" Sebelum Hanin pergi dari cafe, ia mengambil minumannya dan mengguyurkannya tepat di wajah Raniya. Sontak cafe mendadak heboh, beberapa pelanggan bahkan sudah merekam aksi istri sah melabrak pelakor, bakalan trending di Youtube nih! Mereka menutup mulut dan tak percaya. Wanita semodis dan secantik Hanin digantikan oleh pelayan cafe yang modal tubuh seksi saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN