Suasana hati Juna sungguh tidak bisa tenang saat ini, bolak balik ia lewat depan ruangan kerja Audy yang kosong tempat duduknya. Serasa ingin bertanya pada salah satu teman kerjanya Audy tapi gengsi, masak iya seorang direktur perusahaan gelisah hanya salah satu karyawannya tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan.
Ayu menangkap Juna yang masih berdiri di tempat fotocopy samping pintu kaca, mulutnya mulai mengantup ia tahu bahwa pujaan hatinya itu sedang mencari siapa. Sudah di susun dengan rapi rencananya tapi tidak berhasil membuat Juna berpaling dari Audy. Ia pikir dengan kejadian mobil rusak itu maka Audy akan segera di pecat tapi malah masih di pertahankan Audy di perusahaannya.
Tidak hanya Ayu, Hendra yang ingin fotocopy pun tidak bisa karena sungkan jika harus mengusir bosnya dari sana. Hendra masih berdiri di belakang Juna sampai Juna memutar badannya dengan kaget mendapati salah satu karyawan seruangan dengan Audy.
" tidak bisakah anda permisi jika di belakang saya, jangan membuat saya kaget." bentaknya dengan lirih.
" maaf pak sedari tadi saya di sini menunggu bapak, saya tidak enak hati jika saya menggeser tempat berdirinya bapak yang sepertinya memandangi tempat duduk kosong di sana." Hendra menunjuk tempat kerja Audy.
" apa saya tidak ada kerjaan sehingga saya memandangi tempat duduk kosong itu." selak Juna dengan salah tingkah.
" oh ya pak , kami semua juga tidak tau kenapa Audy tidak masuk kerja hari ini padahal tidak bi-." belum juga Hendra selesai bicara Juna langsung pergi
" bukan urusan saya juga, tapi perusahaan juga punya aturan." ucapnya sambil berlalu pergi.
" heleh... pak Juna bisa saja kalau ngeles bilang saja nyari Audy gak masuk tanpa kabar. tapi kemana ya dia." gumam Hendra setelah Juga menghilang di balik dinding kantor.
Sementara itu, Hendrik masih setia menunggu Audy yang tertidur akibat obat suntikan tadi.
Beberapa menit yang lalu Audy sempat sadar tapi kembali tertidur karena mendapatkan suntikan dari dokter. Awalnya pura pura tidur karena menghindari Hendrik eh malah jadi tidur beneran.
Ponselnya bunyi beberapa menit yang lalu ia mengirim pesan pada Bagas agar menghendel semua kerjaannya di kantor karena hari ini ia ingin fokus merawat Audy. Awalnya Bagas tidak percaya setelah melakukan video call akhirnya Bagas percaya. Di kira pesan dari Bagas ternyata bukan, kali ini mamahnya telpon.
Shopia mendapat kabar dari Bagas, dan malah memberi ide pada Hendrik yang bisa membuka sedikit kesempatan untuk Audy agar dekat lagi dengan anaknya. Hendrik tersenyum seringai, ada bagusnya juga ide mamahnya itu.
Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa samping ranjang tempat Audy tertidur sambil bermain ponsel. Tidak lama pintu di buka pelan, ia pun langsung menoleh.
Shopia sudah sampai di sana dengan anaknya. Reino berjalan mendekati Ayahnya.
" kenapa Ayah di sini, bukannya Ayah sehalusnya di kantol. Dan kenapa Oma membawa Leino kesini Ayah, dan itu bukannya Tante yang pelnah ketemu Leino di tempat kelja Ayah ya.." tanya Reino bertubi tubi, mengalihkan padangannya pada Shopia dan Hendrik terakhir pada Audy yang tertidur pulas di sana.
" Oma tinggal dulu ya sayang, Reino sama Ayah nunggu Tante itu bangun ya." pamit Shopia pada cucunya.
" ya Oma." meskipun bawel Reino ini sebenarnya anaknya penurut pada orang tua.
Dengan masih memakai seragam sekolah Reino duduk di pangkuan Hendrik. " Ayah Tante ini siapa ?."
Hendrik tersenyum sambil memikirkan jawaban yang pas untuk anak semata wayangnya itu.
" itu bukan Tante Reino sayang, itu Bunda Reino." jelas Hendrik yang tidak mau ribet dengan berbagai pertanyaan dari anaknya nanti jika jawabannya tidak pas.
Reino menaikkan sebelah alisnya persis sekali dengan Hendrik jika kurang memahami sesuatu. " maksud Ayah. Bukankah Ayah bilang kalau Bunda Laino lagi di ambil sama Tuhan di sulga."
" ya sayang, tapi Tuhan sudah baik hati mengembalikan Bunda pada kita. sekarang Reino temani Ayah nungguin Bunda sadar ya."
" ya Ayah." Reino melepaskan tasnya, dan mulai menopang dagunya di atas kedua tangannya.
Mata Reino terus memandang Audy yang tertidur, mata batinnya tidak bisa di bohongi meskipun ia masih kecil. Ia berjalan mendekat pada Audy.
Tangan kecilnya membelai lembut wajah Audy dan merapikan rambutnya yang sedikit menutupi wajah Audy.
" Bunda Laino cantik ya Ayah." ucap Reino tanpa berpaling dari wajah Audy.
" ya sayang, kalau tidak cantik gak mungkin kan Reino setampan ini." Hendrik membiarkan anaknya dekat dengan Audy.
