Belakangan ini Hanin merasa suaminya sudah jarang sekali mengajaknya liburan. Galang selalu pergi ke kantor bahkan saat weekend sekalipun. Hanin jenuh ingin mencairkan moodnya saat hari libur.
"Kerja lagi, Mas?" keluhnya bosan. Ini sudah minggu ke empat suaminya beralasan untuk ke kantor. Padahal Galang blabas ke rumah kontrakan Raniya dan nananinadududu dengan bunga yang lebih muda.
Galang mengangguk dan mengikat tali sepatunya. Ia sangat merindukan wanita itu, apalagi goyangannya yang sangat liar. Raniya baru saja selesai dari masa datang bulannya beberapa hari yang lalu.
"Mas janji, kalau gaji Mas turun bakalan ngajak kamu jalan-jalan, makan, belanja dan keliling Surabaya."
Tentu saja Hanin senang bukan main. Sudah lama tak mendapatkan kesempatan berlama-lama dengan suaminya. Ia pun merelakan kepergian pria itu untuk ke kantor padahal bohong.
Galang sudah pergi dan kejenuhan terus-menerus menghampirinya. Mampir ke tempat Raniya kali ya? Terakhir mereka bertemu saat Raniya baru pulang dari kerja. Sekarang temannya sudah bekerja di cafe dan senggang saat sabtu dan minggu saja.
"Bi, aku pergi dulu bentar ya? Bosan di rumah nih, gak apa-apa kan kutinggal sendiri?" Hanin sudah mengutus supir untuk mengantarkannya ke tempat Raniya.
"Iya, Non. Biasa aja, Bibi juga masih banyak pekerjaan. Hati-hati di jalan," ucap Bi Dalmi.
Hanin sudah berdiri dari ruang makan dan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel dan dompet. Lima menit kemudian ia sudah berada di dalam mobil menuju rumah Raniya.
Setengah jam kemudian, Hanin masih terdiam dari kejauhan saat melihat mobil suaminya parkir di samping rumah Raniya. 'Ngapain Mas Galang di sini? Katanya ngantor?'
Mendadak perasaannya ngilu. Ia tak bisa menebak apa pun sekarang. Akhirnya demi memastikannya, Hanin menelpon suaminya. Kita lihat pria itu akan mengatakan apa.
"Mas, ada di mana sekarang?" Hanin terlihat sekali menahan amarah. Napasnya naik-turun tak karuan.
[Di kantor, Sayang. Hmm, sebentar ya nanti ku telpon lagi, lagi ada tamu nih.]
Galang semena-mena mematikan telepon sebelum Hanin mengatakan sesuatu. Tenggorokannya tercekat. Kenapa suaminya berbohong? Ah, kepalanya makin pusing. Ia tak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang.
"Non, gak jadi masuk? Itu mobil pak Galang bukan?" tanya pak Tono, supirnya.
"Hmm, Bapak tunggu di sini ya? Aku mau ke sana sebentar."
Hanin pun keluar dari mobil dan berjalan dengan gontai. Ia sangat lemah untuk melangkah karena memikirkan banyaknya kemungkinan yang terjadi antara Galang dan temannya Raniya.
Seandainya dugaannya benar, Hanin sangat terluka dan kecewa seberat-beratnya.
Tok, tok.
Hanin mengetuk pintu lalu pergi. Ia kembali berlari dan masuk mobil, parkir agak jauh agar suaminya tak melihatnya. Dan ternyata beberapa menit kemudian Hanin melihat Raniya membuka pintu. Wanita itu mengenakan piyama baju tidur yang bahkan kancingnya belum dikancingkan semua. Ah, mereka melakukan apa di rumah Raniya?
Akhirnya Hanin memilih pulang dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Apakah ia sanggup menerima jawaban dari suaminya kalau ternyata pria yang sangat ia cintai sudah berselingkuh dengan temannya dari kampung.
"Pak, kita ke rumahnya Mila, ya?" pinta Hanin. Bahkan mendadak suaranya tertelan dan redup.
Sampai di rumah Mila, Hanin tak kuasa menahan tangis. Mila yang sedang hamil besar kaget melihat temannya menangis padahal belum masuk, duduk bahkan belum mengatakan apa pun.
"Wait, Han. Ini gak kayak kamu yang biasanya. Kenapa sih tiba-tiba nangis? Kamu diapain sama Galang, hm?" cemas Mila.
Mila adalah temannya dari tempatnya bekerja dulu. Tapi sekarang Mila sudah resign karena hamil. Ia juga teman dekat Hanin sewaktu dulu masih sekantor.
"Duduk dulu ya, tarik napas dulu terus cerita kenapa kamu datang-datang mewek kayak bayi," heran Mila.
Mila memanggil pembantunya untuk mengambilkan air minum untuk Hanin. Dengan sekali tegukan, Hanin sudah menandaskan air putih langsung tanpa jeda. Mila hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya.
"Pertama, tadi aku refleks nangis karena d**a ini udah nyesek banget nahan kecurigaan. Aku tadi di rumah dan lagi pengen banget jalan sama suami mumpung weekend, tapi mas Galang memang selalu sibuk ke kantor. Padahal dulu kita gak pernah sok sibuk begini."
"Terus?"
"Ternyata dia malah ke tempat Raniya. Awalnya aku tuh rencana mau main ke sana, tapi nggak tahunya aku malah melihat mobil suamiku ada di samping rumahnya. Tahu nggak, aku tadi ketuk pintu terus aku lari dan masuk ke mobil. Tahu apa yang aku lihat? Raniya membuka pintu dengan piyama yang bahkan kancingnya itu salah makainya, udah tahu kan mereka itu ngapain aja di dalam sana?" Hanin sudah tak mampu melanjutkan ceritanya karena mendadak kepalanya mau pecah. Dalam kamus hidupnya tak pernah berpikir kalau wanita itu akan diselingkuhi oleh suaminya.
"Aku tuh nggak bisa menebak dan nggak mau menebak karena aku takut. Aku takut Mil kalau dugaanku itu benar. Dugaanku kalau mas Galang selingkuh dengan Raniya itu benar."
Mila hanya geleng-geleng kepala dan ikut merasakan apa yang dialami Hanin. Ia juga pernah diselingkuhi saat masih pacaran dengan Dirga saat kuliah. Tapi kisahnya memang lebih mengerikan Hanin sih, tapi yang namanya dibohongi pasti sama-sama sakit kan?
"Raniya temanmu dari kampung itu, kan?" tanya Mila. Hanin mengangguk tanda mengiyakan.
"Pertama, aku sama sekali nggak tau mau ngomong apa karena aku bukan pakar cinta, tetapi sebagai seorang wanita dan juga teman dekat kamu, Han, aku tahu kalau dulu kalian sangat lengket banget. Udah lama pacaran, ya kan? Dan menurut aku yang salah itu memang Raniya, dari dulu banyak juga kan yang mendekati Galang tapi pria itu tetap bersikukuh untuk bersama-sama kamu. Datangnya Raniya di hidup kamu membuat semuanya jadi berantakan. Mereka udah melakukan apa yang seharusnya nggak dilakukan."
"Terus aku harus bagaimana, Mil? Jujur, sekarang bahkan hatiku kayak mati rasa dan nggak mau ketemu mas Galang dulu. Aku mau menyelesaikan semuanya secepat mungkin!"
Bisa dilihat kalau ego wanita itu sedang berada di puncak. Ia dikuasai oleh kekecewaan yang mendalam. Tega sekali si Raniya, kejam dan tak berperasaan.
Sebenarnya Hanin tak perhitungan, tapi kenapa wanita itu tak tahu terima kasih? Sudah diberi tumpangan nginep di rumahnya, dibelikan baju yang bagus, ponsel baru, dicarikan kontrakan bahkan suaminya saja mencarikan pekerjaan untuk Raniya. Tetapi mereka malah berbuat hal gila di belakang Hanin. Siapa sih yang gak sakit hati? Siapa yang nggak kecewa karena sudah dihianati?
"Sekarang, kamu tenangin diri kamu dulu, Hanin. Meskipun aku nggak tahu apa kamu bisa tenang sekarang. Kamu harus gunain cara berpikir dengan kepala yang dingin, jangan gegabah dan jangan ceroboh. Ingat, orang-orang seperti mereka nggak bisa dimaafin, nggak bisa kamu kasih kesempatan kedua. Galang ataupun si teman penggodamu itu benar-benar gak waras! Kamu mau hidup dengan pria yang sudah membohongimu di atas pernikahan suci kalian?"
Hanin meremas ujung dressnya karena sangat kesal dengan perbuatan suami dan temannya. Suaminya telah melanggar janji suci yang ia ikrarkan saat ijab kabul dan sungkem dengan orang tua Hanin dulu. "Bagaimanapun caranya, mereka harus menanggung malu saat aku beberkan perselingkuhan mereka di depan orang tua masing-masing. Awas kamu, mas Galang, kamu udah menghianati wanita yang salah!"