Bab 10.

934 Kata
Dia tersenyum, ujung bibirnya tertarik ke atas. “Apa yang kamu pikirkan, kamu pasti mikirnya bibir aku akan menyentuh bibir kamu... iya, kan!” Cahaya memejamkan mata erat, dasar bocah sialan, dia ingin mengerjai aku lagi. Aku akan berteriak saat ini juga, Cahaya berkata dalam hati. “Teriak dong Cahaya, aku mau banget nih, nikah sama kamu...” ‘Degh’ Anjir ini bocah, bisa-bisanya dia pakai kalimat nikah buat bercandaan. Tapi tunggu dulu, yang di bilang Monre benar juga, kalau dia teriak maka semua orang akan tahu, mereka berdua akan jadi aib dan terpaksa menikah. Cahaya terdiam, dia masih membatu dalam posisi yang tidak nyaman. Monre anak nakal, Cahaya pernah dengar kalau dia itu tinggal kelas. Uh, Cahaya tidak ingin berurusan dengan dirinya. ‘Cup’ Mata Cahaya membulat, apa itu? Cahaya berkata dalam hati. Apa itu tadi? Cahaya meraba bibirnya yang kini telah basah. Saat Cahaya masih menggantung pada pikirannya. Monre menghimpit tubuh Cahaya dan ...... ya, pria gila itu menyambar bibir Cahaya dan melumat sedikit. “Ugh, kamu m**i sekali...” Monre membersihkan bibir gadis yang masih jadi batu di hadapannya ini. Pria itu tersenyum menatap ekspresi Cahaya. Dia membersihkan bibirnya lalu mengusap pipi Cahaya dengan ibu jari. “Anak baik, jangan melamun terus...” bisiknya. ‘Bugh’ Cahaya terjatuh tepat di hadapan Monre. Mata pria itu membesar, dengan cepat dia meraih Cahaya, menggendong ke UKS. Lion dan Zamren yang ada di sana, mengikuti Monre yang berlari dengan cepat. Gadis itu di baringkan dengan pelan, tidak lama, Kevin pun datang dengan wajah yang sudah memerah. Seperti orang gila, tanpa ampun. Kevin pun meninju Monre hingga bibirnya pecah. “Ah, b******k!” umpat Monre yang tidak ingin membalas. Kevin mencengkram seragam Monre. “Kali ini, apalagi yang kamu lakukan...?” Monre mengeraskan wajahnya, kalau tidak memikirkan Cahaya, mungkin dia sudah membalas dengan cepat pria di hadapannya ini. “Jangan buat aku marah, bro!” “Jangan sentuh aku...” Kevin menepis tangan Monre dengan kasar. Pria itu tidak membalas, karena dia masih dalam posisi terkejut. Bukan hanya Cahaya gadis yang dia cumbu, tapi baru kali ini dia mendapati seorang gadis pingsan, seolah terkena rabies. Hampir satu jam Cahaya pingsan, dan akhirnya dia bangun juga. Mata Cahaya membulat saat sadar bahwa Kevin kini sudah berada di sampingnya. Gadis itu pun terduduk dan diam-diam dia akan melangkah keluar. ‘Grep’ Tangan Cahaya di raih oleh Kevin. “Mau kemana, kamu...” wajah Kevin mendekat, membuat Cahaya gugup. “Dia meneyentuh bibir ini...” Kevin mengusap bibir Cahaya dengan ibu jarinya. Masih teringat dengan jelas bagaimana Monre keluar dari ruangan ini sambil berkata. “Bibirnya manis sekali...” ah rasanya Kevin ingin membunuh saja pria itu. “Apa yang kamu katakan?” Cahaya menghindar. Kevin menatap wajah gadisnya yang tidak bisa berbohong, dia tahu kalau Monre sudah menyentuh miliknya. Ini semua sudah jelas, pria itu sedang menabuh genderang perang. Wajah pria itu horor sekali, Cahaya yang melihatnya, membuang wajah. Dia tidak suka Kevin yang sedang marah. Jika dia seperti ini, maka Kevin bisa tidak menyapa Cahaya selama berhari-hari. “Aku akan mengawasi mulai saat ini, jangan buat aku marah. Jangan buat aku kesal. Aku bukan orang bodoh, Cahaya Kamu itu sudah di titipkan, jangan bantah aku! Mulai hari ini, kamu harus berada di manapun aku berada. Aku tidak suka cara kamu pergi diam-diam seperti tadi pagi.” Di atas motor, Cahaya hanya diam saja. Perasaannya tidak nyaman, di tambah dia sempat melihat Monre yang menatap kearahnya. Jelas terlihat, menurut Cahaya kalau Monre sangat membenci dirinya. Sampai di depan rumah, Dia turun dari motor. Kevin yang masih menghadap ke depan meraih tangan Cahaya. “Cahaya, jangan seperti tadi! Kamu cuma milik aku, kamu enggak boleh pergi seperti tadi pagi.” “Kevin, aku takut. Aku enggak mau di bully seperti waktu kita SMP dulu, aku mau sekolah dengan benar saja. Aku enggak mau banyak main, sekarang aku jantungan terus! Makanya aku bilang, aku enggak mau sekolah bareng kamu.” Kevin turun dari motor, dia berdiri tegap di depan gadis yang hanya setinggi bahunya saja. “Kamu itu penting untuk aku, mau Monre, mau akhirat, aku enggak peduli. Yang aku pentingkan itu kamu, Cahaya.” Cahaya menepis tangan Kevin yang memegang bahunya. “Tapi kamu sumber masalahku, Kevin...” “Cahaya...” “Kevin, kita itu kenal sejak dari orok, bisa dong kamu pikirkan aku, apa salah aku sama kamu! Aku jadi bahan bully anak perempuan karena kamu, Kevin. Buka mata kamu, aku harus sampai kapan? Kamu enggak kasihan sama aku?” Kevin mundur satu langkah. Dari semua ucapan Cahaya, semuanya tidak ada yang salah. Kevin pun tahu soal itu, tapi selama ini dia selalu berusaha melindungi Cahaya. “Kalian berdua ngapaian di sana?” teriak Mama Cahaya yang berdiri di balkon rumah. “Serius amat!” Kevin dan Cahaya jadi salah tingkah, mereka menggaruk kepala masing-masing tanda gugup. “Kami hanya bicara masalah sekolah, Tante...” “Masalah sekolah? Ayo masuk! Kamu mandi di sini saja, tapi papa sama mama kamu pergi sebentar, mereka ada urusan sedikit...” ucap Mama Cahaya dengan memberi kode pada tangannya. “Iya, Tante...” jawab Kevin. “Kevin, kamu enggak boleh mandi di kamar aku, kita sudah dewasa.” Cahaya berbisik pelan di telinga Kevin. “Siapa peduli? Tante Saja tidak masalah, kenapa kamu yang sewot? Memangnya kamu yang buat rumah ini? Aku cuma mau mandi, istirahat sebentar, hari ini ada latihan basket, aku harus hadir! Secara kekasih kamu ini, ketua Tim basket.” “Cih, aku benci sekali mendengar ucapan sombong kamu kamvret!” Mendengar Cahaya mengumpat, Kevin tersenyum nakal. Dia berjalan maju meninggalkan gadis yang masih memasang wajah tidak sukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN