19. Cemburu kah ?

1540 Kata
Hendrik hanya mengamati saja tingkah mantan istrinya yang sekarang sekamar lagi dengannya, ada rasa menahan tawa yang hampir saja tidak bisa ia tahan. Menurutnya saat ini Audy sangat konyol seperti seorang gadis yang sedang bingung satu kamar dengan pria padahal mereka kan mantan suami istri. Matanya terpejam pura pura untuk tidur, seandainya Audy bisa lebih diam sedikit mungkin Hendrik akan benar benar tertidur karena lelah. ranjang tempat mereka tidur terus saja bergerak karena ulah Audy. Audy POV Sungguh malam ini aku terlihat sangat bodoh di depan mantan suami ku, bukan malam ini saja tapi dari tadi siang saat aku di jemput dari kantor dan meresign aku dari kantor Rajaksa. Mantan suami ku ini terlihat sangat tegas saat berbicara, di berucap seakan tidak bisa di jawab oleh lawan bicaranya. Usai dari kantor aku berinisiatif mencari bahan obrolan dengannya, aneh bukan. Aku mengajak dia ke salah satu supermarket terdekat sebelum pulang ke rumah mamah Shopia. Ah mamah, sekian tahun aku baru ini memanggil mamah Shopia dengan sebutan mamah lagi. Entah kenapa ya hati ku terasa dongkol saja melihat Mbak mbak kasir dengan mata nakalnya memandang suamiku eh mantan suamiku maksudnya. kan aku belum rujuk dengannya, hanya saja kita lagi di fase mencoba mengulang dengan alasan kak Hen mau menebus kesalahannya. Mungkin rasa dongkolku tadi siang menunjukkan kalau aku sedang cemburu. Tapi biarlah toh Kak Hen juga gak protes sama rumah. Ini lagi saat aku memasak bareng Bi Yati dan pelayan lainnya malah aku salah tingkah sendiri melihat Kak Hen yang sedang mengobrol sama mamah. Beh melihat senyumnya yang begitu natural membuat jantung ku berirama disko. Sampai aku gak sadar mau angkat panci sayuran tanpa alas tangan. Duhhh malunya aku saat Bi Yati menangkap basah aku sedang menatap Kak Hen. Selain dengan Kak Hen aku juga merasa Senang sekali bisa dekat dengan pangeran kecilku Reino Mahameru. Bayi kecilku yang di rebut kak Hen dulu sekarang sudah mulai pintar dan tumbuh dengan sehat. Tapi sayang dianya lebih memilih bermalam di rumah Anna dengan Vanilla karena Anna besok sudah berangkat honeymoon yang ke sekian kalinya dengan sang suami. Ya semoga saja honeymoon plus terapi kali ini Anna berhasil mendapatkan momongan sendiri. Tadi saat usai makan malam mamah memintaku untuk sementara tinggal di sini, dengan alasan yang sama. Aku tau mungkin mamah memberikan aku waktu dan kondisi agar aku lebih punya banyak waktu bersama kak Hen. Mamah sih menyarankan agar aku rujuk kembali tapi entahlah biar waktu yang bicara toh aku baikan sama kak Hen kan baru baru ini saja. Malam yang mencekam bagiku saat ini, padahal tidak juga horor berhantu kamar ini tapi kenapa aku merinding ya... Malam menakutkan kah, tapi aku tidak tidur dengan binatang buas malam ini tapi kenapa aku malah ketakutan ya... pengen ketawa saja aku, mata ku kantuk tapi tidak bisa tidur. Efek apa ini namanya... Bolak balik aku memutar tubuhku karena kurang nyaman saja, padahal yang aku tiduri saat ini ranjang mahal dengan harga fantasi senilai mobilku. Aku melirik sampingku, ternyata kak Hen sudah menutup matanya. Syukurlah sepertinya dia sudah tertidur. Aku mendudukkan tubuhku menghadap Kak Hen. Aku amati lekat lekat lekuk dan bentuk wajahnya. Sangat tampan sungguh tampan. Wajahnya tidak sedikit pun berubah dari dulu masih tampan, dengan bulu halus mengelilingi rahang tegasnya. Matanya yang sayup namun lebar, hidungnya yang mancung, bibirnya yang terlihat seksi bagian bawah. Dengan tidak ada rasa takutnya tanganku mengusap sebelah pipinya. " andai kak Hen bersikap baik dari dulu mungkin cinta itu tidak akan pernah hilang." ucapku lemah Kembali lagi aku mengingat kenangan dimana mantan suamiku ini menyakitiku dulu. Dadaku kembali sesak, aku lepaskan usapan tangan itu dan tiba tiba aku di tarik karena tidak ada keseimbangan akhirnya tubuhku jatuh pas di atas d**a Kak Hen. Tubuhku di peluk dengan kasih sayang, pucuk rambutku di belai dan dicium. " maafkan aku Audy." ucapnya pelan namun aku sangat jelas mendengar Aku mencoba menggerakkan kepalaku namun di tahan lagi di dadanya. " tolong seperti ini dulu, 5 menit saja." pintanya Aku pun diam mengikuti apa yang ia mau. Aku melemaskan otot otot kelapaku yang aku tahan tadi Sampai di mana aku mulai tak sadarkan diri tidur di atas d**a mantan suamiku. Author POV Matahari pagi sudah menembus di sela sela gorden kamar, Audy menyempurnakan kesadarannya dengan silauan cahaya pagi. " selamat pagi sayangku " ucap pria yang membuat Audy kaget. Ia kembali menyempurnakan kesadarannya, Audy menepuk keningnya. astaga aku semalam benaran tidur di atas d**a kak Hen. batin Audy. " Bagaimana tidurnya nyenyak sayang." Hendrik yang sudah rapi siap ke kantor pun duduk samping Audy yang masih bermuka bantal. Audy merasa malu mengingat kejadian semalam, tapi biarlah kan mantan suaminya yang minta sedangkan ia memang sudah benar benar mengantuk. Audy langsung berdiri dari ranjang siap siap ke kamar mandi, mencari handuk yang belum ia temuakan. " ini, cepat mandi kita sarapan bersama setelah itu antar mamah ke bandara." Hendrik memberikan handuk bersih dari lemari pada Audy. Tanpa basa basi Audy langsung menyambar handuk itu dan masuk dalam kamar mandi, rasa malu akibat semalam dan ia tidak bisa menunjukan wajah bantalnya pada mantan suaminya itu. Melihat tingkah Audy Héndrik hanya mampu menggeleng kepala dan tersenyum senang. " akhirnya sekian tahun yang aku tunggu sudah terlihat di depan mataku Audy. Hal yang selama ini aku tunggu adalah melihat muka bantal setelah kamu bangun tidur. batin Hendrik. ======= Sudah 15 menit Audy menunggu Reino dan Vanilla yang tak kunjung keluar dari sekolahan. Mata Audy terus mencari keberadaan anak dan keponakannya itu di antara anak anak yang keluar. " hai Audy..." sapa pria dari belakang tubuhnya. Audy pun kaget bagaimana bisa mantan bosnya itu sampai di sekolahan anaknya. " Pak Juna." sapanya balik dengan gaya setenang mungkin. " bagaimana kabarmu sayang." Juna dengan kurang ajarnya membelai rambut Audy di tempat umum. " Sudah seminggu kita tidak bertemu kamu terlihat semakin cantik." Audy menepis tangan Juna dari rambutnya. " jangan kurang ajar pak , ini tempat umum saya bisa saja teriak kalau saya mau " ancam Audy. " owww takut." Juna dengan ekspresi yang di buat buat. " Bunda..." teriak Reino dan Vanilla bersamaan Kedua bocah itu langsung berlari dan memeluk tubuh Bundanya. Tanpa menunggu waktu, Audy langsung Mengajak masuk kedua bocah itu dalam mobil. Juna melambaikan tangannya, " sampai jumpa lagi cantik." kemudian memberikan cium jauh untuk Audy " itu siapa bunda." tanya Reino " orang gila sayang, bunda saja takut." " kalau Olang gila kenapa tidak di lumah sakit jiwa saja Bunda." kali ini Vanilla yang angkat bicara. " kabur dari rumah sakit mungkin sayang." Jawab Audy asal saja. Entah apa dan kenapa kedua bocah itu malah ketewa mendengar jawaban Audy, akhirnya Audy juga ikut tertawa mengimbangi mereka. " kita cari makan dulu ya sayang, bunda belum masak buat makan siang. nanti bunda masak nunggu Ayah pulang saja." usul Audy dan kedua bocil itu setuju dengan restoran pilihan Vanilla. Seminggu ini Audy benar benar merawat Reino dan Vanilla dengan baik menggantikan posisi pekerjaan Anna biasanya. Vanilla juga semakin dekat dengan Audy di bandingkan dengan bundanya sendiri yang sibuk menjadi sekertaris pribadi suaminya di kantor, tidak hanya di kantor, di rumah juga ia sebagai pengawal pribadi suaminya sampai sampai ia lupa tugasnya menjadi seorang ibu untuk Vanilla. Sambil menunggu pesanan mereka yang belum datang, Reino mengajak Vanilla bermain sebagai fasilitas di restoran itu. Mata Reino tidak sengaja menangkap sosok ayahnya yang sedang berjalan di pusat perbelanjaan depan restoran tempat mereka. Reino ingin memanggil namun ia urungkan, hatinya sakit dan kecewa melihat ayahnya sedang berjalan di gandeng oleh wanita yang ia kenal dan ia benci juga. " Ila ayo balik." ajak Reino pada adiknya " ayo, aku juga sudah lapal kak." Vanilla berlari kecil mengikuti Reino yang telah lebih dulu jalan ke arah Bundanya. " ye... makanannya sudah datang, ayo makan. Kita berdoa dulu ya sayang " Seru Audy saat makanannya sudah datang. " Leino tidak lapal Bunda. ayo pulang." tiba tiba wajah Reino terlihat kecewa dan sedih. " kenapa sayang." " iya ini kakak kenapa sih." imbuh Vanilla " pokoknya Leino minta pulang Bunda." jawab Reino tegas seakan menahan marah. Gestur wajahnya persis sekali seperti Ayahnya ketika menahan marah. Audy jadi bingung kenapa. " kalau gitu di bungkus saja ya sayang kita makan di rumah saja." " tidak." bentak Reino lagi dengan suara yang makin meninggi Akhirnya Audy dan vanilla mengikuti keinginan Reino yang tidak mereka mengerti alasannya berubah seperti itu. Reino melihat tangannya di d**a, berjalan mendahului Bunda dan adiknya di belakang. Baru saja mereka keluar dari sana mata Audy tidak sengaja juga melihat Hendrik sedang berjalan ke parkiran dengan wanita yang ia kenal. Dadanya terasa sakit, mungkin itu yang di namakan cemburu. Langkahnya terhenti, dadanya terasa sesak. Sekian detik ia mengeluarkan nafasnya dengan kasar. Ia mencoba menetralkan isi dalam hatinya, kembali berjalan menggandeng vanilla dan ia langsung memeluk Reino. Mungkin itu sebab perubahan Reino di dalam restoran tadi, ia baru sadar tidak hanya dirinya yang sakit hati tapi anaknya juga. Ia memeluk erat tubuh Reino sebelum masuk mobil. " Bunda maafkan Leino ya sudah bentak bunda tadi." pinta Reino dengan penyesalan. " tidak apa sayang. Ayo kita pulang " Siapa dirinya untuk cemburu, ia hanya mantan istri. Mantan tidak lebih, kebaikan Hendrik semata mata hanya ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Audy mencengangkan kuat setir mobilnya sebagai rasa pelampiasan agar air matanya tidak jatuh di depan anak anak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN