Ternyata orang yang bersama Elsa boleh juga, bahasa inggrisnya bagus, tata bicara dan gerak tubuh serta sopan santunnya juga dinilai baik. Elgio kan sudah biasa berbisnis dan pergi ke luar negri, jadi tidak heran dia bisa membujuk investor untuk menjalankan proyek ini. Pengalaman Elgio lebih banyak dibandingkan Elsa dan wawasannya juga lebih luas. Dari kejauhan Elvano ternyata memperhatikan Elsa dan Elgio, untungnya tidak di tempat yang terlalu tutup melainkan di restoran hotel itu, jadi Elvan bisa melihat dan memperhatikan saingannya, pria yang bersama Elsa.
Ya namanya juga adik kakak, Elgio mengelus puncak kepala Elsa dan memandangnya penuh cinta, adik bungsu yang satu ini kan kesayangan keluarga. Satu keluarga good looking dan good brain idaman banget. Elgio berwajah bule disangka bukan orang indonesia, malah disangka orang amerika juga, disangka belum beristri pula. Akhirnya pria itu berhasil membujuk bos yang mereka temui hari ini.
Kenapa rasanya Elvan membenci Elgio ya, padahal mereka tidak saling kenal dan saling bertemu, apa ada sesuatu yang terjadi pada pria ini, rasanya aneh sekali, setiap Elgio berperilaku manis pada Elsa, Elvan langsung mengepalkan tangannya.
Dua jam mereka berbincang, kebetulan restoran juga dalam keadaan sepi, Investor luar ini menyetujui proposal yang mereka tawarkan. Elgio berteriak senang dalam hati karena dia berhasil membantu sang adik. Giliran Elsa melirik sinis, banyak bagiannya yang diambil sang kakak. Elsa juga kan ingin banyak berbicara dengan investor ini.
“Gimana, kakak oke kan?” tanya Elgio so keren sambil merentangkan tangan dan menengadahkan kepalanya.
“Ya tapi terlalu ikut campur, itu kan bagian gue Kak, lo embat habis.” Gadis ini mengerucutkan bibirnya, protes atas apa yang Elgio lakukan. Untung Elgio temani bukan, kalau Elsa sendirian nanti tidak imbang, investornya bawa satu orang sekretaris dan asisten lalu mereka berdua semuanya pria.
“Abis lo lama sih, orangnya juga ngeliatin kaya gimana gitu." Memang ada kelebihan ada kekurangan, otak klien tadi pintar dan cerdas, dia juga hati-hati dalam berbisnis, ya minusnya mudah tertarik pada perempuan, contohnya Elsa, maklum bapak duda, mungkin sedang cari calon istri yang sealiran dengan dia juga.
"m***m?" tanya Elsa pada Elgio, gadis ini kira semua tatapan pria memang sama, mengagumi kecantikannya, cuma
"Ya bisa jadi."
"Ati-ati di sini, beda dengan indonesia, pergaulannya kan bebas. Besok Angel dateng kok, dia udah sembuh. Kalau dia udah ada di dekat kamu, kakak on the way Indonesia lagi." Yahh …. Kalau ada Angeli nanti dia kesulitan jadiin Elvan babum orang udah ada Angel.
"Oke. Padahal kasian dia pasti masih butuh waktu buat istirahat." Mau protes nanti takut mencurigakan. Mana sudah diberikan warning kalau di sini tidak seaman indonesia.
"Ah paling dia girang karena mau kerja sekalian healing." Angel paling suka liburan sambil kerja, sekalian refresh otak agar tidak terlalu berat.
"Balik hotel lagi yuk!" ajak Elsa lelah.
"Perhatikan hotel-hotel di sini. Kita kan ingin membuka hotel ala bali, jadi harus bisa memperkirakan bakal laku atau tidak.” Banyak juga orang indonesia yang tinggal untuk urusan bisnis dan yang bersekolah di sini. Mereka mungkin bakal jadi target utama, mereka pasti kan merindukan indonesia, jadi pasti cari hotel dan makanan khas indo. Orang New York yang suka tema alam, asri dan interior antik seperti ala-ala bali juga pasti masuk ke hotel mereka serasa liburan.
Akhirnya kakak dan adik ini keliling hotel, untuk melihat-lihat dan menyusun strategi agar hotel mereka tentu lebih bagus. Elsa akan membangun juga di Jakarta.
Pengusaha semennya kan ada Biyan, pengusaha bahan bangunan dan makanan ada Elgio, pengusaha hotel ada dirinya. Sungguh nanti semua keperluan bisa didapat dari keluarga sendiri.
Selesai meeting mereka benar-benar keliling hotel, pokoknya yang ada di New York, Elvan juga penasaran, dia jadi ikut berkeliling juga. Pria ini sedikit mendengar penawaran dari Elsa ternyata bagus juga, dia pun menghubungi asistennya.
“Tolong atur waktuku untuk memberikan penawaran sebagai investor perusahaan milik Elsa, mantan tawananku.” Wihh dengan ini mereka akan jadi sering bertemu, bukan hanya sebagai kekasih palsu dan tour guide tapi juga sebagai mitra bisnis.
“Baik, Tuan!”
Elsa dan Elgio pun sampai di hotel tempat tinggal mereka, Elvano mengikuti dari belakang, memastikan Elsa kembali baik-baik saja, dia pun menghubungi seseorang, tidak lama telponnya pun diangkat.
“Kenapa menghubungiku malam-malam?” tanya gadis yang Elvano telepon, nada bicaranya ketus sekali. Padahal mereka saling hutang budi.
“Sepertinya yang tadi pagi sakit sekarang sudah sembuh dan malah gesit. Nada bicaranya juga lantang sekali.” Elvan menyandarkan punggungnya di lorong hotel. Gak ada kerjaan banget dia mengikuti orang dari siang sampai sore. Entah kenapa juga rasanya ingin mengikuti gadis yang dia telepon ini.
“Apa urusanmu jika aku sudah sembuh?” tanya dia lagi ketus, orang sakit cuma pura-pura, sekarang dituntut untuk gesit dan serba bisa.
“Istirahatlah, nanti takut sakit lagi, ini malah lanjut bermalam dengan seorang pria.” Tampaknya dia salah paham, padahal Elgio sudah pesan kamar di sebelah kamar Elsa, kenapa malah dikira tidur satu kamar, dikira mau naena semalaman pula.
“Apa, sih?” tanya Elsa bingung, ya gadis ini merasa aneh dengan pertanyaan Elvan. Elsa dalam mode lelah jadi senggol bacok nih. Kalau Elvan mau ajak berantem bakal dia jabanin.
“Aku di lorong. Segera balik arah.” Jeh pria ini malah merintah pula, gak ada akhlak. Elsa mengabaikannya, dia langsung masuk saja ke kamarnya, Elgio juga masuk ke dalam kamar Elsa dulu, mau mengambil dan memindahkan barang.
Elvano tidak menerima penolakan, dia tidak suka Elsa menolak permintaannya. Jadi pria ini pun menelpon lagi, Elsa yang merasa risih langsung mengangkatnya dan dia pergi ke luar kamar.
“Kak aku permisi dulu. Ada urusan.” takut didengar Elgio. Eh saat di luar kamar ternyata sudah ada Elvan. Elsa sampai kaget bak melihat hantu saja, tiba-tiba orangnya sudah nongol ada di depannya.
Mana kini tubuh Elsa menempel ke tembok dan tangan Elvan bersandar ke tembok, tepat di sisi kiri kepala Elsa. “Ada apa? Kamu mengagetkanku saja. Kenapa kesini, sih?”
“Siapa suruh mengabaikan perintahku. Jadi aku kesini saja. Pria yang bersamamu dari tadi itu siapa?” tanya pria ini sambil mengangkat alisnya yang tebal. Kata mbah toktok kalau cowok beralis tebal berarti nafsuan wkwk.
“Kamu mengikutiku seharian?” Merinding bulu kuduk Elsa, merasa Elvan ini seorang penguntit. Lah dia malah salah paham.
“Iya. Bukankah wanita ini memintaku menemaninya selama di New York, sekarang kenapa malah bersama pria lain?” Kenapa nada bicaranya seperti orang yang kecewa sekali. Terlihat betul ekspresinya juga seperti kesal sekali pada Elsa.
Apa dosa Elsa, orang Elgio kakaknya. “Hahaha. Cemburu?”
“Untuk apa cemburu, justru tugasku jadi ringan, tidak usah pura-pura jadi kekasih dan tour guidemu lagi.” Belum juga dia bertugas sudah digantikan oleh Elgio, kan jadi merasa ditikung cowok lain.
“Pria itu hanya menemaniku sementara saja.” Sengaja Elsa tidak mau mengaku Elgio adalah kakaknya.
“Siapa dia?” tanya Elvano penuh penekanan, mana wajahnya makin dekat dengan wajah Elsa. Tinggal beberapa senti saja nih, mana tatapan Elvan membunuh sekali, tajam setajam silet.
Jantung Elsa begitu memburu saat ditatap Elvan dari dekat begini, saat pasokan oksigen menipis karena Elsa tahan napas tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya. “Siapa dia, Els?” tanya Elgio yang sekarang ada di depan pintu kamar, pemandangannya melihat sang adik tengah berada dalam kurungan seorang pria.
Elgio tidak dapat jawaban dari keduanya, malah dapat lilikan bingung dari Elsa dan Elvan.
“Kenapa menemuinya di sini, ajak saja ke kamar kita!” Seharusnya mereka mempersilahkan tamu untuk masuk kan, orang indonesia terkenal ramah, jadi masa tamu di luar ruangan, lagian Elsa tidak sendirian, ada Elgio yang menemaninya di dalam kamar.
“Kamar kalian?” tanya Elvan makin sinis.
“Kami tidak satu kamar, kok.” Elsa menggeleng takut ada salah paham.
“Masuklah, mari kita berkenalan.” Elgio pun mengibaskan tangan mengajak Elvan masuk, sayang Elvan malah terus menatap Elsa sinis.
“Ayo!” Paksa dia lagi sambil menarik Elvan. Dia butuh penjelasan kenapa adiknya dapat perlakuan seperti itu.
“Kenalkan kakak kandungnya Elsa. Namaku Elgio Ahmad.” Uluran tangan dari Elgio disambut oleh Elvan.
“Kakaknya?” tanya pria ini tidak percaya, dia lirik wajah Elgio dan Elsa bergantian, oh iya mirip sedikit.
“Iya. Kamu siapa dan ada urusan apa bertemu adikku?” Sudah lama juga kan Elgio tidak menyidang seorang pria yang tengah dekat dengan adiknya. Sekarang memergoki Elsa dengan seorang pria jadi pemandangan luar biasa, mana pria ini orang luar negri.
“Saya Elzard Elvano. Panggil saja Elvano.” Dia memperkenalkan diri sungguh sopan, sekarang kan sudah tahu kalau Elgio kakaknya Elsa.
“Waw, kita trio El! Elsa, Elvano dan Elgio. Ada urusan apa kau dengan adikku?” Bisa kebetulan begini mereka punya awalan nama yang sama. Elgio penasaran malam-malam begini Elvan ada urusan apa pada adiknya, kan bisa dibicarakan hari esok.
“Aku kekasihnya!” Pernyataan Elvan mengagetkan Elsa dan Elgio.
“Heh– apa kau bilang?” Elsa yang sedang mengambil minum pun langsung terkejut. Orang mereka cuma pura-pura dan untuk pria yang mengganggu Elsa saja seperti si cunguk Dani, eh kok malah ke kakaknya.
‘Kan orang dia sendiri yang minta, kenapa sekarang protes?’