Dalam sebuah ruangan yang sempit dan pengap. Seorang gadis harus bersabar duduk terikat pada sebuah bangku. Dia sudah merasa pegal berjam-jam duduk dan berdiam diri di sini. Dia biasanya sudah wara-wiri kesana dan kemari, sudah melakukan banyak kegiatan hanya dalam beberapa jam. Di sini mana bisa, tangan saja di ikat kuat.
Jangan tanya keadaan kakinya saat ini, bengkak karena terlalu lama menggantung dan melipat, kelamaan tidak digerakkan. Aliran darahnya juga tidak lancar. Orang lain tidur itu sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia hanya bisa tidur di bangku.
Netranya memang terpejam dan ditutupi kain berwarna hitam, tapi pikirannya tidak bisa tenang. Semua gelap gulita. Pikirannya pun kini tengah membayangkan sesuatu. Kejadian di toko kemarin sebelum dia berada di tempat ini.
“Cewek kunyuk itu. Iya, bule yang ngikutin semua gaya dan semua barang yang gue beli. Orang-orang ini pasti mau nangkap dia.” Elsa membayangkan wanita yang tinggi semampai rambutnya agak pendek dan tidak jauh sexy darinya. Wanita itu membuat Elsa kesal karena meniru stylenya.
“Awas kalau ketemu lagi, gue bikin dia jadi perkedel.” Elsa mengepalkan tangan yang terikat. Dia jadi merasa tengah ada dalam sebuah film. Kalau dia jadi wonder woman, sudah ia jambak dan ia hajar wanita itu sekarang juga. Hmm …. Lama di tempat ini Elsa tak kunjung bisa melarikan diri. Karena matanya tertutup, dia tidak bisa melihat apapun untuk bisa melepaskan diri. Meraba ikatan di tangan saja dan berusaha membukanya cukup sulit. Ternyata melepaskan diri itu tidak semudah yang ada di TV. Jika di novel dan di TV orang-orang yang ditangkap udah cari bantuan dan cari alat untuk melepaskan diri, dia sendiri sulit.
Kalau bisa memutar kembali waktu yang sudah berjalan ini, Elsa akan diam saja di hotel dan tidak akan pergi keluyuran. Elsa pun jadi mengingat momen di pesta. “Cowok ganteng itu. Iya, dia yang waktu itu di pesta. Ganteng-ganteng nyebelin. Awas aja, loe harus bayar semua penderitaan yang gue alami saat ini.” Elsa jadi membayangkan bisa menampar pipi berjanggut si cowok bule ganteng yang menjadi dalang penangkapannya ini.
“Waktu, tenaga gue, dan semuanya itu berharga banget.” Banyak jadwal Elsa yang tidak dia lakukan hari ini.
“Gue kira dia baik. Awas, ya!” Dia kira pria tampan yang ia gunakan untuk jadi pasangan pura-pura itu adalah pria baik.
“Ada sianida kagak di sini, nih? Gue kasih kopi Mirna buat tu cowok biar mampus!” Mendadak dia ingin meracuni Elvano.
Tapi setelah ingat kematian Jesica dia jadi tidak tega meracuni Elvano yang terlihat seperti pria yang masih single, setidaknya beri waktu untuk dia menikah dan punya keturunan dulu baru mati. “Eh terlalu kejam, tar ganteng-ganteng mati sia-sia kan kasian.” Elsa sih masih punya hati, la pria itu tidak punya hati apa, anak orang main salah tangkep, lama pula.
“Hausss …. Laperrr …. Pengen rebahan di kasur yang empuk.” Elsa biar kata langsing begini makannya banyak, dia juga minumnya dua liter dalam sehari. Di tempat ini mau minum saja harus teriak dulu, makan juga belum tentu enak dan bersih, takut diracun, jadi Elsa memilih puasa saja.
Mata Elsa yang terpejam pun kini mengeluarkan bulir-bulir liquid bening dan membasahi pipinya. “Oh Mamih …. Kalau gak maksa ke sini pasti gak bakal kena kejadian kayak gini.” Dia menyesal tidak mendengarkan mamih Arisa dan kakak-kakaknya.
“Takut dibunuh Mamih, Elsa belum kawin.” Jalan hidup Elsa masih panjang, jika harus berakhir sampai di sini, dia belum membuat banyak amalan baik untuk bekal pergi ke surga. Sempat-sempatnya dia membayangkan nasibnya yang belum menikah. Kakak-kakaknya sudah menikah semua, tinggal dia saja yang belum.
“Takut diperkosa orang-orang bule Mamih. Badannya gede-gede bener, pistolnya juga gede kali, yak!” Sempat-sempatnya dia bercanda dan menghibur diri sendiri.
“Hihhh amit-amit.” Dia pun bergidik ngeri membayangkan pistolnya orang luar.
Kalau terus menangis nanti dia tambah lesu, Elsa pun diam berusaha memikirkan caranya untuk bebas. “Sampai kapan dikegelapan kayak gini. Mending kalau gelap di tempat club malam, mabok, makan makanan enak dan joget. La ini pengap, bau, pegel,” keluhnya sambil menggerak-gerakan bangku dan kaki.
“Nah lho pintunya kayak ada yang buka.” Elsa mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. Sepertinya akan ada beberapa orang yang masuk, langkah kakinya terdengar tidak cuma satu orang.
Dua orang pria pun membuka ikatan di tangan dan kaki Elsa, mata Elsa juga kini tak tertutup lagi.
“Anda sudah boleh keluar, Nona,” orang itu ternyata membebaskan Elsa.
“Hahh …. Keluar? Serius?” Saking girangnya lupa tidak menggunakan bahasa inggris.
“Anda bicara apa? Bicaralah dalam bahasa Inggris!” Orang itu berbicara dengan nada tinggi.
“O iya gue lupa.” Elsa menepuk jidatnya lalu bangun walau sedikit lemas yang penting bisa keluar.
“Silahkan ikut saya!” Pria itu menunjukkan jalan.
“Mau ke mana?” tanya Elsa curiga, jangan-jangan ke tempat pembunuhan. Otaknya sudah negatif thinking. Dilepaskan si iya, tapi untuk di bunuh. Wah, wah, wah.
“Ikuti saja saya!” Ini orang juga ngegas, Elsa jadi semakin ketakutan.
“Duh kaki …. Lemes bener.” Saking takutnya jalan pun agak susah, maklum juga kelamaan duduk, telapak kakinya saja bengkak dan sedikit mati rasa. Pas duduk tadi apalagi, sering kesemutan Shay.
“Kelamaan gak dipake jalan.”
Elsa pun keluar dari gedung tua itu dan bisa melihat matahari yang sudah mulai meredup. Oh ternyata sudah mulai sore. “Akhirnya bisa lihat matahari juga.” Apa mungkin yang terakhir atau bisa juga tidak.
Gadis ini dibawa ke dalam sebuah mobil. Penampilan Elsa acak-acakan dan bau sekali, maklum belum mandi-mandi. Ternyata mobil yang Elsa tumpangi berakhir ke sebuah salon yang sepi. Pelayan menyambut kedatangan Elsa ramah.
“Silahkan nikmati waktumu, Nona. Kami akan menjemputmu lagi.” Mendengar kata dijemput, Elsa merasa dirinya masih belum bebas, mau ada drama apa lagi ini, kepala Elsa jadi pening.
“Hahh …. Jadi saya belum bisa bebas?” tanyanya panik.
“Belum. Anda masih dalam pengawasan kami.”
“Hahh ….”
Ya sudah Elsa hanya bisa menghela napas saja. Dia di sini juga dilayani dengan baik. Elsa makan, minum dan bersantai dulu. Dia mendapat treatment spa, creambath, manicure dan pedicur.
“Mau mati aja harus cantik dulu kayaknya!” Elsa geleng-geleng kepalanya, asa iya dia mau dinner.
Gadis ini merasa dilahirkan kembali, lumayan berjam-jam di salon memanjakan diri, keburikan dan bau badan pun hilang. Kulit Elsa lembut dan glowing lagi, bersih dan wangi semuanya.
Kini di hadapan Elsa ada gaun berwarna merah dan petugas itu menyuruh Elsa mengenakannya. Wajah Elsa juga sekarang tengah dirias.
Elsa jadi berpikir cowok ganteng yang menangkapnya itu seorang psikopat. Mungkin dia didandani seperti ini untuk disuntik obat dan dijadikan patung manusia yang cantik.
“Oh tidak!”
Dua orang pria tadi menjemputnya lagi. Keringat dingin dari kening Elsa pun bercucuran, dia takut akan dibawa ke rumah sakit jiwa atau klinik abal-abal untuk disuntikkan racun.
Sayangnya pikiran dia kembali meleset, Elsa ternyata dibawa ke sebuah restoran mewah nan sepi. Waww …. Netranya juga terkagum-kagum saat melihat jamuan romantis untuk dua orang. Pria yang ia anggap jahat itu datang. Mereka bersebrangan dan saling bertatapan.
“Maaf!” Satu kata padat, singkat dan jelas. Elvano tidak suka banyak berbicara dengan seorang wanita, meminta maaf begini saja gengsi.
“Apa? Hanya maaf saja?” Elsa tidak butuh maaf saja. Banyak waktu yang terbuang sia-sia sampai dia saja merasa tersakiti diperlakukan sebagai penjahat. Elsa gadis baik yang cerdas dan serba bisa.
“Aku banyak kehilangan waktu dan uang karena kau menangkapku, Tuan.” Kalau kliennya marah bisa berabe.
“Maafkan kesalahanku dan kesalahan pegawaiku karena kami salah tangkap.” Barangkali kata maafnya kurang jelas jadi Elvano perpanjang dan ucapkan dengan lantang.
“Hmmm …. Lalu kau hanya memberikanku kata maaf saja?” Elsa ingin sesuatu yang lain agar sebanding.
“Kau mau apa sebagai tanda ganti rugi? Katanya banyak waktumu yang terbuang.” Barangkali ingin barang mewah dia bisa belikan, satu toko atau semua toko mahal yanga da di sini.
“Aku? Mau apa?” tanya Elsa bingung sendiri.
“Memangnya apa yang akan kau berikan untukku?” tanyanya lagi. Barangkali ada penawaran yang menarik.
“Uang? Emas batangan? Berlian atau kau mau yang lain?” Elvano kira semua gadis suka akan hal ini.
O ouu …. Sayang sepertinya Elsa sama sekali tidak tertarik. “Cih …. Jika semua yang kau sebutkan itu akan kau berikan padaku, sayangnya itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku alami, Tuan. Kau seperti menghinaku sebagai gadis yang murahan.” Elsa memang ekspresi angkuh dan so jual mahal. Dia ingin dilihat sebagai wanita berkelas.
“Jadi kau mau apa?” tanya Elvano sedikit menantang. Black cardnya sudah siap dikeluarkan.
“Aku punya uang, aku juga punya segalanya. Aku bisa cari hal yang kasu sebutkan sendiri.” Elsa mengucapkannya sambil melirik kuku-kukunya yang cantik.
“Anda realistis sekali, Nona.” Benar juga, Elsa kan pengusaha yangs edang berkunjung untuk urusan bisnis, berarti Elsa juga punya banyak uang. Orang kaya tidak akan tertarik dengan penawaran yang Elvano sebutkan tadi, untuk ukuran orang seperti Elsa, berarti dia bukan gadis yang serakah.
“Jika kau ada di pesta besar waktu itu, berarti kau punya pengaruh besar di kota ini.” Elsa mau memanfaatkan Elvano saja.
“Lalu?” tanya Elvano curiga.
“Aku mau kau mengenalkanku pada bos-bos besar agar aku bisa memperluas pergaulanku.” Dia juga akan memperluas bisnisnya. Lumayan dapat kenalan banyak orang kaya dan dari perusahaan besar, nanti nama Elsa akan semakin dikenal, kedua kakaknya bakal kalah pamor.
“Itu saja. Mudah sekali.” Permintaan Elsa dianggap enteng. Sedetik juga bisa terkabul.
“Oo uu. Tidak itu saja.” Ternyata Elsa masih punya keinginan.
“Apa kau bisa mengabulkan yang aku inginkan itu, nanti kau kabur aku susah mencarimu.” Kan tidak ada jaminan, masa iya Elsa harus menahan kartu identitas Elvano, hellow, ini bukan indonesia, Elvano bisa membuatnya lagi.
“Aku janji. Pria gentle tidak akan lari dari janjinya.” Perkataan Elvano begitu meyakinkan.
“Satu lagi permintaanku.”
“Apa itu?” Elvano anggap yang kedua ini juga mudah.
“Jadi tour guide dan kekasihku selama aku di New York.” Ide gila apa ini? Elsa sepertinya mau mengerjai Elvano.
“Hah …. Kalau itu tidak mau. Masa iya jadi kekasih dan tour guide.” Pikir Elvano, jika itu yang diinginkan Elsa, dia tinggal bayar orang lain saja, tidak usah dikerjakan olehnya sendiri.
“Kekasih pura-pura saja.” Seringai iblis pun terukir di wajah Elsa. ‘Kau menyiksaku, nanti giliranku yang menyiksamu!’ gumam Elsa dalam hati, otaknya sudah memikirkan bagaimana kerennya dia nanti punya pacar orang luar negri yang tampan begini walaupun kilat.
“Mau atau tidak terserah. Itu saja aku masih keberatan untuk memaafkanmu. Tidakkah kau lihat kakiku yang indah bengkak dan lecet karena ulahmu.” Elsa menunjuk salah satu akibat dari penangkapan itu. Kakinya lecet dan sempat kesakitan saat berjalan.
“Baiklah. Aku kabulkan.” Elvano pun mengiyakannya. Dia pikir Elsa tidak akan lama di New Yorknya.
“Kau mau apa?” tanya Elsa saat Elvano malah bangun dan berjongkok di hadapannya.
“Memeriksa apakah omonganmu itu bohong atau tidak.”