13. Penyesalan Hendrik

1414 Kata
Hendrik melihat Audy makan dengan lahapnya seperti orang kelaparan sepertinya. Makanan yang ia pesan belum sama sekali ia sentuh, melihat Audy makan seperti itu rasanya sudah kenyang sendiri. " apa itu efek habis nangis ya Audy." tanya Hendrik melipat kedua tangannya di d**a. Audy masih diam menikmati makanannya yang tinggal sesuap saja. Ia mengunyah dengan cepat lalu meminum air mineral dalam kemasan yang langsung kandas di mulutnya. " ya.." " kenyangnya." keluhnya mengusap perutnya yang kekenyangan sambil bersandar di badan kursi. " udah ayo antar aku pulang, habis itu jangan temui aku lagi." ucap Audy tanpa berfikir " ayo." lebih baik Hendrik menuruti saja perkataan Audy saat ini daripada banyak bertanya yang berujung perdebatan lagi. Sampai di parkiran Audy menatap heran mobil yang di masuki Hendrik pasalnya mobil yang ia rusakan tadi bukan ini, kenapa sudah ganti lagi. " hai, ini mobil siapa. cepat keluar." bentak Audy " ini mobil ku Audy, ayo masuk." Hendrik membukakan pintu untuk Audy " tadi mobil kamu kan bukan ini kak." " ya mobil yang kamu rusakan tadi sudah di bawah ke bengkel untuk di perbaiki. ini baru di antar supir ke sini. Ayo naik jangan banyak tanya." Audy pun naik dan mobil meninggalkan area restoran. Sampai depan pintu kost, ia lupa bahwa ia belum sempat mampir ke bank untuk transfer ibunya di kampung, lewat M-banking juga tidak bisa karena ia sudah ganti nomor sebulan yang lalu belum sempat memperbaruinya. Ia masih belum turun dari mobil Hendrik, pandangannya ke arah samping seperti ingin bicara sesuatu tapi malu. " ada apa lagi, ada yang ketinggalan atau ada yang kurang, aku antar lagi." tawar Hendrik. " hmm, gini kak, aku lupa belum transfer ibu. Besok waktunya ibu kontrol ke dokter." suaranya Audy lirih. " berapa nomor rekening ibu." Audy langsung memberikan ponselnya pada Hendrik. Dengan cepat Hendrik sudah mengirim sejumlah uang pada rekening mantan kakak iparnya. " sudah. Masih ada lagi " " Sudah. Makasih ya kak." Audy pun turun dari mobil Hendrik sudah pergi bersama mobilnya, Ibu kost datang. " baru pulang Audy." tanyanya. Audy pun mengangguk, ia takut akan dapat marah karena telat bayar kost. " Bu.. ma--." Audy ingin bicara dulu pada ibu kost sebelum ia marah marah. " ini buah untukmu, jaga kesehatanmu jauh dari orang tua." Audy merasa sangat heran kenapa dari kemarin ibu kost kejamnya baik hati, ini malah memberi buah. Sebelumnya jangankan memberi buah, kost yang kurang 2 atau 3 hari saja ia sudah memberikan pesan tagihan kadang juga langsung menagih ke kamarnya. " untuk kost kamu tidak usah kamu pikir sudah di bayar sama mantan suami kamu." jawabnya sebelum Audy minta maaf dan ngomong panjang kali lebar nantinya. " apa ." Audy kaget bagaimana bisa Hendrik membayar kostnya, pantas saja ini ibu kost kejam tiba tiba baik hati padanya rupanya ada Hendrik di balik ini semua. " kamu ini ya.. sudah punya suami tampan, mapan, sopan, baik hati dan tidak sombong masih saja kamu tinggal malah memilih hidup susah jadi karyawan biasa dengan gaji yang tidak seberapa dan tinggal di kost sempit seperti ini " gumamnya kemudian meninggalkan Audy yang masih terdiam Apa dia bilang sopan, baik hati dan tidak sombong rasanya Audy ingin tertawa sampai bawah mendengar ibu kost memuji mantan suami laknatnya itu. Cerita apa lagi yang di buat Hendrik sampai ibu kost menuduh Audy yang meninggalkan suaminya, belum tau saja realitanya. Malah ia yang di buang mentah mentah seperti sampah saat ia tidak bisa apa apa pasca operasi Caesarnya 5 tahun yang lalu. Kost di bayar Hendrik, Audy menepuk keningnya dengan kuat sampai berbunyi dan menimbulkan rasa sakit. Berarti tadi Hendrik yang mentransfer ibunya, mampus sudah ia berhutang lagi pada orang. Baru sekali ia mencicil mobil yang Hendrik rusakan ini malah Hendrik mentransfer ibunya. Berapa lagi hutang yang akan ia tanggung, kakinya serasa tak bertulang saja ingin jatuh ke lantai. Ponselnya berdering saat Audy usai mandi, ada nama kakaknya di sana. Ia berharap uang transferan dari Hendrik tidak terlalu banyak jadi dia tidak berhutang banyak pada Hendrik. Takutnya dia akan mengajukan perjanjian konyol seperti Juna tadi siang untuk memanfaatkan dirinya menjadi miliknya. " assalamualaikum kak." " wa'alaikum salam Audy. ini gak salah nak kamu kirim uang sebanyak ini, uang dari mana kamu sebanyak ini Audy. kamu jangan membuat bapakmu sedih di sana dengan kamu membuat kesalahan seperti sebelumnya." tanya ibu dari sebrang sana yang terlihat sangat kaget bercampur marah " memang berapa nominalnya Bu." tanya Audy penasaran " 100 juta " " apa..." Audy pun ikut kaget sampai ponselnya jatuh ke lantai dan retak lalu mati. Telpon pun akhirnya terputus, karena ponsel Audy yang sudah mati. Mengingat ponsel murahan seharga 2 jutaan yang gampang rusak biar hanya jatuh seperti itu. Bagaimana ibunya tidak kaget coba, biasanya ia kirim hanya 5 juta dari gajinya yang hanya 10 juta saja. Ini dapat kiriman 100 juta pastilah ibunya akan curiga dan banyak tanya. Semakin lemas saja Audy saat ini, berarti hutangnya pada Hendrik 101 juta saat ini. Belum lagi hutangnya pada Juna 250 juta yang sudah di potong gaji 8 juta tinggal 242 juta dan tolal semua hutangnya menjadi 353 juta. Serasa mau pingsan saja Audy saat ini, kepalanya terasa pusing dan pening. ======= Hendrik sudah menunggu hampir satu jam di depan gerbang kost Audy tapi yang di tunggu tak kunjung keluar dari kamarnya. Sampai ibu kost yang akan masuk berhenti di depan mobil Hendrik. " Pah Hendrik kenapa masih di sini bukannya Audy sudah ke kantor ya." tanya ibu kost dengan ramah. " saya sudah menunggu sejam Bu tapi Audy tidak kunjung keluar kamar, ya seharusnya jam segini sudah masuk kantor." " bentar pak saya lihat dulu di kamarnya." dengan suka rela ibu kost melihat kamar Audy yang sepertinya penghuninya masih di dalam. Ibu kost kembali ke depan memberi tahu Hendrik kalau Audy masih di kamar tidak ke kantor. Hendrik segera ke kamar Audy meminta kunci cadangan pada ibu kost karena tidak ada jawaban dari dalam kamar saat ia mengetuk pintu berkali kali. Cemas dan khawatir dengan keadaan Audy di dalam sana, pasalnya kemarin ia belum sempat bertanya pada Audy penyebab ia menangis sampai seperti itu, mau telpon pun tidak bisa karena nomor di blokir oleh Audy. " Sayang." teriak Hendrik yang sudah berhasil masuk. Audy tidur dengan meringkuk dan berselimut, keningnya pun bermandi keringat di pagi seperti ini. " sayang kamu demam." Hendrik menyentuh kening Audy yang panas. " kak jangan ambil anakku, izinkan aku merawatnya. Kakak boleh jadikan aku babysister nya setelah kita bercerai." Audy mengigau. Bagai di tumbuk dengan batu besar tepat di dadanya, Hendrik terlihat pucat mendengar Audy mengigau seperti itu. Ini salahnya, ini ulahnya, benar kata mamahnya ini semua perbuatannya. Hendrik sungguh merasa bersalah dan menyesal memisahkan ibu dari anaknya, ia egois tanpa memikirkan perasaan Audy saat itu. " kakak jangan ambil anakku." Audy mengigau lagi " maafkan aku Audy," hampir saja Hendrik menitihkan air matanya jika ibu kost tidak tiba tiba masuk kamar Audy. " saya akan bawa Audy ke rumah sakit Bu tolong kunci lagi pintu kamarnya." Hendrik menggendong tubuh Audy yang masih berselimut ke dalam mobil. Ia tidak sempat mengganti daster Audy, jadi ia bawa selimutnya sekalian sebagai penutup tubuh Audy yang tidak memakai dalaman lengkap. Sepanjang perjalanan sampai rumah sakit, Hendrik tidak hentinya menyalakan dirinya sendiri. Apa ini di sebut trauma sampai terbawa di mimpi, berkali kali Hendrik meminta maaf pada Audy baik dengan kata ataupun dalam hati. " keluarga nona Audy Puspita." panggil seorang suster " ya sus saya suaminya." " Anda di persilahkan masuk tuan." Hendrik masuk ke ruangan Audy yang masih tertidur usai di periksa oleh dokter. " bagaimana istri saya dok ?." tanya Hendrik dengan cemas. " istri anda hanya demam biasa tuan, hanya saja beban pikirannya terlalu banyak jadi ia setres di tambah nutrisi di tubuhnya berkurang mungkin makannya tidak teratur menjadikan dia demam dan lemah." jelas sang dokter " ya dok." " sebaiknya di rawat dulu 1 kali 12 jam tuan, kalau dalam kurung waktu 1 kali 12 demamnya sudah turun nona Audy sudah boleh pulang dengan catatan harus menjaga pola makan dengan teratur dan tidak boleh terlalu setres. " imbuhnya "baik dok." Setelah memberi pesan pada Bagas, Hendrik duduk samping ranjang Audy yang tertidur. Ia menggenggam tangan Audy, air matanya pun lolos melihat wajah Audy yang tertidur dengan banyaknya beban pikiran. " maafkan aku sayang, apa pun akan aku turuti jika kamu mau memaafkan aku." Satu tangannya membelai lembut rambut Audy. " aku menyesal, Dan mulai saat ini aku berjanji akan menjagamu sebagai penebus kesalahanku. Itu janjiku Audy." Hendrik mencium tangan Audy yang ia genggam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN