Cahaya sudah menunggu di halaman rumahnya. Sayup angin dingin karena hujan rintik, membuat Kevin yang melihat Cahaya, ingin berjalan cepat. Dirinya ingin memeluk Cahaya
‘Sretz’
Kevin melepaskan jaket parasutnya, dia menutup kepala Cahaya, menunduk sambil berbisik “Nona manis, kenapa tidak pakai topi?”
Cahaya tidak dapat menahan senyumnya, apalagi saat aroma mint dari mulut Kevin menerpa wajah. Dia perayu ulung, kamu jangan terjebak, Cahaya Wanita itu berbisik dalam hati.
“Apa yang kamu lakukan?” Cahaya menepis tangan Kevin yang mengangkat dagunya. “Lalu ini apa?” dia menunjuk headband yang di gunakan pemuda itu.
Kevin mengancak rambut Cahaya, dia menegakkan tubuhnya lalu berkata sambil berjalan dan mengangkat tangan, mengacungkan kedua jarinya hingga berbentuk tanda V, pemuda itu pun berteriak! “TOTALITAS, Cahaya...”
Setelah mengatakan itu, Kevin tertawa terbahak-bahak. Dia tahu, Cahaya tidak suka dirinya menggunakan headband. Bukannya kenapa-kenapa, Kevin yang di tambah benda tersebut akan menjadi super cute. Oh, jangan lagi... Cahaya kembali terpesona oleh tetangga sahabat kecilnya.
‘Plak’
Cahaya menampar pelan wajahnya sendiri. Sadarkan dirimu, Cahaya gumamnya.
“Cepat, Cahaya...”
“Iya, bawel...”
Cahaya berlari mengejar Kevin. Semuanya membaik begitu saja, diantara mereka berdua selalu begitu. Amarah tidak pernah menguasai diri mereka. Makanya mereka berdua bisa berteman akrab seperti ini.
Pohon Cemara yang di basahi rintik hujan, angin lembut yang sayup menghembus pipi mereka berdua. Terasa begitu mendamaikan!
Kevin menarik tangan Cahaya agar dapat meraih pinggangnya, dia menatap sebentar ke belakang, lalu senyum simpul pemuda itu tertarik lebar. “Maafkan aku, Cahaya”
Cahaya tidak menjawab, dia malah semakin mengeratkan pelukan kepada Kevin.
‘Brem’
Motor Kevin memasuki parkiran, Cahaya biasa saja! Tapi Kevin menatap ke arah berbeda dengan wajah tidak suka. Ya, itu Monre, dia bersama senior Zamren dan Lion sedang memakan kebab di mulutnya. Mereka makan sambil berdiri!
“Tidak tahu adat!” ucap ketus Kevin.
Cahaya hanya menarik napasnya dalam, dia tidak ingin Monre memandang ke arahnya. Dia pun mendorong tubuh besar Kevin agar memasuki Lobi sekolah. Jangan lihat aku, please... jangan sampai Monre melihat ke arahku, Cahaya berkata dalam hatinya.
“Cahaya, kamu kenapa begitu? Santai saja, Cahaya”
“Kamu bisa bicara begitu! Aku enggak, Kevin. Jangan buat masalah, kamu enggak tahu rasanya tidak punya teman, kan! Biarkan aku tenang, aku ingin kamu mengikuti permintaan ini.”
“Iya, Cahaya... apa yang enggak buat kamu...”
“Sana masuk kelas, anak pintar harus taat sekolah, kalau aku otaknya pas-pas saja! Jadi boleh santai...” Cahaya menjulurkan lidah sambil mengedipkan satu mata.
Kevin gemas sekali melihat tingkahnya. Dia yang menatap Cahaya dengan senyum manis pun mengacak rambut gadis itu lagi, Cahaya mengejar Kevin dan menarik tasnya. Mereka berdua tidak sadar, jika beberapa pasang mata melihat, bahkan memvideokan yang terjadi pagi ini.
“Da... Cahaya”
“Da...”
Cahaya masuk ke kelasnya, dia menatap lurus ke depan! Hampir saja Cahaya memutar balik tubuhnya, saat mata Monre dengan fokus bertemu matanya. Pemuda itu kembali memasang ekspresi wajah datar dan malas! Seolah Cahaya bukanlah hal yang membawa nasib baik.
Cahaya pun duduk, dia meletakkan tasnya di belakang kursi. Seperti biasa, dia berusaha melakukan semuanya seperti biasa. Hanya saja, wajah Monre masih terarah kepada dirinya. Mata pemuda itu menatapnya tanpa berkedip.
Jantung Cahaya tidak bisa benar, detaknya abnormal, dia takut dan gugup.
“Kamu takut? Memangnya aku seseram itu?” Monre menggoda Cahaya.
“A, aku enggak takut! Aku enggak enak sama kamu karena kejadian kemarin.”
Monre hanya menatap Cahaya, dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu sama sekali. Entah kenapa dia selalu terpesona dengan semua sikap gadis ini. Padahal hari ini Lion mengajak untuk bolos! Tapi karena dirinya ingin melihat teman sebangkunya. Monre memilih tetap ke sekolah.
“Ini, tugas kita sudah selesai. Aku mengerjakannya sendiri, nanti kamu yang kumpulkan. Anggap saja ini permintaan maaf aku, aku enggak enak banget. Tapi lain kali, kalau kamu enggak ngerjain, aku enggak akan masukkan nama kamu di sini, Oke!” Cahaya menunjuk kertas kerja kelompok mereka yang sudah bertuliskan Monre dan Cahaya.
Monre tersenyum simpul, dia menatap kertas yang di berikan Cahaya, lalu dia berkata dengan suara lebih lembut “Makasih ya, Cahaya”
Cahaya mengangguk, tapi masih berusaha fokus membaca buku komik yang ada di tangannya.
“Pagi semua... sapa Mr Baronais pada semua siswa.”
“Loh, kok Mister yang masuk...?”
Mr Baronais tersenyum sambil menatap para siswa, tapi tiba-tiba senyuman itu sirna. Para siswa yang melihat perubahan wajah Mr Baronais pun menjadi turut tegang. “Saya enggak tahu kalian ini jenis siswa apa? Yang jelas, sepanjang karir sebagai wali kelas. Baru kelas inilah, saya mendapatkan teguran. Saya rasanya masih enggak percaya! Gimana bisa, nilai rata-rata ulangan tengah semester kalian enggak ada yang di atas tujuh. Astaga!”
Semua siswa terdiam, mereka saling pandang. Karena yang dikatakan Mr Baronais sudah jelas. Nilai seluruh kelas! Berarti Cahaya masuk dalam golongan itu.
“Saya harus bagaimana? Sebagai wali kelas senior, saya merasa tercabik-cabik! Harga diri saya hancur sekali.” Mr Baronais kembali mengeluh. “Bagaimana kalau kalian ambil bimbingan belajar. Terserah dimana, kalian minta sama para orangtua, karena sekolah kita sudah jelas tidak mengadakan Les.”
“Mr!, sudahlah, jangan di ambil hati. Guru-guru yang lain hanya iri karena mereka tidak mendapatkan siswa dan siswi seperti kami. Iya, enggak teman-teman...?”
“Iya, Mr!! Apa yang di bilang Monre itu benar. Mister yang BAPER.” Imam menjawab dengan lugas.
Mr Baronais memutar bola matanya. “Kalian mempermainkan saya...? ini enggak benar! Apapun judulnya saya ingin kalian belajar, atau kalian bisa buat perkumpulan berlajar di rumah Cahaya. Hanya dia yang nilanya enam koma lima, yang lain parah!”
“Mr!, kita santai saja dulu! Ini ‘kan kita masih semester satu, Mr!!” Airin berdiri sambil meminta persetujuan teman-temannya.
“Belajar dari sekarang, kenapa harus pakai sistem kamu, Pe! Sini kamu yang jadi Wali kelas...” Mr Baronais melambaikan tangannya memanggil Airin dengan wajah kesal. “Dengar ya anak-anak! Mister enggak marah kalian berekreasi, berkalaborasi, apalagi tu, berpartisipasi. Semuanya deh! Saya enggak marah, tapi pelajaran di sekolah juga penting. Jadi saya lihat ulangan akhir semester kalian harus lebih baik.”
‘Siap, Mr!!’
Jawab para siswa berbarengan.