Bab 9.

1011 Kata
Dengan cepat, Kevin menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Seorang siswi cantik dengan penampilan yang terlihat modis dan rapi. Wajahnya benar-benar cantik dan siapapun pasti tahu orang yang memanggilnya barusan, tapi Kevin dengan santai berpura-pura tak mengetahui siapa dia. “Ada apa?” tanya Kevin setibanya siswi cantik itu di hadapannya. Dengan wajah cantik dihiasi senyum termanisnya, siswi itu mengulurkan tangan kanannya ke arah Kevin. “Kenalin, aku Wulan, anak kelas 11,” ucapnya percaya diri memperkenalkan namanya. Kevin yang memilki jiwa cool serta cap playboy yang selalu dikatakan oleh Cahaya terlihat menaikkan sebelah alisnya. Terlintas di pikirannya apa maksud dari siswi ini yang begitu percaya diri memperkenalkan diri kepadanya. “O, sudah tahu ‘kan namaku Kevin!” sahut Kevin yang sedikit membuat hati Wulan terkejut dengan jawaban Kevin yang monohok. Wulan terlihat sedikit salah tingkah karena jawaban Kevin barusan dan berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Bisa bicara sebentar tidak, Kevin?” ucap Wulan meminta sedikit waktu agar bisa berbincang dengannya. “Sorry, Lan, aku tak bisa. Aku harus segera pulang karena akan pergi ke toko buku. Ada beberapa buku yang harus kubeli,” sahut Kevin menolak dan membeberkan alasannya. “Ke toko buku? Sama dong, aku juga akan ke sana. Kita bisa sama-sama perginya,” jawab Wulan dengan raut senang berpura-pura ingin ke tempat yang sama agar bisa berduaan dengan Kevin. “Tidak bisa karena aku akan pergi bersama orang lain. Nah, itu dia. Sorry ya, aku pergi duluan!” pamit Kevin yang langsung meninggalkan Wulan yang tercengang. Kevin langsung menghampiri Cahaya yang baru saja keluar kelas, kemudian melangkah bersama meninggalkan kelas menunju parkiran. Sedangkan Wulan terlihat kesal karena diabaikan oleh Kevin demi cewek cupu nan jelek yang tak sebanding dengan dirinya. “Awas kamu, Cupu!” Wulan mengepalkan tinju menatap ke arah Kevin dan Cahaya yang berlalu dari hadapannya. “Wulan kita jangan di sini terus, ayo masuk. Aku dengar kabar katanya di toilet ini ada hantunya.” “Argh, yang benar. Kamu jangan membuat aku gila...” Wulan sedikit melirik ke belakang, lalu dia melangkah seribu. ‘Bugh’ “b******k!” umpat Monre saat tubuhnya kini sudah basah dengan air. Mata Wulan membulat, dia gugup. Tangannya ingin menggapai baju Monre yang basah. “Ma, maaf...” “Mata Lo di mana! ANJIR Lo, basah gue...” Wulan mengerutkan keningnya, Monre dulu satu kelas dengan Wulan. Karena nakal dia jadi tinggal kelas! Anak itu terkenal seantero sekolah. Dia tidak pandang bulu. Dia suku memukul siapa saja! Tubuh Wulan bergetar. “Monre, aku minta maaf...” Gadis itu sudah ingin menangis, apalagi melihat temannya sudah kabur duluan. Teganya mereka, dasar tidak setia kawan. “Kamu tahu, kalau aku tidak suka di ganggu.” telunjuk Monre mendorong pundak Wulan. “Kamu masih saja sok kecentilan, kamu itu apa! TOPENG MONYET.” Wulan terdiam, kakinya mulai menggesek-gesek lantai. “Jangan bicara begitu, aku cantik, Monre!” Wulan menatap mata Pria di hadapannya dan langsung menyerang dengan memukuli Monre sambil berlari pergi. “Ugh... apaan tuh!” Zamren memegang dadanya. Lion yang melihat itu terkekeh. “Gila! Cewek kalau sudah di bilang JELEK, auto jadi gila...” Monre terkekeh, tangannya meraih Zamren dan Lion, mereka melanjutkan langkah untuk bolos hari ini. Monre tipe pria yang tidak suka melihat wanita GILA seperti WULAN. Kalau bisa, lebih baik dia menjauh dan tidak pernah melihatnya sama sekali. “Makanya teman kita cukup laki-laki saja! Jangan di campur sama cewek. Sekolah hari ini benar-benar menyebalkan. Cahaya yang biasanya pergi bersama Kevin pun memutuskan untuk pergi sendiri secara diam-diam. Gadis itu tidak ingin jadi bahan bully teman-teman perempuan. Pecakapan Wulan kemarin membuat perasaan Cahaya menjadi tidak nyaman. Dia takut! Sejujurnya gadis itu hanya ingin sekolah dengan baik, dia tidak ingin membuat masalah. Hidupnya benar-benar berantakan karena Kevin, gadis yang menyukainya selalu merasa Cahaya adalah halangan terberat. Padahal dirinya dan Kevin tidak punya hubungan apapun, Kevin selalu mengenalkan Cahaya sebagai pacar ke teman-temannya. Tapi Cahaya sendiri tahu, jika Kevin hanya ingin memanfaatkan dirinya agar terhindar dari para gadis. Ini tidak benar, dia tidak ingin di tumbalkan oleh Kevin. ‘Bugh’ Tubuh Monre tidak sengaja menumbur orang di hadapannya. Mata Monre menatap siapa manusia itu. ‘Degh’ Cahaya, dalam hati Monre dia memanggil nama gadis di hadapannya. Mata Cahaya membulat melihat Monre, dia masih kesal sekali dengan pria di hadapannya. Cahaya berdiri dari keterjatuhannya, dia membersihkan rok sekolah yang kini sudah kotor. Dia terus menunduk karena Monre terus memperhatikannya. Tangan Monre mengangkat dagu Cahaya, dia mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis itu. Gadis itu mundur satu langkah, dia menepis tangan Monre. “Hey, kenapa menangis? Siapa yang jahat sama kamu?” Cahaya tidak menjawab, suara Monre berbeda dari biasanya, kali ini lebih soft. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia bertingkah seolah dirinya dan Cahaya tidak pernah terlibat masalah sedikit pun. “Jangan sok baik! Kamu sama saja seperti mereka!” Cahaya mengatakan dengan keras sambil berlari ke arah toilet cewek. Monre tidak bisa menerima penolakan dan amarah Cahaya. Dia berjalan dengan cepat menyusul gadis yang sedang berlari tadi. Dengan kode mengibaskan kedua tangannya. Zamren dan Lion pun mengikuti mereka Bos besar mereka. Pria itu masuk ke dalam toilet Zamren dan Lion pun menjaga di luar. Ini entah sudah ke berapa kali Cahaya masuk ke dalam dan menangis. Dia tidak ingin orang lain tahu kesalahannya. Dia tidak ingin orang lain tahu hatinya lemah. ‘Brak’ Monre yang tahu Cahaya masuk ke bilik hanya untuk menangis pun mendobrak pintu itu. Dia mendekat pada Cahaya “Jangan maju lagi! Atau aku akan teriak...” Monre tersenyum miring, “Mau teriak apa? Aku perkosa kamu?” dia mendekat ke depan wajah Cahaya saat berbicara. “Kalau kamu teriak seperti itu, aku akan siap nikah sama kamu! Bukannya kalau hukum adat begitu...?” Cahaya mengerutkan keningnya. “Jangan gila kamu, Monre...” dia mendorong tubuh pria yang tidak layak lagi menjadi anak SMA Itu. Monre tertawa garing, dia tahu Cahaya sedang kesal, jadi dia ingin gadis itu lebih kesal lagi. Dia mendekat! Bahkan wajahnya saat ini hanya beberapa senti dari gadis di hadapannya. “Kamu mau apa?” Cahaya mendorong tubuh Monre.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN