20. Memang Salah Hendrik

1536 Kata
Sudah pukul 8 malam Hendrik tak kunjung tiba di rumah, dan tidak ada sedikitpun Audy berniat menghubungi ayah dari anaknya itu. Dia hanya berfikir tidak ingin mengganggu kebersamaan Hendrik dan juga kekasihnya itu. Usai makan malam Vanilla sudah ikut pulang bersama orang tuanya, tinggal Audy dan Reino di rumah. Terasa sepi karena sebagian pelayan sudah di berhentikan oleh Shopia, Bi Yati kepala pelayan juga di istirahatkan ke kampung sementara waktu karena Shopia sedang berlibur. Bukan hanya Audy yang belum bisa tidur tapi Reino juga, bocah usia 5 tahun yang cerdas itu masih bermain laptop sedangkan Audy menemaninya dengan bermain ponselnya entah siapa yang ia w******p. " Bunda gak tidul." tanya Reino " Bunda belum mengantuk sayang." Audy menggeleng Terlihat jelas helaan nafas Reino seperti orang dewasa yang sedang kecewa. Ia kemudian menutup laptopnya. " ayo tidul bunda. Lei sudah mengantuk." ajaknya agar sang bunda melupakan kejadian tadi siang. Audy meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian tidur di samping anaknya. Sekian menit mereka terdiam sama sama belum bisa memejamkan matanya. " Bunda hali libul nanti kita ke rumah nenek di Bandung ya... Lei pengen ketemu nenek sama om sama Tante di sana. Pasti di sana enak ya Bunda, Lei di sana punya saudala kan bunda." Reino mencoba mencari topik pembicaraan agar tak saling diam. " ya sayang, bunda janji kalau Reino sudah liburan kita kesana. Di sana ada kak Raya anak pakde Aldi sama budhe Nadya dan nenek Marnia." " oh nenek Leino namanya Marnia, jadi gak sabal pengen cepat cepat libulan ke sana bunda. tapi Pakde sama budhe itu siapa bunda." Reino yang tidak tau pun mulai banyak tanya. " pakdhe itu sebutan dari kakak laki laki Bunda sayang, dan Budhe itu istri dari pakdhe. " Reino pun mengerti " jadi pakdhe itu laki laki dan Budhe itu pelempuan ya Bunda. Berarti saudara Leino di sana namanya kak Laya." " ya sayang, ayo tidur sudah malam." Audy pun memeluk Reino di balik selimut dan tidak lama merekapun terbawa ke alam mimpi. Héndrik tiba sampai rumah tidak mendapatkan Audy di kamarnya, ia segera mencari ke kamar anaknya dan ternyata benar di sana Audy sudah tertidur pulas dengan anaknya. " maaf Audy aku pulang telat tidak memberimu kabar dan maaf Reino Ayah pulang telat malam ini " Hendrik mencium kening Audy dan Reino secara bergantian. Setelah membenarkan letak selimut mereka, Hendrik ke kamarnya untuk membersihkan diri kemudian istirahat. Sehilangnya tubuh Hendrik dari balik pintu, Audy membuka matanya. Tidak terasa air mata itu lolos dari kelopak matanya, entah sakit hati cemburu atau menyalahkan dirinya sendiri yang tidak sadar akan posisinya saat ini. Pagi ini Audy bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal buat Reino dan Vanilla, dan juga sarapan. Yang jelas Hardin dan Elsa setiap harinya akan sarapan di rumah Mahameru sebelum berangkat ke kantor sekalian mengantar Vanilla berangkat sekolah bersama Reino dan Audy. Semua sudah siap di meja makan, saat Audy membantu Reino untuk persiapan sekolah. Sampai di kamar ternyata anak tampannya sudah rapi tinggal memakai sepatu saja. " wah anak Bunda sudah tampan, pintar mandiri sekali." Ucap bangga dari seorang ibu yang sekian tahun baru di pertemukan Kemabli dengan anaknya. " ya donk bunda, cara Tante Ana merawat Leino setiap hari yang sepelti ini. Huh... jadi kangen sama Tante Ana." " Doakan saja biar Tante Ana cepat dapat adik baru buat Reino biar Tante Ana cepat pulang ya sayang " Audy berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Reino. " itu sudah pasti Bunda, sekarang Bunda mandi sana. Bau dapur." Reino pun tertawa setelah mengatai Bundanya. Saat sarapan terasa canggung, tidak ada perbincangan antara Reino Héndrik maupun Audy. Ekor mata Hendrik dan Elsa seakan bertanya pada anaknya, Vanilla hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tau. Jelas sekali terlihat saat Hendrik mememberikan ikan di piring Reino, langsung di sisikan. Biasanya kalau Ayahnya memberikan sayuran atau ikan langsung di makan olehnya. " Kakak semalam pulang telat ya... waktu kita makan malam kakak kok belum pulang " tanya Hardin mencairkan suasana. " ya... ada meeting " jawab Hendrik dingin. " memang meeting apa kak sampai larut malam, yang jelas kalau meeting sampai larut malam di luar kantor seorang pria harus patut di curigai." mulut Elsa tanpa filter nyerocos saja tidak tau perasaan Audy saat ini. Mata Hardin memberikan kode pada istrinya agar diam, tapi bukan Elsa kalau langsung diam. " Kak kesempatan itu tidak datang berulang ulang kali loh ya. Jaga kak Audy dengan baik kalau tidak mau kehilangan lagi. " imbuhnya. Hardin yang sudah tidak berguna lagi memberikan kode langsung saja mencubit paha istrinya. " auhhh... apa apaan sih Ayah. Sakit tau." keluh Elsa mengusap pahanya yang terasa panas Reino meletakkan sendoknya dengan kasar sampai terdengar nyaring di ruang makan. " Lei tunggu di mobil Bunda, Lei sudah kenyang." Reino membawa tasnya Kemudian meninggalkan meja makan terlebih dulu. " Rei..." panggil Hendrik yang tidak di hiraukan " Reino..." semakin meninggi suara Hendrik tapi tetap saja sang anak terus berjalan keluar. Vanilla yang tidak biasa Mendengar suara keras dari omnya langsung merasa takut pindah duduk di pangkuan Ayahnya. " ayah... antar ila ke sekolah ya sekarang. Ila takut sama om." bisik Vanilla pada Ayahnya. " Bunda, ke mobil dulu sama ila ya... ayah mau bicara dulu sama om Hendrik." pinta Hardin pada istrinya. Elsa menyelesaikan makannya kemudian keluar bersama anaknya. Audy ingin berdiri tapi di tahan oleh Hardin. " kalian ada masalah." tanya Hardin pada kedua kakaknya itu. " tidak ada Din." Audy masih menutup kejadian kemarin siang seolah tidak ada apa apa. " tolong lain kali selesaikan secara dewasa jangan sampai anak anak tau kalian ada masalah, kasihan ila saja sampai takut kakak teriak seperti tadi. Anak anak biar aku sama Elsa yang antar kalian bicara empat mata saja dulu." Hardin meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam. Audy mau membersihkan sisa sisa makanan di meja untuk menghindari Hendrik tapi tangannya di tahan. " kamu marah aku pulang telat Audy." tanya Héndrik seakan tak ada yang ia sembunyikan kemarin siang. " apa alasan untuk aku marah kak. Siapa aku disini." " ibu dari anakku. Aku sudah berkali kali menjawab pertanyaanmu itu kan " jawaban dari Hendrik malah membuat Audy tidak sanggup lagi menahan air matanya yang ingin tumpah. " nah itu kan posisi ku di rumah ini. Tidak lebih kan." " tap-." " sudah lah selama aku dan Reino baik baik saja tidak ada masalah berarti aku sudah menepatkan posisiku di sini dengan baik kan " jawab Audy tegas kemudian meninggalkan Hendrik yang tidak bisa menjawab lagi. Audy ingin segera menghindari tatap muka dengan Héndrik saat ini, karena ia tidak mau di anggap lemah oleh mantan suaminya itu. Audy mencuci piring kotor di dapur, dari belakang Hendrik memeluknya. " kembalilah dengan ku Audy, aku mencintaimu." ucapnya lemah di belakang kepala Audy. Audy menepis pelukan itu namun, bukannya lepas malah semakin kuat. " tidak kak, kalau hanya untuk membuatku menjadi ibu dari Reino memang aku ibu kandungnya. Wanita yang setengah mati melahirkan Reino kedunia ini. Kalau hanya untuk menebus kesalahan kakak, Audy sudah iklas kok kak. Anggap saja kebersamaanku dengan Reino saat ini adalah cara kakak menebus kesalahan kakak masa lalu. Jangan bicara soal cinta kak, itu bukan cinta, itu hanya rasa bersalah. Dengan kakak tidak menyakiti aku lagi seperti dulu bagiku itu sudah termaafkan." jelas Audy menahan gejolak dalam batinnya Ia melepaskan pelukan Hendrik dengan kasar ingin kembali ke kamar Reino namun sampai di tangga tubuhnya seperti melayang saat Hendrik menggendongnya. Audy meronta ingin di lepaskan, namun sia sia. Tubuhnya di turunkan di atas ranjang kamar Hendrik. Pintu telah di kunci. Audy duduk, Héndrik berjongkok di depan Audy. " Tatap mataku Audy jika kamu memang tidak ingin kembali rujuk denganku, aku ingin kamu jujur dari dalam lubuk hati kamu yang paling dalam." ucap Hendrik lembut namun cukup membuat Audy bimbang. " untuk apa kita kembali rujuk kak, kalau kakak ada wanita lain hah. Aku tidak mau tersakiti kesekian kalinya oleh pria yang sama kak." akhirnya Audy mengutaran isi hatinya yang sedari tadi ia tahan. " wanita siapa yang kamu maksud, Alya... Beri aku waktu untuk menyelesaikannya Audy. aku tidak mencintai Alya, selama ini dia hanya pelarian ku di saat aku putus asa tidak bisa menemukan jejakmu. Kamu meninggalkan rumah sakit di saat masa penyembuhanmu belum selesai dan kamu juga meninggalkan uang yang sengaja aku jadikan bahan kompensasi atas keegoisan ku. Apa kamu tidak tau bagaimana tersiksanya aku dengan rasa bersalah yang teramat ini. Lima tahun aku mencarimu Audy. Aku mencari ke kampung, tetanggamu semua bilang kamu sudah pidah sekeluarga dan rumah sudah kamu jual. Bahkan aku sudah menyewa orang untuk mencarimu tapi tidak ada hasilnya. Aku juga merasakan sakit karena keegoisan ku sendiri sayang." tidak terasa sudut mata Hendrik mulai menggenang air mata yang hampir saja lolos. Ia berdiri mengongakkan kapalanya agar air mata itu tidak jatuh. Tapi memang benar semua yang ia katakan itu jujur tidak ada kebohongan sama sekali. Ia menyesali sebulan setelah kejadian masa itu, saat Reino sedang sakit membutuhkan asih seorang ibu sedang saat itu tidak ada yang menyusui anaknya, Elsa pun masih hamil mudah. " memang aku yang salah, aku yang egois Audy. Tidak salahmu jika saat ini kebencianmu lebih besar padaku. Ya mungkin benar, aku tidak pantas bahkan aku dengan tidak tau malunya memintamu kembali." Héndrik merapikan jasnya kemudian meninggalkan Audy yang masih terdiam membisu di atas ranjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN