9. Cincin Baru?

809 Kata
Amanda menghela napas panjang. "Sampai kapan?" gumamnya dengan tatapan tertuju ke arah meja kantin. Baru semalam menikah, ia sudah merasa terikat. "Setidaknya harus ada waktu yang pasti." "Apanya yang sampai kapan? Waktu yang pasti apa pula maksudnya? Kamu ini ngomong apa sih?" "A ... itu. Sampai kapan harus nunggu Kia. Harus ada waktu yang jelas dong. Lapar ini," kilah Amanda, tersenyum meringis. "Yaelah. Biasa juga gak nunggu. Lapar mah ya makan aja. Biasa juga maen sikat." Amanda tersenyum canggung. Bagaimana ia bisa makan, sementara nasibnya saja entah seperti apa nanti jika benar-benar ada yang tahu tentang pernikahannya. Ia tidak ingin dipindahkan. Pun dengan suami, belum tentu bersedia pindah. Bisa jadi justru ia yang terpaksa harus berhenti bekerja. Apa yang harus ia lakukan jika tidak bekerja? "Tuh, Kia udah balik. Makanlah. Katanya lapar," ujar Weni. Amanda mengangkat kepala saat Kia kembali' duduk di depannya. "Kamu gak apa-apa?" "Gak apa-apa. Cuma baju aja basah sedikit," jawab Kia dengan santai. "Maaf, ya?" "Santai,'' balas Kia sambil mengibaskan tangan. Tahu temannya itu tidak mungkin sengaja. "Terus, Ki. Itu tadi gimana?" "Iya gitu. Katanya kemarin di tempat dia tinggal ada yang rame-rame. Ternyata ada tamu yang numpang nikah di rumah ketua RT. Dan dia lihat Ada pak Aldin di sama. Tapi pas dia tanya-tanya lebih jauh, gak ada informasi apa pun," jelas Lia, setengah berbisik. Amanda menghela napas lega. "Kalau gak ada info lengkap, kenapa dia bisa simpulkan yang nikah itu Pak Aldin?" "Bukan dia yang simpulka, tapi aku?" "Hah? Kok bisa?" "Kan dia bilang numpang nikah. Kalau orang sana gak akan dibilang numpang nikah. Berarti yang nikah orang luar. Nah orang luarnya Pak Aldin yang kebetulan dari sana.'' Weni menoyor kepala temannya. "Eh, Markonah! Kirain akurat. Ternyata cuma tebak-tebakan. Jangan sampai aja ada gosip menyebar gara-gara kamu. Kalau sampai ke telinga Pak Aldin, habis kamu." Kia tertawa. "Tapi lumayan kan, kalian tadi kepancing. Pada penasaran kan?" "Penasaran apa? Jantung aku nih hampir copot. Kirain tau," semprot Amanda, spontan. "Hah?" Weni dan Kita saling bertukar pandang. Amanda menyadari telah salah bicara. "Maksudnya deg-degan soalnya pas kamu ngomong kayak gitu, aku kan baru sampai mana habis lari dari lobi ke sini," cengir Amanda, lalu mengambil botol kemasan air minum lalu menekuk isinya untuk menyamarkan gugup. "Ya udah lah. Kita makan aja. Sebentar lagi masuk," ujar Weni yang diangguki oleh Kia. Amanda meletakkan ponsel di atas meja. Terkejut saat tangan kirinya disambar. "Cincin baru?" tanya Kia, dengan penuh selidik mengamati jari manis tangan sang teman. "Sejak kapan? Kamu 'kan gak suka pakai cincin, Man." Amanda menarik tangannya dengan gugup. "I-iseng. Iya iseng hehehe ... aku iseng aja gitu, pengen coba pakai cincin," cengirnya kemudian. "Eh buruan makan. Waktu istirahat keburu abis." Gegas menyantap makan siang sebelum kedua temannya bertanya lebih banyak. *** "Dari mana?" "AKH!'' Amanda menjerit sambil mundur karena terkejut, hampir terjatuh. "Bapak ngapain di situ? Apa lampunya mati?" Ruang tamu pun menyala karena Aldin menyalakan saklar lampu. Amanda menatap aneh. Lampu baik-baik saja, tetapi kenapa pria itu duduk dalam gelap? Ditambah memakai pakai serba hitam hingga ia tidak menyadari keberadaannya. "Dari mana?" ulang Aldin sebab pertanyaannya belum di jawab. "Dari rumah ibu,'' jawab Amanda. "Kenapa gak bilang sama saya?" "Memangnya ada peraturan yang mengharuskan saya bilang dulu sama bapak saya mau ke mana? Gak ada kan?" "Amanda, saya ingin suami kamu. Ha—" "Suami pura-pura, Pak. Jangan lupa itu," potong Amanda dengan cepat, meralat. "Pura-pura? Siapa bilang? Saya menikahi kamu secara sah." "Iya, nikahnya sah. Niatnya aja yang nggak sah,'' sahut Amanda, tidak mau kalah. Beranjak kemudian. Tetapi tangannya ditahan suami. "Apa lagi, Pak? Saya mau istirahat.'' "Lain kali, kalau kamu mau ke mana-mana, bilang sama saya." Aldin menatap wanita itu tanpa melepaskan cakalangnya. "Harus?" tanya Amanda. "Wajib!" "Kenapa?" "Karena sekarang kamu istri saya." "Istri kontrak, Pak. Jangan lupakan itu." "Tapi saya yang dapat ceramah panjang dari ibu saya gara-gara Beliau nanyain kamu dan saya bilang nggak tahu." "Bagus dong. Iman jadi lebih kuat kalau mendengarkan ceramah,'' balas Amanda. "Saya serius, Amanda." "Saya juga serius, Pak Aldin. Bisa tolong lepasin tangan saya? Saya mau mandi lalu tidur. Ngantuk!" kata Amanda sambil berusaha melepaskan diri. Aldin menurut. "Satu lagi!" "Apa lagi, Pak Aldin? Astaghfirullah ... Bapak ini kayak gak bisa banget liat saya seneng. Mau istirahat aja banyak banget gangguannya," omel Amanda dengan kesal. "Kalau pergi, jangan matikan handphone biar saya nggak susah menghubungi kamu." "Iya. Tadi handphone saya kehabisan nyawa,'' sahut Amanda, "ada lagi? Kalau enggak ada, saya mau ke kamar." Aldin tidak menjawab. Hanya memberi isyarat dengan gerakan kepala samar. Amanda berlalu. Sejenak berhenti sambil menatap foto wanita yang masih ada di dinding. Menoleh ke belakang di mana suami berada. Ingin bertanya sekali lagi, tetapi enggan merasa kesal jika pria itu tidak menjawab. "Sudahlah. Anggap saja itu foto sebagai penunggu rumah ini,'' gumamnya sambil melangkah pergi. Tetapi tetap saja rasa penasaran menggagu pikiran. Ia harus cari tahu sendiri jika suami tak memberitahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN