Pernikahan Ana dan Riko

1192 Kata
Butiran air mata yang perlahan bergulir meluapkan rasa haru, masih saja membasahi pipi putih Ana, melihat sikap Riko yang tidak segan melamarnya, dengan suasana sedemikian rupa, dibuat romantis oleh pria yang baru saja dikenalnya dalam seminggu. "Riko, kamu nggak lagi ngigo, 'kan?" ucap Ana masih belum percaya atas sikap Riko. "Iih kamu, masa orang ngajakin nikah dibilang ngigo sih," seru Riko seraya mencebik. "Sumpah aku kaget Rik, kok bisa kamu ngajak aku nikah? kita kan baru kenal lho,” tanya Ana menautkan kedua alisnya yang terlukis indah. "Aku udah cape pacaran, An. Aku mau langsung nikah," jawab Riko, seraya menghempaskan nafas berat ke udara. "Pacaran? memang kamu udah nyatakan cinta?" tanya Ana lagi membulatkan kedua netra, menatap lekat-lekat pria yang duduk di hadapannya. "Ya ampun Anaa, kita udah besar kali. Memangnya anak ABG?” ujar Riko menarik satu ujung bibirnya ke atas, kedua manik matanya berputar ke sudut atas. Ana pun mengusap air mata haru, yang beberapa butir telah berhasil membasahi pipi. "Hahaha...Rikooo. Ya ampun, aku harus ngomong apa ya? Aduuh, aku jadi bingung," ujar Ana, membuang wajah ke arah bibir pantai. "Boleh aku berpikir dulu, Rik?" tanya Ana, ada rasa ragu atas keputusan yang harus dibuatnya. Memang, umur Ana dibilang tidak lagi muda, di umur 25 tahun sudah sepantasnya dia membina bahtera rumah tangga. Karena kesibukannya sebagai editor novel di salah satu perusahaan swasta, membuat kisah cintanya selalu pasang surut. Dan perjalanan cinta yang paling lama di jalani hanya dengan Pras. "Ya sudah kalau begitu An, aku akan menunggu jawabanmu yaaa. Dalam waktu tiga hari kalau kamu tidak memberikan jawaban, aku janji tidak akan menemui kamu lagi, hm," ujar Riko ada rasa tidak percaya diri menghantuinya, karena sikap Ana yang terlihat ragu menerimanya. "Loh kok gitu sih, Rik? ya sudah. Besok deh aku kasih jawabannya. Aku mau ngobrol dulu sama orang rumah, ok?" timpal Ana memberikan kepastian kepada pria tampan yang menanti jawabannya. "Yes! ok." Riko pun dengan cepat mencium kening wanita yang baru saja dia lamar. Keesokan harinya, Ana dengan keberanian besar menghubungi Riko, "Rik, habis jam kerja temui aku di cafe pertama kali kita ketemu ya?” "Ok sayang," jawab Riko dengan antusias. Selepas jam kerja, Ana melihat mobil Riko sudah terparkir di depan cafe awal mereka jumpa. "Hai Rik, udah lama nunggu?” sapa Ana, melayangkan senyuman manis kepada pria yang entah dari jam berapa menunggunya di pojokkan cafe. Dengan senyuman lebar, Riko menyambut Ana, "Ga kok An, baru aja lima menit. Mau pesen apa?" "Coffelate aja,” jawab Ana, dengan cepat memilih minuman favoritnya di cafe itu. "Ok, sebentar ya," seru pria yang dibalut setelan kerja berwarna hitam. Ana memperhatikan langkah Riko berjalan menuju kasir, "Riko baik, perhatian, ganteng, pekerjaannya juga bagus. Hmmm, kurang apa lagi dia?” ujar Ana bermonolog. "Nah, ini dia pesanan wanita cantik," ujar Riko menyuguhkan secangkir coffelate di hadapan Ana. "Makasih yaaa," ujar Ana sambil melayangkan senyuman manis. Setelah menyeruput coffelate hangat yang berada dalam cangkir putih, Ana pun mencoba untuk membuka pembicaraan yang sudah pasti ditunggu oleh Riko. Ana menghempaskan nafas ke udara sebelum melontarkan ucapan, mungkin saja itu sebuah keputusan yang sangat cepat, "Rik, aku mau kasih jawaban ke kamu," ujar Ana menatap kedua bola mata Riko, yang terlihat menanti jawaban wanita ini. "Aku mau menikah denganmu. Tapi, dengan satu syarat, jangan pernah menyuruhku berhenti bekerja setelah pernikahan kita, ok?" sambung Ana menatap dalam manik mata Riko. Pria itu pun meraih kedua tangan Ana yang putih dan mengecupnya, rasa bahagia menyelimuti benak, sambil tersenyum lebar, Riko pun berkata, "Aku akan menuruti keinginanmu Ana. Besok aku akan ke rumahmu, dan mengajak orang tuaku membicarakan pernikahan kita, hm,” ucapnya dengan antusias. Ana sudah kehabisan kata-kata karena terus digiring oleh Riko untuk pernikahan mereka, agar digelar segera mungkin. Setelah pertemuan keluarga, akhirnya mereka melangsungkan pernikahan besar-besaran di salah satu ballroom hotel. Kebahagiaan terukir di wajah para tamu undangan, keluarga dan kedua mempelai. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. "Sekarang, aku dan kamu sudah sah menjadi suami istri," Riko tersenyum lega, karena akhirnya pernikahan berlangsung dengan baik, di umurnya yang sudah masuk kepala 3. "Nggak nyangka ya, akhirnya kita menikah, padahal baru bulan lalu kita kenalan," ujar Ana, mengenang saat perkenalan itu. Di dalam kamar pengantin mereka. "Itu namanya jodoh, hm,” bisik Riko seraya mendekap tubuh Ana dengan erat di atas ranjang pernikahan yang cantik, dihiasi kelopak bunga mawar merah. "Iih, tar dulu dong. Main peluk-peluk aja. Aku mau bersih-bersih dulu," ujar Ana manja. Riko dengan wajahnya yang ditekuk, melepaskan dekapan hangatnya. Begitu Ana keluar dari kamar mandi, tanpa basa basi Riko mengangkat tubuh Ana yang langsing dan merebahkannya di atas ranjang pengantin. Ciuman pertama yang dilayangkan Riko membuat Ana tersipu malu. Karena selama ini, Ana tidak pernah berdekatan layaknya sepasang kekasih kepada pria ini. Hubungan yang mereka lewati hanya dianggap sebagai teman curhat, yang selalu setia mendengar segala keluh kesah wanita itu. Ana baru menyadari, bahwa ternyata dia telah jatuh cinta, saat pandangan pertama. Kesan yang mendalam dan tidak akan pernah dia lupakan. Seminggu setelah acara pernikahan, Ana pun dibawa Riko ke rumah yang telah di tempati pria tersebut selama satu tahun belakangan ini. Rumah itu dia beli, karena keluarga Riko selalu meminta agar pria itu lekas menikah. Pekerjaan Riko sebagai programmer di salah satu perusahaan bank swasta ternama, dengan penghasilan itu, dia sudah mampu mencukupi diri sendiri dan keluarga kecilnya kelak. "Sayang, sarapan udah jadi nih, buruan dong. Aku nanti, terlambat kerja lho," ujar Ana memanggil Riko yang sudah menjadi suaminya dari meja makan. "Iya sebentar!" sahut Riko dari dalam kamar, lalu melenggang keluar dengan setelan kerjanya, terlihat sangat tampan dimata Ana. Ana pun tersenyum simpul melihat suaminya yang sangat rapi, rambut lurus milik Riko di sisir ke belakang, menambah aura tampannya. "Iih ternyata suamiku ganteng juga, yaa," rayu Ana merdu, di kuping Riko. Alih-alih ingin berangkat kerja, karena bisikkan Ana yang menggoda, membuat rasa kejantanan Riko pun ikut terpancing. "Sayang, yang tadi malam belum cukup, hm?" ledek Ana, saat tubuh langsingnya diangkat kembali masuk ke dalam kamar, dan menciumi wanita yang memiliki tubuh seksi itu. Lelaki mana pun akan tergoda melihat kemolekan tubuh Ana, apalagi saat wanita tersebut sudah mengenakan rok mini, kaki jenjangnya terlihat sangat menggoda, dihiasi highheels berwarna putih gading senada dengan kulitnya yang putih dan halus. "Hari ini, jangan kerja ya, bolos aja, hm. Bilang sama atasanmu, kalau kamu lagi ngidam," bisik Riko tersengal-sengal di kuping Ana, setelah permainan panas mereka, usai. "Ah kamu, bisa aja nih, modus banget, biar aku di rumah," ujar Ana mengerucutkan bibirnya yang merona. "Seharian kita buat anak aja, hm. Biar cepat jadi, gimana?" desah Riko dengan senyuman menggoda, di samping lengan Ana dan mendekapnya dalam balutan selimut tebal, bercorak bunga berwarna merah maroon. Awal pernikahan mereka sangat indah, dijalani Ana pada saat itu, hingga pada akhirnya Riko mulai menunjukkan sifat buruknya, setelah sebulan umur pernikahan mereka. Riko sangat cemburu dengan Ana, karena memiliki sifat yang supel dan ramah kepada siapa pun. Pertengkaran kecil mulai terjadi di antara mereka, Ana kadang pulang larut, serta kesibukannya mengharuskan berkomunikasi dengan banyak orang untuk mencari penulis yang berkualitas. Menyulutkan api cemburu di d**a Riko. Setelah Ana dikabarkan hamil oleh dokter kandungan, menjadikan alasan yang tepat untuk diutarakan oleh Riko agar Ana berhenti kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN