Aku mencoba untuk duduk dengan rileks sekarang, aku sudah mencoba segala hal yang barangkali dapat membuat aku melupakan namun semua hal yang aku usahakan tidaklah berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Mataku menatap kosong kearah lukisan yang berpotret lautan yang tergantung apik diruanganku. Aku berusaha untuk menyejukan diriku untuk nyaman. Tetapi sekali lagi hatiku tidak tenang. Ketegangan perlahan merayap membuat bahu dan juga leherku tiba-tiba terasa kaku. Pikirku berkutat pada kekhawatiran yang sesungguhnya terlalu berlebihan untuk mengisi dan mendominasi seluruh kepalaku. Terlebih aku terlampau kenal dengan perangai mantan kekasihku itu. Dia tipikal pria yang logis dan penuh kalkulasi meskipun tidak sekompleks suamiku. “That would not happen, he is not an i***t after al