Dengan begitu mata hati Audy akan tergugah dan luluh pada sosok malaikat kecil mereka. Memang tidak sama sekali ada kemiripan pada anak dan Bundanya satu ini, karena Reino memang Hendrik Junior hanya saja kulit putih Audy menurun pada Reino. Hendrik yang berasal dari keturunan orang Timur berkulit sawo matang tidak mungkin memiliki keturunan berkulit putih jika pasangan mereka tidak memiliki. Tapi mata hati seorang ibu dan anak tidak akan pernah bisa di pisahkan.
Audy yang terpejam matanya, mereka wajahnya sedang di belai dengan tangan kecil nan lembut itu. Sedikit ia membuka matanya, wajah tampan seperti mantan suaminya namun dalam versi kecil senyum menawan di depan matanya. Reino pun ikut tersenyum.
" Bunda." panggil Reino dengan semangat
Audy tersentak kaget, dadanya bergetar hampir saja air matanya jatuh tidak tertahankan. Bertahun tahun lamanya ia mendambakan panggilan itu, kini di depan matanya, di telinganya sendiri sosok malaikat kecil memanggilnya dengan sebutan Bunda.
Bibir Audy keluh seakan tidak bisa berbicara sepatah kata pun, Tangannya meraih wajah versi Hendrik kecil itu dan membelainya dengan lembut pula.
" Bunda, ini Laino anak Bunda." ucapnya lagi.
Sudah tidak bisa lagi Audy menahan air matanya, kini air mata itu telah jatuh menggenangi kedua samping sudut matanya.
" Bunda kenapa nangis." tanya Reino heran.
Audy langsung membawa anak yang selama ini ia rindukan ke dalam pelukannya. Jujur saja Hendrik merasa haru melihat interaksi dari anak dan ibu di depannya, matanya memerah menahan tangis. Ia mengangkat kepalanya agar tidak terjatuh air mata itu.
Hatinya merasa senang saat ini bisa mempertemukan anak dan ibunya, ia sungguh merasa bersalah telah memisahkan mereka.
" Bunda jangan menangis ada Laino di sini." Reino mengusap rambut bundanya
Audy masih terdiam hanya isak tangis yang bisa ia keluarkan. Betapa bahagianya ia saat ini bisa memeluk putranya selama 5 tahun mereka di pisahkan. Bahkan ia belum sempat melihat bagaimana wajah bayi yang ia lahirkan.
beberapa detik kemudian Audy melepaskan pelukannya, mengusap air mata dan tersenyum.
" Bunda nangis bahagia sayang, karena Bunda sudah di pertemukan dengan Malaikat kecil bunda." ucap Audy dari hati
Reino juga rasanya ingin ikut menangis, ia mengusap sisa sisa air mata dari pipi bundanya. Hendrik sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, ia memutuskan untuk keluar, walau hanya sekedar untuk menghapus air matanya.
Hendrik menunggu di depan kamar, ia membiarkan anak dan mantan istrinya bercerita di dalam karena yang pasti Reino anaknya akan banyak bertanya pada bundanya.
" bunda.. bukannya kita bertemu sebelumnya."
Audy mengangguk, " ya sayang 2 kali, tapi maaf bunda belum bisa ngomong bahwa itu bunda."
" kenapa." Reino naik ke atas ranjang Audy
" ya karena belum waktunya Tuhan mempertemukan kita sayang."
" kan udah ketemu kok belum waktunya sih bunda." Si anak genius itu mulai mencerca bunda dengan berbagai pertanyaan yang belum ia pahami sampai mengerti.
Audy memikirkan alasan yang pas agar anaknya mengerti tanpa harus menjelaskan bagaimana kejamnya ayahnya memisahkan mereka dulu.
" begini ya sayang, waktu itu Tuhan belum merencanakan untuk bunda dan Reino tau kalau Reino itu anak bunda. Reino sendiri belum tau kan bagaimana dan seperti apa rencana Tuhan setelah ini. Nah begitu juga Bunda waktu itu belum tau kalau Reino anak bunda bukankah Reino juga sama seperti bunda." Reino mengangguk mengerti dengan penjelasan Bundanya.
Sedikit berbohong, sebenarnya Audy sudah tau kalau memang Reino itu anaknya, bahkan ia dengan sengaja menghindari saat ulang tahunnya beberapa waktu lalu.
" sekalang kan Laino sudah Tuhan pertemukan dengan bunda jadi Laino mohon sama Tuhan agar tidak mengambil meminjam bunda lagi, dan Laino juga minta sama bunda jangan tinggalkan Laino lagi." pinta anak Genius nan polos itu padanya.
" insyaallah sayang, semoga Tuhan mendengarkan dan mengabulkan permintaan Reino."
" amin." ucap mereka bersamaan.
Disini yang membuat Audy bingung bagaimana seandainya Reino tau bahwa ayah dan bundanya sudah berpisah bagaimana. Apa dia akan kecewa, mungkin itu sudah pasti. Sudahlah yang terpenting sekarang mereka sudah bersama, entah bagaimana selanjutnya biarkan itu jadi rencana Tuhan.
Pintu di buka dari luar, Hendrik bersama dokter masuk dalam ruangan. Hari sudah sore sudah jam kontrol pasien.
" wah, sudah membaik saja ya nona Audy. Sudah boleh pulang sekarang. tapi harus ingat pola makan dan jam istirahat di atur dengan baik ya nona jangan terlalu setres untuk berfikir." pesan dokter setelah memeriksa keadaan Audy.
" ye ye bunda boleh pulang,." sorak Reino girang.
" Bunda ikut Reino dan ayah pulang baleng kan." tanya Reino penuh harap.
Audy pun bingung, ia melihat Hendrik yang begitu santai di sofa. Mata Audy mengisyaratkan ide tapi ia hanya mengangkat kedua bahunya dengan senyum.