Sebuah Ancaman

2404 Kata

“Aku ingin melihat perkembangan proyek yang kita jalankan sekaligus ada hal yang ingin aku sampaikan padamu,” ujar Sir Marlo padaku. Pria itu terlihat sedikit berbeda dari yang aku ingat. Namun aku mencoba untuk menepis segala spekulasi yang tidak berdasar dan kemudian memposisikan diriku untuk duduk. Renatta sendiri hanya menyimpan dua cangkir kopi diantara kami berdua kemudian undur diri dengan cepat. “Apa yang ingin anda sampaikan?” Marlo menyerahkan sebuah dokumen ke atas meja. Aku meraihnya tanpa berkomentar apa-apa. Lalu mulai membacanya setiap kalimat yang tertera disana. Rasa dingin menyerbak, kurasa wajahku mungkin akan terlihat pucat bagi lawan bicara sebab isi dalam berkas tersebut lebih mirip omong kosong belaka meski nyatanya adalah realita. Aku tidak membuang waktuku untu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN