Maaf!

1373 Kata
Puk, puk, puk.  Tangan seorang wanita menepuk-nepuk tubuh seorang pria yang masih tidur. Matahari sudah menunjukkan sinarnya, jam di dinding juga sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pria ini tidak kunjung bangun karena semalam dia sudah begadang, pertama karena dia berbincang sangat lama bersama keluarganya, yang kedua karena sang istri mendadak bangun dan mengajaknya untuk sesi bercocok tanam.  “Jangan ganggu Sayang. aku masih ngantuk,” ujarnya sambil menyingkirkan tangan sang istri. Dia semakin erat memeluk guling dan menenggelamkan wajahnya ke celah bantal dan guling. Puk, puk, puk. Ada tepukan tangan lagi. Sepertinya orang yang menepuk ini begitu gigih ingin membangunkan pria ini. Karena gerakan tersebut dirasa mengganggu, pria ini meraih tangan yang dari tadi menepuk pundaknya. Ia kecup tangan itu mesra. “Muahh …. Sini peluk dan temenin bobok lagi aja.” Dia usap-usap perlahan. “Eh kok diusap tangannya berkerut, ya?” Saat mengusap dia rasa ini bukan tangan istrinya, lalu tangan siapakah ini? entuk dan kulitnya berbeda, sama-sama halus, hanya saja kulitnya tidak terasa kencang. “Jadi maksud kamu tangan mamih peot gitu?” Ternyata saat pria ini menoleh yang menepuk punggungnya, yang dia kecup itu tangan mamih Arisa.  “Eh Mamih. El kira Sari. Bu- bu- bukan ngatain tangan Mamih peot kok.” Elgio buru-buru duduk dan meminta maaf, dia tek enak pada Arisa karena tadi bilang tangannya berkerut, kalau tau yang menepuk itu mamih Arisa, mana mungkin dia cium dan usap-usap, pasti langsung bangun takut dikutuk seperti malin kundang. “Maaf!” Elgio tertunduk malu sekaligus takut dimarahi. Nanti kalau mamih Arisa masih sakit hati atas ucapannya lalu diam-diam jadi dendam bagaimana? El bisa dihapus dari daftar anaknya Arisa. “Tidur mulu, sih. Bangun pagi napa.” Arisa menatap Elgio sinis, Sari saja sudah main bersama Jesica dan anaknya di dekat kolam renang sambil berjemur, la dia masih enak-enakan tidur. Hari ini tidak ada jadwal meeting pagi, ada juga di sore hari, pantas saja Elgio santai. Kalau Biyan sudah berangkat pagi-pagi karena ada meeting penting dengan klien dari luar kota. “Ada apa kanjeng Mamih?” tanya Elgio semangat, rasa kantuknya hilang kalau melihat mamih Arisa cemberut begini, bibir Mamih juga monyong lima senti. Arisa duduk di tepi ranjang sambil menyilangkan tangan di depan d**a. “Elsa gak ada kabar ini, El. Udah sehari semalam.” Dia tipikal ibu yang posesif dan khawatiran. Tadinya Arisa sendiri yang ingin mengantar Elsa ke new york, sayang dia tidak diizinkan oleh Arga suaminya. Hati ibu mana yang tidak khawatir ketika anak gadisnya pergi jauh melewati samudra, gunung dan melintasi awan untuk pergi meeting bersama klien. Arisa sudah melarang tapi Elsa tetap bersikukuh, kata Elsa, ini proyek penting dan dia harus bisa mengurusnya sendiri demi membuktikan pada banyak orang jika perempuan itu mampu mengerjakan tugas kantor seperti laki-laki. Elgio mengusap punggung Arisa dan memeluknya erat. Dia tahu betul Arisa sangat khawatir, ekspresi Arisa menandakan bahwa dia tidak baik-baik saja, terkadang seorang ibu itu peka dengan apa yang terjadi pada anaknya jika mengalami suatu hal yang buruk, tanpa diberitahu pun Arisa merasa Elsa sedang dalam keadaan tidak baik. “Dia bukan anak kecil, sih, Mam. Masa harus ditelponin tiap detik, tiap waktu. Yang tenang, ya!” Mana bisa tenang jika Arisa belum mendengar suara Elsa dan tahu sekarang anak gadisnya itu sedang apa. Elsa adalah anak yang kehadirannya sangat dinantikan. Dua kali Arisa mengandung dan melahirkan anak laki-laki, hamil anak ke tiga dia ingin anak tersebut berjenis kelamin perempuan, Arisa tak mau hamil lagi jika yang keluar dari perutnya itu lagi-lagi seorang pria. Beruntung Tuhan memberikannya anak perempuan, jadi lengkap sudah kebahagiaan keluarga mereka, dia punya dua jagoan yang tampan-tampan dan satu orang putri cantik. “Gak ada yang nemenin, sih. Jadi kan mamih khawatir makanya suka ditelponin mulu.” “Dia maksa pergi sih. Sibuk kali, Mam. Mungkin lagi urus klien.” Pikiran Elgio positif saja, tidak negatif thinking, dia juga pengusaha jadi dia tahu seberapa sibuknya kalau seorang pengusaha pergi ke luar negeri untuk mengurus klien. “Cariin sih. Mamih khawatir, nih.” Minimal-minimalnya ada kabar lewat pesan singkat saja Arisa sedikit tenang. New York itu jauh lho, kalau kenapa-napa ke sananya memakan waktu cukup lama. “Baik kanjeng, baik!” Elgio akan menelpon seluruh karyawan terdekat Elsa nanti. “Duh …. Anakku kemana, ya. Semoga gak kenapa-napa.”  * Seorang pria berpakaian serba hitam dengan tubuh yang tinggi kekar berkulit hitam dan kepalanya plontos menyerahkan sebuah berkas untuk dibaca bosnya.  Bos yang berwajah tampan yang sedang duduk santai di ruangannya itu membaca setiap lembar informasi mengenai seorang gadis yang baru saja ia curigai sebagai pencuri. “Jadi dia ini turis yang sedang ada urusan pekerjaan di negara kita ini?” tanyanya padahal sudah jelas selesai baca informasi gadis tersebut. “Betul, Tuan. Dari data dirinya memang begitu. Bahkan tim ada yang menggeledah hotel tempat dia tinggal. Banyak ditemukan berkas-berkas proyek yang tengah dia urus.” Perkataan karyawannya ini membuat dia semakin frustasi.  “Memalukan sekali karena salah kalian, aku salah tangkap.” Setelah ini dia akan memberikan pelajaran pada setiap karyawannya agar lebih berhati-hati dan lebih teliti lagi dalam bekerja. Lawan mereka tampaknya sungguh sulit, makanya bisa salah tangkap. “Tinggal minta maaf dan bebaskan dia saja, Tuan. Hehe.” Meski seram begini wajah pria berkelahiran afrika ini, dia bisa juga tersenyum konyol di depan bosnya. Habisnya dia takut dimarahi, jadi memasang wajah konyol saja agar bosnya tidak tega memarahinya. Beban yang dia pikul berat lho, jika anak buahnya salah seperti ini kan dia yang kena dan yang bertanggung jawab. “Semudah itu? Kalau dia melapor ke kepolisian dan kedutaan bagaimana? Kalau dia juga membenci kita bagaimana?” Pria yang berjenggot tipis ini pun menghela napas sambil menyangga dagunya dengan kedua tangan. Sudah kehilangan banyak uang, kini dia juga salah tangkap orang. Habis ini dia akan kerja mati-matian agar mendapatkan uang sebanyak yang hilang. Orang yang memiliki banyak usaha dan keahlian sepertinya pasti akan cepat mendapatkan gantinya. “Kan dia tidak mengenal kita, Tuan. Membenci kita pun tak apa!” Dia buru-buru mengambil benda gampang pecah dari atas meja, takut jika bosnya kesal lantas melemparkan benda mudah pecah ke kepalanya, lumayan kan rasanya sakit. “Cara meminta maafnya bagaimana? Mana pernah aku minta maaf pada orang lain.” Elvano paling gangsi dengan yang namanya minta maaf, dia jarang melakukan kesalahan pada orang lain, dia tentu juga tidak mau untuk mengakui kesalahannya. Melihat orang yang salah ia tangkap itu seorang gadis yang cantik, dia juga pernah melihat bosnya bergandengan tangan dengan sang gadis dalam acara pesta, pria Afrika ini pun menyarankan sesuatu. “Berikan makan malam romantis dan ajak lihat kembang api saja, nanti ucapkan kata maaf dan semuanya beres.” Dia juga punya modus untuk mendekatkan bosnya ini pada gadis tersebut, dia rasa mereka cocok. Sang bos juga sudah lama tidak memiliki kekasih, yang mendekati itu banyak, tapi yang punya hubungan serius tidak ada. “Semudah itu kah Leon?” tanya Elvano sambil menyipitkan matanya. “Tidak ada salahnya untuk mencoba, Tuan.” Leon mengangguk semangat agar bosnya semangat juga meminta maaf pada gadis yang Leon ketahui bernama Elsa.   Mendadak Elvano tidak berselera jika harus makan malam bersama seorang gadis yang tidak ia kenal, gadis itu juga yang so soan dekat dengannya pada pesta beberapa waktu lalu. “Tapi … lebih baik lepaskan saja dia di jalanan.” Jiwa kejamnya mendadak terbangun. “Jangan Tuan. Kejam sekali pada gadis cantik. Kasihan dia!” Leon buru-buru meyakinkan Elvano lagi agar tidak berbuat kasar pada Elsa, dia sendiri saja tidak berani menyentuh Elsa apalagi menyakitinya, semua anak buahnya saja hanya dia suruh mengikat Elsa dan menjaganya saja agar tidak kabur. “Ya sudah siapkan saja makan malamnya.”  * Seorang gadis kebingungan karena dia sudah dandan cantik dan mengenakan gaun berwarna merah, dia pun disuruh duduk pada sebuah restoran yang sangat sepi, mungkin sudah disewa agar tidak dimasuki pelanggan lain. Seorang pria datang mengenakan jas berwarna hitam berwajah dingin tapi terlihat manis. “Maaf!” Satu kata padat, singkat dan jelas. “Apa? Hanya maaf saja?” tanya gadis ini sambil menatapnya tajam. Kedua tangannya mengepal bahkan ujung kuku jarinya saja sampai memutih. Bagaimana tidak emosi, saat sedang enak-enaknya belanja dan berjalan-jalan, dia malah ditangkap dan disekap oleh orang aneh. “Aku banyak kehilangan waktu dan uang karena kau menangkapku, Tuan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN