“Ih kenapa sih dia ngomong kaya gitu? Kan dikira iya sama kak Elgio.” Elsa pergi saja, malas bergabung, mending dia mandi dan siap-siap tidur, nanti kalau sudah beres tinggal mengusir dua orang pria yang sedang mengobrol di kamarnya ini.
Dia heran lho, kenapa mereka terlihat seperti satu aliran sih, cocok gitu jadi temenan, mana ngobrol lama banget, jadi boring Elsa nungguinnya keburu tengah malem. “Mereka akrab banget sih. Lha malah gue dikacangin." Yang punya kamar siapa, yang bertamu siapa, kenapa malah keduanya menguasai kamarnya sih.
Salah Elsa juga sih, ngapain dia ada ide menjadikan Elvano sebagai kekasih pura-puranya, kan jadi salah paham begini, kalau bilang cuma pura-pura yang ada dia bakal malu ke Elgio. Udah keren punya pacar bule, mafia, pengusaha, punya kasino pula, eh kalo ketahuan bohongan malunya bukan main. Elvano jelas menyembunyikan statusnya yang seorang mafia dari Elsa dan Elgio.
Untung saat sebelum mandi Elsa sudah membekal baju ganti, jadi saat dia keluar kamar mandi sudah berpakaian lengkap. Berharap keluar kamar mandi sudah sepi eh nyatanya masih ada kehidupan, duo El sedang asyik mengobrol.
Elsa menghela napas kasar sambil melirik Elvano sinis. Sepertinya pria itu mengerti kode yang Elsa berikan. Elvan tahu gadis ini lelah dan ingin beristirahat.
“Saya permisi, Kak Elgio." Elvan berdiri dan bersiap untuk pulang, melihat raut wajah Elsa yang sudah lelah begitu dia lebih baik tidak berlama-lama lagi di sini.
"Mau pulang? Wah sebentar sekali di sininya." Ya namanya juga cowok, cewek aja kalo ketemu temen satu jam berasa satu menit karena sibuk ngerumpi, cowok juga sama, Elvano di sini satu jam, Elgio merasanya mereka berbincang hanya semenit saja. Elgio terlalu nyaman punya teman baru yang tampaknya satu circle dengannya.
“Sudah malam, saatnya kalian berdua istirahat." Elvan mau pergi tapi Elgio sepertinya tidak rela membiarkan pria ini pergi. Besok dia mau pulang, malam ini malam terakhir dia di luar negri, satu malam pula tanpa tidur terkena tangan atau kaki Sari yang tidurnya motah, malam ini rebahan di kasur hotel bisa guling–guling karena sendirian.
"Besok saya kembali ke Indonesia, titip adik saya, ya!" Elgio merasa Elvan ini seseorang yang bisa diandalkan. Pria ini tidak menilai seseorang dari penampilan, tapi dari hati dan cara bicara. Meski Elvano bertato di bagian tangan, leher belakang dan di punggung yang tidak kelihatan, pakaiannya juga gelap, tapi pria ini terlihat dewasa dan pemikir.
Kalau soal tanggung jawab ya jelas dia sangat bertanggung jawab dong, Mafia kang jual senjata api dilawan, punya kasino dan pengusaha pula, kebayang berat sekali beban Elvan kan bestie, duitnya juga bukan kaleng-kaleng.
"Kenapa sebentar sekali di New Yorknya?" tanya Elvan penasaran, dia tidak ada teman mengobrol dan mengawasi Elsa lagi dong. Tidak asik kalau sendiri, malas kena omelan Elsa, kalau ada kakaknya kan Elsa jadi jinak, ada pawangnya.
"Istri saya sedang hamil." Elgio ke sini juga karena disuruh Mami Arisa, kalau tidak mungkin dia suruh Pink atau yang lain saja.
"Baiklah, salam untuk keluarga di Indonesia." Mendengar kata Indonesia Elvan jadi penasaran ingin ke sana, kata orang dia juga punya darah dari Indonesia, tepatnya dari sang mama.
Pria itu pun menghilang dan kini tidak ada di kamar Elsa lagi. Pergi satu tinggal satu lagi nih, Elsa bisa bernapas lega kalau satu orang ini hempas juga. Elsa melirik Elgio sinis. “Kakak gak sekalian pergi?”
“Lu ngusir gue? Jauh-jauh kesini diusir adik sendiri hiks!” Elgio pura-pura sedih, dia cepek selama perjalanan dan datang-datang langsung membantu Elsa, sepertinya sampai di Indonesia nanti dia minta dipijitin Sari.
“Idiihh …. Liat jam dong. Adik mau bobo cantiks.” Elsa sewot sudah ingin rebahan, ini punggung dan pinggangnya terasa panas, ingin sekali segera menyentuh kasur, memeluk guling.
“So cantik lu.” Apa mereka akan mulai debat seperti tikus dan kucing? Biasanya kalau satu rumah pasti kalau tidak debat dengan Biyan ya pasti debat bersama Elgio.
“La emang gue cantiks. Tuh buktinya gue dapet cowok bule.” Padahal cowok bodong, gak papa lah bohongan juga banggain aja, beda kelas kan sama yang sebelum-belumnya, ini kelas salmon dan yang lain kelas teri ecek-ecek.
“Yee songong lo.” Elgio lempar Elsa menggunakan bantalan sofa. Baru punya pacar bule aja sombongnya selangit, berapa sih mantan pacar Elsa, paling bisa dihitung menggunakan jari, kalau Elgio sih mantannya sudah tidak terhitung lagi, mau gadis secantik apapun ada, produk lokal dan import juga ada. Yang lebih unggul mah tidak songong, El santuy sekali.
“Sana pergi!” bentak Elsa lagi sambil melempar bantal sofa balik.
Pagi sekali suara ketukan pintu kamar Elsa terdengar berisik sekali, gadis ini masih betah memeluk guling, belum ada guling hidup alias suami, jadi dia peluk benda mati yang empuk ini saja dari malam sampai pagi.
Elsa sedang enak-enaknya bermimpi indah, jadi putri yang sedang dihampiri pangerannya, eh mimpi indah itu ambyar gara-gara suara ketukan pintu yang begitu mengganggu. Siapa sih yang berani mengganggu ketentraman ini.
Elsa terpaksa membuka matanya yang semula sangat-sangat rapat, dia gosok perlahan agar kelopaknya tidak dipenuhi oleh tahi mata alias belek. Dengan berat hati gadis ini harus memeriksa orang yang mengganggu tidurnya ini siapa.
"Berisikkk …." teriaknya karena orang di luar masih menggedor pintu.
"Siapa sih yang ganggu pagi-pagi?" tanya gadis ini masih mengenakan kimono tidur. Saat dibuka ternyata Elgio, kakaknya sudah berpakaian rapi dan membawa koper.
"Els. Kakak mau balik ke indo." Pagi sekali, dia sudah merindukan sang istri dan ingin mengajak ngobrol si jabang bayi yang masih ada di dalam perut Sari. Suami mana yang betah lama-lama jauh dari istri, pasti semua juga tidak mau terpisah jarak dan waktu kalau tidak kepepet cari cuan untuk makan keluarga.
Mumpung Angela mau ke sini jadi Elgio bisa merdeka, yang penting sudah laporan ke mami Arisa to. El sudah kirimkan foto PAP bareng Elsa dari sejak kemarin, Arisa jadi bisa bernapas lega melihat anak gadisnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Kakak. Tiati di jalan, ya. Maaf ga bisa anter ke bandara." Mana mungkin gadis ini mau repot-repot ikut ke bandara pagi begini, mending rebahan sambil peluk guling lagi.
"Tiati lo di sini, untung ada Elvano yang jagain." Mendengar hal ini alis Elsa jadi terangkat.
'La dia jagain, yang ada malah nyakitin! Pinter banget dia carmuk ke kakak gue.' Kejadian jadi sandaran sasaran tembakan Elvano masih terpatri di ingatan Elsa lho, tidak mau dia lupakan, biar ingat seberapa kejam dan jahilnya Elvan.
"Kakak berangkat."
Setelah kepergian Elgio, Elsa kembali memeluk guling, rasanya kasur itu tidak mau berpisah dengan tubuhnya, jadi dia dan kasur bagaikan amplop dan perangko. Lagian Angela datang agak siangan kok, sekalian mereka mau ketemu klien, ngapain bangun pagi-pagi dan siap-siap.
Tapi tidur Elsa sayangnya terganggu, dia dapat panggilan telepon dari Angela, gadis itu minta dijemput di bandara. Yahh … Elsa harus merelakan kasurnya tidak lagi dia tiduri dan guling tidak lagi dia peluk.
Gadis ini segera pergi ke kamar mandi, meski malas mandi ya kalau keluar tanpa mandi rasanya jijik. Padahal semalaman dia tidak sama sekali berkeringat, tapi Elsa mau mandi saja agar tidak merasa ngantuk lagi.
Baru saja dia selesai mandi, masih dalam keadaan handuk yang melilit pada tubuhnya, eh ada suara ketukan pintu.
"Duhhhh …. Apa lagi sih? Apa ada yang ketinggalan?" Dia rasa mungkin itu adalah Elgio, kakaknya kembali mungkin karena ada barang atau sesuatu yang tertinggal di kamar ini.
Elsa buru-buru keluar kamar mandi dan membuka pintu kamarnya. "Kenapa balik lagi sih Kak?" tanyanya sewot.
Saat dilirik, eh ternyata bukan Elgio.
"Elvan ish, ganggu saja." Elsa ingin menutup pintu tapi pria ini sudah masuk duluan.
"Apa begitu sikapmu pada seorang tamu yang datang?" tanya Elvan sambil mendempet tubuh Elsa hingga punggungnya menempel ke tembok. Pandangan Elvan semula pada kedua mata Elsa, eh lama-lama pandangan ini turun, salah fokus ke belahan d**a dan handuk yang Elsa pakai. Gadis itu masih polosan, belum bajuan. Masih seperti lemper yang belum dibungkus rapi menggunakan daun.
"Eh, lihat apa kamu?” tanya Elsa curiga sambil menaikkan handuknya yang hampir saja melorot.
Pria mana yang tidak akan tertarik dengan pemandangan yang sungguh indah bestie, curiga ada sesuatu yang bangun. Apa ya yang bangun? Burung atau adik kecil atau yang lain. Elvan cowok normal lah yah, bukan kw atau bencis.
Elsa langsung bergeser, kali aja cewek ini bisa bebas dari kungkungan Elvan, ngeri juga melihat tatapannya yang seperti singa sedang lapar.
"Sana pergi, untuk apa ke sini?"