"Dia tidak akan datang." Sepasang mata milik bapak Kepala Sekolah itu memicing mendengar perkataanku. Aku balas menatapnya lesu. Kini tinggal aku yang berada di Ruang Kepala Sekolah. Siswi yang memukuliku sudah diantar pulang sejak kedua orang tuanya menolak datang untuk menyelesaikan masalah ini. Aku menatap kemeja sekolahku yang terciprat darah kering. Luka-lukaku sudah diperban. Sakitnya kini tidak seberapa. Hatiku pun sudah mulai tenang. Tapi entah mengapa, kini justru mulai terasa pahit. Aku tidak mengerti mengapa Kepala Sekolah tetap bersikeras untuk memanggil mama kemari meski sudah kuberitahu. Mama tidak akan datang. Meski mama mengangkat teleponnya dan mengatakan ia akan datang, dia tidak akan datang. Aku tahu itu. "Terus bagaimana? Kasus kamu tidak bisa selesai jika mama kamu

