Kerajaan Elvano

1066 Kata
“Wuahhh …..” Satu kata yang keluar dari mulut Elsa saat dia masuk ke kasino milik Elvano. Dari tampilan luar saja sudah mewah sekali, bangunan kaca yang terletak di pusat kota, gampang jika mau kemana-mana. Di luar gedung terlihat tinggi hitam dan begitu gagah segagah yang punya gedung ini. Jelas Elsa sangat kagum, kerajaannya di indonesia tidak semewah ini. Sebelum masuk mereka diperiksa dulu, ditakutkan membawa senjata yang membahayakan, karena di dalamnya banyak bos besar dan penjudi ulung. Bagian dalamnya sungguh menyilaukan mata, serba warna warni dan lampu ada di mana-mana, maklum bukan tempat dugem melainkan tempat judi. Semua permainan memiliki banyak warna, sementara alat dominan dari warna hitam dan gold, tembok di situ juga berwarna kuning. Elsa bisa melihat banyak pria sedang main kartu, ada juga yang memainkan bola dan alat, entah apa saja itu, dia tak tahu karena baru pertama kali masuk ke tempat seperti ini. Rata-rata bos besar yang masuk ke tempat ini ditemani gadis-gadis cantik asisten pribadinya masing-masing. “Welcome di tempatku!” Pria ini menyilangkan tangan lalu melebarkannya dan tersenyum pada Elsa, sungguh dia memamerkan kemewahan ini, Elvano yang dilihat Elsa seolah berkata “Ini lho istanaku dan kamu boleh masuk!” Pria ini ternyata bisa pamer juga. “Wuah sungguh keren!” Elsa tak pernah sekalipun masuk ke tempat yang seperti ini, paling club-club malam doang di jakarta, itu pun tidak ada yang sebesar di new york. “Kamu sungguh hebat bisa membangun tempat seperti ini.” Perkataannya ini sungguh membuat Elvano besar kepala. Pria ini menyeringai sambil memperhatikan tatapan Elsa yang begitu mengagumi setiap sudut dari tempatnya ini. “Aku mau buat di indonesia laku tidak, ya? Hmmm.” Gadis ini jadi tertarik buat cassino juga, mungkin di tengah kota jakarta. Punya sampingan bisnis ini mungkin akan jadi tambahan dompet Elsa agar semakin tebal. “Dasar wanita aneh. Ada ya yang ingin buka usaha seperti ini di negaranya yang sama sekali tidak bebas seperti di sini.” Elvano meremehkan, di indonesia setaunya tidak sebebas new york, wanita juga tidak ada yang membangun dan membuka usaha seperti ini, kebanyakan laki-laki dan memiliki penghasilan sangat tinggi. “Apa kau bilang?” tanya Elsa sambil melirik Elvano sinis. “Tidak ada apa-apa.” Pria ini menggeleng. Oh tidak, gadis ini ternyata menyita perhatian, saat dia melirik ke arah kanan dan kiri, di sana-sini banyak bapak-bapak hidung belang yang melirik tubuh Elsa. Gadis berambut hitam panjang ini berkulit putih, mulus, lekuk tubuhnya begitu menawan mengenakan gaun dari Elvano disertai wajah yang begitu cantik khas orang asia, siapa dulu mama dan papanya, kakak-kakaknya juga ganteng-ganteng deh, bukan produk gagal dan layak jadi bibit unggul. Elvano menarik tangan Elsa agar mereka tidak berlama-lama di lantai paling bawah, di situ banyaknya orang main poker dan main mesin judi yang bernama slot online. Rata-rata kaum yang agak jelata tinggal di situ, kaum yang lebih kaya di lantai ke dua dan kaum yang paling kaya raya di ruangan VVIP di lantai tiga. Untuk lantai empat dan lima adalah hotel milik Elvano, tempat para pengunjung beristirahat dan mempersiapkan diri untuk main judi lagi. Tempat ini kan beroperasi dua puluh empat jam, tidak heran jika banyak bos yang menyewa kamar lantaran akan bermain tengah malam atau dini hari. “Ajari aku. Aku ingin bermain seperti mereka.” Elsa menahan langkah kaki Elvano saat menariknya, dia mengaitkan tangan ke alat slot online agar pria itu berhenti. “Aku di sini bukan bermain bukan juga jadi tutormu. Aku di sini untuk bekerja, Nona.” Pria ini tidak mau Elsa lebih lama lagi di ruangan terbuka, nanti banyak pria yang akan menggodanya. “Ayo naik!” Dia tarik tangan Elsa lagi, mereka kini memasuki lift dengan pintu emas. Bahkan tombol-tombol di dalam lift dari emas pula, sungguh menyilaukan mata. Tempat ini sungguh menandakan bahwa Elvano adalah orang yang sangat kaya raya dan sangat berkuasa. Pintu lift pun terbuka di lantai tiga. Elsa pun keluar lebih dulu sambil berucap, “Bos tinggal menyuruh karyawan saja untuk bekerja, apa susahnya sebentar mengajariku?” Dibarengi dengan lirikan sinis lalu berjalan meninggalkan Elvano. “Dia nakal juga!” gumam pria ini pelan. Elvano melirik ke arah kiri dan berteriak, “Hei kamu salah arah!” “Elsa langsung balik badan dan berlari menyusul Elvan, pipi gadis ini memerah disertai sedikit hangat, malu rasanya sudah bersikap sombong eh malah salah jalan. “Tunggu aku!” Mereka melewati lorong kaca, di sisi kanan dan kiri adalah tempat bermain orang kaya, ada juga yang ruangannya tertutup untuk menjaga privasi masing-masing. “Aku perkenalkan dengan segala alat-alat di sini, Nona. Itu ada roulette.” Pria ini menunjuk sesuatu yang sedang dimainkan seseorang. Meja besar yang bagian tengahnya bulat ada gambar angka berwarna hitam dan merah, nantinya berputar dan orang yang bermain akan melemparkan bola, bola itu akan menggelinding dan berakhir di angka keberuntungannya, dimainkan oleh delapan orang yang disebut player dan satu orang yang disebut dealer atau pemandu. Mereka melanjutkan langkahnya kembali. “Kalau itu namanya poker up alias permainan kartu. Ada empat orang yang sedang duduk memegang beberapa kartu dan ada tumpukan uang di depan mereka. “Yang tadi kamu pegang di bawah adalah alat slot online, alat judi online favorit pemain single.” Alat besar yang seperti kulkas, tingginya satu setengah senti meter dan menampilkan layar lebar isinya gambar warna warni, sungguh menyilaukan mata dan pastinya akan membuat Elsa pusing. Mereka berjalan lagi sehingga Elsa bisa lihat ada meja hijau yang bertuliskan banyak angka berwarna gold dan ditaruh bulatan-bulatan uang warna warni ciri khas tempat judi. Benda bulat itu sebagai pengganti uang. “Itu namanya Craps.” Melihatnya saja sudah membuat Elsa pusing, dia tidak suka angka dan banyak warna. “Kalau itu bakarat!” Elvano menunjuk permainan menggunakan meja hijau yang bentuknya oval, satu orang terlihat jadi operator di situ dan beberapa pemain dari ujung kanan hingga ujung kiri sedang saling tatap sambil memegang uang mereka. “Itu black jack.” Hampir sama juga dengan bakarat, bedanya meja lebih kecil, sama-sama menggunakan kartu dan uang palsu, sama-sama punya operator juga atau yang disebut dealer. “Jadi masih minat untuk mempelajarinya? Mau belajar yang mana?” tanya pria ini melirik Elsa sambil menahan tawanya. Elsa terlihat melongo dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mungkin dia merasa semuanya sulit dan butuh waktu lama untuk mempelajarinya. Baru segini, di hongkong lebih bervariasi lagi dan tempatnya lebih besar. “Tidak jadi, lebih baik aku menemani kamu bermain atau bekerja saja!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN