Terciduk!

1249 Kata
Trauma akibat penculikan pasti Elsa rasakan, dia tidak menutup kemungkinan jika akan menangis dan ketakutan saat dihadapkan kembali pada kejadian yang salah tangkap itu. Meski tidak disiksa tapi Elsa merasa dirinya dalam bahaya dan kemungkinan selamat itu nihil. Dia berada di negara besar sendirian, tidak ada yang tahu jika Elsa diculik. Sekarang mulutnya dibekap dan dia dibawa ke dalam gang sempit, sungguh bulu kuduk Elsa berdiri semua, detak jantungnya mendadak bergemuruh dan dia mengeluarkan keringat dingin. Apakah kejadian itu akan terulang lagi? Sungguh Elsa tidak mau. Siapa pria laknat yang sekarang menculiknya ini, tidak mungkin jika Dani, kan pria itu tengah mengejarnya tadi, lantas siapa? Dia tidak punya musuh di sini, tidak ada teman hanya ada klien saja. “Sssstttt …. Jangan berisik.” Titah pria yang ada di belakangnya, satu tangan membekap mulut Elsa, satu tangan lagi melingkar di pinggangnya. Suaranya terdengar familiar, ya siapa lagi kalau bukan suara si cowok menyebalkan yang pergi begitu saja saat mereka tengah berciuman. Elvan dengar dari semua anak buahnya jika Elsa dalam bahaya, diikuti seorang penguntit. Kebetulan sekali Elvan memang sedang ingin menghampiri gadis ini untuk mencari hiburan. Menjahili Elsa kan menjadi hiburan baru untuknya. Elvan lihat betul siapa pria yang terobsesi mengikuti Elsa, dia ingat pria yang ada di pesta waktu itu, saat Elsa pura-pura menjadikan Elvan teman kencannya saat menghadiri undangan. Meski bahasa yang Elsa ucapkan tidak ia mengerti, dari gerak tubuh dan ekspresi wajah Elsa menandakan dia risih dengan kedatangan Dani ke pesta. Sekarang juga Elsa tengah ketakutan dikejar Dani, eh lebih ketakutan lagi saat Elvan menarik dia ke tempat gelap. Bukankah tempat penyekapan waktu itu juga gelap dan menyeramkan, Elsa jadi tidak menyukai tempat-tempat gelap dan sepi. Air mata kini membasahi pipi sang gadis, meski tahu pelakunya Elvan, dia tidak bisa membendung air mata yang jatuh ini. Sungguh Elsa sangat-sangat takut jika orangnya bukan Elvan. “Heii …. Kenapa kamu menangis?” tanya Elvan sambil menatap Elsa dalam kegelapan. Iya, dia akui dia salah, menyelamatkan Elsa dengan cara apalagi jika bukan cara ini, kan mereka jadi bisa bersembunyi dari Dani. Orang seperti Dani, mau dilaporkan, mau dihajar juga nanti balik lagi-balik lagi, jadi lebih baik menghindar saja tidak usah diladeni. “Hiks …. Hiks ….” Elsa menangis hingga sesenggukan, dia tutup wajahnya menggunakan kedua tangan, malu karena mendadak jadi cengeng. Kemana Elsa yang angkuh, sombong dan keras kepala, sepertinya telah hilang kalau traumanya kambuh. “Tenanglah, ini aku bukan orang lain.” Refleks Elvan membawa Elsa dalam dekapannya, saat Dani lewat pasti tidak akan melihat mereka karena ada di tempat gelap. Jelas di situ Elsa menangis karena ketakutan, bahkan tubuhnya saja sampai bergetar hebat saat Elvan peluk, tangan Elvan pun mengusap punggung sang gadis. “Jangan takut, Els.” Ini siang bolong dan Dani tidak datang untuk membunuh Elsa kok. Hanya saja Elvan belum peka jika Elsa trauma. Elsa mendongak dan melirik sendu ke arah Elvan, terlihat betul wajah kaget sekaligus ketakutan. “Aku takut diculik.” Kata ini yang Elsa ucapkan pada Elvan disela-sela ia menangis. “Aku tidak menculikmu kok. Maaf karena aku radi mengagetkanmu.” Laagi-lagi Elvan usap punggung Elsa agar merasa lebih tenang, bukankah seorang wanita kalau menangis suka dipeluk dan dielus-elus agar tangisannya berhenti. Ini kok Elsa tidak kunjung berhenti juga, Elvan yakin sekarang sudah aman dan Dani sudah tidak ada. Elsa tetap menangis sampai sesenggukan. “Hiks …. Hiks.” Sungguh kejadian yang memberi luka, meski terlihat baik-baik saja, Elsa trauma akan penculikan, tidak mau mengalaminya lagi. Elvan jadi merasa sangat bersalah. “Maafkan aku yang salah tangkap, maafkan aku yang menarikmu sekarang, maafkan aku yang banyak tidak bisa membuatmu berhenti menangis.” Melihat Elsa menangis seperti ini mendadak dadanya terasa sesak. Kasihan Elsa. Suara tangisan Elsa kini terhenti di dalam dekapan Elvan, tapi sayang tubuh gadis ini terasa lemas, Elsa hampir saja pingsan dan jatuh jika Elvan tidak menahan tubuhnya. Sang gadis pun digendong Elvan ala bridal style dan dibawa ke hotel tempat dia tinggal, dekat dari sini dan tempat paling aman. Elvan bisa masuk tentu karena dia punya akses, dia menanamkan saham di hotel ini dan pria itu tidak perlu repot-repot meminta kartu pada Elsa untuk membuka pintu kamar ini, petugas hotel yang membantunya masuk. Pria ini membaringkan Elsa di tempat tidur, saat Elvan mau beranjak bangun, tangan Elsa menariknya, Elvan jadi terjatuh menindih Elsa. Gadis ini kembali menangis setelah sadar. “Tenangkan dirimu, Els. Kau baik-baik saja, ada aku di sini.” Elvan berusaha kembali menenangkan dengan memeluk Elsa di atas ranjang. Kalau Angel lihat bisa gawat ini, nanti disangka Elsa tengah ena-ena bersama pria bule. Elsa melirik Elvan dalam keadaan mata berkaca-kaca dan dadanya terasa sesak, napasnya juga tidak beraturan. “Ini benar kan? Aku tidak bermimpi? Ragaku tidak sedang berada di tempat gelap nan sepi dan disekap penculik kan?” tanyanya untuk memastikan, barangkali dia sedang mimpi bersama Elvan padahal raganya sekarang sedang tidak sadarkan diri di dalam gudang penyekapan. “Tidak. Kau ada di hotel bersamaku.” Elvan mengusap pipi Elsa yang basah oleh air mata. Gadis yang terlihat kuat ternyata sekarang menunjukan sisi lemahnya juga. Yang kelihatan angkuh, percaya diri dan keras kepala belum tentu tidak punya sisi lembek kan. “Hiks …. Takut.” Elsa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Elvan, rasanya nyaman dan merasa terlindungi untuk saat ini. “Jangan takut. Please jangan takut, ada aku!” Elvan seperti tengah menenangkan anak kecil yang sedang rewel saja. Elsa tiba-tiba kini sedang menatap Elvan, tatapannya kosong, entah apa yang ada di pikiran gadis ini, Elvan tidak bisa menebaknya. Lama mereka saling menatap satu sama lain, tiba-tiba wajah mereka semakin dekat hingga tidak berjarak lagi. Bibir keduanya pun saling menempel, ini ciuman yang kedua Elsa bersama Elvan si pria asing bule menyebalkan. Awalnya bibir mereka saling menempel saja, lama-lama Elvan membuat hisapan-hisapan untuk mengecap rasa manis bibir Elsa. Mata mereka kini saling terpejam, pelukan semakin erat dan irama jantung mereka berdua jadi tidak karuan. Manis, basah, licin dan hangat. Bibir Elsa selalu saja bisa menghipnotis Elvan hingga dia tidak sadar jika lancang sampai mencium bibir sang gadis. Tubuh mereka bahkan sampai berguling-guling dan membuat sprei jadi berantakan. Hisapan yang Elvan lakukan semakin kencang pada setiap jengkal bibir Elsa. Gadis ini bahkan sempat mendesah merasakan hisapan kuat yang Elvan lakukan, bibirnya jadi terbuka dan Elvan jadi punya akses masuk untuk menjelajah relung kata milik Elsa. Lorong hangat tempat Elvan berpetualang tampaknya menarik, bisa dijadikan arena lidah untuk saling memagut dan menari-nari. Ini ciuman terpanas dan ternyaman selama hidup Elsa, tidak ada pria yang bisa menyamai ciuman Elvan ini, berhasil pula membuat Elsa jadi tidak ketakutan lagi dan melupakan traumanya. Satu tangan Elsa yang semula menganggur digunakan meremas squishy satu gunung Elsa, gadis ini dibuat kembali mengerang kenikmatan. Tiba-tiba ada orang yang masuk dan menjatuhkan barang bawaannya. Terciduk! Angel melihat pemandangan yang berhasil menodai matanya, kedua tangannya langsung menutup kedua matanya rapat-rapat. Dia mencari Elsa kemanapun dengan perasaan tidak karuan, takut Elsa tertangkap oleh Dani, saat sampai di sini eh malah melihat pemandangan yang senonoh. Gadis yang dia khawatirkan nyatanya sedang enak-enak ciuman di kasur bersama seorang pria asing yang sama sekali tidak Angel kenal. Siapa pria itu? Dapat dari mana? Tampangnya seperti malaikat sekali dan tubuhnya begitu proporsional. Anjir, pelukable. Angel jadi ngiri. Dia buka sedikit agar bisa mengintip. Elsa yang mendengar suara aneh pun menoleh. Oh tidak. Kenapa posisi mereka seperti dalam sinetron saja, istri sah tengah menciduk suaminya yang tengah naena di hotel bersama gadis jalang. Elsa menggelengkan kepalanya dan melirik Elvan. Dia lirik Angel lagi. “Aku bisa jelaskan, Ngel.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN