18. Pinta Shopia

1569 Kata
Dengan telaten Hendrik menemani Audy belanja dengan mendorong troli di belakang. Audy tidak hentinya meminta pendapat Hendrik tentang bahan makanan yang akan ia ambil, sayangnya Hendrik yang tidak tau menahu tentang bahan masakan hanya bilang terserah saja. Troli sudah terisi penuh, saatnya antri untuk membayar. Mbak kasir menatap Hendrik penuh dengan kagum bahkan ia sampai salah tingkah saat menatap Hendrik, Audy menyadari itu, ada rasa dongkol dalam hatinya entah itu karena cemburu atau hanya ilfil saja melihat tingkah mbak kasir yang berlebihan menatap mantan suaminya itu. Audy langsung menggeser tempat berdirinya Hendrik, ia mengambil alih pekerjaan Hendrik yang sedang membayar di kasir. " mbak kalau bisa jangan bawa suami tampannya di tempat umum seperti ini ya..." salah satu bisik ibu ibu dari belakang Audy. Audy hanya tersenyum enggan untuk menanggapi meskipun itu mengurangi rasa sopannya pada orang yang lebih tua. Usai membayar Audy langsung meninggalkan Hendrik serta belanjaannya. " kamu kenapa sayang " tanya Hendrik saat dalam mobil " gak papa." " kamu cemburu ya tadi." " gak." elak Audy dengan cuek. Bahkan ia sendiri bingung dengan perasaannya sendiri. Hendrik menghelah nafasnya sebelum melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan Audy enggan untuk bicara walau sepatah kata, Hendrik pun diam takut salah bicara nantinya sampai mobil masuk ke dalam halaman rumah Mahameru. " Bunda..." panggil Raeno dengan riang saat melihat Bundanya datang bersama ayahnya. Audy merentangkan tangannya menyambut pelukan dari sang anak. " Laino kila bunda bohong, tapi syukullah akilnya Bunda pulang sama ayah " ucap Reino penuh dengan gembira. " mana mungkin Bunda bohong sama anak tampan bunda sendiri." Audy menggendong Reino dan mencium pipi kanan kirinya secara bergantian. Dari belakang Héndrik membawa dua kantong plastik yang berisi bahan masakan, Shopia hanya melihat Tampa ada komentar. Namun dalam hatinya ia merasa senang saat ini. " Ayah bawa apa Bun ?." tanya Reino " Ayah bawa belanjaan Bunda untuk masak buat Reino nanti malam." " benalkah Bun." Audy pun mengangguk. Audy tidak lupa mencium tangan mantan mertuanya itu. Hendrik dan Shopia sedang menemani Reino bermain bersama Vanilla, sedangkan Audy berkecimpung dengan bahan masakan dan peralatan di dapur di bantu dengan salah satu pelayan di rumah Mahameru. " Mungkin ini saatnya kamu menebus kesalahmu Hen, dan mamah bisa berlibur menikmati hari tua mamah." ucap Shopia masih fokus dengan majalah di tangannya. " apa mamah sekarang sudah merasa tua." goda Hendrik. Shopia menutup majalahnya dengan kasar, menatap elang pada anak sulungnya. Tidak biasanya Hendrik nyengir kuda seperti itu, Shopia merasa anaknya satu ini sudah bisa mengalami perubahan saat menemukan kembali mantan istri yang di sia siakan dulu. " mamah masih awet muda kok," goda Hendrik lagi. Audy melihat senyum Hendrik yang terlihat berkarisma saat ini, sampai ia tak sadar bahwa tangan mengangkat panci tanpa alas. Ia merasa panas pada jarinya " Astaga apa isi otak ku sekarang ini. " gumamnya pelan " nona tidak apa ? biar bibi saja yang melanjutkan nona istirahat saja dulu." ucap salah satu pelayan yang membantu Audy. " gak apa kok bi, aku hanya kurang fokus saja." " kurang fokus melihat senyum tampan Tuan muda ya non." goda sang pelayan " Apaan sih bi." Audy merasa malu karena tertangkap basah sedang memandangi Hendrik tadi sampai lupa mengangkat panci tanpa alas tangan. Makan malam pun tiba, Audy yang selesai mandi sudah di tunggu Héndrik di sofa kamar. " Ayo." ajak Héndrik. " aku mau ganti pakaian dulu kak, ini bau dapur tadi pas masak." " kamu ganti saja, di almari masih ada pakaian kamu. Aku tunggu di meja makan ya. Jangan lama nanti pada pingsan nunggu kamu ganti baju " goda Hendrik " sampai pingsan apa aku ganti bajunya di Malioboro apa ?." Audy tidak mau kalah untuk bercanda. Tanpa Audy sangka Héndrik mencium keningnya, " aku tunggu di bawah sayang " Deg Tiba tiba jantung Audy terasa bekerja lebih dari tugasnya, tubuhnya terpaku pandangan matanya tak lepas sampai Hendrik benar benar menghilang di balik pintu kamar. Audy menekan dadanya agar jantungnya aman tidak keluar dari tempatnya. " sadar Audy, jangan gampang terpesona dengan mantan mu satu ini." Anggap saja Audy saat ini seperti orang gila karena bicara sendiri. " wah Laino suka semua masakan Bunda." seru Raeno senang usai mencicipi semua masakan Audy Audy mengusap sayang rambut anaknya " ini semua bunda masak untuk Reino sayang." Shopia mengembangkan senyum cantiknya di usia yang sudah tidak muda lagi. Usai membersihkan sisa sisa minyak di bibirnya ia meminta semua anaknya kumpul di ruang tengah sambil menunggu Anna dan suaminya yang belum datang. Audy tidak tinggal diam, ia membantu para pelayan untuk membersikan meja makan. " tidak usah nona, biar kami saja. Nona susul nyonya sama tuan Hendrik saja." ucap bi Yati pelayan paling senior di keluarga Mahameru. " tidak apa bi, toh masih menunggu Ana belum datang juga kan." jawabnya dengan sopan meski tanpa melihat bi Yati karena tangannya yang sibuk membereskan meja makan. " sungguh berlian yang di sia siakan den Héndrik dulu, pantas saja Den Hendrik menyesal sekarang. Sudah cantik baik sopan lagi." gumam bi Yati saat Audy membawa piring kotor ke dapur. " sayang." panggil Hendrik " Saya sudah melarang Nona Audy den, tapi masih ngotot buat bantuin Bibi." ucap Bi Yati yang setengah takut jika tuan mudanya itu marah karena mantan istrinya ikut mengerjakan pekerjaan pelayan. " tolong bilang suruh ke ruang tengah ya Bi, Ana sudah sama Aska sudah datang." pinta Hendrik " memang bilang sendiri tidak bisa apa, pakek nyuruh Bi Yati yang bilang." sahut Audy keluar dari dapur Héndrik langsung menggandeng tangan Ana tanpa banyak bicara. Semua sudah kumpul di ruang keluarga, Shopia duduk di antara kedua cucunya di kursi paling ujung. Sebelah kanan Hendrik dan Audy sebelahnya lagi Aksa dan Anna di kursi kiri ada Hardin dan si crewet Elsa. " Tumben ada apa Mah." tanya Hardin penasaran. " Mamah besok mau liburan ke Mahatam, menikmati masa tua mamah dulu. Selama ini anak yang paling Mamah khawatirkan masa depannya sudah bisa mamah lihat ia mulai menemukan kebahagiaannya lagi. Audy tinggallah sementara di sini, beri kesempatan kedua untuk anak mamah. Biarkan dia menebus kesalahannya dulu, setelah itu jika kalian ingin kembali rujuk dengan senang hati mamah akan mempersiapkan pernikahan klian lagi. Untuk kamu Aska, mamah sudah memesankan tiket bulan madu lagi dengan fasilitas dokter ahli kandungan di Paris saatnya kamu berusaha lagi dengan istrimu, jangan pekerjaan terus yang kamu pikiran. Sementara pekerjaan kamu bisa kamu percayakan pada kakakmu Hardin dan Bagas. Kamu mengerti Aska." Aksa pun mengangguk. " Dan kamu Sa... lebih fokuslah merawat Anakmu Vanilla, tugasmu sebagai istri yang utama adalah melayani suami dan mengurus anak bukan mengutamakan pekerjaan terus. Lihat anakmu lebih dekat dengan Anna di bandingkan dengan kamu ibu kandungnya. Kamu mengerti kan Elsa." Elsa juga mengangguk " tapi Mah, di kantor banyak sekali yang ganjen sama Hardin. Kalau Elsa tidak jadi sekertaris pribadinya bisa di pastikan akan banyak pelakor di sekeliling Hardin " bukan Elsa namanya kalau tidak bisa jawab meskipun kepalanya sudah mengangguk. Hardin menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia menjawab petua dari mamahnya sedangkan anak anaknya saja diam dan manut. " Astaga Bunda, masih marah dan curiga masalah tempo hari hah. Sumpah Bun, Ayah tidak tau Masalah itu." entah apa yang terjadi tempo hari di kantor sampai cemburu Elsa di bawa bawa ke rumah beberapa hari ini. " Memang apa yang di lakukan suamimu di kantor Sa." tanya Shopia penasaran " itu Mah kemarin di kantor sekertaris magang mencoba merayu Hardin waktu Elsa lagi di suruh Hardin keluar kantor. Apa itu bukan sebagian rencana mereka." jelas Elsa " Benarkah itu Din." Hardin menggeleng kuat pertanyaan mamahnya. " Hardin berani bersumpah mah kalau itu rencana Hardin, si Beo dari sekarang sampai Hardin tua tidak akan tegak pada dasarnya seperti yang di ucapkan dalam undang undang kejantanan." sumpah Hardin berhasil membuat pusat perhatian semua anggota keluarga sampai kedua anak kecil pun berfikir berbagai pertanyaan Dengan apa yang di ucapkan Hardin baru saja. " Ayah apa Ayah punya Bulung Beo di lumah." tanya sang anak. " Ada La, cuma saja Illa tidak tau kan " jawab Hardin jujur. " Ayah diam, jangan membuat anak kita tercemar ucapan kotor Ayah dengan asumsi yang tidak ada juntrungannya." bentak Elsa tidak mau anaknya banyak bertanya dengan hal yang belum seharusnya di ketahui anaknya. " wah ... om Haldin punya Beo. Asyik besok aku pulang sekolah ke lumahmu belsama Bunda ya La." seru Reino senang. Hardin pun memukul keningnya sendiri sudah di pastikan ia akan mencari burung beo sungguhan besok untuk kedua bocil yang banyak sekali ingin tahu itu. " makanya kalau bicara di lihat dulu kondisi dan keadaannya Din." ucap Shopia. " ya Mah mulai malam ini Audy akan tinggal di sini besok akan Hen ambil semua barang barangnya di kost. Lagian sekarang tugas Audy hanya untuk mengurus Reino dan menikmati fasilitas yang Hen punya." ucap Hendrik " loh, kamu sudah tidak bekerja Lagi Audy." Audy menggeleng " tidak Mah, kak Hen sudah mengeluarkan Audy dari perusahaan Rajaksa." jawabnya jujur " Besok kan Ana sudah mamah pesankan tiket nih, jadi malam ini Reino dan Vanilla tidur di rumahku ya Kak. Biar besok Ana yang antar mereka sekolah." pinta Ana pada kedua kakaknya. " Dengan senang hati Ana." Elsa dengan senang hati jika anaknya di bawa, jadi ia bisa indah indahan bersama suaminya siapa tau jadi adik untuk Vanilla. " Elsa..." tegur Shopia " Lah kan Ana sendiri yang minta mah, masak Elsa gak kasih izin sih." Akhirnya semua pun pulang ke rumah masing masing, Vanilla dan Reino ikut Ana pulang. Audy tinggal di rumah Mahameru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN