Bab 15

1081 Kata
“Aku makan siang, Cahaya” Monre mengibaskan rambut gadis yang tengah duduk melihat LKS. Cahaya tidak menjawab, dia memilih diam karena ingin Monre pergi dengan tenang. “Kamu enggak mau makan siang?” “Li, kamu makan saja! Aku sedang ingin santai di kelas, tadi aku juga banyak sarapan.” “Oke, ayo, Pe!” Ziwa dan Airin meninggalkan kelas. Kini kelas itu hanya ada Cahaya seorang. Saat dirinya sedang asyik mengisi LKS, tiba-tiba pintu kelas tersebut terbuka lebar bersamaan dengan dentuman kuat seperti di tendang oleh seseorang. ‘Deg’ Jantung Cahaya berdetak ketakutan. Oh Kevin... dimana kamu! Tolong aku, batin Cahaya berkata. “Kamu sudah aku ingatkan, bukan? Kenapa masih berani dengan Kevin? Situ merasa oke atau gimana? Enggak malu dengan kaca mata segede gaban? Jangan main-main sama senior...” Wulan berjalan ke arah Cahaya sambil terkekeh sendiri. Sedangkan dua teman lainnya, Inggrid dan Diana masih setia manjadi penonton. Diana sibuk mengarahkan kamera ponselnya, sedangkan Inggrid dia sedang memegang sebotol cairan. Cahaya yakin, dia ingin menggunakan itu untuk menyiram tubuhnya. “Jangan mendekat!” Cahaya meminta Wulan agar tidak maju selangkah pun dari tempatnya berdiri. “Eh, monyet! Berani amat kamu? Enggak takut sama kita? Apa kamu sudah merasa superhero atau ratu, karena menjadi gadis yang paling dekat sama Kevin?” Kevin... Cahaya kembali memanggil sahabatnya dalam hati. “Diana...” “Kamera siap...” “Inggrid...” “Oke, bosku!” gadis itu berjalan maju tanpa ragu. Wulan menatap Cahaya dengan jijik, dia membuka tutup botol tersebut. Aroma menyengat keluar, sepertinya itu air fermentasi! Baunya asam sekali! “Kalau ini aku siram ke kepala kamu, maka kamu enggak akan bisa hidup selama tiga hari.” ucap Wulan sambil terkekeh. “Jangan begini, Kak!” “Wish, dia ngatur kita gays...” Diana yang sedang memegang kamera pun membakar Wulan. “Apalagi ya Elo tunggu, Wulan...” “Gue mau mendramatisir...” Wulan mengatakan hal itu seperti lelucon. Dia berjalan lebih dekat pada Cahaya. “Kak...” Cahaya berkata dengan suara lirih dan memohon... ‘Brak’ Kevin datang dengan kamera ponsel menyala, seakan dia sedang merekam apa yang terjadi saat ini. “Bayangkan sendiri, jika cucu kepala sekolah ketahuan ngebully juniornya! Apa kata orang?” Wulan memejamkan matanya, menutup kembali botol tersebut dan menatap Kevin dengan sinis. “Sebenarnya dia pacar Lo atau bukan, sih?” “Bacot! Itu bukan urusan Elo! Dia mau pacar Gue ataau enggak! Itu bukan urusan, Lo!” “Cih, munak banget! Kalau dia pacar Lo, harusnya bawa dia ke salon! Tampang gak layak Lo jadikan pacar!” Inggrid berkata kasar. Kevin menunduk dan tertawa, kameranya masih menyala. “Oke, berarti kalian membuat Gue murka! Lo pada pikir, Gue senang ngelakuin ini...? Kalian pikir aku main-main?” Wulan yang tadinya menantang pun mulai lemah, dia menutup kembali botol yang sudah dia buka. Dia kemudian berjalan ke arah Kevin, lalu berbisik “Kami hanya sedikit main-main. Makanya cari standar cewek yang benar, malu Gue kalau cewek cupu itu, pacar Lo!” Wulan keluar dari kelas, di ikuti Inggrid dan Diana. “Cahaya...” “Jangan kesini, Please, Kevin! Jangan kesini...” Cahaya terduduk di kursinya kembali, dia menatap Kevin dengan mata berbinar. Takut, tapi Cahaya senang karena Kevin datang. “Cahaya...” “Tunggu dulu, Kevin! Biarkan aku tenang, sebentar saja.” “Oke...” Kevin duduk di kursi yang agak jauh dari Cahaya, dia masih memperhatikan dengan gadisnya itu. Kesal, sedih! Tapi Kevin tidak ingin Cahaya melepaskan tangannya. Takut untuk berada di dekat dirinya, hanya Cahaya alasannya untuk tetap di sini! Monre yang baru saja pulang dari kantin, sengaja buru masuk agar bisa memberikan Teh kotak pada Cahaya yang tidak pergi makan siang. Saat dirinya masuk ke kelas, dia melihat Cahaya menangis, dan Kevin berada di depannya. ‘Deg’ Monre tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saat ini, dia benar-benar kesal dan marah. Dia berjalan cepat menuju Monre, tangannya mencengkram kerah pemuda itu. Kevin yang terkejut pun berusaha melepaskan dirinya. Cahaya yang ada di sana pun terkejut. Dengan cepat Cahaya meraih tangan Monre, “lepaskan, apa yang kamu lakuin, Monre! Jangan seperti ini...” Cahaya memohon. “Kamu jadi bahan bully, Cahaya Dia sumbernya.” “Ini bukan urusan kamu!” Kevin menatap wajah Monre dengan kesal. “Siapa bilang bukan urusan Gue?” “Apa hak Lo? Siapa Lo...?” “Dia teman sebangku Gue, Paham.” Kevin tertawa, sedangkan Cahaya masih berusaha membuka genggaman tangan Monre pada kerah Kevin. “Sudahlah, lepaskan, Monre! Ini bukan urusan kamu, enggak usah ikut campur.” “Nah, Lo dengar ‘kan? Apa Lo budeg?” Monre menatap mata Cahaya, dia melakukan hal sia-sia! Karena dirinya tidak di anggap sama sekali. “Oke!” Monre melepaskan genggaman kerah itu. Dia mendorong tubuh Kevin keluar dari kelas, “jangan datang ke kelas ini lagi, haram bagi Lo!” "Gila, bukan hak Lo, kamvret!" Kevin menunjuk wajah Monre dengan kesal. "Ada apa ini...?" "Dia buat kekacauan di kelas kita!" "Lo itu Kevin yang jadi cowok terfavorit di sekolah ini 'kan? Ngapain Lo ke kelas kita? Anak kelas favorit, masuk ke kelas yang biasa saja, dan buat kekacauan! Apaan sih mau Lo?" Malas bertengkar, tidak ada gunanya juga. Kevin beranjak dari tempat itu karena malas ribut. Sangat mengesalkan baginya, jika harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak mengerti apapun. Monre yang melihat Kevin telah pergi pun kembali pada Cahaya. Dia menarik tangannya agar duduk di bangku mereka. "Cahaya..." "Monre, aku enggak suka kamu begini..." "Tapi aku juga enggak suka lihat kamu nangis, Cahaya" "Bukan urusan kamu, aku harus gimana bicara sama kamu, Monre." Cahaya mengusap wajahnya, tubuhnya masih bergetar, dia tidak bisa menenangkan diri sendiri. "Minum ini..." Airin menyodorkan teh kotak yang di bawa Monre tadi. Pemuda itu lupa dan meletakkannya di atas meja guru. "Makasih ya, pe!" Airin tersenyum dan memainkan matanya pada Monre, lalu siswi itu berbisik nakal. "Kalau kamu yang kasih, enggak akan diterima. Kamu suka sama dia?" Monre memutar bola matanya jengah. Percuma dia cerita sama siswi satu ini, dia hanya akan berkata oh... Setelah Monre menceritakan segalanya. Airin adalah anak tinggal kelas berikutnya setelah Monre. Tapi mereka berbeda kelas! Dia tipe siswi yang cuek. Dia juga sering di bully karena yatim piatu dan miskin. Untunglah dia jenis manusia purba. Jadi apapun yang dikatakan orang lain tidak akan membuatnya patah. Setahu Monre, Airin tinggal kelas karena hari ujian bertepatan dengan meninggal ibunya. Airin tidak mengajukan ujian susulan, dia benar-benar cuek. Desas-desus yang di dengar. Semua itu terjadi karena kakaknya tidak mau datang sebagai wali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN