Tunggu Pembalasan Hanin

1073 Kata
Dengan sengaja Hanin menunjukkan betapa anggunnya cara makan steak tanpa belepotan, berbeda dengan Raniya yang sejak tadi kesusahan memotong daging di piringnya. Pasti wanita itu tak berani meminta tolong pada Galang. Sadar diri ya, mbak! "Pasti di kampung jarang banget ya makan kayak gini?" tebak Hanin. Pertanyaan itu memang disengaja agar Raniya merasa minder bersaing dengan dirinya. Galang sejak tadi diam. Ia berusaha memahami istrinya yang kini bersikap sangar, tak seperti biasanya yang kalem dan baik. Tentu saja Raniya sejak tadi hanya minum dan makan hidangan penutup. Ia merelakan steaknya karena tak bisa memotong dengan pisau. Rasanya malu harus menggigit langsung, bisa-bisa pengunjung restoran akan menganggapnya kampungan. Setelah makan siang selesai, Hanin dengan sengaja bertingkah untuk memberi kejelasan kalau dialah istri sah bukan perebur seperti Raniya. Ini hanya taktik Hanin agar Galang tahu kalau yang sudah ia perbuat dengan Raniya salah dan dosa besar. "Spot di sini bagus, ya? Gedung-gedung pencakar langit kelihatan aesthetic banget. Fotoin dong, Ran? Yang banyak ya?" Lagi-lagi Raniya hanya mengangguk dan menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa tercekat. Ia dengan sekuat tenaga mengarahkan ponsel milik Hanin dan membidik pasangan suami istri itu. Hanin memeluk Galang, pose candid dari samping, kanan-kiri dan juga bersandar bahu suaminya. Surabaya makin panas nih kayaknya. Melihat wajah Raniya yang sekarang, ia tahu kalau si w************n itu kelihatan kikuk dan kacau. Pasti perasaannya sangat tercabik-cabik dengan melihat kemesraan Galang dan Hanin. "Ah, pulang yuk, Mas, di sini panas! Ran, nanti kamu mau mampir atau langsung pulang ke rumah kamu?" "Aku pulang saja, Mbak Hanin," sahut Raniya dengan lemas. Mereka akhirnya pulang dan di dalam mobil pun Hanin terus bergelayut manja dengan suaminya. Memang sangat disengaja agar Raniya terbakar api cemburu. "Mas, aku gak sabar deh punya anak. Kamu mau punya anak laki-laki atau perempuan?" ditatapnya Galang yang tetap tenang menyetir. Ia juga sempat melirik ke arah Raniya yang hanya menatap jalan. Padahal wanita itu sejak tadi mendengarkan obrolan mereka. "Terserah sama yang di atas, Sayang. Kamu pasti gak sabar ya punya anak?" canda Galang. Sekuat tenaga pria itu tetap tak menunjukkan kegelisahannya karena istrinya terus-terusan mendekati dan mengelus lengannya. Ia tak berani melihat Raniya dari kaca spion. "Ah, aku mau punya anak 3-4 biar ramai rumah kita. Rumah cinta kita akan dipenuhi gelak tawa tanpa adanya penganggu!" ucap Hanin penuh penekanan. Sadar atau tidak, Raniya merasa tersindir. Kenapa tingkah laku Hanin agak aneh hari ini? Biasanya wanita itu selalu bersikap manis padanya bahkan Hanin lebih sering mengobrol dengannya. Beda dengan hari ini, Raniya seperti tak dianggap ada. *** Selepas dari makan siang, Raniya hanya bermalas-malasan di kamarnya. Ia mengkode Galang untuk datang lantaran sudah tak tahan diabaikan tadi. Baru satu hari dipanas-panasi aja udah gak tahan banting. Tapi kerjaannya bikin panas otak orang. "Sialan! Ternyata Hanin mau ngajakin perang. Dia itu kenapa sih berlagak jadi nyonya besar? Ngerasa sok cantik gitu?!" Raniya bermonolog pada dirinya sendiri. Ingin rasanya wanita itu mendatangi temannya dan melabraknya. Tapi Raniya masih memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi nantinya. Padahal Hanin juga menahan banyak amarah yang terpendam. Memang dipikirnya, Hanin tak cemburu? Apalagi statusnya sangat berhak untuk cemburu bukan? "Kamu dari tadi sibuk chatan sama siapa sih, Mas?" Hanin sedang selonjoran di ranjang sambil menatap suaminya duduk di sofa. Tangan pria itu sejak tadi mengetik dan berkutat pada ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Raniya? "Teman saja. Kamu gak tidur siang? Panas gini sih, mandi enak kali ya?" Galang mencoba merayu Hanin agar wanita itu melakukan sesuatu dan dirinya bisa ke rumah Raniya sekarang. Sepertinya selingkuhannya ngambek saat makan di restoran tadi. "Aku gak mau mandi, nanti sore saja. Ngantuk juga, tidur duluan ya Mas," Hanin menaikkan volume AC dan melepas dressnya. Ia hanya mengenakan tank top dan celan pendek saja. Surabaya memang sangat gerah sih. Tepat sekali. Galang memang menunggu istrinya tidur, ia akan beralasan keluar sebentar dan menenangkan Raniya. Ah, ternyata selingkuh dengan teman istrinya rumit juga. Dan Galang memang baru pertama kali oleng karena ia merasa kejantanannya makin prima dan hanya Raniya yang bisa memuaskannya. Sambil menunggu Hanin benar-benar tidur, ia meminta Raniya mengiriminya video seksi. Galang gelap mata saat selingkuhannya mengirimkan video hanya mengenakan bra dan tiduran di ranjang. Tentu saja miliknya langsung berkedut. Galang sudah tak tahan dan sangat merindukan Raniya. Sepuluh menit kemudian akhirnya Galang bisa keluar dari rumahnya dan ngebut menuju rumau Raniya. Ia juga memegang kunci cadangan dan bisa masuk ke rumah Raniya kapan saja. "Ran," panggilnya sambil membuka pintu kamar. Ditatapnya pria yang berdiri dan menatap Raniya penuh nafsu. "Kamu Mas, sini gih.. kita tidur siang bareng. Dilepas dong bajunya, Surabaya kan memang panas." Dengan sengaja Raniya berdiri dan menarik tubuh pria itu. Raniya hanya mengenakan bra dan kain yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Galang dibuat menggila dengan bukit kembar yang menonjol. "Ini pasti karena tadi pagi kita mainnya kencang banget jadi bengkak gini, Sayang. Kamu memang kuat melayani aku lagi?" Raniya langsung menyanggupi ajakan pria itu. Ia memang pro bermain-main kuda-kudaan. Galang saja heran dari mana wanita itu belajar hal seperti ini padahal Raniya belum menikah. "Iya dong. Meskipun istri kamu cantik, tapi dia gak se-pro aku kan, Mas?" kekeh Raniya. "Ya, hebat kamu kok. Kalian sama-sama hebat, kamu tadi ngambek ya?" "Lumayan sih, soalnya mbak Hanin kayak pamer banget tau jadi istri kamu. Aku kayak gak dianggep, sebel tau gak!" rajuk Raniya. Galang kemudian menggulingkan tubuh Raniya dan kini Galang lah yang memimpin untuk jadi komandan, memacu gerakan dan banyak gaya. Sibuk dengan kekasih baru, Galang tak sadar ponselnya sudah di sadap oleh istrinya. Hanin memang pura-pura tidur, ia tahu kalau suaminya sudah tak ada. Ia mengecek lokasi terkini suaminya "Hahahahaha. Gila! Dasar ngambekan! Dasar kalian edan! Kalian jahat! Hanya terbuai nafsu sesaat dan gak mikirin akibatnya. Dasar penghianat!" umpat Hanin sekencang-kencangnya. Hanin terbangun sendiri. Tertawa dan menangis secara bersamaan, ia mati rasa dan perasaannya kacau sekarang. Hanin harus segera cerai. Ia ingin pulang dan kembali ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Tapi ia harus mencari bukti lagi agar pihak keluarga Galang percaya. Ia harus memakai strategi yang pernah dipakai Mila saat dulu mengetahui mantan pacarnya selingkuh. Rasa sakit, kekecewaan, syok, linglung, terhantam, remuk. Begitulah perasaan Hanin sekarang. Apa itu cinta? Rasanya kosa kata itu kini seakan jadi basi dan terbuang ke tempat basah. Mungkin ini cara Tuhan menegurnya agar tak mencintai Galang lagi. Agar Hanin melanjutkan hidup dengan kisah yang baru. Semangat, Hanin. Kamu cantik, ratu tidak bersaing dengan dayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN