lagi?

1158 Kata
Pemandangan Elvan saat masuk ke hotel sungguh luar biasa, tubuh Elsa yang sexy hanya dibalut handuk saja. Rambut yang basah terurai dan kulit yang mulus begitu menarik perhatiannya. Dia pria yang normal, bukan lekong sekong, ya jelas adik kecilnya bisa saja bangun. Meski seorang mafia dan pebisnis yang tampan, dia bukan penjahat kelamin, bukan pria yang gemar gonta-ganti teman tidur, Elvan hanya pernah tidur dengan beberapa wanita saja, itu juga mantan kekasih dan wanita kiriman dari partner kerja. Kenapa mendadak kerah baju Elvan terasa sempit saat Elsa begitu menggoda dan tepat di depan matanya. Bibir yang biasa berbicara ketus dan kasar milik Elsa terlihat menarik sekali polos tanpa lipstik, merah merona asli dan ingin dicoba. Saat bibir mereka menyatu, Elvan merasakan bibir Elsa begitu manis, empuk, basah dan hangat. Sesasi yang luar biasa lagi saat tubuh mereka saling menempel dan tidak ada perlawanan dari Elsa. Sayang kenikmatan yang HQQ ini ambyar setelah adanya telepon masuk. Siapa yang tidak kesal dan kaget, baru saja kemalingan uang dan emas, sekarang kemalingan senjata untuk dijual ke luar negri, sungguh ruginya luar biasa. Siapa orang yang berani mengirimkan kode keras ini, ingin rasanya Elvano bantai. Siapapun orangnya, mau itu keluarga, teman atau musuh, ingin Elvan bumi hanguskan. Elvan jadi langsung pergi ke lokasi saat itu juga menggunakan helikopter. Saat sampai di tempat kejadian perkara mobil truknya sudah raib digondol maling, ada empat karyawannya yang duduk dalam keadaan kaki dan tangan yang terikat lalu mulutnya disumpal, mereka di sebuah mobil yang masih utuh. Sebelum para pencuri pergi anak buah Elvan dibiarkan menghubungi pusat dulu, ban mobil yang pecah pun diganti dan mobil yang berisi senjata milik Elvan sudah dibawa pergi. “Siapa pelakunya?” tanya Elvan setelah melepaskan ikatan anak buahnya. Semua kacau dan sedikit yang tersisa. Mata Elvan menatap tajam pada anak buahnya sendiri barangkali bersekongkol, musuh tidak akan tahu jika ada berita yang bocor. “Sepertinya orang yang sama saat perampokan kasino," jawab salah satu dari mereka yang sempat melihat perampok perempuan tadi. Aksi perampok dalam mengambil uang dan emas serta merampas senjata sudah seperti di film-film Hollywood saja. Mereka lihai dan sudah terlatih. “Sial." Elvan segera keluar dan menengadah menatap langit sambil menekan pelipisnya. Tiba-tiba dia punya ide. "Kamu!" Dia menunjuk salah satu karyawan yang mengenakan kacamata hitam dan memeluk senapan panjang. "Saya, Tuan?" tanya pria ini memastikan. "Iya kamu. Segera naik ke helikopter dan kejar mobil kita. Tangkap semua penjahatnya." Jalur udara lebih cepat, pasti mobil belum jauh. Uang bagi Elvan mudah dicari, tapi kerja kerasnya untuk mencari lumayan sulit, dari dulu dia belajar mandiri, waktunya juga tidak sebentar dan nyawa karyawannya begitu berharga. Meski mafia terkenal kejam, Elvan tidak mau menyia-nyiakan nyawa orang lain. Elvan bukan ayahnya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Style dia dan style ayahnya beda meski sedarah. Baiklah daripada pusing-pusing di sini lebih baik dia cari hiburan saja. O iya dia ingat punya nona manis yang tadi ditinggalkan. Terlalu memikirkan kerugian tidak baik, nanti yang ada malah stres dan cepat tua, mending have fun saja. Elvan pulang menggunakan helikopter lain, ada beberapa urusan juga yang harus dia selesaikan di kota. Elsa langsung memberikan pekerjaan pada Angel, hari ini mereka ada janji bertemu klien lagi, sorenya disambung kegiatan belanja. Lumayan beli barang dari luar negri nanti dijual di Indo banyak untungnya bund, tetep ya jiwa bisnis mah beda, beli bukan buat kepuasan sendiri tapi untuk dijual lagi. Klien hari ini perempuan, bawelnya minta ampun, mana lama sekali memikirkan panjang kali lebar kali tinggi, pokoknya pemikir dan kritis. "Els jangan nengok ke kiri." Ini peringatan dari Angel, sebab dia melihat seseorang yang Elsa kenal, orangnya menyebalkan dan memang sedang ke new York juga. Ets jangan kegeeran ke sini cuma nyusulin Elsa, nyatanya ada urusan juga. Emang cowok bangke ya, lain di mulut lain di hati. "Kenapa?" tanya Elsa curiga, kalau di warning berarti ada yang gawat darurat dong. Mendadak jantung Elsa jadi berdetak lebih kencang, siapa orang yang Angel maksud, apakah ada orang yang berbahaya atau sejenisnya. "Pokoknya jangan. Buruan selesaikan biar kita ga lama lagi di sini." Angel rasa kalau mereka bertemu bakal runyam urusannya. "Oke-oke." Seperti yang direncanakan dari sejak awal, mereka akan berbelanja keliling pertokoan di sini. Beda dari Indonesia, di sana toko barang branded tidak di mall belainkan di pinggir-pinggir jalan kawasan kota. Pertokoan berjejer rapi, ada yang mewah dan ada yang sederhana ada yang juga mewah, kafe-kafe juga berjejer menyajikan makanan mewah dan enak. Elsa dan Angel merasa diperhatikan, mengapa dari tadi bulu kuduk mereka terasa berdiri lalu saat menengok ke belakang atau ke sekitar tidak ada yang memperhatikan mereka kok. Saat di dalam toko tas branded, saat di toko pakaian dan di tempat makan, semua terasa sama, mereka merasa tengah diperhatikan. "Lo ngerasain hal yang sama?" Tanpa Elsa bilang mereka seperti punya kabel yang tersambung satu sama lain, Angel menjawab dengan sebuah anggukan. Mereka mencoba berpikir positif, setelah makan mereka lanjut jalan lagi untuk berkeliling. Di tangan Elsa sudah ada banyak tote bag yang bergelantungan dan dia juga membawa ice cream cup. "Els …. Kok berada makin parno ya. Gaspol kuy." Perasaan Angel makin tidak karuan, dia pun mempercepat langkahnya. Kedua sahabat ini saling bergenggaman tangan dan berjalan cepat. Sesekali Elsa menoleh tapi tidak menemukan apapun. Mengapa mereka seperti dikejar hantu saja, begitu menyeramkan dan menggemparkan d**a. Elsa mencoba kembali menoleh, ternyata oh ternyata, hantu yang mengikuti mereka adalah Dani, batang hidung pria itu kelihatan juga. "Untuk apa si Dani ngikutin kita?" Duh Elsa merasa sedang diikuti seorang penguntit saja, dia bagaikan seorang artis dan Dani adalah pria penguntit yang gigih dan tidak mudah menyerah. Padahal malam itu sudah dia jelaskan kalau Elsa sudah memiliki kekasih yang baru kan, kenapa masih tetep ngejar-ngejar. "Heh Dani, jangan-jangan dia ngikutin kita dari abis meeting tadi." Angel lupa bilang kalau dia tadi melihat sosok Dani tengah sibuk meeting juga. Dikira bakal lama, eh ternyata mengikuti mereka. "Jangan bilang lo suruh gue gak noleh gara-gara ada Dani tadi?" Tebakan Elsa memang benar. "Iya." Angel mengangguk. Mendengar kata iya dan melihat Dani semakin dekat, daripada pria itu mengejar dan merayunya, Elsa memilih minggat saja. Dia pasang kaki kuda-kuda, kedua tangan semakin erat memegang tali Tote bag. "Kabooorrr!" Dia tidak memikirkan nasib Angel, sahabatnya ditinggal begitu saja. Biarkan saja, orang yang jadi sasaran kan dia, bukan Angel. "Els tungguin gue." Teriak Angel sambil berlari juga. Jalanan saat itu lumayan ramai, sulit bagi Elsa untuk berlari cepat. Gadis ini jadi memilih bersembunyi di kerumunan orang saja, saat dirasa Dani terkecoh, dia mundur bagaikan undur-undur melepaskan diri dari kerumunan orang lalu lewat ke depan-depan pertokoan. Dani menoleh ke arahnya saat Elsa juga menoleh, pandangan mereka jadi saling bertemu. Elsa buru-buru kembali berlari lagi . Saat melewati toko demi toko, ada celah gang sempit dan gelap. Tiba-tiba ada tangan hangat yang membekap mulutnya dan menarik Elsa ke dalam gang gelap dan pengap itu. 'Tolongg …..' gumam Elsa dalam hati. Siapa yang menculiknya saat ini, sungguh jantung Elsa sepertinya ingin copot, air mata pun bercucuran membasahi pipinya. "Tolonggg … hmmpp."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN