Sesi antara pelakór dan penghianat baru saja usai, cepat-cepat Galang merapikan pakaiannya. Tubuh yang tadinya masih demam kini mengeluarkan keringat lebih. Ia masih gemetaran tapi untuk hal itu Galang tetap saja prima.
"Terima kasih, Mas. Sudah menemani malam yang panjang. Sana, nanti istri kamu nyariin lagi."
Buru-buru Galang keluar, kembali ke kamar dan betapa leganya ia melihat Hanin masih nyenyak dalam tidurnya.
Kadang rasa bersalah menyelimuti pikirannya. Ia bukan pria bejagulan yang mengingkari janji suci pernikahan. Hanya menuntaskan rasa penasaran karena Raniya terus-terusan mengibarkan godaan.
***
"Mas, kamu udah enakan. Wah, gak perlu dikompres lagi kan?"
Galang mengecek sendiri suhu tubuhnya. Hebat juga Raniya, gara-gara duel semalam panas tubuhnya turun drastis.
"Eh, iya. Besok aku udah bisa ke kantor, kamu nggak perlu cemas, Sayang."
"Siap, Mas. Nanti aku siapkan makanan, kamu nggak boleh jajan di luar dulu. Oke?"
Galang mengangguk dan langsung mandi, hari ini weekend dan rasanya suntuk di rumah. Yang tidak membuatnya nyaman adalah karena ada dua wanita yang harus diperhatikan.
Meskipun status mereka jauh berbeda, tapi tetap saja Galang harus hati-hati. Terlebih Hanin, karena wanita itu adalah wanita paling utama di hidupnya, Raniya hanya hiburan disaat penat saja.
Usai mandi, Galang tak mendapati Hanin. Yakin sekali kalau istrinya sudah sibuk menyiapkan sarapan.
Hanin sendiri memang jarang mandi pagi dan selalu sesuka hati, beruntungnya karena cantik Hanin selalu saja punya tempat di hati Galang.
"Pagi, Ran. Wah, rajin kamu pagi-pagi udah mandi. Di sini gerah banget ya meskipun pagi? Beda sama kampung halaman kita."
Raniya mengangguk. Benar juga sih, Surabaya memang lebih panas, beda dengan Bandung yang membuat sebagian dari mereka memilih santuy di kasur daripada harus bangun.
Ia mandi mepet subuh karena harus mandi wajib setelah melakukan hubungan terlarang dengan Galang. Pria itu pasti juga melakukan hal yang sama dengannya.
Mereka saling bantu masak, palingan Hanin juga tidak akan sudi menerima bantuan Raniya karena mereka sudah berbagi suami tanpa sepengetahuannya.
"Mas, sudah mandi ya? Cakepnya suami aku," Hanin mengecup pipi Galang, tidak peduli bagaimana reaksi wajah Raniya.
Memangnya siapa dia? Hanya orang yang mampir di hidup Hanin, padahal tanpa disadari sebentar lagi badai akan segera datang. Raniya akan mengeluarkan sisi lainnya demi mencapai apa yang ingin dicapainya.
"Aku lagi selesaikan semuanya, tapi terbantu sama Raniya. Dia ini paket komplit ya, Mas? Udah cantik, pintar masak lagi. Ran, pokoknya aku dukung kalau kamu ke sini mau cari jodoh juga."
Melihat istrinya tak curiga, itu tandanya Galang aman sekarang. Entahlah, biasanya para wanita selalu peka saat suami mereka dekat dengan wanita lain.
Tapi beda dengan Hanin yang memang percaya 1000% dengan suaminya. Ketulusan juga perjuangan keduanya menyadarkan Hanin bahwa suaminya tak akan melakukan hal yang merugikan pernikahan mereka.
"Ini, dicicipi, Pak," tawar Raniya. Ia sengaja menyentuh jemari Galang, beruntung sekali Hanin lagi-lagi tak menyadarinya.
Sambil mengunyah, ia tidak berani melihat Raniya. Lebih tepatnya takut pertahanannya oleng. Masih berbekas apa saja yang mereka lakukan semalam dan sampai sekarang Galang tak bisa menyingkirkan pikiran mesúmnya.
"Mas, kita jalan-jalan yuk! Mumpung Aku ada teman, kita keliling. Bosan tahu, hitung-hitung kita syukuran untuk menyambut Raniya, gimana, Mas?"
Galang tersedak minumannya sendiri. Kaget dengan ajakan Hanin. Ia benar-benar tak nyaman harus semobil wanita itu yang mulai masuk ke otaknya.
"Kalian kan kemarin baru pergi?"
Melihat respon Galang begitu membuat Raniya sadar bahwa posisinya hanya sebagai partner ranjang. Tak lebih, buktinya Galang malu jalan dengannya.
Apakah karena penampilannya memang tak semenarik Hanin Sahara? Tidak modis, wangi juga nampak elegan. Hanin memiliki tubuh lebih ramping dan rambut yang lembut. Juga ramah, beda konsep dengan tampilan Raniya sekarang.
Hanin terus-terusan merengek manja, bergelayutan di tangan suaminya. "Ih, Mas. Terakhir kita jalan-jalan tuh waktu kamu ada libur weekend dua bulan yang lalu, please dong. Ya, ya, ya?"
Mana bisa ia menolak ajakan sang istri, Galang hanya mengangguk dan melanjutkan makan.
"Ran, kamu pakai baju yang kemarin aku belikan ya, aku mandi dulu."
Lagi-lagi hanya berdua saja. Galang masih canggung untuk berbicara. Membuat Raniya makin gemas dengan pria yang ada di hadapannya.
"Mas, kamu lucu juga ya? Makin membuat aku penasaran."
Tetap diam. Galang masih bingung harus bersikap seperti apa. Ia merasa aman saat Hanin benar-benar tak ada di sekitar mereka.
"Mas, kalau diajakin ngobrol lihat orangnya dong? Kamu takut sama aku? Kayaknya gak deh, kamu lebih takut dengan dirimu sendiri, iya kan?"
"Ran, please, jangan sekarang. Situasinya masih terlalu pagi."
Lihat, dengan beraninya Raniya malah menjawil dagu Galang dan membuat pria itu kelimpungan. Parahnya lagi, Raniya berani terang-terangan mengatakan 'I miss U' dengan lantang.
"Kalau kamu mau, kita bisa berhubungan di luar setelah aku dapat rumah baru. Aku yakin istri kamu gak bakalan curiga, serumah aja dia gak tahu kan? Aku ini pintar dan main aman, Sayang."
Sedikit tergugah karena wanita itu memanggilnya Sayang. Pikirannya sekarang kacau, mungkin mencari rumah untuk Raniya adalah jalan pintas untuk kesehatan jantungnya. Galang tak mau mati muda karena terus-terusan khawatir berhadapan dengan dua wanita.
***
Merasa disingkirkan begitu saja, Raniya ingin cepat pulang. Ia dari tadi hanya mengekor di belakang dan harus menelan fakta bahwa Hanin memang istri sah dari pria yang mulai disukainya.
"Ran, kita masuk ke kafetaria itu yuk? Mas Galang mau ketemu sama temannya, kita tunggu aja sebentar."
Kening Raniya mengerut ingin bertanya Galang bertemu dengan siapa tapi sepertinya dengan status yang ia punya. Ia tidak bisa seterbuka Hanin karena memang bukan siapa-siapa bagi Galang sekarang.
Begitu masuk, pandangan Raniya masih tetap saja terpusat pada suami orang, suami temannya sendiri.
"Ran, kamu ngelihatin siapa sih? Hm?"
"Eh, enggak, Mbak. Tadi cuma iseng lihat orang-orang masuk aja, Mbak."
Hanin tak curiga dan langsung memesan minum, bahkan ia juga memesan kesukaan Galang. Dan Raniya pun tersenyum licik karena sudah tahu apa saja yang membuat Galang bisa lebih memprioritaskan dirinya ketimbang istri sendiri.
Galang sudah kembali dan kini bergabung dengan Hanin dan juga Raniya. "Maaf ya lama,"
"Gak apa-apa." jawab mereka kompak.
Hanin sedikit kaget, kemudian tertawa karena menganggapnya hal yang lucu. "Haha, bisa barengan gitu. Eh, aku ke toilet dulu, kutinggal sebentar gak apa-apa, ya, Mas?"
"Mau kutemani?" tawar Galang.
"Aku bisa jalan sendiri kok, gak akan lama."
Sudah ketiga kalinya Hanin membiarkan suaminya berduaan saja dengan ratu pelakor. Dan ia tak tahu kalau teman gilanya itu mulai berharap lebih pada hubungan terlarang yang sudah terlanjur terjalin.