Langit semakin gelap. Jarum di Speedometer sepeda motorku sudah melewati kecepatan 120 kilometer per jam.
Rasa cemas, panik, takut mulai berkecamuk dalam diriku. Kakiku mulai bergemetar hebat.
"Jangan sekarang pliss. Rumahku masih jauh," lirihku dalam hati.
Kulihat di sekitar jalanan mulai sepi. Situasi yang malah membuatku makin menjadi-jadi.
Jauh di depan terlihat ada halte. Samar-samar seperti ada seseorang yang sedang menunggu bis.
Semakin dekat, semakin jelas. Ternyata seorang gadis memakai seragam SMA sama sepertiku. Aku berhenti tepat di depannya.
Entah siapa dia, aku langsung menghampirinya. Ia nampak waspada denganku, menatapku penuh curiga.
"Mmm.. Lu lagi nunggu bis kan?," tanyaku.
"Sudah tahu masih nanya," jawabnya jutek.
"Gue bisa minta tolong gak," kataku pada gadis cantik dengan rambut poninya ala-ala korea itu.
"Maaf gak bisa. Gue buru-buru,"
"Gue mohon, pliis. Gue bukan orang jahat kok. Lu bisa bawa motor kan?," tanyaku serius.
"Maksud lo?," ia mulai kesal.
"Tolong bawa motor gue yaa. Bisa kan," aku sodorkan kunci motor Ducati Sport ke cewek yang tak ku kenal itu.
"Hah?," dahinya mengerut dan matanya menyipit.
"Maksudnya gini. Motor ini lu bawa pulang. Nanti gue jemput lagi di rumah lu. Gue mau naik bis, soalnya kepala gue pusing nih, gak bisa lanjutin lagi, dan rumahku masih jauh. Boleh ya?," ku memohon lagi.
Aku tak bisa menyembunyikan rasa panik. Kaki ku pun terus bergemetar. Cewek itu pun makin memandangku penuh kecurigaan.
"Lu mau modus yaa? Atau jangan-jangan lu mau ngejebak gue? Ini motor curian kan? Ngaku aja lu,"
Sudah kuduga dia pasti bakal mengira aku orang jahat.
"Motor curian? Enak aja lu kalo ngomong. Nih kalo lu kaga percaya ini STNK sama KTP gue. Lu liat namanya sama kan?," aku ambil STNK dan KTP dari dalam dompet kuperlihatkan pada cewek jutek itu.
Tiba-tiba..
Duuaaaaaarrrrrr.... !!!!
Suara petir menggelegar di siang yang mendung itu.
Sontak aku berteriak dan langsung sembunyi di balik tubuh si cewek itu. Sungguh memalukan.
"Haaaaaaaa.. Pliss.. Tolongin gue dong.. Plis.. Pliiss," aku memohon sambil memegang kedua kakinya.
"Apaan sih lo? Lo kenapa, hey," dia berusaha melepaskan tanganku dari kakinya tapi tak bisa. Aku benar-benar ketakutan dan terus memegang erat kedua kakinya yang putih mulus itu.
"Tolongin gue plisss.. Cuma lu yang bisa nolong gue sekarang,"
Kudengar suara bis yang datang. Ku langsung berdiri dan langsung mengayunkan tangan di pinggir jalan.
"Pak, pak berhenti pak aku mau naik,"
Hari itu aku benar-benar t***l. Sudah tau itu halte, tanpa disuruh berhenti pun, kan bis itu pasti berhenti juga.
Bisnya berhenti tepat di depan halte.
Kembali aku hampiri cewek tadi. Ternyata dia juga mau naik ke bis. Aku mencegatnya.
"Pliss, tolong gue ya? Lu bawa saja motor gue, ntar gue ambil lagi kok,"
"Lo gila ya? Kenal juga kagak,"
"Kenalannya nanti aja. Ini kunci motor gue, STNK gue, KTP. Sama ini Handphone gue, ntar gue hubungin lu. Pliss dong, tolong yaa," aku makin panik.
"Tapii,"
Hujan deras turun secara tiba-tiba. Aku teriak dan langsung masuk ke dalam bis.
Untungnya di dalam bis belum begitu ramai. Masih banyak kursi kosong.
Ku berjalan ke bangku paling belakang dan menunduk di sana. Bisnya berjalan meninggalkan halte.
Hujannya perlahan mulai reda. Namun aku masih saja menunduk di sudut bangku belakang bis, dengan kedua tangan yang menutup daun telinga.
Bisnya berhenti di halte berikutnya. Dari sini rumahku lumayan dekat. Aku melihat keluar lewat jendela bis. Hujannya sudah reda, matahari menampakan dirinya dari balik awan yang mulai terbuka.
Aku pun turun dari bis itu. Kulanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan jalan kaki.
Entah kapan phobiaku pada hujan dan petir ini bisa hilang. Benar-benar sangat menyiksa. Entah mengapa juga di dunia ini harus ada hujan.
Akhirnya tiba juga aku dirumah. Di teras mamaku berdiri cemas.
"Motor kamu mana?," tanya mama.
"Dititip di rumah Farun ma," jawabku.
"Trus kamu pulangnya naik apa?,"
"Naik bis ma,"
"Yaa ampun Rian. Kenapa kamu gak nelpon mama? Kan mama bisa jemput kamu pakai mobil,"
"Udah gak keburu ma. Hujannya tadi cepat turunnya," alasanku terasa gak masuk akal. Tapi aku bingung mau jawab apa lagi.
"Gak keburu gimana? Kamu kan bisa nungguin mama dulu di rumahnya Farun. Atau sekalian nunggu hujannya reda dulu. Kalau kamu kenapa-kenapa di bis bagaimana?,"
"Rian gak enak sama Farun ma. Udah sering ngerepotin dia sama orang tuanya. Mama tahu kan gimana aku kalo lagi hujan,"
"Kan mereka juga udah tahu dan ngerti kondisi kamu. Dari pada di Bis, nanti kalo ada orang jahatin kamu kan bahaya juga,"
"Dah lah ma. Yang penting Rian baik-baik saja kan,"
"Cepet ganti bajumu sana. Mama udah nyiapin teh hangat juga, cepet diminum, nanti keburu dingin,"
"Iya ma,"
***
Sambil meneguk teh hangat buatan mama, aku mencari nama kontakku di Handphone mama yang kupinjam diam-diam, jempolku berhenti di satu kontak dengan nama Rian Anakku, langsung kutekan tombol Call.
Hanya beberapa detik telponku diangkat.
"Halo?,"
"Emang dasar cowok aneh. Kapan lu mau ambil motor sama Handphone lu ini? Nyusahin banget," suara cewek jutek itu masuk dengan sangat tidak ramah ke telingaku.
"Bentar lagi aku otw sayang. Nanti kamu sms aja alamat rumah kamu yaa," rayuku.
"Hih jijik tau gak lo. Udah penakut, nyusahin pula. Mana gue gak kenal lagi. Cepetan lu ambil barang-barang lu sebelum gue jual,"
"Iya..iya, sabar napa. Galak amat jadi cewek. Oh iya nama lu siaa," belum selesai aku bicara, telponnya sudah dimatikan.
Tak lama berselang, ada bunyi SMS masuk. Cewek itu mengirim alamatnya. Rumahnya tak begitu jauh, sekitar 20 menit jika naik motor dari rumahku.
Kucoba balas SMS dia.
"Nama lu siapa? Biar lebih gampang gue nyarinya,"
"Shela,"
"Itu doang? Lengkapnya?,"
"Nama Shela di sini cuma gue,"
"Yakin amat lu. Nama pasaran gitu dibanggain,"
"Cepet lu ke sini dasar cowok aneh,"
"Iya beb, aku kesana sekarang,"
"Ihh,, Jijik,"
Aku pun bergegas pergi.
"Mau kemana kamu?," tanya mama ku.
"Mau ambil motor ma," jawabku sambil mencium tangan mamaku lalu pergi.
***
"Pelan-pelan bang, rumahnya tak jauh dari sini," aku menuntun tukang ojek saat sepeda motornya masuk ke sebuah g**g.
"Stop, stop.. Di sini aja bang," aku tepuk-tepuk punggung tukang ojek itu. Kulihat sepeda motorku terparkir manis di depan rumah bercat orange, sudah pasti itu rumahnya Shela.
Aku turun dan langsung mengeluarkan selembar uang Rp 50.000.
"Wah belum ada uang untuk kembaliannya dek. Saya barusan narik soalnya,"
"Udah ambil aja bang,"
"Yang bener nih dek?," tanya tukang ojek itu.
"Iya buat abang aja, makasih yaa,"
"Makasih banyak dek,"
Aku langsung pergi menuju rumah orange tadi.
Kubuka pintu pagarnya yang tidak terkunci. Aku masuk ke halaman rumahnya yang dipenuhi banyak bunga itu.
Pintu rumahnya tertutup. Aku ketuk tiga kali.
"Selamat sore,"
Pintunya dibuka, ku bersiap menerima ocehan Shela untuk kesekian kali pada hari ini.
"Sore," Ibu-ibu berdaster, seumuran mamaku yang membuka pintunya. Ia menatapku, sudut matanya mengerut.
"Mau nyari siapa dek?,"
"Shela nya ada tante?,"
"Mau ngambil motor ya?," rupanya ibu ini sudah tahu tujuanku datang ke sini.
"Eh, iya. Hehe,"
"Ohh iya. Silahkan duduk dulu,"
"Iya tante,"
Aku duduk di teras rumah itu. Sementara ibu tadi kembali masuk ke dalam.
"Shela, Shela," suara ibu itu terdengar sampai ke teras.
"Ya bu," jawab seseorang yang suaranya sudah kukenal, itu suara Shela.
"Ada yang mau ngambil motornya nih,"
Tak lama berselang, sesosok cewek cantik dengan setelan kaos putih polos dan celana pendek yang memperlihatkan paha putih mulus itu muncul dihadapanku.
Tak kusangka si cewek jutek itu ternyata cantik juga. Mataku tak berkedip menatap wajahnya. Sungguh pemandangan sore hari yang indah.
"Nih kunci motor lu, KTP lu, STNK, dan ini Handphone lu," Shela menaruh barang-barang itu di atas meja. Dia tak menatapku sedikitpun.
"Makasih yaa. Maaf udah ngerepotin lu, aku benar-benar panik tadi,"
"Oh,,iya aku Febrian Putra Lesmana. Panggil saja Rian," aku menyodorkan tangan kananku ke hadapannya.
Dia menatapku sinis. Aku balas tatapannya itu dengan senyuman khasku. Tatapannya yang sinis itu pun akhirnya runtuh. Pipinya berubah merah muda. Matanya menghindari tatapanku. Meski terlihat malu, ia tetap berusaha bersikap jutek seperti biasa.
"Gresela Andira," tak kusangka ia meraih tanganku yang sudah cukup lama menunggu tangannya yang mulus itu.
"Nama yang indah, seindah orangnya,"
"Apaan sih lo. Gak lucu tau," cewek jutek itu akhirnya tersipu juga.
"Aku pergi ya. Sekali lagi makasih,"
Aku mengambil barang-barangku di atas meja. Segera ku naik motor.
"Sampai ketemu lagi yaa,"
Shela menyeringai kesal.
***