Dia masih marah dan sangat kesal, tapi seseorang dengan santai mengunjugi dirinya. Kesal sekali hatinya karena ini, apalagi Cahaya sudah menangis seharian karena dirinya. Seperti biasa Kevin datang dan mengganggu Cahaya yang sedang bermain game. “Kamu sedang main apa kekasihku?” goda Kevin pada Cahaya.
Dia langsung sedikit emosional. “Jangan katakan itu padaku!! Wanitamu sudah banyak!!" teriak Cahaya pada Kevin. Kevin yang mendengar itu hanya tersenyum saja. Di sekolah siapa sih yang enggak kenal sama Kevin. Jadi wajar saja jika banyak gadis yang mendekati. Tapi jujur saja dari hati yang paling dalam, Kevin hanya menyukai Cahaya sejak dulu. Kevin pun yakin Cahaya juga begitu.
Kevin sadar, mereka masih sangat muda untuk belajar pacaran, makanya Kevin lebih memilih mempertahankan dirinya agar tidak terselimuti oleh ego. “Kamu besok aku antar ya, Cahaya!” ucap Kevin tepat di depan wajah gadis yang kini sedang tidak ingin bicara padanya.
Dia menghela, dan ingin muntah melihat wajah Kevin. “Aku bisa pergi sendiri!!” jawab Cahaya ketus.
Karena melihat gadis manisnya emosional Kevin pun kembali menggoda dirinya. “Kenapa sih, Cahaya? Kamu masih saja mendiamkan aku. Kita baikan ya, aku janji traktir kamu makan ice cream.”
Di saat Kevin menyakiti dirinya, di saat itu juga Cahaya selalu saja memaafkan. Hidup Cahaya benar-benar kacau karena Kevin adalah segalanya. “Aku tidak ingin satu, kalau dua aku mau!!” jawab Cahaya dengan wajah cueknya. Dan itu benar-benar membuat Kevin gemas melihatnya. “Bagaimana?!”
Dia duduk di hadapan Cahaya. “Aku akan belikan kamu dua, tiga .... empat!!” jawab Kevin yang mulai perlahan maju dengan wajah nakalnya.
Dia mendorong pria itu karena salah tingkah, Kevin benar-benar tak bisa di biarkan begitu saja. Dia suka tebar pesona dan tetap saja mempermainkan hatinya. “Apaan sih, Kevin!! Aku enggak suka ya dimainkan seperti ini!!”
Karena masih ingin menggoda Cahaya dia menarik tangan gadis itu. “Siapa yang mau mainkan kamu!! Tunggu aku punya uang sendiri ya, baru kita nanti ciuman!!” bisik Kevin tepat di telinga Cahaya.
Cahaya membulatkan matanya menatap Kevin sambil mengepalkan tangan dan mengejar pria itu. “Stop menggodaku!!” teriak Cahaya saat Kevin tertawa masuk ke dalam rumahnya. “Awas ya, kalau kamu menggodaku seperti tadi!! Aku tidak akan menyapamu lagi!!” bentak Cahaya dengan wajah marahnya.
Kevin hanya tertawa mendengar ancaman Cahaya. Dia tahu Cahaya hanya sekedar bicara saja. Dia tidak akan berani berbuat yang macam-macam pada Kevin. Hari ini adalah pertama kalinya Kevin dan Cahaya jadi siswa/siswi SMA. Mereka berdua saling pandang lalu tertawa. Kevin benar -benar sangat tampan, sedangkan Cahaya benar-benar cupu dengan kacamata besar dimatanya.
Ya, Kevin lah yang memilih kacamata itu saat Cahaya memeriksa matanya, minus mata Cahaya bertambah hingga dia harus mengganti kacamatanya. Di saat itulah Kevin memilih kacamata yang menutupi seluruh kecantikan Cahaya.
Sepanjang jalan, mereka saling berbisik mengatakan tentang Kevin yang sangat tampan dan entah siapa si cupu yang berada di dekatnya. Hal ini sangat biasa Cahaya alami, tapi dia berusaha untuk biasa saja.
Entah apa yang direncanakan Kevin saat ini, Cahaya merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. “Hey Kevin, apa yang kamu lakukan? Jangan lakukan ini!! Aku akan di kerjai anak-anak habis-habisan nanti," ucap Cahaya sambil berbisik.
Kening Kevin mengkerut, jika yang di katakan oleh Cahaya benar, maka dia sudah gagal sebagai orang yang mencintai Cahaya. “Katakan padaku siapa yang mengganggumu. Jangan buat aku seperti orang bodoh yang seolah tidak bisa melindungi kekasihnya.”
Dia menghela, hampir saja makian keluar dari mulutnya karena terlalu kesal. Pertanyaan itu sangat tak cocok dalam situasi seperti ini. “Jangan bodoh Kevin, kamu selalu mempermainkan aku!!” jawab Cahaya lagi. “Kau lupa ingatan, atau pura-pura tidak tahu?! apa yang kau lakukan selalu saja membuat aku sakit hati.”
Kevin tersenyum, “kamu jelek sekali ketika marah.” ujarnya dengan senyum pipis. “Jangan nakal kesayanganku!! Ikuti saja apa yang aku katakan!!”