Weni tertawa terbahak. "Untung aja kamu gak abis makan Pete. Kalau enggak abislah itu si Kia."
"Manda ....'' Kia menatap, ingin memakan temannya itu hidup-hidup jika mungkin.
"Maaf! Maaf! Aku gak sengaja." Amanda mengambil beberapa lembar tisu lalu membersihkan wajah temannya yang tampak seperti anak kucing kecebur got. Sambil menahan tawa. "Maaf, Kia. Aku gak sengaja. Kamu juga sih bikin aku kaget."
Kia menepis tangan temannya dengan kesal. Mengambil tisu lain yang ada di atas meja. Membersihkan sendiri. "Aku mau ke kamar mam dulu,'' ujarnya masih dengan wajah cemberut.
"Maaf, Kia!" Amanda menatap punggung temannya dengan rasa tidak enak.
Weni masih saja tertawa meski sekarang tidak sekencang tadi hingga membuat Amanda memukul lengannya. ''Kamu ngapain sih ketawa aja dari tadi?" sungutnya, stres sendiri. Tidak menyangka berita akan menyebar secepat itu. Tolonglah, ia masih ingin bekerja di sana lalu apa yang harus ia katakan jika teman-temannya bertanya?
Sehari sebelumnya.
"Tunggu sebentar!" pekik Amanda saat saat ijab qobul sudah hendak terucap.
"Ada apa lagi, Mbak? Mbak ini dari tadi udah beberapa kali loh menghalangi. Mbak sengaja?" kesal salah satu warga, menatap Amanda seperti ingin menelan hidup-hidup.
"Saya mau bicara sama calon suami saya dulu, sebentar aja." Ini adalah upaya terakhir yang harus ia lakukan untuk menggagalkan pernikahan.
"Gak bisa. Kalau mau bicara, nanti saja kalau udah nikah!" tolak bapak tadi. "silakan dilanjut."
Amanda hanya bisa pasrah sambil menatap keki pria yang dengan khidmat menyebut nama lengkapnya itu. Dalam sekejap mata statusnya kini sudah berubah, tanpa rencana, tanpa ingin.
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Amanda menatap semua orang yang ada di sama. Semuanya terlihat bahagia. Kecuali Aldin yang raut wajahnya tidak berubah. Masih datar seperti biasa. Dan tentu saja kecuali dirinya yang terasa seakan kehilangan masa depan.
"Ayo, Sayang."
Suara itu mengembalikan Amanda pada kenyataan. "Ayo ke mana, Tante?"
"Kenapa masih panggil tante? Panggil mama. Sekarang kamu udah jadi memantu mama."
Amanda tersenyum meringis. Menantu? Ya ampun itu kata paling menyeramkan untuk saat ini.
"Ayo, temui suami kamu," ajak Sofia sambil merangkul bahu menantu barunya.
Amanda terpaksa menurut meski sebenarnya ingin berlari dari tempat itu. Ingin kabur dan menghindari jika mungkin. Tetapi tentu saja tidak mungkin. Sejauh apa pun ia pergi, kini statusnya sudah menjadi istri seorang pria dingin yang hampir tidak memiliki ekspresi selama ia mengenalnya.
Gadis itu sudah seperti boneka hidup yang menurut dengan patuh pada setiap perkataan. Diam ketika jemari disematkan sebuah cincin berkilau yang tampak indah. Tetapi tak seindah kisah hidup.
Menurut saat orang memintanya mencium punggung tangan suami dadakan itu. Tertegun dengan getaran aneh di dadda saat pria itu mengecup kening. Sepertinya ia sudah tidak waras. Perasaan yang campur aduk membuatnya seakan kehilangan akal sehat.
"Mama seneng banget kamu sekarang udah jadi menantu mam," ujar Sofia sambil mengusap pundak wanita muda itu.
Amanda tersenyum canggung. Pertanyaan kini terlintas dalam benaknya, apa alasan wanita itu bersedia menikahkan mereka? Padahal sebelumnya tidak saling mengenal. Bahkan saat ia menjelekkan diri sendiri, sama sekali tidak mempengaruhi.
Amanda hanya diam dengan isi kepala semrawut bak benang kusut. Sementara orang-orang di sekitar tampak sedang berbincang hingga ia dikejutkan oleh sebuah tangan yang menarik pergelangan.
"Ayo!"
"Hah? Ayo ke mana?" Beberapa saat kemudian baru tersadar itu adalah Aldin. Menuntunnya menuju mobil.
"Masuk!" titah pria itu dengan nada dingin dan penuh penekanan.
"Ma-mau ke mana? Bapak mau ngapain saya?" Amanda menyilangkan kedua tangan di depan daada. Semua orang tahu apa yang terjadi setelah dua orang menikah. Dan ia sama sekali belum siap.
"Jangan mikir aneh-aneh. Saya tolong bawa kamu pulang. Kamu nggak lihat semua orang udah pada mau pulang?"
Amanda menoleh. Benar, kedua orang tuanya sudah berada di dalam mobil, melambaikan tangan. Begitu juga dengan orang tua Aldin. Sejak kapan? Ia sama sekali tidak menyadari. Apa ia kehilangan ingatan meski hanya sebentar?
"Masuk!" Kali ini suara Aldin terdengar lebih tinggi dari sebelumnya hingga membuat sang gadis terkejut.
Gegas Amanda masuk ke mobil miliknya. Mobil yang menjadi awal malapetaka. Ya, setidaknya untuk diri sendiri, apa yang terjadi merupakan sebuah malapetaka.
Aldin duduk di kursi kemudi. "Mulai sekarang kamu tinggal di rumah saya. Tapi jangan berharap lebih, saya menikahi kamu karena tidak ada pilihan. Kita akan berpisah nanti."
"Nanti? Kapan?" tanya Amanda, "jangan lama-lama. Saya juga males hidup sama Bapak," ketusnya.
"Jika waktunya tiba," jawab Aldin tanpa menoleh dan kendaraan roda empat itu pun langsung melaju
"Gak jejas kapan. Saya berasa digantung," gumam Amanda. Tetapi yakin bisa didengar pria di sampingnya.