***
Mahira membuka matanya perlahan, kemudian menyipit setelah cahaya putih dari sebuah lampu menyambut bangunnya dia. Dengan kepala yang terasa sedikit berat, kelopak mata Mahira terbuka semakin lebar kemudian di detik berikutnya dia tahu di mana dia sekarang berada.
Mahira berada di kamarnya dan Danan. Tanpa perlu mengedarkan pandangan, dia sudah cukup hafal hanya dengan melihat plafon juga cat tembok yang memang cukup khas.
“Mahira, akhirnya kamu bangun, Sayang. Aku lega banget lihat kamu sadar.”
Mahira menoleh perlahan setelah suara berat tersebut menyapa telinganya. Mendapati Danan berjalan mendekat, dia memicing, sementara rasa heran hinggap di dalam hatinya. Tak ada raut wajah marah atau emosi yang meledak-ledak, Danan terlihat begitu khawatir bahkan ketika akhirnya sampai di dekat kasur tempat Mahira berbaring, pria itu duduk dan memberikan usapan di pucuk kepala.
“Aku kaget banget pas kamu pingsan tadi. Aku takut kamu kenapa-kenapa,” ucap Danan yang berhasil membuat Mahira semakin keheranan.
Belum lama ini Danan murka padanya bahkan mengusir dia karena foto-foto yang belum jelas benarnya. Namun, sekarang pria itu justru bersikap sangat baik—seolah tidak ada yang terjadi diantara mereka.
“Aku tadi ketabrak mobil, Mas,” ucap Mahira, sambil mengingat apa yang terakhir menimpanya sebelum tak sadarkan diri. “Badanku mental terus kepalaku kayanya berdarah. Siapa yang bantu dan bawa aku pulang? Kamu?”
“Ketabrak mobil di mana, Sayang?” Danan bertanya dengan senyuman samar yang seketika terbentuk di bibirnya. “Kamu enggak ketabrak apa pun, kamu tadi pingsan setelah dengar ucapan Papa sama Mama soal Luna. Kamu kayanya shock, jadi pingsan.”
“Aku ketabrak, Mas,” ucap Mahira sekali lagi. “Tadi tuh aku sama kamu berantem hebat, terus kamu usir aku pergi dan mau cerai sama aku karena katanya aku khianatin kamu. Aku pergi sambil bawa koper dan … Kamu ngapain, Mas?”
Tak selesai Mahira bercerita, Danan lebih dulu mendaratkan telapak tangannya di kening—membuat dia dilanda heran.
“Kamu kayanya demam, Sayang, jadi ngigau,” ucap Danan sambil menarik lagi tangannya yang sempat terulur. “Tadi pas pingsan, kamu mimpi buruk ya? Kamu mimpi berantem sama aku terus diusir. Iya?”
“Kok mimpi sih, Mas?” tanya Mahira, sedikit mendesah. “Itu nyata. Aku beneran diusir sama kamu, terus kamu bilang mau cerai sama aku karena aku aku selingkuh. Padahal, enggak. Luna juga ngomporin kamu. Dia mojokkin aku dan bikin kamu marah.”
“Luna?” tanya Danan. “Maksud kamu Lunaria Callista?”
“Ya iya, Mas, dia,” ucap Mahira sedikit emosi, karena respon Danan membuatnya kesal. “Istri kedua kesayangan kamu.”
Danan kembali tersenyum dengan raut wajah yang semakin sulit diartikan—membuat Mahira dilanda heran dan bingung. Tak diam saja, Mahira bicara.
“Kenapa wajah kamu kaya gitu, Mas?” tanyanya penasaran. “Ada yang salah sama ucapan aku?”
“Pingsan lama kayanya bikin otak kamu error deh, Sayang,” ucap Danan. “Luna memang jadi perempuan yang dipilih Mama sama Papa buat jadi istri kedua aku, tapi aku sama dia belum nikah. Jangankan nikah, jawaban aja belum aku kasih karena kamu keburu pingsan. Coba deh kamu ingat-ingat lagi. Ini kayanya pas enggak sadar, pikiran kamu kemana-mana. Jadi ngaco.”
Mahira diam dengan perasaan yang semakin tidak mengerti. Sambil memandang Danan, dia coba menebak-nebak apa yang terjadi pada dirinya sebelum ini karena di dalam ingatan, Mahira ingat betul jika sebelumnya dia diusir dan tertabrak mobil. Tak hanya itu, Mahira juga masih ingat sosok Jenia yang mendoakannya mati agar tidak mengganggu kebahagiaan Luna dan Danan.
“Apa kamu perlu waktu sendiri?” tanya Danan—membuat lamunan Mahira buyar. “Kalau kamu mau sendiri, aku bisa tunggu di luar, tapi kamu harus panggil aku kalau ada apa-apa. Soal Luna, nanti kita bahas lagi setelah kamu membaik. Ya?”
“Ya udah.”
Danan tersenyum lalu setelahnya beranjak dari tepi kasur. Tanpa melunturkan senyuman, pria itu berbalik. Namun, belum sempat dia melangkah, Mahira memanggil—membuat Danan menoleh.
“Mas.”
“Ya?”
“Sekarang tanggal berapa?” tanya Mahira. “Sekalian tahunnya juga.”
“Kok tiba-tiba nanya tanggal?” tanya Danan. “Ada apa?”
“Jawab aja, aku mau tahu.”
“06 Juni 2023, Sayang, hari selasa,” jawab Danan—membuat kedua mata Mahira membulat sempurna, sementara isi pikirannya mendadak penuh. “Kenapa?”
“Enggak,” jawab Mahira. “Kamu boleh keluar. Aku mau sendiri.”
“Oke.”
Tanpa banyak bicara, Danan melangkah menuju pintu kemudian pergi meninggalkan kamar juga Mahira yang masih diselimuti rasa bingung. Tak terus berbaring, dia beringsut sambil berusaha mencerna apa yang terjadi pada dirinya.
“Ini aku kembali ke masa lalu apa gimana ya? Kok bisa-bisanya ada di 06 juni 2023? Padahal, Mas Danan dan Luna udah dua tahun menikah,” tanya Mahira pada dirinya sendiri. “2 juli 2023 tuh Mas Danan sama Luna menikah. Dia akhirnya menerima perjodohan setelah diancam sama Mama dan Papa.”
Mahira merenung sambil berusaha mencerna apa yang terjadi padanya. Namun, seberapa lama pun dia berpikir, Mahira tetap tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kembali ke masa lalu? Mahira pikir hal tersebut hanya terjadi di dunia novel, tapi ternyata dia mengalami hal tersebut sekarang, dan rasanya seperti mimpi.
“Aku harus gimana sekarang?” tanya Mahira, masih saja kebingungan dengan apa yang terjadi. “Aku enggak ngerti maksud dari semua ini tuh apa, dan—”
Ting!
Tidak selesai Mahira bicara, bunyi singkat dari atas meja lebih dulu terdengar—membuat dia spontan menoleh. Mendapati ponselnya di sana, Mahira mengulurkan tangan secara perlahan kemudian mengambil benda pipih miliknya itu. Mendapati satu pesan masuk, Mahira membukanya dengan rasa penasaran yang menyelimuti hati. Bukan dari orang yang dia kenal, pesan di ponsel Mahira dikirim oleh nomor baru yang memiliki format cukup aneh.
(Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, Mahira. Apa yang terjadi pada kamu sekarang, anggap saja balasan untuk segala rasa sakit yang kamu terima. Takdir memang tidak bisa diubah, tapi manusia terkadang bisa mengubah nasibnya. Jadi pergunakan kesempatan ini untuk memperbaiki alur hidup kamu, karena kamu berhak bahagia. Goof luck!)
“Ini siapa?” tanya Mahira heran.
Tak diam saja kemudian larut dalam penasaran, Mahira coba menelepon nomor yang mengiriminya pesan. Namun, alih-alih terhubung, nomor tersebut justru tak bisa dihubungi—membuat Mahira kembali diam sambil mencerna semuanya.
“Kesempatan kedua,” gumam Mahira, mencerna pesan teks yang belum lama dia terima. “Apa itu artinya aku bisa ubah nasibku termasuk pernikahan Mas Danan sama Luna?”