Hanin Harus Bermental Baja

1179 Kata
Setelah pulang dari rumah Mila, akhirnya Hanin bisa menenangkan perasaannya. Meskipun masih saja berantakan tapi Hanin cukup lega. Ia tak akan memaafkan perbuatan suaminya terlebih lagi Raniya. Wanita sok baik itu sudah mulai menunjukan jati diri dan Hanin tak akan mau kalah melawannya. "Bi, menurut Bibi pernikahan yang sempurna itu seperti apa sih?" selain baik dan dewasa, bi Dalmi adalah satu-satunya orang di rumah ini yang sekarang Hanin percayai. Bi Dalmi sedang menemani Hanin menonton tv, wanita itu agak kaget mendengar pertanyaan dari majikannya. "Tumben nih, Non tanya yang begituan?" "Iseng saja sih, soalnya kemarin nonton sinetron yang memang tentang pernikahan gitu deh. Mau tahu sudut pandang dari Bi Dalmi yang udah lama menikah, bahkan punya anak." Bi Dalmi menerawang ke atap seakan berpikir. Ia tahu kalau majikannya memang baru saja menikah dan pernikahannya masih tergolong mentah. "Kalau ditanya pernikahan yang sempurna itu seperti apa, sebenarnya Bibi gak tahu, Non. Tapi bagi Bibi, pernikahan sempurna bagi Bibi sendiri sih yang bahagia tanpa perantara, misalnya bisa sarapan dan makan bersama keluarga meskipun makan nasi sepiring dan lauk seadanya, selalu meluangkan waktu untuk keluarga, membicarakan hal-hal ringan dan gak kabur saat ada masalah. Dan yang paling penting itu jujur, Non. Mau kaya raya kayak apa tapi suka bohong tetap saja nggak bakalan keitung bahagia, bohong sekali bakalan bikin tuman, bikin kebiasaan untuk mengulanginya." Waw, Hanin tak menyangka kalau bi Dalmi seluas itu pandangannya. Ia saja hanya mengira pernikahan yang bahagia itu ya punya rumah mewah dan punya fasilitas yang lengkap. Ternyata persepsinya mengenai pernikahan dan rumah tangga salah kaprah. "Non Hanin kepengin punya anak cepat nggak? Biasanya kalau nikah muda kan pasti maunya jalan-jalan, bulan madu dan menghabiskan waktu cuma berdua," ujar bi Dalmi. Hanin tersenyum getir. Ia memang sempat pergi berdua dengan Galang ke Bromo setelah menikah. Menikmati pemandangan kawah dan pasir berbisik. "Doakan saja, Bi yang terbaik buat aku." Entah apa yang diharapkan oleh Hanin. Ia sudah tidak semangat lagi melanjutkan hubungannya dengan Galang. Ingin sekali Hanin segera selesai dan ingin segera melepas cincin yang kini masih dipakai di jari manisnya. "Terus menurut Bibi timbulnya perceraian itu karena apa sih?" Bi Dalmi agak terkejut dengan pertanyaan berikutnya. Tapi wanita berusia 45 tahun itu tetap mencoba memberikan jawaban yang memuaskan menurut versinya. "Perceraian ya artinya hubungan dalam pernikahan sudah selesai. Sudah tidak ada lagi status antara suami dan istri. Kalau mereka sudah punya anak mereka tetap menjadi orang tua, tidak ada istilah mantan ibu dan mantan ayah di dunia ini, Non Hanin. Banyak sih yang menyebabkan terjadinya perceraian, seperti misalnya selingkuh, beda pendapat, sudah tidak merasa cocok lagi, ego dan juga masih banyak alasan lainnya." Curhat dengan bi Dalmi ternyata menyenangkan. Hanin kini mulai bisa mencerna dan menimang-nimang isi kepalanya dengan tertata dan tidak salah langkah. Dari arah pintu, matanya menangkap sosok pria yang mendadak mulai blur dari hati dan hidupnya. Kenapa pulang sih, masih ingat istri di rumah? "Halo, Sayang. Siang Bi Dalmi, ini aku belikan kalian pangsit, lumayan masih hangat." Bi Dalmi memasang wajah sumringah. Wanita itu memang tak tahu seperti apa kelakuan majikannya di luar sana, bi Dalmi menganggap Galang adalah pria dan juga suami yang baik. "Aku kan gak minta pangsit, kenapa dibeliin?" ketus Hanin. Galang tak merasa bersalah meskipun sudah membohongi istrinya beberapa kali. Ia tidak mengira kalau Hanin ternyata sudah tahu kelakuan bejatnya di belakang Hanin selama ini. Bodoh sekali, si Galang. "Gak apa-apa dong, masa suami kamu ini belinya saat istrinya minta doang? Bi, dimakan ya mumpung masih hangat. Yang, aku mau ke kamar dulu mandi dan ganti baju," Galang langsung meninggalkan ruang santai dan menuju kamarnya. Hanin menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Ia masih kesal setengah mati dan ingin sekali mendepak pria itu sekarang juga. "Bi, aku tinggal dulu sebentar ya?" Hanin sudah berdiri dan menyusul suaminya. Atas saran dari Mila, Hanin akan pura-pura biasa saja dan memasang sikap sok manis di depan Galang ataupun Raniya nanti. Tunggu saja, karma akan mendatangi kalian dan saat karma sudah berjalan dengan semestinya Galang dan Raniya akan menangis menanggung malu menyembah Hanin karena sudah bermain-main dengannya. Belum sempat masuk ke kamarnya, Hanin mendengar kalau Galang tengah bertelepon dengan seseorang. Apalagi gaya bicaranya sangat dibuat-buat, pasti pria itu sedang bermanja ria dengan kekasih gelapnya lewat telepon. Hanin tidak jadi masuk dan hanya berdiri mematung di depan kamarnya sambil menguping. "Iya, ini sudah sampai rumah kok. Kamu istirahat gih, capek kan? Tadi goyangnya kekencengan sih, aku sampai gak bisa mengimbanginya. Kamu benar-benar the best, Ran!" Hah! 'Kimi miming the bist, Rin!" Hanin ingin muntah sekarang. Ia ingin sekali mendobrak pintu dan menjewer, memukul, menjambak bahkan menendang o***g suaminya sekarang juga. Dasar bandot gila! Awas saja kalian! Galang sudah selesai menelepon dan lanjut ke kamar mandi, barulah Hanin masuk dan tak peduli dengan ponsel milik suaminya yang diumbarkan begitu saja di atas ranjang. Gak takut diperiksa nih sama istri sah? Aha, ide cemerlang muncul. Hanin akan meng-hack w******p suaminya. Sekarang ponsel Raniya kan baru, pakai duitnya lagi. Lihat saja nanti, kalau sudah terbongkar Hanin bakalan ambil ponsel itu, enak saja! "Loh, kaget aku yang! Tadi udah dimakan pangsitnya? Atau kamu mau makan yang lain, keluar aja yuk?" ajak Galang sok baik. Ingin sekali Hanin menendang o***g pria itu sekencang-kencangnya. Ia sangat kesal setengah mati. Rasanya sudah kepanasan. Sabar, Han! Harus menang dengan cara elegan bukan? Ratu tak pernah bersaing, dia selalu mendapatkan tahtanya dengan cara terhormat. "Makan steak di restoran Mine's yuk!" ulang Hanin. "Sekalian ajak Raniya, udah lama kita gak makan bareng, kan?" Hanin tertawa miris di dalam hatinya. Mendadak menyebut nama w************n itu membuatnya ingin mandi kembang tujuh rupa. "Kenapa harus ada Raniya?" tanya Galang. Ia agak merasa aneh karena Hanin sangat kelihatan terobsesi dengan selingkuhannya. "Biar rame aja lah, aku ganti baju dulu." Akhirnya Galang setuju dan menunggu istrinya untuk berganti baju. Hanin keluar dengan memakai dress terbaik yang ia punya. Harganya saja puluhan juta, ia pun mengenakan high heels dan dompet termahal yang ia punya. Harus good looking dong di depan selingkuhan. "Sayang, kamu mau makan atau menghadiri acara awards wanita tercantik sih? Sumpah, ini istri aku bukan sih?" Galang menjawil istrinya dengan manja. Hanin mengibaskan rambut sebahunya. "Aku kan memang sudah cantik dan berkelas, Mas!" Mereka pun keluar dari rumah dan menjemput Raniya terlebih dahulu. Wanita itu agak kaget karena didatangi oleh Galang dan Hanin. "Kok nggak bilang sih Mbak kalau mau ke sini?" 'Halah, Suamiku aja ke sini tiap weekend gak pernah bilang-bilang tuh!' batin Hanin. "Kejutan sih, ganti baju gih mau kuajak makan di restoran," ajak Hanin. Raniya hanya mengangguk pasrah, apalagi Galang mengedipkan mata agar Raniya setuju biar tidak curiga. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah dalam perjalanan. Restoran Mine's memang selalu ramai pengunjung. Mengusung tema outdoor di lantai atas dengan gaya Eropa, membuat banyak orang yang datang juga berfoto mencari view dan spot terhits. Mendadak Raniya agak canggung di tempat mewah seperti ini. Ia merasa pakaiannya kalah jauh dengan milik Hanin. Apalagi Hanin memang berias dan memakai jam mahal yang harganya mencekik leher. 'Mampus, kau Raniya! Sekarang tahu kan kelasmu itu di mana?!' gumam Hanin. Ia harus memberi kejelasan siapa Hanin Sahara dan siapa Raniya di depan semesta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN