Monre memasuki halaman rumahnya. Tidak ada mobil Papa! Dia pergi lagi menemui selingkuhannya, hanya itu yang bisa di katakan di dalam hati.
Selama tiga tahun ini, rumah bukanlah istana baginya. Rumah ini bagaikan neraka, dimana setiap manusia di dalamnya tidak akan bisa bernapas dengan normal.
‘Kreyt’
Pintu rumah itu terbuka lebar.
“Kamu sudah pulang, sayang! Monre, kamu tampan sekali seperti Papamu, Nak!”
Monre membuang wajahnya saat Mama yang dia cintai meraih tubuh pemuda itu. Bau alkohol meyerebak, Monre benci ini. Kulit putih bersih Mama tampak! kusam, ini pengaruh alkohol yang dia minum setiap hari.
“Ma...”
Dia membawa Mamanya, Marisa untuk duduk di sofa.
“Monre...”
“Iya, Ma... ini aku, Monrenya Mama.”
“Sayang... kamu mau makan apa, Nak?”
Monre menggeleng, semua rasa di hati campur aduk jika dirinya sudah sampai di rumah ini. Seakan terkutuk, rumah ini bisa menghancurkan jiwa seseorang dalam sekejap.
“Ma, kita pergi dari sini! Kita pulang ke rumah kakek, ya Ma...”
Marisa tersenyum menatap anaknya, dia tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Semua yang dia rasakan akan hilang karena cintanya. Wanita itu sangat yakin jika suaminya akan pulang dan kembali dalam pelukannya.
“Jangan, kasihan papa sendirian.”
Monre memejamkan mata dan menunduk, dia bosan mendengarkan kalimat itu. Papanya tidak akan kembali, dia tidak akan pulang ke rumah dan memeluk sang Mama. Dia pulang hanya untuk mengambil pakaiannya saja. Dia tidak sungguh-sungguh untuk memperbaiki semua kesalahan.
“Ma, dia tidak akan pulang! Dia itu b******k. Mama harus bisa move on, Ma! Ayo kita pindah ke rumah kakek...”
Mama menggeleng, dia mengusap rambut anaknya.
“Jangan, Kakek bisa marah sama papa, Monre.”
“Ma, biarin papa pergi! Perusahaan biar aku yang urus. Aku sudah besar, Ma! Aku bisa membangun perusahaan keluarga Mama. Aku akan menemui kakek dan meminta perusahaan itu di pindahkan atas namaku.”
Monre berdiri, dia tahu ini tidak akan berhasil. Mamanya tidak akan mau mendengarkan apa yang dia katakan. Tapi Monre percaya, papa tidak akan bisa melakukan apapun jika tidak punya uang. Setidaknya, mata di balas mata.
“Monre! Kamu mau kemana? Kamu mau mama mati? Kamu mau mama bunuh diri sekarang juga? Mama enggak bisa hidup tanpa papa kamu, sayang...”
Pemuda itu memejamkan matanya, dia menulikan telinga dan tetap berjalan maju.
‘Tarz’ Marisa memecahkan gelas wine yang ada di hadapannya. Wanita itu mengarahkan pada leher seolah siap mewujudkan apa yang dia katakan barusan.
Monre menarik napasnya, dia berbalik dan menatap Marisa, Mama yang sangat dia sayangi. “Mama yakin akan berbuat seperti ini?”
Marisa tidak menjawab, Monre pun berjalan maju ke arah Mamanya. ‘Tarz’ Sekarang dia yang memecahkan gelas dan mengarahkan langsung ketenggorokan. Para pelayan yang melihat itu sangat gugup. Mereka tidak berani ikut campur dengan apa yang terjadi. “Ini yang Mama inginkan?”
Monre menggores lehernya sedikit, cairan merah pun keluar.
“Ah, Monre! Jangan seperti itu...”
Marisa berlari ke arah anaknya dan meraih pecahan gelas yang berada di tangan Monre.
“Bik...”
Marisa yang dalam kondisi setengah sadar memanggil asisten rumah tangga agar membersihkan luka Monre yang ada di leher. Bibik pun bergerak cepat, dengan cekatan dia membersihkan luka pada leher Monre. Walaupun tidak dalam, dan hanya sebuah goresan. Hal itu cukup membuat bibik gugup dan sedih.
Bagaimana pun, Monre dia rawat sedari kecil. Keluarga yang sangat bahagia ini hancur karena pelakor. Kehangatan menghilang, hanya bau alkohol yang meyerbak di setiap sudut ruangan.
Monre masih membatu, dia tidak menanggapi Mama dan bibik yang menatapnya dengan mata berkaCahaya.
“Mama silahkan pilih hidup mama sendiri, kalau mama tidak mencintaiku sebagai anak mama. Silahkan menunggu Tuan Jacob yang tidak akan pernah menatap Mama lagi.”
Marisa terdiam, air matanya mulai jatuh.
“Mama mencintai kamu! Orangtua mana yang tidak mencintai anaknya sendiri. Tidak ada, Monre.”
“Ada, Tuan Jacob dan Nyonya Marisa.”
Pemuda itu menjawab dengan nada yang sangat datar.
“Monre...”
“Ma... pilih dia atau aku! Kalau mama pilih aku, ayo kita keluar dari rumah ini. Mama dan bibik siap-siap. Aku yang akan berbicara pada kakek. Mama silahkan duduk dan diam saja, menonton apa yang aku lakukan.”
“Jangan...”
“Kenapa? Dia mengkhianatimu, Ma...”
Marisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Dia akan kembali...”
“Tidak, tidak akan pernah.”
Monre kembali berdiri dan berjalan menyusuri anak tangga. Seperti biasa, Mamanya tidak akan bisa menerima apapun. Dia akan selalu seperti itu, apa ini yang namanya cinta buta? Monre juga tidak tahu. Yang pasti, dia akan mencari cara, bagaimana dia menjelaskan semua dengan Kakeknya.
Semua yang ada milik keluarga Ibbel, karena mamanya anak perempuan, maka perusahaan di urus oleh papa menjelang dirinya dewasa. Tapi menunggu adalah hal yang melelahkan! Monre tidak akan menunggu dirinya dewasa.
Dia akan menemui kakek, dan membuktikan dirinya mampu untuk melakukan apa yang papanya lakukan. Monre juga akan menyelidiki kebobrokan Tuan Jacob itu.
Ah, lelah sekali! Monre merebahkan dirinya di tempat tidur. Dirinya kembali tersenyum saat mengingat Cahaya. Setidaknya, bola matamu membuat aku mengerti, masih ada wanita yang seperti Mama! Pemuda itu berkata sendiri.
Ibbel adalah perusahaan besar di bidang perhotelan, mereka memiliki banyak anak cabang yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota. Sekarang perusahaan itu di pegang oleh Tuan Jacob, tapi dia tidak memiliki satu persen saham pun di sana.
Ini akan menjadi akhir yang menyedihkan untuk Tuan Jacob, jika Monre benar-benar menjalankan apa yang dia katakan.
“Bik, jangan sampai Monre nekad...”
“Nyonya... bisakah anda menerima sedikit saja, apa yang Aden katakan. Nyonya bisa memikirkannya ketika tidak mabuk lagi. Bibik sudah Tua Nyonya, Den Monre tidak akan pernah melakukan sesuatu sesuka hatinya. Bibik harap Nyonya bisa mengerti apa yang dirasakan Aden.”
Marisa terdiam kembali, entahlah. Dia tidak bisa hidup tanpa suaminya, makanya walaupun dirinya di buat seperti sampah. Asal suaminya kembali ke rumah walau hanya satu jam, itu membuat dirinya tetap bisa bernapas dengan baik.
“Bik, apa aku egois?”
Bibik tersenyum, dia mengusap tangan Nyonya yang tengah berada dalam kegalauan itu.