“Kamu ini lapar atau memang suka makan?” tanya Elvano setelah memeriksa luka di kaki Elsa. Benar ternyata kaki mulus gadis itu lecet. Sebagai pria sejati, jelas dia merasa kasihan dan tidak tega melihat kulit mulus Elsa ada yang memerah bahkan memar, ada luka lecet juga yang mengeluarkan darah dan sudah di obati dengan salep. Kalau begini caranya, dia benar-benar akan jadi pembantunya Elsa selama gadis itu di new york, sial. Semua gara-gara karyawannya yang lalai. Kenapa pertanyaan ini yang Elvano tanyakan? Karena dia melihat napsu makan Elsa wow sekali saat menyantap makanan enak, tidak ada jaim-jaimnya.
“Dua-duanya!” Elsa menjawabnya polos. Tidak ada yang namanya diet di kamus Elsa, dia sudah ditakdirkan memiliki tubuh yang indah meski porsi makannya sungguh banyak. More information, anaknya keluarga Ahmad yang banyak makan ya Elsa, beda banget dengan imagenya yang terlihat seperti wanita yang sering diet dan lambat dalam mengunyah makanan. Makannya dia tuh cepat sekali, makan satu mangkuk mie saja habis dalam lima menit. Ini makan steak depan Elvano kurang dari sepuluh menit, belum kawan-kawannya yang lain, ada salad dan makanan berat seperti kentang goreng dan masih banyak lagi. Mantap ya napsu makannya seperti kuli, mungkin kang kuli saja kalah kalau tanding makan bareng Elsa. Gadis ini seharusnya jadi artis mukbang saja, selain makannya lahap dan cepat, bibirnya begitu sexy saat bergerak. Mmmm … pokoknya siapa yang lihat dia sedang makan, yang tadinya tidak selera makan mendadak jadi selera.
“Banyak sekali dan cepat makannya.” Elvano saja belum menghabiskan steaknya. Dia lambat dan tidak terlalu doyan makan, pantas saja tubuhnya sangat sixpack, makannya itu pilih-pilih dan memperhatikan dari segi kesehatan. Bahkan sepertinya Elvano punya karyawan ahli gizi sendiri untuk menimbang berapa kalori, protein dan zat lain yang dia makan, bagaimana sehatnya dan komposisi, bahkan mungkin jam makannya saja sudah diatur. Amazing, beda seratus delapan puluh derajat dengan Elsa yang bisa memakan segalanya.
“Kamu pikir saya tidak kelaparan saat kamu tangkap, hah? Dasar Onta!” Mana ngerti kan orang Amerika dikatai ‘Onta’ Kalau jakarta pasti ngerti. Elsa kesal lah, saat ditangkap kan kurang makan, kurang minum dan kurang tidur. Gadis ini dalam sehari makan itu ada empat kali dan porsinya wah, lalu minum air mineral itu lebih dari dua liter. Dia aktif bergerak dan cenderung sibuk, jadi lemak-lemak yang dia makan boro-boro tertimbun dan menimbulkan kegendutan, yang ada tetep sexy aduhai.
“Apa artinya? Saya tidak mengerti.” Elvano ingin Elsa menggunakan bahasa inggris saja saat berkomunikasi dengannya. Bahasa yang dia gunakan kan bahasa inggris, bahasa asing yang dia kuasai tidak ada.
“Syukur deh dia gak ngerti. Lu si Onta k*****t yang bikin gue tersiksa.” Elsa mengucapkannya pelan sambil mengunyah kentang goreng yang sudah ia lumuri saus. Tatapan Elsa begitu sinis pada Elvano.
“Speak in english, please!” Elvano menghembuskan napas kasar, dia merasa Elsa sedang mengatainya dalam bahasa daerahnya dia. Kan kelihatan sekali wajah Elsa begitu kesal padanya, jadi bisa sedikit ditebak-tebak.
“Begini, gadis yang kau salah tangkap ini memiliki banyak kerugian. Rugi waktu, rugi uang, rugi jiwa dan raga. Kelaparan dan kehausan pula. Coba kalau karyawanmu malah memperkosa saya atau menyiksa saya bagaimana? Jelas tentu anda akan habis di penjara, Tuan.” Kalau di indo, pria ini sudah Elsa hukum habis-habisan dengan bantuan kakaknya Elgio.
“Saya tinggal buang saja mayat anda, anda kan turis di sini.” Elvano jelas menganggap itu hal yang sangat sepele. Mafia yang menjual senjata sepertinya sering terlibat perkelahian yang berujung menghilangkan banyak nyawa, biasanya mayat-mayat itu disembunyikan agar tidak terciduk polisi.
“Anda kira saya tidak punya kekuasaan? Relasi saya di sini banyak juga, Bung. Dua kakak saya juga tidak akan diam saja jika saya tidak ada.” Elsa tak mau kalah, kalau menghadapi orang seperti ini nyalinya tak boleh ciut, yang ada nanti habis dibantai. Jadi harus sama-sama bersikap sombong, sombong aja dulu agar rasa takutnya hilang.
Elvano tidak takut sama sekali dengan ancaman Elsa, sejujurnya dia hanya ingin bertanggung jawab saja atas perbuatannya yang salah tangkap. Dia mengangguk setuju saja mengiyakan apa yang Elsa baru saja ucapkan padanya.
“Mana ponsel dan tas saya?” Elsa mengulurkan tangannya. Dia sudah menghilang satu hari, pasti orang-orang di indonesia sangat mengkhawatirkan kondisinya. Mama, papa dan kakak-kakaknya pasti sudah dalam keadaan tak baik-baik saja.
“Ini!” Elvano menyerahkan tas berisi barang-barang milik Elsa. Pria ini masih punya hati. Kebanyakan Mafia tidak peduli pada lingkungan dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang penting uang dan kekuasaan, dia berbeda, dia lebih perasa.
“Terima kasih! Kau bisa bertugas mulai malam ini, Bung.” Ibu bos yang satu ini sudah punya karyawan berkelas, karyawannya bukan kaleng-kaleng, Mafia iya, punya kasino iya, pemilik perusahaan besar iya.
“Mau pergi ke mana?” tanya Elvano dingin. Dia menelan pil pahit harus jadi pembantunya Elsa. Dalam hati dia berdoa Elsa hanya di New York dua atau tiga hari lagi.
“Ke tempat di mana gadis yang mirip denganku itu mencuri apa yang menjadi milikmu.” Elsa ingin tahu yang dicuri apa dan tempatnya di mana, hitung-hitung jalan-jalan setelah lama dikurung.
“Tidak boleh ke sana.” Mana mungkin Elsa dia ajak ke casinonya. Isinya semua orang-orang yang tengah berjudi, wanita-wanita sexy dan pria-pria buaya darat, sultan-sultan berduit banyak sekali, tapi yang dari kalangan menengah doyan duit juga ada. Semua yang masuk ke tempat casino milik Elvano adalah orang-orang yang mencari hiburan serta mencari peruntungan. Hiburan untuk bermain lewat permainan, melihat gadis cantik dan sexy juga. Mencari peruntungan jika menang, jika kalah ya harus menelan pil pahit kerugian uang lumayan banyak. Di casino orang bermain dengan kecerdasan dan keberuntungan.
“Kenapa? Pokoknya aku mau ke sana.” Bukan Elsa kan kalau tidak kekeh. Menangkap pencuri uangnya saja begitu sadis, berarti uang yang hilang ada banyak dong. Elsa ingin tahu pundi-pundi uang milik Elvano ini dari apa saja.
“Tidak boleh.” Pria ini menjawab Elsa ketus. Kalau kata dia tidak ya tidak, mengapa gadis itu memaksa. Ingin rasanya Elvano kurung lagi wanita bawel yang satu ini.
“Aku marah!” Elsa menyilangkan tangan di depan d**a, dia tidak bisa marah betulan, yang di depannya ini orang galak beneran lho, ngambek pun percuma, kalah kekuasaan dan kalah orang, dia sendiri sedangkan Elvano punya banyak pengawal.
“Aku marah ini!” Marahnya dia lucu pula, cuma bibir manyun lima senti, mana Elvano takut.
Elvano berpikir sejenak, mungkin membawa Elsa ke casinonya bisa menakut-nakuti gadis itu agar tidak mau menjadikan dia tour guidenya lagi, kan lumayan. “Jika kau ingin ke tempatku, berjanjilah untuk tidak menceritakan yang kau lihat dan kau dengar kepada siapapun!” El mengucapkannya serius, dia menyangga dagu dengan kedua tangan lalu menatap Elsa tajam.
“Baik!” Elsa langsung mengangguk antusias, malam ini dia akan jalan-jalan dan bertemu banyak orang. Gadis ini paling suka keramaian dan suka belanja.
‘Yeayyy …. jalan-jalan with cogan dan mengorek bibit bobotnya, kali aja berjodoh dapet orang bule. Eh!’